Perkembangan Kognitif Anak (2)

AnnaSurtiNina
Anna Surti Ariani, S.Psi., M.Si., Psi. Family & child psychologist di Klinik Terpadu, Fakultas Psikologi UI, Depok (021-78881150) dan Medicare Clinic, Menara Kadin, Kuningan, Jaksel (021-5274556)
Have question for our experts ?
Feel free to ask them here!

Pada tulisan pertama kita sudah membahas tentang perkembangan kognitif anak 0-2 tahun menurut teori Piaget. Dalam tulisan ini, kita akan membahas tahap perkembangan kognitif anak 2-7 tahun, yaitu tahap Preoperational.

Tahap Preoperational sebetulnya dibagi atas 2 subtahap, yaitu usia 2-4 tahun dan usia 4-7 tahun. Namun tulisan ini akan membahas secara umum saja. Dalam kedua subtahap tersebut ada beberapa keunikan yang akan kita bahas, dimulai dari penyebab segala keunikan tersebut yaitu centration.

Centration adalah kemampuan berpikir anak yang masih terpusat, hanya berfokus pada 1 aspek saja, dan belum bisa memahami aspek lain secara sekaligus. Contohnya ketika anak memahami aspek ‘panjang’, dia belum bisa memahami sekaligus aspek ‘lebar’ atau ‘dalam’. Inilah penyebab kenapa anak bingung ketika suatu benda berubah bentuk, misalnya es berubah menjadi cair, dia mengira es hilang. Contoh lain adalah ketika anak memahami ‘tanjakan’, dia bingung mengapa benda yang sama bisa disebut ‘turunan’.

Gara-gara centration, anak punya beberapa keunikan pola pikir di tahap Preoperational. Keunikan tersebut adalah symbol, lack of conservation, egocentrism, animism, dan classification. Kita bahas satu per satu ya.

Symbol
Menurut Piaget, di usia 2-7 tahun anak mulai belajar berpikir menggunakan simbol, namun masih tak sistematis dan tak logis. Symbol adalah perwakilan dari benda, bisa berupa gambar atau kata-kata, tapi bukan bendanya sendiri.

Anak 0-2 tahun belum memahami balon ketika tak melihat balonnya secara langsung. Namun anak 2-7 tahun dapat memahami balon dengan melihat gambarnya saja. Ia juga dapat membayangkan balon ketika kita bernyanyi lagu “Balonku”.

Bayangkan, gambar dan kata-kata balon bukan si benda balon sendiri kan? Tidak bisa dipegang dan tak bisa meletus kan? Oleh karena itu gambar atau kata ‘balon’ kita sebut ‘simbol balon’. Kalau anak kurang dari 2 tahun bernyanyi lagu “Balonku” dan berkata, “Dor!” yang ia pahami adalah suara ‘dor’ bukan balon yang meletus, namun anak 2-7 tahun bisa membayangkan balon yang meletus dan bersuara ‘dor’.

Pada usia 2-7 tahun anak baru memahami simbol dari benda nyata yang pernah dilihat atau dipegangnya. Ia belum terlalu memahami simbol dari benda tak terlihat seperti ‘takut’, ‘sayang’, ‘marah’, dll. Inilah sebabnya mengapa ketika berbicara dengan anak, perlu terlihat atau terasa apa yang dibicarakan itu. Contohnya ketika Mama berkata ‘senang’, raut mukanya harus berbeda dibandingkan ketika berkata ‘marah’, dan sebaiknya kata-kata tersebut diucapkan agar anak lebih memahami, misalnya, “Mama sedang senang!”.


*image credit: Thalia

Gara-gara pemahaman simbol yang terbatas, anak juga belum paham kalau dinasehati atau diminta membayangkan. Sering terjadi di budaya kita, orangtua memarahi anak yang memukul temannya dengan kalimat semacam ini, “Coba kalau kamu yang dipukul, sakit nggak?” Anak belum terlalu bisa membayangkan kesakitan gara-gara dipukul. Bukan berarti anak harus dipukul dulu, namun berarti kalau anak 2-7 tahun memukul teman, tak usah disuruh membayangkan, langsung saja dipisahkan dari temannya dan dialihkan dengan kegiatan yang lain.

Mengapa anak berulangkali dinasihati tapi belum mengerti juga? Kembali ke topik ini, pemahaman simbol nasihat belum penuh. Oleh karena itu nasihat harus hadir dalam bentuk yang lebih konkret, yaitu sesuatu yang terlihat atau terasa, bukan cuma terdengar saja. Contoh, ketika kita melarang anak main lilin, jangan hanya katakan bahwa lilin panas dan bisa membakar, tapi perlihatkan proses bagaimana lilin bisa membakar kertas.

Ingat, nasihat yang tidak konkret hanya akan diabaikan anak, karena anak belum paham. Jangan salahkan anak lho. Menasihati anak tentunya boleh saja, tapi jangan terlalu berharap dia akan paham dan menurut gara-gara nasihat orangtua. Lain kali kita bahas cara lebih konkret untuk membuat anak lebih mengerti ya.

Penjelasan tentang keunikan lainnya di tulisan berikut ya. Selamat menanti.

10 Comments

  1. eka
    Eka Wulandari Gobel October 6, 2014 at 2:34 pm

    wah terima kasih infonya, mbak anna!
    ga sabar nih, mau tau info tentang cara yg lebih konkret utk bikin anak tambah mengerti.

  2. mirmayf
    mirmayf October 7, 2014 at 11:33 am

    makasih mbaa.. pas banget si kakak bulan ini tepat 3 tahun. lagiiii seru2nya hihihi..

  3. Kira Kara
    Bunda Wiwit October 7, 2014 at 1:53 pm

    artikelnya kereenn… Makin gak sabar menanti artikel-artikel selanjutnya dari Mbak Anna Surti nina.

  4. tetehasti
    tetehasti October 9, 2014 at 8:08 am

    Terimakasih ilmunya mba nina.. gak sabar nunggu artikel selanjutmya

  5. ninit
    ninit yunita October 9, 2014 at 9:09 am

    meski anak2 udah melewati fase ini… tapi tetep seneng nyimak artikel mbak nina :) nambah ilmu selalu.

  6. errika
    Errika Aprilia October 9, 2014 at 11:37 am

    self reminder again! tfs mbak nina :)

  7. mik3dy
    mik3dy October 9, 2014 at 2:32 pm

    waaaahhh,, sangat bermanfaat *menunggu artikel berikutnya* :D

  8. dhetiezhar
    nurasti novitasari October 9, 2014 at 4:08 pm

    ga sabar tunggu artikel selanjutnya.. apalagi yang egocentrism.

  9. cindy
    cindy vania October 10, 2014 at 1:32 pm

    Artikel mbak Anna Surti selalu ditunggu,terimakasih ilmunya mbak :)

    Ditunggu lanjutannya.

  10. mummyhilya
    Ummi Kaltsum January 13, 2015 at 1:57 pm

    oooh, pantesya, bayi2ku kl dinasihati malah ketawa2. kl jatuh nanti sakit itu belom kebayang, kecuali dikasih tahu pas kesakitan jatuh abis lari2an ditempat licin. itu aja kl sdg asyik udah aja bablas.

    mau tanya dong, balita itu paham konsep waktu kemarin, minggu lalu, besok bulan depan, kapan ya? anakku yg #1 (4thn) kalau past tense semua jadi “tadi” walopun tahun lalu.. hihihi

Post a Comment

You must be logged in to post a comment.