Pesan Benjamin untuk Para Mama

nisafaridz
Nisa Faridz Saat ini sedang menempuh studi S3 di State University of New York at Albany, USA dengan fokus kajian tentang partnership antara sekolah, rumah, dan masyarakat. Juga menjadi tenaga sukarela di salah satu sekolah dasar di Albany, NY.
Have question for our experts ?
Feel free to ask them here!

Sering ketemu teman ngobrol yang asyik? Berapa orang  dari mereka adalah anak SD? Salah satu kriteria “teman ngobrol yang asyik” buat saya adalah orang yang bisa mengajak saya untuk belajar, berpikir out of the box, dan bisa membuat pembicaraan mengalir sampai berjam-jam. Nah, saya tidak punya banyak teman asyik seperti ini yang masih SD. Bukan saja karena hidup saya di kampus jarang ketemu anak SD, tetapi belakangan saya kurang mengikuti perkembangan dunia mereka: game yang sedang populer, musik yang mereka dengar, atau buku yang sedang ngetop di kalangan anak-anak dan tweens. Sehingga saya khawatir obrolan kami tidak nyambung. Tapi rupanya saya keliru, sore itu saya berkesempatan ngobrol dengan teman saya ini sampai lupa waktu.

Namanya Benjamin. Kedua orangtuanya berkebangsaan Indonesia, dan ia lahir di salah satu kota di New York State. Jadi walaupun lebih memilih pizza daripada sop buntut, dia sangat familiar dengan budaya dan bahasa Indonesia. Tahun ajaran depan Benjamin akan duduk di kelas enam. Bukan anak yang ramai atau cerewet, dan mungkin itu sebabnya pas saya ada kesempatan ngobrol, bisa jadi seru. Nah, sore itu saya niatkan untuk mencari inspirasi dari Benjamin untuk menulis artikel di TUM ini. Seringnya saya terinspirasi dari orang dewasa, tapi kali ini saya cukup percaya diri bahwa Benjamin bisa membantu saya berbagi hal yang menarik di sini. Dan saya tidak salah ;)

Jadilah saya “wawancara” dia. Saya bilang, hanya ada satu pertanyaan besar: “Kalau kamu diminta untuk memberikan satu nasehat untuk orangtua di seluruh dunia, termasuk di Indonesia tentunya, nasihat apa yang akan kamu berikan kepada mereka?”

“Wah, susah pertanyaannya!” Benjamin sepertinya tidak menduga pertanyaan saya.

Lalu saya bilang bahwa tidak ada jawaban yang salah, jadi tidak usah khawatir.

Iapun bercanda: “Give your kids more treats.” (berikan anak-anak permen/ coklat lebih banyak lagi). Karena saya janji tidak ada jawaban yang salah, tentu saya tanggapi jawaban Benjamin tersebut dengan serius. Tapi lalu katanya: “Ngga kok, saya becanda.” Ah anak ini memang konyol-konyol saja idenya (lain kali mungkin perlu saya ceritakan juga bagaimana ia menampilkan sisi ilmiah “fart” di science project di sekolahnya).

Tapi jawaban serius Benjamin berikutnya benar-benar tidak terduga: “Love your kids, always tell them that. If they don’t know that, then they might not feel so good about themselves.” (sayangilah anak-anakmu dan sampaikan itu pada mereka. Karena jika mereka tidak tahu, bisa-bisa mereka merasa diri mereka kurang berharga). Ah, pelajaran pertama: menyatakan rasa sayang bukan sekedar karena itu yang kita rasakan, tetapi karena itu besar maknanya untuk yang dituju: anak kita.

Dari bercanda soal permen, siapa sangka jawaban Benjamin sebenarnya adalah tentang mengekspresikan rasa sayang kita pada anak-anak, dan bagaimana ekspresi itu bisa membangun harga diri/ karakter anak.

“Darimana ide jawaban ini muncul?” tanya saya pada Benjamin.

“Ibu saya selalu melakukannya, all the time. Bukan sekadar setiap hari, tapi lebih sering dari itu,” jawabnya sambil tertawa karena ia kadang merasa ibunya too much, atau lebay. “Tidak harus verbal dengan mengatakan ‘I love you’; kadang-kadang lewat big bear hug pun anak bisa merasakan seberapa besar ibunya mencintai, dan seberapa berharganya ia,” lanjut Benjamin lagi.

“Kenapa orangtua penting menyampaikan ‘I love you’ ini, Benjamin?”

“Itu membuatku merasa spesial, that I am actually somebody in life because someone loves me,” jawabnya. (Saya merasa bahwa saya berarti dalam hidup ini karena ada orang yang begitu menyayangi saya).

Untuk Benjamin (dan mungkin semua anak?) perasaan seperti ini sangat penting. Saat di sekolah, misalnya, menyadari bahwa orangtuanya luar biasa sayang padanya membuat ia lebih semangat belajar. Ia merasa bahwa dirinya penting, dan urusan sekolah inipun penting. Sebelum ulangan atau ujian, ibunya selalu memberikan pelukan, dan walaupun Benjamin sulit menjelaskan mengapa pelukan dan ucapan “I love you” itu berpengaruh ketika ia belajar di sekolah, ia tahu bahwa ekspresi ibunya sangat membantunya, terutama ketika menghadapi tantangan-tantangan di sekolah.

Benjamin juga bercerita ketika ia tidak tampil cukup baik di pertandingan sepakbola, ibunya suka memarahinya. Tetapi hal itu tidak membuatnya merasa bahwa rasa sayang ibunya berkurang sedikitpun. “Bahkan ketika Ibu marahpun ia mengatakan bahwa ia menyayangi saya, jadi saya mengerti memang saya kurang bagus main bolanya, jadi wajarlah ia marah.

Oh ya, saat saya ngobrol dengan Benjamin, ia baru saja pulang dari Summer Camp selama hampir seminggu. Tidak habis ide untuk menyampaikan rasa sayangnya, sang Ibu menuliskan surat yang dimasukkan dalam tas Benjamin untuk dibaca saat ia kemping. Di dalam surat itu pun disisipkannya foto, kartu ucapan, dan… tentu saja, permen coklat. ;)

Benjamin lalu sadar bahwa saya melanggar aturan, karena ini jadinya bukan satu pertanyaan. Habis sulit sekali berhenti bertanya ketika jawaban-jawabannya begitu menarik! Bahkan Benjamin pun sempat menyampaikan pandangannya tentang kasus-kasus yang tidak menyenangkan antara orangtua dengan anak-anak:

“Ada anak-anak yang kabur dari rumah… menurutku bukan karena orangtua mereka tidak sayang, tetapi orangtua tidak memperlakukan mereka seperti seharusnya. Mereka harusnya menunjukkan rasa sayang itu dengan jelas,” ujarnya serius.

Buat saya, obrolan dengan Benjamin memberikan satu bukti bahwa mengatakan “I love you” dengan berbagai cara pada anak bisa memberikan efek yang lebih dari sekadar luapan ekspresi tetapi bisa membuat anak merasa penting, berharga, bersemangat untuk belajar, dan akhirnya tumbuh dengan jiwa dan konsep diri yang sehat.

Bukan itu saja, obrolan seperti ini menunjukkan bahwa banyak hal yang filosofis dan masuk akal yang bisa kita petik dari anak-anak. Ya, tanpa harus mengerti film yang mereka tonton atau nyanyi bareng lagu kesukaan mereka. Asalkan kita mendengar dengan sungguh-sungguh dan penuh rasa menghargai (tidak memandang mereka sebagai “anak kecil yang belum ngerti apa-apa”), obrolan bisa sangat menarik. Yang juga penting, kita perlu niatkan untuk mengobrol (bukan menginterogasi), bertukar pikiran, dan harus bisa menghindari keinginan untuk mengkritik atau menilai jawaban mereka (termasuk pujian “hebat banget jawaban kamu!” walaupun saya ingin sekali berkomentar begitu pada Benjamin).

24 Comments

  1. cindy
    cindy vania October 20, 2014 at 8:31 am

    Great artikel mbak Nisa.. ngga nyangka Benjamin akan menjawab seperti itu.

    Bener banget ya mbak kalau niatnya ngobrol ya ngobrol aja,jangan menginterogasi dan harus bisa kontrol agar tidak mengkritik jawaban anak *note to self*

  2. siska.knoch
    Siska Knoch October 20, 2014 at 9:33 am

    Setuju, salah satu yg terpenting adalah mengajarkan kasih sayang, membesarkan anak2 dengan penuh kasih sayang agar dunia menjadi lebih berwarna dengan diimbangi bekal edukasi lainnya :)
    tfs mba nisa

  3. deravee03
    deravee03 October 20, 2014 at 9:42 am

    Trima kasih mbak Nisa, apa yang diungkapkan Benjamin pastinya sama spt yang ingin dirasakan semua anak-anak di dunia, ekspresi jujur dan spontan yg penting utk selalu di ingat para Mama, katakan dan berikan cinta setiap hari setiap waktu

  4. Mama Jo
    Mama Jo October 20, 2014 at 10:29 am

    Ternyata ekspresi rasa sayang akan sangat mempengaruhi perkembangan harga diri anak kita ya…hal kecil yang bisa berdampak besar.
    Makasih untuk tulisannya ya Mbak Nisa, sukses selalu dalam studinya disana :)

  5. mik3dy
    mik3dy October 20, 2014 at 1:44 pm

    wow,, artikelnya super mba,, :))

  6. ekakusmaya
    Eka Kusmayaningrum October 20, 2014 at 7:22 pm

    Super banget artikelnya…saya yang sedang mengajar tetiba ingat Si Kecil di rumah pengen peluk dan ciumin dia. Isi artikel ini bener banget,karena dulu saya dibesarkan dalam keluarga yang sibuk(karena faktor ekonomi) dan tinggal bersama dengan alm nenek yang super galak,miskin sekali ungkapan kasih sayang huhuhu…tapi syukurlah saya diberi kesempatan berilmu dan semoga dapat jauh melakukan perbaikan pola asuh kepada Si Kecil kelak…doakan ya para Mama:)

  7. novayantie herdina
    novayantie herdina October 20, 2014 at 7:33 pm

    ahh.. suka sekali dengan artikel ini, terimakasih ya mbak Nisa :)

  8. iprytz
    Pryta Aditama October 21, 2014 at 12:34 am

    mba nisaaaa.. artikelnya bagus banget..!!
    makasih yaa udah share plus ngingetin kita semua betapa hal yang mungkin kita anggap kecil itu ternyata berdampak besar dan sangat penting buat si kecil..
    makasih juga buat Benjamin.. bisa kasih jawaban gitu mama papanya pasti hebat banget.. semoga kita juga bisa jadi mama papa hebat buat anak2 kita yaaa.. :D

    *langsung cium2 bocah yang lagi bobok :P

  9. sukie
    Sukma Pertiwi October 21, 2014 at 12:49 pm

    TFS ya mba Nisa :)
    btw tertarik juga ni soal ungkapan menghindari untuk menilai jawaban anak. Kalau yang komentar bagus atau berupa pujian, harus dibatasi juga yah? Thanks :)

  10. andinigelar
    andini ardani October 21, 2014 at 1:31 pm

    Bagus banget Mba Nisa…as a daughter I echo Benjamin!! Sampai saat ini kalau saya down, wajah ayah saya masih suka terbayang memberikan semangat. Langsung bangkit dan merenyes..efektif ya..Beliau gak bilang I love you siy tapi lebih kayak..ayo, Papa yakin kamu pasti bisa, membuat saya tidak mudah putus asa dan selalu mendapatkan dukungan.
    As a Mom…let’s do it! Small things matters a lot :)

  11. gabriella
    Gabriella Felicia October 21, 2014 at 8:00 pm

    TFS Nisa! Bagus banget sebetulnya selain anak-anak suka dipeluk dan mendengar orangtuanya bilang i love you, saya juga sukaaaa banget kalau Albert bilang i love you atau memeluk saya. Bahkan sekarang dia suka menulis surat buat saya…

  12. offira
    Offira Tampubolon October 22, 2014 at 4:49 am

    Superb article.. Thanks for sharing mba nisa..

  13. tetehasti
    tetehasti October 23, 2014 at 9:53 am

    TFS mba nisa, hal simple tp sering kelupaan krn segudang aktifitas katakan “I love U” untuk anak

  14. enjimagetsari
    Enji Magetsari October 23, 2014 at 10:22 am

    Suka banget sama artikel ini, dan setuju banget sama Benjamin “Give your kids more treats.” :))

    TFS mba nisa..

  15. fameilia
    fameilia October 23, 2014 at 4:46 pm

    thanks for sharing,mbak.. artikelnya sangat menginspirasi.. :)

  16. Gretha
    Gretha October 23, 2014 at 11:15 pm

    Suka bangeeeet artikelnya.. Inspiring.. TFS mbak..

  17. sLesTa
    shinta lestari October 24, 2014 at 9:25 am

    thanks for the reminder, Nisa & Benjamin! Iya bener banget yaa constant reminder ttg sayang kita ke anak, itu penting banget. apalagi kalo abis marah2 hehe.. explain to them that we do that cuz we love them, it makes them feel good about themselves again.

    jangankan anak2 yaa.. gue aja yang pulang kantor capek2.. trus disamperin anak2 dengan bilang “i love you, mama” kayaknya capeknya ilang. padahal sometimes i think anak gue yang kecil juga ga ngerti itu artinya apa heheh..

  18. ipeh
    Musdalifa Anas October 25, 2014 at 7:14 am

    Thanks mbak Nisa, seperti biasa artikelnya bagus banget. Thank you too Benjamin :)

  19. thelilsoldier
    inga October 27, 2014 at 5:01 pm

    Saya tanya ke Raka (8 thn) pertanyaan yang sama dengan sedikit penyesuaian “apa yang harus mama lakukan supaya jadi mama yang lebih baik untuk Raka?”

    Jawabannya: “lebih banyak ngobrol sama Raka”

    Ditanya lebih lanjut alasannya, ternyata alasannya adalah dia merasa lebih enak, lebih baik, lebih pinter, setelah ngobrol dengan mamanya.

    Gampang loh ya jadi mama lebih baik. Kirain disuruh latihan piano atau disuruh ngerjain PR ;)

  20. airachma
    Ratih Rachma October 28, 2014 at 9:47 am

    great article mbaa :)
    sukaa banget

  21. cynkoirewa
    Cynthia Koirewa October 28, 2014 at 10:01 pm

    suka sama artikelnya.
    makasih mba nisa

  22. Niya
    adenia harahap October 30, 2014 at 3:11 pm

    Seneng banget bacanya.. terutama ” “Bahkan ketika Ibu marahpun ia mengatakan bahwa ia menyayangi saya…”

    Thanks for sharing Mba Nisaa… :)

  23. bumilangit
    bumilangit October 30, 2014 at 3:31 pm

    sediiihh..hiks..hiks terharu langsung peluk cium langit abis bangun bobonya,tq mba nisa terus share artikel kerennya

  24. tikuka
    atika larasati October 31, 2014 at 9:09 am

    TFS mba Nisa n Benjamin..
    supeeeerrr bgt artikelnya :)

Post a Comment

You must be logged in to post a comment.