Plagiarisme – Sikap Mental Berbahaya Bagi Masa Depan Anak Kita

sLesTa

Beberapa waktu yang lalu, kita tentu mengetahui kisah tentang Ibu Siami. Seorang warga Jl Gadel Sari Barat, Kecamatan Tandes, Surabaya, itu dicaci bahkan sampai diusir ratusan warga. Hal ini terjadi karena Ibu Siami melaporkan guru SDN Gadel 2 yang memaksa anaknya, Al, memberikan contekan kepada teman-temannya saat ujian nasional pada 10-12 Mei 2011 lalu. Miris sekali. Jujur malah dicaci. Kecurangan sudah dianggap lumrah.

Menyontek dan plagiarisme seperti sesuatu yang sudah tidak asing lagi. Kita mendengar dan melihat orang menjiplak tulisan. Menjiplak lagu. Menjiplak blog. Menjiplak produk-produk laris. Bahkan ini terjadi pada beberapa member TUM yang juga foodie blogger, foto makanan karya-nya diambil tanpa izin dan diterbitkan dalam buku resep.

Semua orang tahu bahwa hal ini buruk. Namun pernahkah kita merenungkan seberapa buruk efeknya jika mental plagiarisme ini sampai tertanam di jiwa anak-anak kita?

Di negara-negara maju, anak-anak dididik untuk kreatif. Mereka dididik bangga dengan hasil karyanya sendiri. Mereka dididik untuk menghargai hasil karya orang lain dengan tidak meniru atau menjiplaknya. Dan hasilnya? Mereka tumbuh menjadi anak yang mandiri dan penuh dengan kreativitas. Mereka juga memiliki tingkat persaingan yang tinggi yang merangsang mereka untuk semakin maju. Saat temannya menciptakan hasil karya yang spektakuler, mereka bukannya terdorong untuk meniru hasil karya temannya itu, namun justru termotivasi untuk menghasilkan karya yang lebih spektakuler lagi. Mereka bersaing untuk saling mengungguli, bukannya berebut untuk menjadi pengekor. Mereka bersaing untuk saling menjadi kepala, bukan menjadi buntut.

Menyontek, plagiat adalah perbuatan curang. Jika hal ini sudah dianggap biasa, masyarakat bisa hancur. Apalagi anak-anak akan sangat bingung, sehari-hari diajarkan untuk berbuat jujur tapi dalam praktiknya tidak demikian. That’s why menjiplak amat sangat destructive.

Menjiplak mematikan kreativitas. Membuat anak-anak jadi malas berusaha. Kalau bisa menjiplak, buat apa susah-susah menciptakan ide-ide yang unik dan kreatif? Kalau dengan menjiplak saja sudah cukup mendapatkan penghargaan dan tetap bisa mendapatkan nilai yang lumayan, buat apa susah payah berusaha menciptakan suatu yang baru? Anak-anak jadi tidak termotivasi untuk bekerja lebih keras, untuk menciptakan ide yang lebih bagus, untuk mengungguli temannya. Mereka cukup puas mendapatkan nilai yang “lumayan” sehingga tidak berusaha meraih nilai yang “outstanding”.

Menjiplak juga menciptakan keterbatasan. Saat kita menjiplak hasil karya orang lain, kita memberitahu diri kita sendiri bahwa kita tidak mampu melakukan yang lebih baik daripada itu.

Terakhir, menjiplak menurunkan rasa percaya diri anak. Jika terbiasa menjiplak, anak jadi “tidak yakin” bahwa dia sebenarnya memiliki kemampuan untuk menciptakan sesuatu yang orisinil dan outstanding. Anakpun mulai membatasi diri karena merasa tak mampu.

Bahaya? Tentu saja! Ingat cerita “Elang yang merasa dirinya Ayam?” Anak elang yang dirawat oleh induk ayam dan dibesarkan bersama anak-anak ayam merasa dirinya ayam sehingga tidak pernah tahu bahwa dia bisa terbang! Dia pun menghabiskan seumur hidupnya mematuki cacing bersama ayam-ayam! Jangan sampai anak-anak yang paling urban Mama Papa cintai terjerumus dalam sikap mental seperti ini!

Nah, setelah mengetahui bahwa budaya menjiplak bisa sangat merusak, masihkah kita ingin membiarkan budaya buruk semakin tumbuh berakar pada masyarakat (dan terutama pada anak-anak kita)?

Jika jawaban Mama adalah tidak, mari mulai bertindak, Mama! Mulai hari ini, yuk tanamkan kebiasaan untuk menciptakan karya-karya yang orisinal. Tunjukkan pada si kecil bahwa dia mampu menciptakan hasil karya yang berkualitas dan unik, tanpa perlu menjiplak! Tanamkan dalam-dalam di pikiran si kecil bahwa mencontek, menjiplak, ataupun meniru hasil karya orang lain adalah perbuatan yang rendah dan memalukan. Sama rendahnya dengan mencuri! Jika si kecil sampai melakukannya, jangan berikan pujian, tapi berikan kritik, sehingga si kecil bisa menyadari mana yang benar dan mana yang salah.

Saat berhadapan dengan karya yang lebih bagus, yakinkan si kecil bahwa dia mampu, bahkan sangat mampu menghasilkan karya yang lebih bagus dan lebih unggul tanpa perlu menjiplak! Dorong dia untuk terus berusaha dan jangan menyerah. Tentu saja, Mama harus memberikan teladan yang sesuai melalui cara hidup sehari-hari. Mulai sekarang, berhenti menghargai, memuji, mendukung, apalagi membeli barang-barang hasil jiplakan. Jika anak-anak kita melihat bahwa kita membenci mental “plagiarisme”, mereka pun akan melakukan hal yang sama.

Ibu Siami yang sederhana hanya ingin mengajarkan kejujuran kepada anaknya dan di kehidupan yang nyata, dia benar-benar melakukannya. Tidak hanya teori. Sikap ini sungguh harus diteladani. Mari kita sama-sama lakukan ini! Demi anak-anak kita, demi masa depan Indonesia!

“Our only limitations are those we set up in our own minds – satu-satunya keterbatasan kita adalah keterbatasan yang kita ciptakan di pikiran kita” (Napoleon Hill)

19 Comments

  1. eka
    Eka Wulandari Gobel July 4, 2011 at 1:51 am

    yup! Setuju banget deh, mama shinta!
    Yuk, kita membiasakan yg benar, bukan membenarkan yg sudah biasa :)
    very good article!

  2. Nana Andriana
    Andriana July 4, 2011 at 6:39 am

    Yang paling sedih adalah ketika guru2 yg subconciously dianggap orang paling benar oleh anak, jg mendukung dan melakukannya jg. Masih inget ditayangkan di tv, guru2 mencontek bersama di ujian, disorot camera, malah dadah2 ke kamera. Mudah2an anak kita terlindung dari mental buruk, dimulai dari rumah

  3. siska.knoch
    Siska Knoch July 4, 2011 at 8:08 am

    berat juga tantangannya ketika yg diajarkan dirumah dan terkadang kenyataan yg berbalik dilingkungan luar. thank for sharing Shin, jd alarm pengingat lagi buat nih buat semua. Bagus banget artikelnya! :)

  4. Anggie
    Anggie July 4, 2011 at 8:29 am

    Semoga pendidikan di Indonesia semakin membaik… Anak2 Indonesia semakin pintar walau dg keterbatasan sehingga mampu menciptakan kreatifitas yg bs bikin bangga orang tuanya.

  5. bubuSABR
    bubuSABR July 4, 2011 at 8:33 am

    Artikelnya keren! Thanks for sharing..

  6. ipeh
    Musdalifa Anas July 4, 2011 at 8:39 am

    Artikelnya bagus banget shin, setuju bahwa plagiat sama rendahnya dengan pencuri. Ini menjadi alarm buat kita sebagai orang tua dan tentunya anak yg kadang menjadi “plagiat” krn melihat orangtua & sekelilingnya. Tfs mami shinta.

  7. otty
    Pangastuti Sri Handayani July 4, 2011 at 8:47 am

    Iya setuju bangeeett… Kayaknya sekarang plagiarisme itu dianggap hal yang biasa :(

  8. ninit
    ninit yunita July 4, 2011 at 8:49 am

    artikelnya bagus :)

    jadi inget ibu siami, yang benar malah nangis-nangis minta maaf. semoga ibu siami dikuatkan ya. hebat sekali beliau.

  9. oilalaa
    Lala Amiroeddin July 4, 2011 at 9:18 am

    setuju.. artikel yg bagus.

    Pertama kali mendengar tentang Ibu Siami, rasanya marah sekali campur aduk dengan rasa sedih dan malu bagaimana bisa ada sekumpulan orang-orang yang malah menghujat yang benar di negara ini, terang-terangan tanpa malu-malu pula.

    Terima kasih ya sudah mengangkat kembali cerita ibu Siami, bisa jadi pengingat utk selalu berhati2 dalam bertindak.

  10. rikandun
    rikandun July 4, 2011 at 9:53 am

    bacaan yg menginspirasi di senin pagi thanks mba shinta..

    nyontek massal kayaknya udh jd “rahasia umum” di setiap ujian nasional..trus apa gunanya ujian kalo gitu ya?parahnya ud jadi sikap mental :( mari buat perubahan, dimulai dari diri kita sendiri, yuk mama!

  11. BunDit
    BunDit July 4, 2011 at 10:03 am

    Great article mam Shinta. Kejujuran emang harus dimulai dari diri sendiri, kemudian meningkat ke lingkungan terkecil, keluarga kita, anak2 kita. Kalau penanaman kejujuran jadi aksi massal semua keluarga, diharapkan akan terus tumbuh mental dan budaya no plagiat khususnya buat anak2 kita,, generasi penerus. Semoga :-)

  12. silvia pridana
    silvia pridana July 4, 2011 at 11:04 am

    Bagus banget artikelnya mba shinta.. Hal hal yang seperti ini emang dah menjadi penyakit yang mendarah daging padahal akibatnya merusak banget.. moga generasi yang kita didik bisa berubah dan indonesia bisa jadi negara y lebih baik lagi…

  13. Niniek Rofiani
    niniek rofiani July 4, 2011 at 2:18 pm

    jadi ingat dulu pas masih sekolah, teman-teman pada bagi2 contekan matematika dari teman sebangku saya yang memang jago matematika. sedih aja temen ini dengan relanya ngasih contekan ke teman-teman.

    semoga hal in itidak terjadi lagi di waktu mendatang,

  14. sondang
    Sondang July 4, 2011 at 2:33 pm

    di indonesia kayaknya karena yang dihargai adalah hasil ya, jadi prosesnya sering diabaikan. Liat aja mengenai masalah NEM dan UAN ini, dan berapa kali denger cerita teman yang ikut MENGERJAKAN PR anaknya, bukan membimbing loh ya. Dan btw, membeli barang bajakan part of plagiat juga menurutku. Ngambil apa yg bukan haknya, dan tidak mau membayar lebih untuk yang seharusnya.

  15. adisanita
    adisanita July 4, 2011 at 3:18 pm

    yup betul, di Indonesia, msh melihat dari segi nilai aja, jadi semua berpatokan di nilai yg tinggi, maka berarti dia pintar, padahal kan kenyataannya bukan semua spt itu ya?si anak punya kelebihan dibidang lain, misalnya… bagaimana dengan sikap sosial si anak, prilaku dia, kerja sama dgn teman, dan penilaian2 dari sisi lain selain angka/nilai yg selalu jadi patokan.

    Tetapi sekarang mulai ada ya katanya, sekolah2 yang menerapkan dua raport, raport nilai dan raport penjelasan, jadi yang nilainya rata-rata atau kurang, harusnya dicari penyelesaiannya bukan malah dia tinggal kelas karena patokan di angka tadi.

    Yg penting adalah didorong untuk berani berpendapat, menjelajah kreatifitas, mendalami bakat masing2. Sangat penting, pendidikan sikap, prinsip2 bermasyarakat, budi pekerti, Pancasila, Agama, team work, collaborative skill dll…
    Karena karakter kan dibentuk pada usia SD dan SMP ya, jadi kalo anak murid dibiarkan bersikap ga jujur hanya karna harus mementingkan nilai/angka yg tinggi, wah.. lama2 bangsa kita akan hancur krn pembentukan karakter anak-anak kita yang salah. Semoga aja ga sampai begitu ya?

  16. Susy Bundanya Quinnsha
    Susy Bundanya Quinnsha July 4, 2011 at 4:33 pm

    Artikel yang bagus…smoga kita bisa mendidik generasi penerus yang kreatif dan jujur tentunya..

  17. crey
    Chrisye Wenas July 4, 2011 at 5:44 pm

    Setuju dengan semua, artikel yang bagus dan hal-hal kecil seperti ini memang harus selalu perlu untuk diingatkan. Tfs, Shin :)

  18. July 4, 2011 at 7:53 pm

    Agree…
    Dan miris na, saat seseorg mencontek suatu hal/karya dr org lain…bangsa ΐπΐ menyebutnya sebagai “inspirasi”

  19. bunda_raul
    Rika July 7, 2011 at 9:41 pm

    Mau crita aja. Waktu aku masuk kampus dan menjalani tahun pertama di suatu universitas negri yg cukup beken, salah seorang temen (yg akhirnya jd dekat) yg berasal dari daerah mengeluh padaku kurleb spt ini: “kaget bgt masuk sini, katanya univ favorit tp kok anak2nya pada kerjasama kalo ujian. di SMAku ga ada kaya gini”. Walaupun aku paling anti kerjasama/nyontek (pesan papa yg kujaga krn kuanggap amanah), tapi aku dah tinggal di p.Jawa dan sekolah di bbrp sekolah favorit(pindah2), berada di dalam budaya contek menyontek yg begitu kental dan dianggap biasa, kadang merasa terkucil krn bersikukuh dgn prinsip.

    Lingkungan ngga bs diharapkan utk ‘menjaga’ anak anak kita, jadi sptnya kita orangtua yah yg harus rajin rajin menjaga anak2 kita utk menerapkan nilai kejujuran. Kalo ngga bs gawat, ntar dah jadi pejabat bakal kebawa mikir “ah cheat dikit boleh lah, dikit ini, yang lain jg gitu”

    Thanx for reminding us mba Shinta..

Post a Comment

You must be logged in to post a comment.