Rookie Mom, Step Mom

Elsa Febiola

*image dari gettyimages.com

Yes! Am a rookie-mom. Baru sekitar 6 bulan, Allah memberkahi hidup saya dengan seorang anak laki–laki berusia 10 tahun dari pernikahan suami saya yang terdahulu. So that’s make me a step mom also. Menjadi seorang ibu tiri, ibu non-biologis dari seorang anak.

Saat pertama saya memutuskan untuk menikah dengan suami yang telah mempunyai seorang anak, maka menjadi seorang ibu tiri adalah suatu konsekuensi. Welcome to the step parenting world! Hal pertama, realita yang menggigit saat menjadi seorang ibu tiri adalah kata–kata “ibu tiri” itu sudah sangat sarat makna. Kebanyakan negatif. Pahit, deh.

Orang cenderung tidak secara terbuka bilang bahwa, “Ya, saya seorang ibu tiri”. Mungkin karena dengan sendirinya cap “Druella Cruella” sudah langsung terpatri di benak lawan bicaranya. Maka issue ibu tiri ini selalu dibicarakan di ruang–ruang yang sangat tertutup, dibicarakan secara bisik–bisik, tertutupi oleh stereotype dan stigma lainnya.

Saya tak akan membicarakan bagaimana orang lain sebagai ibu tiri, tapi inilah saya, seorang wanita yang memiliki kesulitan dalam menjalankan fungsi alamiah seorang wanita seperti hamil, melahirkan, menyusui, tetapi dengan ijin Allah diberikan kepercayaan untuk ada dalam kehidupan seorang anak. Well, I think we have to start with positive attitude, right?

Realita kedua yang tak kalah menggigitnya adalah, kecurigaan bahwa ibu tiri adalah identik dengan “the other woman” yang merusak hubungan pernikahan dari orang tua biologis seorang anak. Well, it is not me. Tapi, walaupun saya bukan the other woman, kecurigaan itu pernah melekat pada saya. Not a big deal karena saya memang bukan the other woman, gampang bagi saya menjelaskannya. Walaupun demikian, realita ini tetap menggigit pada awalnya bagi saya yang sepanjang kehidupan pribadi maupun professional, selalu berusaha menjaga perilaku dan kredibilitas. This one I can let it slide. No problem. Am definitely not the other woman.

Realita ketiga yang juga tak kalah mencengangkan bagi saya adalah dengan tingkat perceraian yang demikian tinggi di Indonesia, tidak ada keterbukaan dalam membicarakan bagaimana menjadi ayah tiri atau ibu tiri.

Sebagian besar pasangan yang becerai itu akan menikah lagi dengan orang lain, right? Jadi ada populasi ayah tiri dan ibu tiri yang terus bertumbuh. Cari support groupnya? Almost non-existent. Padahal banyak sekali ayah tiri dan ibu tiri yang tinggal, berinteraksi, hidup, membesarkan anak–anak tirinya. Dan seperti juga menjadi orang tua kandung, saya percaya, jadi orang tua butuh banyak pengetahuan. Anak tak datang otomatis dengan manual pada saat lahir dan tak datang pula dengan manual pada saat pernikahan orang tua dengan orang lain.

So, am thinking… what am I supposed to do? How am I going to handle this motherhood? Where to start, what to do?

Let me tell you a bit about my son (yes, I call him my son. That’s how I introduce him. That’s how I feel about him). Maafkan kalau saya tak menyebut nama anak saya dalam tulisan ini. He is witty like his dad. Smart and an avid reader (just like me :)). Pada saat saya dan ayahnya belum menikah dan mungkin pada pertemuan saya dan anak saya yang ke 2 atau ke 3, pertanyaannya adalah “Tante, apa itu pencucian uang?” Kening agak berkerut bagaimana harus menjelaskannya dengan bahasa yang mudah tapi senang karena ternyata dia banyak mempunyai interest yang sama dengan saya. Semua skill dan pengetahuan saya, berkarir di dunia keuangan selama 10 tahun, rasanya menghilang dari kepala pada saat anak saya bertanya saat itu tentang pencucian uang. Takut salah menjelaskan, takut memberikan kesan yang salah tentang tindak pidana ini, takut malah terlalu tertanam di pikirannya… takut… takut… takut… Daaan ternyata ‘ketakutan’ ini adalah tanda–tanda ‘keibuan’ pertama saya.

Seperti ibu lain, saya pun agak narsis tentang anak… Yes, am in that stage too. I met him when he was about 8. Anak lucu bermata bening. Sekarang dia usia 10 tahun, banyak yang sudah berubah dari dia. Pra–remaja. Rasanya waktu berlalu cepat. Terlalu cepat. Rasanya baru kemarin ini dia lari-lari keluar dari kamar mandi di rumah saya dengan tanpa rasa malu. Sekarang sudah agak berlama–lama di depan kaca menata rambut. :)
Waktu saya bilang, “Sayang… jangan cepet–cepet gede, dong… nanti mommy kangen peluk–peluk kamu!” And his reaction? Rolled his eyes! Khas banget deh anak pra-ABG.

Bagi saya inilah jalan hidup yang Allah sudah bentangkan untuk saya. Yang pertama, usia saya sekarang 38 tahun, sudah di tahapan hidup dimana sudah gak berani protes pada Allah. Sudah ingin menjalani dengan rasa syukur saja. Life is too short. Am happy with my life now. Alhamdulillah ya, Allah. Jadi, motherhood bagi saya yang pertama adalah bersyukur pada Allah SWT.

Yang kedua, motherhood bagi saya adalah being humble, mau belajar terus, less paranoid maybe. Setelah bicara dengan ibu–ibu yang punya anak biologis, agak pede juga karena ternyata mereka pun mengakui banyak hal yang mereka tidak tahu, banyak hal yang mereka pernah lakukan salah, tak selamanya sempurna.

Yang ketiga, motherhood bagi saya berarti berubah dan menerima perubahan. Dan bagi saya adalah munculnya berbagai macam ketakutan yang dulunya saya tidak miliki. I know I have to deal with this. But I think because he is so precious for me. This new mommy has lots of istighfar to do. Jangan sampai berlebihan, jangan sampai terlalu gimana banget gitu, loh. Am changing. This motherhood change me and my life.

Yang keempat, motherhood bagi saya adalah menjadi sahabat bagi anak saya. Anak saya memiliki ayah dan ibu kandung yang akan bertanggung jawab dunia maupun akhirat atas dia. Saya adalah wanita yang akan ikut mengasuh dia, berikhtiar, dan berdoa agar dia menjadi anak yang beriman pada Allah, baik hati, peduli, cerdas dan mandiri (list nya on and on ya, Mama… Seperti doa kita yang tak putus bagi anak–anak). Dari awal saya pahami bahwa posisi saya bukanlah untuk menggantikan ibu kandungnya tetapi membantu ayah anak saya, suami saya tercinta, untuk mengasuh anak ini. A promise that I will keep. Dan bagi saya, menjadi sahabat anak saya, tempat dia bisa bercerita tentang suka dan dukanya, sudah lebih dari cukup bagi saya.

Yang kelima, motherhood bagi saya adalah mengasuh dengan rendah hati, logika, cinta, dan hati. Kalau ini, terus terang saya begitu terinspirasi mentor dan guru saya, Ibu Elly Risman. Dalam setiap pertemuan dengan beliau, banyak sekali hal–hal yang beliau sampaikan secara pribadi karena mengetahui kepercayaan baru dari Allah kepada saya sebagai ibu tiri ini. “Febi harus percaya diri sebagai seorang ibu. Lakukan dengan hati, karena hati akan berbicara dengan hati. Ketulusan akan berbicara dengan ketulusan”. Satu hal lagi yang saya belajar dari Ibu Elly adalah untuk tidak gengsi, takut, atau terlalu jaim untuk minta maaf pada anak. Orang tua juga manusia. Bisa salah. Minta maaf saja. Terimakasih, Ibu Elly.

Yang keenam, motherhood bagi saya adalah punya selera humor yang baik. Para mama yang punya anak laki–laki usia 10 tahun pastinya ngerti, yaaa… Gak selamanya anaknya nurut, baik, dll maka punya selera humor yang baik dalam menanggapinya penting bagi saya. Kadang tak boleh terlalu diambil hati, jangan terlalu serius menanggapi. Jangan karena merasa “hanya” ibu tiri, lalu menjadi terlalu sensitif kalau ada yang tak sesuai dengan yang seharusnya. Semua ini proses. Saya pun masih belajar melakukannya, untuk tetap punya sense of humor dalam mengasuh anak.

Mungkin list arti motherhood bagi saya ini akan bertambah panjang seiring dengan bertambahnya waktu. Selamanya saya akan jadi rookie mom dan step mom dan saya suka sebutan rookie mom ini karena dengan merasa sebagai ibu yang rookie, ibu yang pemula, mungkin itu juga pengingat bagi saya untuk tidak merasa selalu tahu, sudah tahu atau sok tahu sebagai ibu. Karena anak saya akan hidup di jaman yang berbeda dengan saya. Jaman berubah, anak bertumbuh, orang tua harus update juga (jangan status aja yang update ya, Mama :)).

Saya hanya punya 6 hal dalam list saya kali ini, dan pengalaman yang masih sangat minim dalam dunia step parenting dan motherhood ini. Saya yakin banyak mama papa di luar sana yang seperti saya. Berkenankah membagi ilmunya untuk rookie mom ini?

21 Comments

  1. ipeh
    Musdalifa Anas February 13, 2012 at 12:59 am

    Nice story. Jadi ikut merasakan bagaimana menjadi rookie mom :) suka banget bacanya, thanks mama Elsa for sharing-nya.

  2. Indah Prabandono
    Indah Prabandono February 13, 2012 at 1:19 am

    Terharu. Mama elsa kau ibu tiri yg baik. Bs scr psikologis mendampingi anak tumbuh yg bukan terlahir dr rahimnya…itu hebat sekali. spesial sekali :)

  3. ninit
    ninit yunita February 13, 2012 at 5:35 am

    hugs teh febi.
    emang banyak banget yaaa yg langsung mikir ibu tiri itu jahat. pokoknya udah jadi stereotype banget.

    padahal ngga kayak gitu. kita sbg urban mama sebaiknya berpikiran lebih luas.

    thanks untuk artikelnya ya teh, eye opener bgt!

  4. eka
    Eka Wulandari Gobel February 13, 2012 at 6:51 am

    seneng banget baca artikelnya teh :)
    beberapa teman adlh ibu tiri, tapi gak seperti ibu tiri yg di gambarkan di film2. beberapa teman dekat & sepupu jg memiliki ibu tiri, dan baik2 saja, malah jadi keluarga baru.
    dan krn itu juga, semenjak ibu meninggal 3 tahun lalu, saya sering menganjurkan bapak untuk cari ibu tiri :) biar hidupnya gak sepi :)

    makasih artikelnya ya teh, membuka hati banget! *hugs*

  5. iyu
    yuliana karang February 13, 2012 at 10:30 am

    nice story teh febi.
    sempet ada adegan merinding bacanya tentang parenting dan motherhoodnya.

    pelajaran yang sama untuk aku sebagai ibu baru
    tfs teh **hug**

  6. morningtea
    morningtea February 13, 2012 at 12:16 pm

    Eye opener!

    Baru nyadar juga, bener ya ga banyak support group sebagai ibu tiri ini. Padahal populasinya pasti kita temui sehari2. Mulai di forum TUM aja Mama Elsa (eh apa udah ada ya?):)

    Salut deh sama ibu tiri yg bisa ‘asik’ jadi temen. Dan saya kenal banyak lo.

  7. February 13, 2012 at 12:20 pm

    wah, seneng baca artikelnya… secara aku ga kebayang gimana jadi step mom. tapi ternyata, setelah baca cerita febi, 6 pointnya itu sama aja ya dengan jadi ibu biologis… mungkin karena sama-sama jadi ibu juga. yang pasti sih, ibu biologis tidak mesti bawa2 stigma yang mesti dipanggul oleh ibu tiri ya… other than that, ga beda jauh ya. learning new things, being the child’s best friend, sense of humor, saying sorry.. etc. :)

    thank you for sharing!

  8. jasminetea
    Sinta Kurniawan February 13, 2012 at 1:05 pm

    You’re definitely a mom, yes a mom!
    Tfs mbak elsa. Tulisan anda membuat kami berefleksi, baik sebagai ibu maupun sebagai orang2 yg (tadinya) ‘menggigit’ mbak elsa.
    dan semua ibu pastinya jg harus selalu belajar. Salam untuk jagoannya ya

  9. annys
    annys February 13, 2012 at 3:02 pm

    nice story. very very nice!

    Aku suka baca nya. membuat kita membuka mata tentang dunia ibu tiri.
    a mom is a mom. gak peduli ibu kandung atau ibu tiri. and your points about motherhood, setuju banget! TFS mbak febi :)

  10. fanny
    Fanny Hartanti February 13, 2012 at 6:57 pm

    nice story! TFS mama Feb.
    Btw, kalau jadi ibu tiri, mungkin lebih ribet kalau mau marahin anak kali yah?
    kalau ibu sendiri, marah kan ‘biasa’,
    kalau ibu tiri, marahin anak, suka jadi dianggep ‘kejam’ gak karena stigma2 yang udah ketempel..
    padahal namanya ‘marahin anak’ kan kadang untuk kebaikan juga yah..

  11. Elsa Febiola
    Elsa Febiola February 13, 2012 at 7:41 pm

    Salam, para Mama…

    Saya, Febi, sangat berterimakasih buat apresiasinya, ya…saya masih harus banyak belajar sebagai seorang rookie mom…

    @Musdalifa :Terimakasih sama2 :-)
    @Indah : Saya masih belajar dan ini adalah pelajaran yang sangat indah buat saya :-)
    @Ninit : Ya, Nit…memang kita harus buka mata dan berwawasan luas. Untuk issue ini. Terimakasih untuk kesempatan sharing di The Urban Mama untuk mama yang masih belajar ini
    @Eka : Makasiiiiih, Eka…hugs !
    @Yuu : Sama2 terimakasih, Yuu…congratulation jadi ibu baru, ya…ikut seneng :-)

  12. RhoMayda
    RhoMayda February 15, 2012 at 9:05 pm

    waaahhh … takjub deh.
    saya dari keluarga yang super gede karena ibu dan bapak bercerai. ibu menikah lagi dengan laki-laki berputri dua, bapak menikah lagi dengan gadis (sekarang sudah punya putri2 yg cantik2). jadi saya bukan cuma punya ibu tiri, tapi juga ayah tiri, saudara2 tiri, tante2 tiri, kakek-nenek tiri dan seterusnya. gambaran tentang “ibu tiri hanya cinta kepada ayahku saja” (kok malah nyanyi) ngga berlaku di keluarga kami. they’re all great! ;)

  13. Elsa Febiola
    Elsa Febiola February 16, 2012 at 10:38 am

    @morningtea : terimakasih, ya….sepanjang yang saya tahu, komunitasnya belum ada. Thanks to The Urban Mama yang menginisiasi diskusi tentang step parenting ini, sehingga bisa membuka wawasan bagi kita semua…

  14. Elsa Febiola
    Elsa Febiola February 16, 2012 at 10:41 am

    @Thalia : Kadang rasanya jadi ibu tiri itu harus walk in a very thin line..hehehe…tapi insya Allah berikhtiar terus untuk memberikan yang terbaik bagi anak. Saya selalu bilang pada anak, ada hal – hal yang merupakan tugas dia sebagai anak, ada yang merupakan urusan orang tua. Untuk urusan orang tua, dia tak usah risau. Kami yang akan selesaikan.

  15. Elsa Febiola
    Elsa Febiola February 16, 2012 at 10:47 am

    @jasmintea : thank u,ya…motherhood can come in many shapes and forms. Mine is in the form of being a step mom. Resiko “digigit” pasti selalu ada karena pengaruh stigma negatif ibu tiri, justru buat saya itu jadi motivasi dan bahan perenungan juga, supaya selalu terdorong untuk terutama mengedukasi diri sendiri, bagaimana menempatkan diri jadi ibu.

  16. Elsa Febiola
    Elsa Febiola February 17, 2012 at 1:10 am

    @annys : terimakasih ya buat supportnya. mungkin udah waktunya step parenting ini dibicarakan dengan lebih terbuka, karena gak selamanya keadaan perpisahan orang tua itu mulus, smooth dan ideal. Jadi peran orang tua tiri jadi penting untuk membantu anak menjalani kehidupan selanjutnya.

  17. Elsa Febiola
    Elsa Febiola February 17, 2012 at 1:19 am

    @Fanny : heheheh…itu baru satu contoh kecil dimana orang tua tiri harus bisa menimbang a very delicate balance. Peran suami saya sangat besar dalam menangani hal – hal yang seperti ini. Seperti orang tua yang lainnya, kami berbagi tugas saja. Anak itu tau kok…kapan orang marahin dia karena memang sayang, kapan karena ada motif lain..heheheh..yang penting sebagai orang tua adalah meluruskan niat.

  18. Elsa Febiola
    Elsa Febiola February 17, 2012 at 1:22 am

    @RhoMayda : Waaaw…sharing more dong bagaimana pengalamannya. Karena sayangnya gak semua kehidupan pasca perceraian mulus bagi anak. Seneng banget baca tentang keluarga anda….alhamdulillah…semoga selalu diberkahi, ya…

  19. puspita_jewel
    Sitha February 17, 2012 at 4:52 pm

    Love this post! More or less, aku jadi bisa dapet tambahan wawasan/pandangan dr sisi step parent. Suamiku adl ayah tiri bagi anak pertamaku. Aku yakin sejak awal bhw semua hrs dibicarakan & didiskusikan, makanya kami ambil konsultasi pranikah dan ada sesinya yg khusus bahas ttg hubungan kami bertiga saat itu dan ke depan (ekspektasi, plan, etc). Aku ngerti ngga mudah jadi step parent dan ada masa depan anak terkait di dalamnya. You’re doing great, Mama Feb… Wish you all the best *peluk*

  20. prastawa
    Nita Prastawaningrum February 18, 2012 at 9:26 am

    couldn’t agree more with all the comments..
    you’re great mba :)

  21. Elsa Febiola
    Elsa Febiola March 6, 2012 at 8:50 am

    @Sitha : Sowwy ya baru direspons comment nya :-) Peran pasangan pada orang tua tiri sangat besar. Ini saya alami dengan suami. Dan langkah yang diambil oleh Mama Sitha top banget, deh ! Memang kita perlu banyak bantuan dan masukan untuk mengasuh anak, baik itu anak biologis maupun anak non-biologis. Dalam masa – masa perkenalan saya dan suami, banyak waktu yang kami dedikasikan juga untuk mendiskusikan pola asuh bagi anak kami. Fine tuning, supaya nyambung frekwensi dalam mengasuh. Dan sekarang kami juga melakukan pembagian tugas dalam mengasuh anak. Saya lebih detail dan ngobrol dari hati ke hati dengan anak, sementara suami lebih ke arahan garis besar dan disiplin. It is still a learning process buat kami, Mbak. kita saling mendoakan, ya….peluks

    @Nita : Terimakasih ya, mama Nita…peluks.

Post a Comment

You must be logged in to post a comment.