Say NO to Bullying!

ZataLigouw

Dasar pengkhianat. Elu ngancem gue? Elu duluan yang mati!” Saya tercekat membaca pesan di inbox facebook anak perempuan saya yang baru berusia delapan tahun (yes, she has a facebook account).  Saya mengizinkannya saat ia memohon untuk punya akun fb dengan banyak persyaratan.  Pesan itu pun berasal dari teman dekatnya yang sering sekali main ke rumah kami. Saya baca lagi dengan teliti perbincangan di inbox tersebut antara Caca dan temannya yang berusia beberapa tahun lebih tua itu, sebut saja si x. Terlihat bahwa mereka sedang marahan karena si x melarang Caca berteman dengan anak-anak lain karena menurutnya, anak-anak lain itu kampungan, tidak keren, dll. Akhirnya saya menemukan jawabannya mengapa sebulan terakhir ini Caca yang biasanya sangat ceria menjadi pemurung dan enggan keluar rumah.

Caca memilih untuk menghabiskan waktunya di dpn komputer daripada keluar rumah.

Cerita di atas hanya sebagian dari beberapa kisah yang dialami Caca soal bullying, beberapa kali lewat fb dan sering kali lewat pertemuan langsung karena anak tersebut kebetulan tinggal di dekat rumah kami. Anak tersebut mempengaruhi teman-teman sekompleks untuk tidak berteman dengan Caca, alhasil, Caca tidak punya teman bahkan beberapa anak yang dulu adalah temannya ikut-ikutan mem-bully dia, sebagian karena ajakan dan karena takut terhadap anak yang lebih tua itu. Aduhhh.., sedih sekali melihatnya. Meskipun naluri keibuan saya rasanya ingin melabrak anak-anak itu, tapi saya tahu hal itu tidak cool dan ngga akan menyelesaikan masalah Caca. Menurut saya, anak yang di-bully dan anak yang nge-bully sama-sama punya masalah dan perlu bantuan.

Cara saya dan suami membantu Caca adalah dengan mendukung dia, tidak hanya berupa pujian dan nasihat-nasihat yang mengatakan bahwa dia sangat berharga dan tidak boleh terpengaruh oleh ucapan-ucapan orang lain yang menjatuhkan, tapi kami juga membantunya dengan sedikit ikut campur dalam kehidupan pertemanannya. Mungkin ada yang kurang setuju dengan hal ini, tapi bagi saya, memang orangtualah yang seharusnya membantu dan ikut campur, karena pada umur mereka, mereka belum cukup kuat secara mental untuk menghadapi masalah-masalah seperti ini.

Saat libur atau weekend, saya menyuruh Caca mengundang beberapa teman untuk main di rumah kami. Saya menyediakan beberapa aktivitas yang menyenangkan buat mereka, dari mulai membuat handycrafts, nonton dvd sambil ngemil, bahkan berenang bareng di kolam renang dekat rumah, dll. Intinya, saya ingin mengingatkan teman-temannya bahwa Caca adalah anak yang asik diajak berteman dan tidak ada untungnya kalau mereka mengganggu Caca. Pelan-pelan usaha saya membuahkan hasil, beberapa teman kembali berteman dengan Caca meski pun akhirnya mereka jadi ikut dimusuhi oleh si x. Karena sebal Caca kembali punya teman, si x kembali menulis hal yang kasar di wall fb dan inbox Caca. Saya pun ambil tindakan, saya menulis: Dear xxx sayang. Maaf ya, Tante bisa baca wall dan inbox Caca karena semua notifikasi masuk ke email Tante. Kalau tidak mau berteman tidak apa-apa, tapi tolong ya, berhenti menulis hal-hal yang kasar di fb Caca. Terima kasih. Salam, Tante Zata. Seorang teman menyayangkan waktu saya membalas pesan di inbox Caca. Menurutnya, saya terlalu ikut campur dan ia juga khawatir bahwa Caca akan menuai perlakuan yang lebih buruk lagi karena sudah mengadu ke ibunya. Saya pikir, setiap orang punya solusi masalahnya masing-masing, dan saya memilih yang ini, karena semua notifikasi itu masuk ke email saya, saya merasa punya hak untuk menegur jika memang hal tersebut salah.

Setelah beberapa bulan berlalu, saya melihat bahwa kehidupan Caca jauh lebih ceria daripada saat masih berteman dekat dengan si x. Ia tetap tidak bisa berbaikan dengan si x, tapi si x juga sudah tidak terlalu ‘menyerang’ Caca. Caca lebih menikmati hari-harinya dengan teman-temannya yang se-tipe dengannya, yang kurang suka genk-genk-an dan iri-iri-an. Ia juga punya lebih banyak kegiatan yang positif di luar sekolah, salah satunya dengan ikut latihan taekwondo. Saya berharap, saat umurnya bertambah, dia sudah punya bekal untuk menghadapi hal-hal seperti ini sendiri. Karena di usia yang lebih besar, bukan berarti terbebas dari bully. It happened to adults, too.

Saya adalah salah satu contoh nyatanya. Beberapa tahun lalu, saya dijauhi oleh sekelompok orang di kantor dan mirisnya, beberapa dari orang itu adalah teman saya sebelumnya. Alasan awalnya sangat kekanakan: karena saya dekat dengan bos besar di kantor. Saya adalah mantan guru bahasa Indonesianya dan saat saya sekantor dengannya, saya harus pura-pura tidak kenal?. Biar bagaimana pun saya dekat dengan bos saya itu, meski pun saya sudah membedakan bahwa sekarang saya adalah anak buahnya di kantor, tapi obrolan-obrolan seperti bagaimana kabar keluarganya, dll, yang sehari-hari masih tetap saya lakukan. Itu adalah alasan awal mereka membenci saya, lalu berkembang menjadi apa pun yang saya lakukan terlihat menyebalkan buat mereka. Karena pengaruh satu orang yang lebih senior (bukan secara jabatan, tapi secara umur dan lama bekerja), satu per satu teman meninggalkan saya. Sampai ada masa di mana saya ‘takut’ untuk makan di pantry atau pergi ke toilet karena enggan bertemu mereka. Singkat cerita, saya bisa berkata dengan bangga bahwa saya berhasil melewatinya, bahkan hikmah dibalik itu, saya mendapatkan lebih banyak teman yang sejati, yang fun banget dan tidak menghabiskan waktunya untuk selalu bergosip tentang kejelekan dan kesuksesan orang lain di kantor. Saya juga terpicu untuk menjadi orang yang lebih baik dan lebih berprestasi dalam bidang-bidang yang saya geluti. Kutipan dari Agnes Monica di bawah ini cukup memotivasi saya:

When haters were busy talkin’ I was busy making it happen. When they were busy mocking I was busy walking. When they were busy laughing I was busy running. And they’re STILL wondering why they’re left behind… With lots of love, me
-Agnes Monica-

Pengalaman di atas menjadi alasan saya untuk menulis tentang topik bullying ini. Saya selalu concern dengan hal ini karena bullying seringkali terjadi di mana-mana dan tidak hanya dialami oleh anak atau remaja saja, bahkan orang dewasa pun sering mengalami dan melakukan bullying.

Menurut beberapa literatur yang saya baca, bullying adalah perilaku agresif yang tidak diinginkan yang melibatkan kekuatan fisik dan non-fisik yang tidak seimbang, biasanya terjadi di kalangan anak usia sekolah dan perilaku itu sering berulang atau berpotensi berulang. Namun, seperti yang saya ungkapkan sebelumnya, bullying tidak kenal usia, namun memang lebih sering terlihat terjadi pada anak dan remaja.

Beberapa orang menganggap bullying hanya pada tindakan fisik seperti memukul, mendorong, dan sebagainya, padahal mengancam, menyebar gosip, mengata-ngatai, bahkan tidak menemani seseorang dengan tujuan tertentu pun termasuk dalam tindakan bullying.

image credit: pleasestopbullyingnow

Menurut situs StopBullying.gov, ada tiga tipe bullying:

  • Verbal bullying – adalah mengucapkan atau menulis sesuatu yang menyakitkan, misalnya mengejek, komentar yang berbau seksual, mengancam, dan mengejek nama. Yang terakhir ini sering ditemui pada anak usia sekolah dasar. Saya ingat ada salah satu teman saya yang nama bapaknya menjadi olok-olokan beberapa teman sekelas. Saat itu saya kasihan padanya namun saya tidak menganggap hal itu sebagai hal yang serius, padahal kalau diingat-ingat, anak itu sangat marah dan sedih setiap kali beberapa teman laki-laki memanggil-manggil dirinya dengan nama bapaknya. Ahh… saya ternyata juga menjadi bagian pasif dari bullying itu *sedih*.
  • Social bullying – ini yang paling sering saya lihat dan alami. Bentuk social bullying antara lain nyuekin seseorang dengan sengaja, misalnya dalam sebuah kelompok, ada satu orang yang sengaja dicuekin dan tidak diajak ngobrol. Tujuannya agar orang tersebut malu, merasa tidak berharga, dan seterusnya. Contoh lain adalah menghasut teman lain untuk tidak menemani seseorang, menyebarkan gosip tentang seseorang, dan mempermalukan seseorang di depan umum.

image credit: maine.gov

  • Physical bullying adalah menyakiti fisik seseorang dan atau merusak barang milik seseorang. Misalnya menendang, memukul, mencubit, mendorong, meludah, membuat gestur yang kasar, sampai merusak atau memecahkan barang milik seseorang.

Semoga sharing ini bermanfaat, agar kita semua menjadi lebih concern lagi tentang masalah ini dan melindungi diri kita dan anak-anak kita agar tidak menjadi korban mau pun pelaku bullying. Moms and Kids Against Bullying!

27 Comments

  1. meggy
    meggy July 11, 2013 at 12:36 am

    Aduh, mom. Merinding baca kalimat pertama-nya. Gak bisa percaya rasanya itu keluar dari seorang anak :( Memang, pasti doa setiap ibu semoga anak-anaknya jangan sampai mengalami hal-hal seperti ini, tapi kadang situasi2 semacam ini tidak selalu terhindarkan. Belajar banyak dari artikel ini & senang sekali Caca sudah bisa melewatinya. Say NO to bullying!

  2. Tyas
    Tyas Soejoedono-Prabhowo July 11, 2013 at 7:47 am

    Mbak Zata, saya mendukung sekali mbak akhirnya ikut telibat di masaah Caca ini krn IMHO bully itu bukan sekedar permainan atau rebutan mainan, tapi mengarah kepada kekerasan fisik maupun psikis. Anak saya di TK A juga pernah mengalami bully oleh temannya yg ternyata anak guru di sekolah yg sama. Mgkn guru kelasnya sungkan menegur ortu anak itu krn rekan sejawat, tp saya tegaskan ke guru anak saya, anak saya masih bisa saya “obati” luka fisik dan bathinnya, tapi jangan sampai membiarkan anak yg suka mem-bully itu sampai dibenci dan dihakimi masyarakat kelak. Yuk stop bullying…

  3. yulia handayani
    yulia handayani July 11, 2013 at 7:49 am

    Bullying … terjadi pada siapa saja & tanpa kenal umur.
    Anak2 pun dikala bermain tak jauh dari bullying. Kita orang tua extra hati2 untuk menjelaskan & mengartikan jika anak kita berada disituasi tersebut.
    Agree Mommy Zata, Say NO to Bullying!!!

  4. ZataLigouw
    Zata Ligouw July 11, 2013 at 8:32 am

    Meggy, Tyas, Yulia…makasihhh. Iya, bener, hal spt ini sering terjadi di sekitar kita dan sulit dihindarkan kadang-kadang, jadi memang peran kita sebagai ortu perlu banget buat dampingin dan bantuin anak2 ya..

  5. sLesTa
    shinta lestari July 11, 2013 at 9:19 am

    serem yah denger ada anak kecil bisa ngomong kayak gitu deh.. bingung belajar dari mana, kalo udah gitu gue suka nyalahin sinetron. terlepas dari kata2 kasarnya, sikap bullying itu sebenernya sudah mendarah daging di indonesia. dari kita masih sekolah juga udah ada. cuma sekarang aja jadi keren namanya..

    dulu tiap masuk sekolah, ada gencet2an.. kalo gak mainstream, dikata2in. inget kok gue juga dulu suka dikatain karena gue dulu pindah ke jakarta dari balikpapan. tapi somehow itu gak membekas di gue. kayaknya gue ga terlalu peduli. nah pengen banget bisa ngajarin itu ke anak2 deh.. tapi gue juga ga tau gimana heheh..

    dan gue rasa sih bener kok, karena ikut campur orang tua itu lah, kita jadi nyaman untuk menghadapi bully itu. dan kayaknya itu juga makanya gue jadi ga peduli dan gak membekas, karena orang tua gue lebih fokus gue untuk mikirin hal yang lain. so walopun yang elo lakukan itu mungkin terkesan ikut campur, in long term, caca pasti akan lebih appreciate it. malah mungkin dia gak bakal ngerasa pernah di bully, karena udah keburu di filter sama mamanya. good job, Zata!

    yuk stop bullying!

  6. Ningning
    Ningning July 11, 2013 at 9:31 am

    Serem banget sih anak yg ngebully caca. Heran…anak sd udah bisa ngancem sekasar itu. Astaghfirulloh.. Aku jg setuju kl udah kaya gini mah ortu akhirnya hrs turun tangan. Seneng bacanya akhirnya anak mbak udah kembali ceria.

  7. wirani
    Yekti Wirani July 11, 2013 at 9:57 am

    mbak zata, sedih jg ya bacanya. Anak sekecil itu bisa menulis kalimat yg dibilang kasar. Setuju bgt utk konteks seperti ini, ortu mesti ikutan turun. Di pikiran saya, kalo dibiarin, takutnya anak korban bully makin lama makin ga Pede utk berinterkasi scr sosial. Saya pun merasa pernah mengalami, anak saya waktu itu 1y sering banget dikomentarin kurus, kecil dan dicap membuat efek buruk ke anak lain karena suka ngemut makanan dan melepeh. Waktu itu sedih sekali setiap hbs diceritain mbaknya… saya sempet kesel dan ogah nyapa mereka, takut emosi. Utk anak yg masih 1y yg belum bs bnyak hal hrs disalahin utk kesalahan yg mereka ga tau sama sekali..
    Nice story mbak zata :)

  8. Fonda
    Fonda July 11, 2013 at 10:31 am

    TFS ya mbak..
    Keren dan setuju bgt buat tindakan mbak Zata. Jadi ngeri juga baca ini, flashback ke jaman SD kayaknya saya dulu juga pernah di-bully. Sampai pernah merasa malas dan takut ke sekolah. Tapi mau cerita ke orang tua gak berani. Alhamdulillah gak berlangsung lama, dan luka psikis itu gak sampai membekas waktu saya beranjak lebih besar. Yang jelas hal tersebut (bully) malah membuat saya berubah,jadi orang yg lebih PD. :D

    Well,menurut pengalaman dan pengamatan (IMHO) anak2 yang mem-bully sebenarnya anak2 yang butuh kasih sayang. Jadi dia melakukan itu untuk cari perhatian.

    STOP TO BULLYING!!!!

  9. Bunda MedinaMecca
    Bunda MedinaMecca July 11, 2013 at 10:41 am

    agak2 parno sama bullying, ingat salah satu artis yg pernah upload videonya yg marah2 karena pernah dibullying sama teman SDnya. ternyata bullying bisa demikian mempengaruhi kejiwaan seseorang.
    dan bahkan anak TK juga sudah bisa melakukan bullying pada temannya. beberapa kali medina cerita kalau dia diejek, ngga ditemani hanya karena dia ingin main yang lain bukan yg diinginkan “ketua kelompok”nya, atau didorong secara sengaja. jadi liburan ini beberapa kali saya temani dia nonton VCD “Petualangan Sherina” spy mentalnya kuat walaupun dia perempuan.
    sepertinya masih harus byk belajar lg ttg bullying pd anak apalagi di era digital begini.
    Terimakasih mbak Zata..:)

  10. eka
    Eka Wulandari Gobel July 11, 2013 at 11:46 am

    setuju sama zata, aku juga masih “memilih-milih” teman bermain enzo & dante. pernah ada salah satu teman yg usianya lebih tua, main perang-perangan dan bilang: “kubunuh kau!”
    hah, langsung deh memutuskan untuk gak terima si x tsb utk main di rumah. menurutku, org tua memang memiliki kewajiban untuk memilihkan teman dan lingkungan yg baik untuk anak-anaknya.

  11. mrsdee
    mrsdee July 11, 2013 at 11:52 am

    well i was bullied waktu sd. karena saya sekolah di sekolah yang anak2nya berkulit coklat. saya putih dan sipit (mama saya manado). sepanjang sd di panggil amoi2 tapi saya selalu diem karena bingung emang amoi itu sesuatu yang jelek? karena jujur di kel saya tdk ada ajaran meledek berdasarkan ras jadi saya bener2 ga ngerti apa yang salah. sampai satu hari saya kesel dan saya balas. Emang kenapa kalau seperti amoi? emang salah? abis saya gituin anak2 itu malah diem dan bengong karena ya mereka sendiri ga tau jawabannya dan sehabis itu berhenti sendiri. pas sma saya di gencet tapi kali ini saya diam saja karena peer pressure mengajarkan saya harus takut senior. parah senior2 saya ini, mereka menculik junior selama 2 jam dan kita di toyor2 di jambak dll dan parahnya ya ada yang sampai saat ini masih bragging di twitter soal kebanggan dia *ngerjain ade kelas* padahal ya dia sendiri ibu2 anak satu.saya ga ngerti pikiran org2 yang suka nge bully kok bangga bgt ya?

  12. dyna_rochmya
    dyna_rochmya July 11, 2013 at 12:13 pm

    aku juga inget dulu waktu kelas SD sering dibully..aku gak ditemenin karena aku gak bisa nulis sambung dengan bagus (saat itu aku masuk SD tanpa TK)..buku2ku sering diumpetin..tak pernah diajak pulang bareng..terus sering juga dikatain “kuntet..kuntet”..karena aku fisikku emang kecil..”ketua geng” yang nge-bully ngerasa dirinya cantik dan gak mau temenan sama anak kayak aku..saat itu aku ngerasa minder banget dan sepertinya itu turut membuatku jadi anak antisosial sampai sma..:(

    Kira2 apa ya bunda yang membuat seorang anak bisa mem-bully? Anakku sekarang sudah 1.5 tahun..emosinya baru berkembang namun kalau main sama anak tetangga yg lebih besar dia suka diteriaki..kira2 apa ya tips untuk mencegah prilaku bullying? aku gak mau anakku jadi pem-bully, sama seperti aku gak mau anakku di-bully?

  13. Kira Kara
    Bunda Wiwit July 11, 2013 at 12:49 pm

    Bullying juga sangat dekat dengan masa kecil saya. Apalagi saya tipe anak introvert. Jadi sasaran empuk bullying deh. Dan saya tumbuh jadi anak yang kikuk dan kurang percaya diri. 1 hal yang saya tahu, hal itu membuat saya menjadi anak yang lebih kuat dari yang lain. Jadi saya selalu bilang sama Ki-Ka, jangan biarkan orang lain menghentikan langkahmu, dan kasihilah mereka yang menyakitimu. *bighug to mama Zata & Kakak Caca* :)

  14. ZataLigouw
    Zata Ligouw July 11, 2013 at 12:51 pm

    Makasih Ningning, makasih all..
    Iya Shin, mrsdee, jaman sma jamannya gencet2an tuh, untung gw gak ngalamin, tp justru lbh sering ngalamin sama temen rmh wkt msh SD kayak Fonda gitu..
    Nah..yg Yekti alamin jg srg dialami bnyk org tuh. Gw jg prnah liat ibu2 ttangga tanpa sadar ngebully anak org dng kata2 yg negatif spt “kamu kok kurus sih, nggak diksh makan sama mama kamu?” Dst dst.
    Bunda Medina, kayaknya skrg udah gak kenal umur ya..makanya hrs slalu waspada.
    Eka, emg hak dan kwjiban ortu ya utk memilih yg trbaik utk anaknya..
    Dyna..sabar ya, untung udah melewati masa2 itu ya. Klo mnurut gw, kita membesarkan anak dng penuh kasih sayang aja udah bisa membuat mrk jd anak yg cinta damai. Mungkin moms yg lain pny tips bagus?

  15. ZataLigouw
    Zata Ligouw July 11, 2013 at 12:55 pm

    Wiwit..iya, kalau dipikir2 memang selalu ada pelajaran positive -nya juga ya, kalo kita berhasil ngelewatinnya, kita jd sosok yg kuat dan lebih pede, ngga hanya kuat ngadepin bullying tp jg masalah idupmyg lain :-)

  16. baiq_intan
    baiq_intan July 11, 2013 at 1:24 pm

    waktu SD saya juga pernah dibully mbak karena saya selalu rangking 1 dan teman2 saya yg cowok byk yg mulai naksir2an sama saya,hehehe syukurnya semua itu sudah terlewati.Tapi kalau saya lihat bahkan di lingkungan tempat tggl sekarang saya miris anak kecil yang bahkan belum masuk TK sudah bisa mengancam temannya dengan kata2 yang kasar. Dan melihat kondisi seperti ini benar2 membuat saya sebagai orangtua berpikir,apakah anak saya nanti bisa mendapat lingkungan dan pergaulan yang baik,apakah saya dan suami kelak bisa membantunya saat ia ada dalam masa2 sulit seperti Caca.anyway tfs mbak zata :)

  17. otie
    otie July 11, 2013 at 4:53 pm

    Topik bullying bbrp thn belakangan jd topik yg menghangat ya. Saya juga baru-baru ini saja tersadarkan bahwa saya juga pernah menjadi korban bully waktu TK. Gak tau krn apa, mungkin krn saya selalu juara di tiap caturwulan.. Ingat bgt, tuh 1 anak cewek (sebutlah J) tiap acara main bersama di sekolah(boneka-bonekaan dsb) saya tidak diperbolehkan main bersama, dan dishare sedikit sj mainan. Saat itu saya cuma punya 1 teman cewe, krn sepertinya anak2 cewe lainnya semua masuk si geng J itu.

    Tapi syukurlah hal itu cm terjadi di masa TK. SD sampai SMA gak pernah lagi di-bully…

    Makanya, semakin mendekat wkt anak masuk usia sekolah, lebih mulai memikirkan nih antisipasi apa yah yg perlu dilakukan agar anak gak jadi korban bullying, or kuratifnya.

    Thanks a lot for sharing Mom Zata…

  18. yanasaphira
    Yana Saphira July 11, 2013 at 5:58 pm

    waa case bullying ini memang dari dulu sudah ada, saya masih ingat, sama seperti case mom Otie waktu TK satu orang teman mengajak teman2 yg lain memusuhi saya hanya krn tidak diberikan permen oleh saya haha dan pd saat mrk melihat sy bawa bekal nasi goreng, mrk baik2in saya…serem ya?? TK looohhhhh.. But good job Zata…memang yg plg penting membangkitkan rasa percaya diri anak, itu lebih utama ketimbang membalas perbuatan teman2nya..support selalu utk Caca yaaa mmuach

  19. ZataLigouw
    Zata Ligouw July 12, 2013 at 9:28 am

    bai_intan, otie, Yana..serem ya, TK-SD aja udah ngalamin bullying. Mudah2an dengan berbagi spt ini kita jadi lebih peka thdp hal2 spt dan bisa menjaga anak2 agar tidak di-bully atau jadi yg nge-bully..

  20. gotcini
    gotcini July 12, 2013 at 10:30 am

    Kasian anak2 dibully, bisa krisis kepercayaan diri, semoga guru2 di sekolah bisa melihat kejadian yg tidak diinginkan ya :( orang tua jg harus ngajarin anaknya untuk respect sm org lain karena anak kecil masih kecil belum ngerti apa2

  21. sapta
    sapta ningsih July 12, 2013 at 3:11 pm

    Mba Zata, saya termasuk korban bully waktu masa kanak-kanak (SD) sampai SMA..mungkin ya karena muka yg “agak” judes jadi terkesan sombong, but hey i didn’t meant to..berteman pun dengan siapa saja termasuk anak lain yg di-bully hanya karena dia anak perempuan yg berbeda dari anak-anak lain..pernah waktu saya SD, saya pulang kerumah berderai airmata sambil mengadu pada ibu saya, di sekolah tidak ada teman perempuan yang mau bicara dengan saya..ibu saya hanya bilang kalau saya mungkin harus bersikap lebih baik ke teman-teman saya itu, tp yang ada akhirnya saya cuek dan lebih memilih dengan teman laki-laki..
    kalau saya di posisi Mba Zata, mungkin saya akan melakukan hal yang sama..kadang-kadang anak perlu dibantu untuk menghentikan bully dari temannya..thanks for sharing :)

  22. ZataLigouw
    Zata Ligouw July 12, 2013 at 11:11 pm

    hehehe..waktu kecil temen saya juga kebanyakan laki-laki, sama dng sapta ningsih, tapi setelah kuliah dan bekerja BFF saya semua perempuan..

  23. Mama Windy
    Windy Agnestien October 8, 2013 at 8:32 am

    Saya langsung search artikel ini segera setelah denger cerita nathan yg di-bully sama teman sekolahnya(baru TK B lho padahal..:( ). Bullying belum melukai fisik namun verbal bullying dan belakangan dengar cerita dia dilepas sepatunya, lalu sepatunya dilempar-lempar diantara 2 teman pembully, Nathan mengejar2 sepatunya itu, dan sepatunya berakhir dengan dilempar temannya ke area tempat sampah.

    Iya ya, bingung posisikan dirinya sbg ortu. Mau diem aja sedih, mau ikut bantu nyelesaiin takut anakku tambah dibilang anak mama dan tambah di-bully.. anak cowo pula, takut harga dirinya tambah tersinggung kalau sampe dibully anak mama.

    Suami yg lagi business trip sih bilang ga usah ikut campur, nanti dia akan yg gembleng mental Nathan-nya supaya bisa bela diri dan menyatakan sikap. Tapi gak kuat juga. Akhirnya saya kabari gurunya, mohon bantuannya untuk lebih mengawasi anak2 diluar jam sekolah (sebab keajadiannya seringnya di luar kelas saat menunggu mobil jemputan). Ya harusnya gak ada salahnya lah ya, sambil kita di rumah nggembleng mental anak, di sekolah guru juga dititip2in.. semoga kejadiannya tidak berulang dan bisa happy ending seperti Caca, amin :)

  24. ZataLigouw
    Zata Ligouw October 9, 2013 at 2:23 pm

    duhh, baru TK B padahal ya Win :(

    Mudah2an Nathan bisa menjadi anak yang lebih kuat dan pede ya.., semangat terus Nathan!! (dan papa mamanya juga)

  25. budi
    budi December 10, 2014 at 12:39 am

    Mbak ikut sharing. Anak saya umur 5 tahun juga sering mengalami dikucilkan oleh teman sepermainannya di rumah karena ada anak nama Anis umur 7tahun yang selalu bisik2 untuk memusuhi anak saya. Sebenarnya saya tahu kebiasaan anak ini dari umur 3 tahun, karena dia sering main di rumah saya . Anak saya 2, yang besar laki2 umur 9 tahun. Biasanya anak saya di musuhin ketika Anis ini ingin mainan anak saya, Anak saya karena usianya masih 3 tahun jadi masih susah untuk berbagi, setiap kali tidak dipinjami mainan , maka Anis ini selalu mengancam dan bisik2 kepada kakaknya utnuk memusuhi adiknya. Terkadang bukan anak saya yang menjadi korban tetapi teman baik anak saya nama Irsad yang dikucilkan. Setiap kali dikucilkan Irsad reaksinya cubit dan nyakar.. karena kejadian di rumah saya terkadang saya kasih tau untuk main sama2. Beberapa bulan yang lalu ada tetangga baru, yang anaknya usia 5 tahun, sebut namanya Anik. Dengan kedatangan Anik ini yang menjadi sasara dari Anis ini adalah anak saya..hampir setiap hari pulang main, dengan kondisi sedih, cemberut, nangis, marah.. sewaktu saya tanya kenapa dia bilang Anis bisikin teman2 untuk memusuhi anak saya..saya bukannya menuduh Anis bisik-bisik untuk menjauhi anak saya.. tetapi karena sering anak saya yang pertama dihasut untuk memusuhi adiknya. Menanggapi hal ini saya sering bilang.. Anis iru anak baik.. gak lah Dik kalau dia bisik2 anak yang lain untuk memusuhi adik. Seminggu , dua minggu saya biarkan dan hanya bilang .. Anis itu anak baik.. karena frekwensinya tll sering.. waktu pulang main sore dalam keadaan sedih.. saya tawarkan utntuk saya temeni di taman. Memang benar..disana Irsad, Anis dan anai baru tersebut main sama2. Sebelumnya Irsad dan anak saya main sama2 dan tidak ada masalah, Masalah datang ketika Anis datang. Mencoba meyakinkan anak saya kalau mereka tidak jahat, saya bilang ke Anis… Aniss ,Anis kan anak baik, anak sholeh, anak hebat.. Inta diajak main ya, main sama2.. kasihan ini tadi Inta nangis… main sama-sama ya.. Anis kan anak pintar… manjur.. anak saya bisa gabung kembali… beberapa hari kemudian seperti itu lagi.. Ok dik main sama yang lainnya.. minggu berikutnya juga sama..tiap kali main pasti pulang nangis .. hal ini disebabkan Anis datang dan menghasut team2nya. MEmang anak saya ini pribadinya kuat, tidak dengan mudah mengatur2 anak saya.. Anis juga dominan sifatnya..jadi sama .. beberapa hari kemudian juga sama, bahkan Irsad, tetanggabaru lihat anak saya langsung kabur… hu hu hu sedih banget… tetapi saya mencoba meyakinkan kembali anak saya, mereka tidak bisik2 memusuhi adik… dengan kalimat yang sama .. anak sholeh, anak hebat, anak paling hebat mainnya sama2 ya.. ok bisa main. SAbtu kemarin menjadi puncaknya.. baru main asyik dengan kakaknya, Anis datang langsung bisik2 kakaknya. Anak saya langsung marah, karena kaget saya tanya kenapa ?? anak saya bilang .. ini semua gara2 Anis shg gak ada yg mau teman adik.. sekarang Mas yang dibisiki.. si kakak saya panggil.. bisik2 ada apa ? dia jawab karena anis bisik2, dia sudah trauma dengan kebiasaan bisik2 karena nantinya anak saya dimusuhin.Kakaknya saya panggil dan tanya,, apa yang dibisiki… kakaknya bilang belum semput dibisiki..saya bilang tuh kan adik tidaksetiap bisik2 itu bisik2 yang tidak baik. Ok deh sana main sama2 sambilbicara : Anis jang bisik2 lagi ya…
    Tidak tau siapa yang menyampaikan dan bagaimana yang menyampaikan Mama Anis marah 2 dan menulis di Fb marah2..

    Karena penasaran maka saya mencari tahu tindakan menghasut itu bagaimana.. ternyata tindakan Menghasutini termasuk tindakan Bullying Sosial.. duhhh rasanya marah sekali. Marah sekali kepada ortu anak tsb.. saya sbenarnya pingin sekali bilang kebiasaan menghasut anaknya.. tetapi Mama Anis sdh blok dgn bilang.. Anis itu pintar, makanya banyak temannya, tidak pernah mengadu, tidak pernah minta macam2..
    Anis ini memang tidak punya sepeda , sll pinjam sepeda anak saya, anak saya punya 2 sepeda, Anis sll pilih sepeda kesukaan anak saya , setiap kali anak saya tidak kasih pinjam, Anis sll mengancam untuk tidak ajak main lagi.. dengan terpaksa anak saya kasih, begitu juga dengan mainan lainnya spt scooter..Dia jarang dibelikan mainan.. sll ketempat saya dan pinjam.. tidak dikasih.. sll mengancam. MAma Anis tidak tau semuanya itu..
    Tidak tau siapa yang bilang ke Mama Anis.. dia marah2 di fb dengan bilang Anis itu anak pintar, makanya dia banyak teman bukan karena dia menghasut teman yang lain untuk memusuhi anak yang lain. harusnya berpikir kenapa anak2 tidak mau berteman dengan anak kamu.. trlalu manjain anak ..bla bla bla. dan bilang saya suka memarahi anak dia.. dan satu gank tahu semua.
    KArena penasaran saya lacak informasi yg saya terima kalau Mama Anis ini juga pernah ribut sama tetangga yg lain gara2 anak juga , yi sewaktu kakak anis yang laki2 masih berumur 4 tahun, Mama Anis ini marah2 karena dikasih tau bhwa anaknya mencakar anak tetangganya dan hampir kena Mata,tetangga yang dicakarini minta tolongmama Anis untuk potong kuku kakak Anis.. tetapi malah marah2 dan meludah. Kasus yang sama juga terjadi pada kakak Anis yang perempuan, sekarang di pesantren, rupanya dia juga suka menghasut.. yang jadi korbannya Lia.. sampai sekarang Lia tidak mau bergaul dengan teman2 di lingkungan rumahnya.. dan masih sering dikucilkan.

    Mbak yang saya sayangkan dari sikap kita ini orang dewasa,… sering kali kalau kita bercerita betapa sedihnya anak kita waktu dikucilkan.. selalu mendapatkan tanggapan.. Itu masalah anak2 kita tidak usah ikut campur. Tidak adanya kontrol sosial dari tetangga kita.. dan justru dibiarkan.. tindakan bisik2 ini dan pengucilan.. seringkali kita abai terhadap perasaan anak yang dikucilkan.. di RT yang lama (masih blom yang sama ) .. disana ibu2nya melakukan kontrol sosial..setiapada anak yang tidak diajak main, mereka sll menegur untuk main sama2.. tidak boleh musuhan…hal yang sama saya lakukan di RT yang baru. TErnyata persepsi tetangga2 saya berbeda itu namanya ikut campur urusan anak.. dan mereka membiarkan terjadinya Bullying Sosial.
    Perbedaan nyata kelihatan., di RT lama .. ibu2nya kompak, anak2nya juga kompak tidak ada yang sll dikucilkan spt di RT saya. Teman saya yg anaknya jd korban hasutan kakak Anis ini smpai sekarang mnjdi tertutp dan masa bodoh… dan di Rt yang sekarang rasanya ada bara dalam sekam…
    Menurut saya kalau kita mau STOP BULLYING.. MULAILAH DARI KITA.. KITA HARUS PEDULI DENGAN LINGKUNGAN KITA.. SETIAP KALI KITA MELHAT ADA ANAK YANG DIBULLY, TEGURLAH MEREKA BAIK-BAIK TANPA MARAH2.. DAN HILANGKAN PERSEPSI IKUT CAMPUR URUSAN ANAK… KITA TIDAK BISA BERDALIH ATAU BERALASAN BIAR ANAK MENJADI KUAT MENTALNYA.. MEMANG ADA YANG KUAT TETAPI LEBIH BANYAK YANG RUSAK MENTALNYA.. PENDAPAT SAYA KITA HARUS MULAI BERSUARA THD BULLYING SOSIAL..TERIMAKASIH

  26. ZataLigouw
    Zata Ligouw December 10, 2014 at 6:27 am

    hi mas Budi, iya, saya setuju banget dengan pernyataan mas Budi bahwa untuk membuat anak menjadi ‘kuat’ bukan dengan membiarkan anak menghadapi masalah bullyibg sendirian..

    semoga anak mas Budi sekarang semakin jadi anak yang hebat ya.., terimakasih juga sudah berbagi..

Post a Comment

You must be logged in to post a comment.