Seminar Menghindarkan Anak dari Kejahatan Seksual

Honey Josep

Beberapa waktu lalu saya sempat menghadiri seminar “Menghindarkan Anak Dari Kejahatan Seksual” bersama Ibu Elly Risman dengan moderator Adenita Priambodo. Saya akan mencoba berbagi dengan Urban Mama poin-poin penting dari seminar tersebut.

Terungkapnya kasus kejahatan seksual terhadap anak taman kanak-kanak di sebuah sekolah internasional membuat semua orang kaget bukan kepalang. Hal inilah yang membuat Kampung Keluarga dan Yayasan Kita & Buah Hati mengambil inisiatif untuk memberikan edukasi bagi para orangtua agar kejahatan seksual dapat dihindari. Berikut beberapa poin penting dari seminar tersebut.

Kekerasan seksual dibagi atas tiga kategori:

  1. Kekerasan seksual dengan kata-kata, lisan maupun tulisan. Bicara, berkomentar, SMS, mengirim pesan atau mengajak melakukan kegiatan seksual dengan kata-kata.
  2. Perilaku seksual tanpa persetujuan.
  3. Pemaksaan untuk melakukan kegiatan seksual.

Kejahatan seksual menghampiri anak melalui bujukan, maka orangtua perlu mengajari anak agar menjadi ‘anti-bujukan’ terutama dari orang lain selain orangtua. Agar anak terhindar dari kejahatan seksual maka orangtua harus:

  • Membekali anak dengan pengetahuan dan praktik agama.
  • Komunikasi dengan anak yang baik dan menyenangkan.
  • Membekali anak dengan kemampuan berpikir kritis serta keterampilan untuk menjaga diri.
  • Membuat anak merasa berharga dan disayangi.
  • Siap menjadi orangtua di era digital.

Kejahatan seksual pada anak dan remaja akan berdampak:

  • Merasa tidak berharga, malu, merasa berbeda dengan anak lain, menarik diri, mengisolasi diri, depresi serta anak menjadi terlalu waspada.
  • Bila tidak kuat, bisa bunuh diri.
  • Di kemudian hari akan cenderung menjadi pelaku kekerasan terhadap orang lain.

Tanda-tanda anak menjadi korban:

  • Ketakutan yang luar biasa dan mencolok akan seseorang atau tempat tertentu.
  • Tidak mau makan, sedih, mengurung diri, emosional, susah tidur serta menggigau.
  • Menghindari buang air kecil/besar, menjadi pemalu dan menarik diri dari lingkungan.
  • Kesadaran akan masalah kelamin dan tindakan serta kata-kata yang berkonotasi seksual sering terucap.

Tindakan yang dapat diambil jika anak menjadi korban:

  1. Berikan rasa aman dengan pelukan dan belaian.
  2. Tanya perlahan apa yang dialami, siapa pelakunya dan apa yang dirasakan. Gunakan metode 3B: Bercerita, Bermain, Bernyanyi.
  3. Periksa kemaluan dan anus anak, foto. Laporkan ke kepolisian (yang melapor berbeda dari yang mendampingi anak). Orangtua atau kerabat bisa menghubungi layanan P2TP2A (Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak) untuk memperoleh informasi atau meminta pendampingan. Usahakan kasusnya jangan sampai beredar dulu di masyarakat untuk memudahkan pengusutan dan penangkapan pelaku.
  4. Cari dan lakukan terapi untuk anak.

Pastinya, mencegah lebih baik daripada mengobati. Berikut beberapa cara yang orangtua bisa lakukan untuk mencegah kejahatan seksual pada anak usia sekolah:

Usia 5-7 tahun:

  • Yakinkan anak untuk berbagi rahasia dengan orangtua
  • Tidak memakai pakaian minim dan celana pendek
  • Bila tidur, menutup pintu kamar serta tidak satu selimut jika tidur dengan saudara kandung walaupun sejenis kelamin
  • Pisah kamar dengan orangtua dan saudara sekandung lawan jenis. Bila kamar terbatas, batasi dengan gordyn, sprei atau pemisah lainnya

Usia 7-10 tahun:

  • Persiapkan anak menjelang pubertas dengan simulasi alat reproduksi manusia. Bahan-bahan ini bisa didapatkan di Yayasan Kita & Buah Hati.

Menjadi kewajiban orangtua untuk terlebih dahulu mengedukasi diri dengan pengetahuan seperti ini, menjadi lebih waspada dan mampu menjaga anak-anak agar terhindar dari kejahatan seksual. Semoga anak-anak kita selalu dilindungi dan dapat menjadi generasi penerus bangsa yang terbaik.

9 Comments

  1. siska.knoch
    Siska Knoch August 28, 2014 at 7:00 am

    Makasi artikelnya Honey..
    sudah beberapa kali ikut/dengar dan baca seminar ibu Elly selalu ingat pesannya.. “parenting is not about your kids it’s about you”.. dan dijaman skr ini memang benar adanya kita harus siap menjadi orang tea di era digital.

  2. Honey Josep
    Honey Josep August 28, 2014 at 11:18 am

    @Siska Knoch: Setuju Chika! Perlu banget nih selalu belajar soal parenting lewat media apapun. Beruntung ada TUM, ilmunya tambah banyak :)

  3. mamadino
    Angie Renata August 28, 2014 at 1:51 pm

    Waah…ini info-nya penting banget! Dari dulu sukaa deh kalo bu Elly Risman yang seminar. TFS yaa :)

  4. Kira Kara
    Bunda Wiwit August 28, 2014 at 4:54 pm

    dari dulu pengen ikutan seminarnya ibu Elly, belum pernah kesampaian. Jarang banget ada di Surabaya yaa?! Honey, terima kasih artikelnya ya… Baca ini jadi makin penasaran ikut seminarnya. Great Info, indeed!

  5. rainiw
    Aini Hanafiah August 28, 2014 at 5:08 pm

    Beneran deh, kalau pas ntar mudik pas ada seminar bu Elly, musti disempetin ikut biar cuma sekali pun ;D tfs yaa Honey!

  6. Honey Josep
    Honey Josep August 28, 2014 at 5:47 pm

    @Angie Renata: my pleasure :)

    @Bunda Wiwit: ngikut seminarnya merinding disko! Banyak info yang ga terungkap di luar tapi temuan tim bu Elly mencengangkan!

    @Aini Hanafiah: Yuk! Mudah-mudahan berkesempatan bisa ikut hadir di seminar Bu Elly :)

  7. eka
    Eka Wulandari Gobel September 1, 2014 at 5:28 pm

    honey, makasih yaa artikelnya! berguna banget nih untuk diterapkan ke anak-anak.

  8. Honey Josep
    Honey Josep September 3, 2014 at 3:57 pm

    @Eka: dengan senang hati :) banget!

  9. ZataLigouw
    Zata Ligouw September 3, 2014 at 6:36 pm

    makasih artikelnya Honeyyy…

Post a Comment

You must be logged in to post a comment.