Semua Anak… Cerdas!

Davincka
Jihan Davincka Simply a mom of 2, Nabil and Narda. 100% Buginese. Since 2009, living abroad along with her husband. Having many tremendous experiences from Tehran (Iran), Jeddah (Saudi Arabia) and now in Athlone (Ireland).

sumber: www. gettyimages.com

“Kunci kesuksesan anak Anda? Matematika dan bahasa Inggris!” Begitu isi tulisan sebuah spanduk yang terpampang lebar-lebar yang dipasang di sebuah jembatan penyeberangan.

Saya tidak sengaja melihatnya ketika melewati salah satu jalan protokol ibu kota. Lagi macet parah. Daripada putus asa karena taksi saya tak kunjung bergerak maju, saya alihkan saja pandangan menyisir apa saja selain keruwetan yang terjadi di depan jalan sana.

Kelihatan spanduk yang cukup besar itu. Slogan di atas tertulis mencolok dengan warna ngejreng. Oh, ternyata iklan sebuah tempat kursus buat anak-anak. Di bawah kalimat tadi, ada keterangan mengenai nama tempat kursus, lengkap dengan alamat dan nomor teleponnya.

Wah, trik pemasaran yang cukup jitu ;).

***

Kenapa, sih? Jangan-jangan saya menulis ini karena saya tak pandai di kedua mata pelajaran di atas. Jangan salah. Saya ini sering sekali menjadi juara kelas dari SD hingga SMA, sombong sedikit.

Bahkan kuliah di fakultas yang sangat mengandalkan kemampuan logika matematika. Bahasa Inggris? Wah, sedari kecil saya suka sekali dan tak pernah punya kesulitan berarti dengan bahasa Inggris.

Saya berasal dari keluarga besar. Tujuh bersaudara. Jadi sudah biasa dengan macam-macam karakter dan pola pikir. Saya yang sangat cerewet ini bisa hidup damai tentram satu atap belasan tahun dengan kakak-kakak dan adik-adik saya yang “warna warni”.

Adik saya yang perempuan sangat supel, banyak teman, biarpun prestasi akademisnya sedang-sedang saja. Iri deh dengan kemampuannya bergaul di semua kalangan. Kontras dengan dia, kakak saya yang nomor 3 sangat pemalu. Hanya bisa mengobrol santai dengan orang-orang terdekat saja, padahal orangnya super kocak. Jika di depan umum, membisu seribu bahasa.

Salah satu kakak saya, yang nomor 4, pas di atas saya, saat ini sedang berada di puncak kariernya. Dia salah satu definisi sukses buat saya. Memangnya apa sih kerjanya? Ahli matematika? Jago sekalikah bahasa Inggrisnya?

Bukan sama sekali! Kakak saya bekerja di bidang mode. Bukan seorang desainer, tapi seorang fashion stylist! Saya tak menyangka juga hobinya mengutak-atik cara berpakaian seseorang, berburu busana dari mal mewah hingga pasar loak, bisa menghasilkan uang banyak.

Dari kecil kakak saya ini sangat alergi sama yang namanya matematika. Dia sungguh kerepotan menghadapi mata pelajaran yang satu ini. Dia juga tidak suka bahasa Inggris. Tapi sekarang sudah mulai mau belajar karena sering bepergian ke luar negeri.

***

Semua orang menginginkan anaknya tumbuh cerdas dan menuai kesuksesan di masa depan. Tapi apa sebenarnya definisi CERDAS ini?

Contohnya saya. Prestasi akademis saya terbilang gemilang di masa sekolah. Tapi tahu tidak, ada satu mata pelajaran yang sangat saya takuti. Olahraga. Iya, saya paling tidak bisa olahraga. Saya bolak-balik mendapat angka 6 untuk pelajaran satu ini.

Pada suatu ujian praktik, saat duduk di bangku SMA, malunya minta ampun. Saya satu-satunya siswi yang tidak berhasil mencetak satu angka pun di bawah ring bola basket. Masing-masing diberi kesempatan sebanyak 10 kali. Dan saya gagal total. Teman-teman banyak yang meledek. Termasuk kecengan saat itu yang memang salah satu punggawa tim basket di sekolah kami. Rasanya ingin menghilang ditelan bumi.

Di kantor dulu pernah mewabah hobi main pingpong. Berebutan ingin belajar. Ternyata gampang karena tiba-tiba jadi banyak yang bisa. Termasuk para karyawati. Saya ikutan belajar, dong. Biarpun sudah tiap hari sepulang kantor minta diajari, selama sebulan penuh, servis saja tidak pernah bisa!

Yah, urusan olahraga, bukan kurang lagi, tapi saya termasuk idiot. Sama dengan urusan menghafal jalan. Entah sudah berapa kali kami sekeluarga berangkat ke Mekkah dari kota Jeddah. Saya masih kebingungan dengan rutenya. Saya sering merasa jalan yang kami lewati itu berubah-ubah.

Suami saya sampai jengkel karena saya sering bertanya, “Kok lewat sini? Tidak lewat jalan kemarin saja?” Dia menggerutu, “Aduh, ini kan jalannya dari dulu selalu lewat sini. Masa tidak hafal juga, sih?”

Lagi-lagi, urusan menghafal jalan, saya cuma bisa pasrah. Saya sangat lemah untuk urusan satu ini. Makanya selama tinggal di Jeddah, suami melarang keras saya naik taksi sendiri. Padahal di sini boleh-boleh saja, lho, perempuan naik taksi sendiri ke mana-mana. Padahal struktur jalan di kota Jeddah teratur banget, lurus, dan berbentuk kotak.

Nah, karena pada dasarnya kecerdasan itu memang macam-macam. Pasti sudah familiar dong dengan istilah multiple intelligence. Apakah itu?

Ada 8 kecerdasan yang tercantum dalam pengertian ini :

  1. Verbal/Linguistik
  2. Logis/Matematis
  3. Visual/Pandang-ruang (spasial)
  4. Tubuh/Kinestetik
  5. Musikal
  6. Intrapersonal
  7. Interpersonal
  8. Naturalis

Jadi sebenarnya naive sekali, ya, kalau kita hanya menempelkan definisi cerdas secara sempit. Cerdas itu ya mesti jagoan matematika. Jago berhitung. Jago fisika. Padahal semua yang disebutkan barusan cuma satu di antara 8 kecerdasan yang ada.

Siapa bilang anti matematika punya pengaruh besar dalam kesuksesan kita? Nanti saya kenalkan ke kakak saya ya.

Jadi, tipe-tipe kecerdasan ini cukup penting untuk digali agar kita lebih mudah mengarahkan bakat anak kita untuk masa depannya nanti. Kalau sudah bisa menemukan passion yang tepat, didalami dengan sungguh-sungguh, tinggal urusan waktu saja untuk menuai keberhasilan.

Ini bisa iseng-iseng kita tes, lho. Konon katanya, menurut penelitian, tiap orang itu biasanya “kuat” di 3 hal, sedang-sedang saja di 2 hal, dan cukup “lemah” di 3 hal lainnya.

Contohnya… lagi-lagi, saya! Saya cukup fasih secara verbal-logis-interpersonal, tapi biasa-biasa saja di musikal dan intrapersonal, dan lemah di visual-natural-kinestetik.

Makanya tidak heran, saya lemah di kemampuan visual, jadinya gampang kesasar di jalan. Hal yang sama berlaku untuk kemampuan kinestetik/olah tubuh. Makanya tidak pernah bermimpi jadi atlet, cukup jadi fansnya atlet yang ganteng-ganteng saja. Hahaha.

***

Jadi, jangan buru-buru panik bila si kecil mengerutkan kening ketika dihadapkan dengan sederetan angka-angka. Coba serahkan raket tenis atau kenakan sepatu balet di kakinya?

Atau mungkin si kecil yang cantik tak kunjung gemulai jika suara musik menghentak-hentak mengajak menari. Coba kenalkan dia lebih dekat pada alam. Mungkin jiwanya mengarah ke naturalis.

Kesimpulan tulisan ini, saya kutip dari tulisan salah satu orang cerdas yang dikenang sepanjang masa :

“Everybody is a genius. But if you judge a fish by its ability to climb a tree, it will live its whole life believing that it is stupid.”  ― Albert Einstein

Yakini, semua orang itu… cerdas!

58 Comments

  1. Medy
    medy August 8, 2012 at 12:22 am

    Ouch keren tulisannya..:) Sayang memang msh byk yg menilai kecerdasan dari prestasi akademis saja ya..btw tes apa yg bisa dilakukan utk tahu ttg ‘arah’ multiple intelligence kita? Tia..

    1. Davincka
      Jihan Davincka August 9, 2012 at 11:20 pm

      Oiya, di atas harusnya ada linknya, tuh. Dihapus kayaknya hehehe… bisa iseng-iseng tes di sini ya, Mom : http://www.mypersonality.info/multiple-intelligences/

  2. August 8, 2012 at 2:48 am

    Iya nih.. setuju banget. Di lingkungan terdekat saya,,Anak yang punya nilai bagus, bisa masuk sekolah favorit pasti dianggap cerdas dan pintar. Tapi,, anak yang jago sepak bola atau jago menggambar dianggap biasa aja..

    Jadi de2gan juga nih.. 2 anak saya nantinya berbakat ke mana ya?
    thanks for sharing ya…

    1. Davincka
      Jihan Davincka August 9, 2012 at 11:21 pm

      Iya, yah. Buat anak nih yang bikin cemas hehehe. Terus terang cukup sulit ya keluar dari ‘paradigma orang dulu’ itu :D.

  3. ninit
    ninit yunita August 8, 2012 at 3:49 am

    great article jihan!
    rata2 memang yg jago matematika yang dianggap cerdas, padahal ngga cuma itu.

    bener banget semua yang jihan ceritakan di atas. semua anak cerdas! kategori cerdas itu kan banyak ya…
    semoga semakin banyak urban parents yang juga mengetahui hal ini.

    1. Davincka
      Jihan Davincka August 9, 2012 at 11:22 pm

      Saya yakin banyak yang tahu kok, Teh. Cuma kadang pengaruh lingkungan nih yang cukup susah :D. Apalagi perempuan cukup berat ‘peer pressure’nya, termasuk urusan anak :P.

  4. bundaliffa
    liana kirana August 8, 2012 at 7:46 am

    love this !!!
    paling tidak suka mengkotak-kotakan kecerdasan kepintaran karena 1 hal!! saya dari kecil mungkin (belum)gak bisa menakar bahan-bahan kue di timbangan, namanya jg anak kecil.. eh salah dikit malah dibilangin “kamumah bodo,matematika aja ga bisa” see..sampe sekarang saya paling anti (trauma) sama urusan perkuean yg pake timbangan..
    *curcol* tapi nilai saya lebih gede di b.inggris..tapi sayang itu tak diakui

    great article..
    dari situ saya bertekad ga peduli anak saya lebih menonjol di bidang apapun..karena setiap anak itu unik dan memang sudah digariskan jalannya

    thank you

    1. Davincka
      Jihan Davincka August 9, 2012 at 11:23 pm

      Wah, jago Bahasa Inggris itu sesuatu banget lho di zaman sekarang ^_^. Salam kenal, Bunda ;).

  5. oci
    Oci Rajagukguk Dewono August 8, 2012 at 8:45 am

    Nice article, Jihan! Love it :)

    1. Davincka
      Jihan Davincka August 9, 2012 at 11:23 pm

      Terima kasih :)

  6. Indri
    Indri Puspitasari August 8, 2012 at 9:23 am

    LIKE THIS A LOT !! :)
    Artikelnya berguna banget..saya termasuk orang yang passionate banget buat ngajarin bahasa inggris ke anak. Tapi setelah dipikir-pikir jago bahasa inggris aja belum jaminan dia sukses di masa depan.

    Interpersonal skill, logika, n semua yg disebut di atas juga penting.

    1. Davincka
      Jihan Davincka August 9, 2012 at 11:25 pm

      Bahasa Inggris rasanya cukup perlu kok, Mom :). Cuma ya jangan terlalu dipaksakan :D. Salam kenal :).

  7. BunDit
    BunDit August 8, 2012 at 9:31 am

    Ah…sama dengan posting saya di blog beberapa waktu lalu mengenai Multiple Intelligences. Kadang secara gak sadar, ekspektasi ortu ke anak terlalu tinggi. Biasanya pelajaran matematika menjadi tolok ukur. Kalau pinter matematika itu anak dianggap cerdas. Padahal ada kecerdasan lain selain kecerdasan logis.

    Saya dari kecil sangat menyukai matematika. Dita (4y2m), sepertinya tidak punya ketertarikan yang sama dengan saya. Awalnya ada rasa sedikit kecewa, tapi setelah dari sekolahnya pernah menggelar seminar mengenai MI ini, saya sadar, bisa jadi Dita tidak menonjol di kecerdasan logis tapi akan gemilang di kecerdasan lainnya. Semoga sbg ortu saya bisa mengarahkan dan memfasilitasinya.

    TFS Mam Jihan :-)

    1. Davincka
      Jihan Davincka August 9, 2012 at 11:29 pm

      Wah, iya saya sudah baca tulisannya :). Bagus euy. Kalau di keluarga saya sendiri, yang berkilau justru yang memilih jalur di luar eksakta hehehe.

  8. morningtea
    morningtea August 8, 2012 at 9:49 am

    Salam kenal mbak Jihan,

    Keren banget tulisannya:)TFS ya

    1. Davincka
      Jihan Davincka August 9, 2012 at 11:29 pm

      Salam kenal juga Mbak :).

  9. Bunda nya SaQeena
    pintia pradipta August 8, 2012 at 10:33 am

    sama kyk cerita bp saya
    diantara sodara2 nya dia paling jago mat,fisika,itung2an deh..
    sodara2 ny yg lain lbh jago ke seni..
    jd org paling d sanjung d keluarga malah bkin bp saya tertekan,dan ujung2ny malah jd yg paling rendah ekonomi drpd sodara2 ny yg lain..
    alhmdlh berkat pglaman nya,bp membebaskan kami anak2ny.. itu pun akan saya terapkan untk anak saya :)
    jd moms,jgn beda2in anak karna khebatan di bidang nya ya..
    trlalu d agung kan pun,anak bs stres

    1. Davincka
      Jihan Davincka August 9, 2012 at 11:31 pm

      Wah, untungnya Ibu saya tidak pernah mengistimewakan siapa pun. Mungkin pusing karena anaknya 7, jadi daripada repot-repot, semuanya disamaratakan saja hehehe.

  10. sLesTa
    shinta lestari August 8, 2012 at 10:36 am

    great article, Jihan! setuju sama semuanya. membanding2kan anak juga percuma karena tiap anak kan beda2.. dan gak ada yang paling bagus kok. pinter matematika gak berarti superior dari yang pintar olahraga. totally agree!!

    1. Davincka
      Jihan Davincka August 9, 2012 at 11:31 pm

      Sip, Mbak Slesta ;).

  11. Irma Ardian
    Irma Ardian August 8, 2012 at 10:36 am

    Setuju..
    Like this article. Kecerdasan gak bisa diukur dr ilmu hitung menghitung saja. Urban parents hrs peka dgn keunikAn yg dimiliki setiap anaknya. Salute ya buat ortu jihan, yg bisa membaca dan mengarahkan putra putrinya utk fokus thd bidang yg disukainya…

    1. Davincka
      Jihan Davincka August 9, 2012 at 11:33 pm

      Iyah, hidup Mama! hehehe. Dari kecil kalau ada yang protes kenapa adik saya gak secemerlang saya soal nilai rapor, Mama selalu menangkis, “dia itu gini-gini temennya banyak, lho. Supel banget.”

  12. unie
    Nie Anita August 8, 2012 at 10:45 am

    keren !! semoga saya bisa menjadi ibu yg bijaksana dalam membimbing anak saya nanti :)

    1. Davincka
      Jihan Davincka August 9, 2012 at 11:33 pm

      Amiiinnnn ^_^

  13. ninaKriya
    nina kriya August 8, 2012 at 11:03 am

    WOW, two thumbs up untuk tulisannya, mbak Jihan!

    1. Davincka
      Jihan Davincka August 10, 2012 at 12:16 am

      Terima kasih :).

  14. neni_arka
    Neni Setyoreni August 8, 2012 at 11:53 am

    I heart you mb Jihan….tfs,
    jd inget ponakan saya, 5 & 7 th, si kakak dianggap ‘kurang’ hanya karena si adik lebih jago dalam calistung. Padahal si kakak punya hati yg tulus, untuk ukuran anak 7 th, dan bisa banget mengalah demi kesenangan si adik. Tiap mamanya masak pasti langsung memuji, ‘ini mama yang masak tah? hmm..enaaak’. Trus langsung makan dengan lahapnya. Saya bahkan sering terharu kalo lihat dia mengalah sama adiknya.
    Semoga saya inget terus artikelnya mb Jihan dan bisa jadi ibu yg bijaksana untuk Arka anak saya. Ijin copas ya mb….:)

    1. Davincka
      Jihan Davincka August 10, 2012 at 12:18 am

      Wah, kok bisa ada yang pilih kasih? semuanya anak sendiri, kok :(. Iya, mudah-mudahan kita ingat terus kalau semua anak…cerdas! ;)

  15. Kira Kara
    Bunda Wiwit August 8, 2012 at 12:10 pm

    Jihan, Kereeeennn.. Agreed with your article..
    EH iya, kemampuannya samaa kayak aku… saya juga sering kesasar.. haha.. suami jg udah hafal bgt. Tapi soal berhitung dan sastra, saya ahlinyaa.. hahaha…
    Dan saya juga suka menganalisa kembar saya.. meskipun kembar, kemampuan mereka berbeda hampir 180 degrees deh.. :)

    1. Davincka
      Jihan Davincka August 10, 2012 at 12:22 am

      Mungkin nanti pun kesuksesannya akan beda-beda. Tapi judulnya tetap sama-sama sukses :D. Amiiinnn ^_^

  16. midoribunsay
    midoribunsay August 8, 2012 at 12:33 pm

    Jeje … 5 thumbs up for you …
    I always love your articles… Selalu ikut terhanyut dan termanggut2 setiap baca artikel lo. Keep on fighting ya Je.
    Mungkin satu2 nya olahraga yg elu pinter, cuma senam ya … :) Jeje jago ngurusin badan niy. *Ririn

    1. Davincka
      Jihan Davincka August 10, 2012 at 12:36 am

      Ahahahahaha… emberrrr, kalau aerobik mah hajarrrr :P. Tapi Mak, mungkin olahraga yang gue gak bisa itu yang butuh skill khusus macam tenis, bulutangkis, voli basket. Berenang juga gak pernah bisa-bisa :P.

  17. keblug
    keblug August 8, 2012 at 12:45 pm

    ahahaha keblug banget nih suka nyasar. sekarang aja klo ngasih arah tukang ojeg, tukang ojegnya ngelus dada. kanan dibilang kiri, kiri dibilang kanan. hihihi…

    artikel ini ciamik banget. kereen! ijin share di FB :)

    1. Davincka
      Jihan Davincka August 10, 2012 at 12:36 am

      Suka nyasar? *tossss* hehehehe.

  18. hary
    hary augustina August 8, 2012 at 1:24 pm

    boleh di pm dung mom dimana belinya :)

  19. hary
    hary augustina August 8, 2012 at 1:32 pm

    bukunya menarik :) jadi pengen punya buat elhaque

    1. Davincka
      Jihan Davincka August 10, 2012 at 12:38 am

      Salah reply kali ya, Mom hehehe. Ini reply untuk postingan sebelumnya.

  20. hatzsiahaan
    hatzsiahaan August 8, 2012 at 2:22 pm

    nice article, memng semua anak dilahirkan cerdas. mudah2an saya bisa menggali kecerdasan anak2 ini. trims sekali lagi mba, buat artikelnya

    1. Davincka
      Jihan Davincka August 10, 2012 at 12:38 am

      Doa yang sama untuk kita semua :). Salam kenal :).

    1. Davincka
      Jihan Davincka August 10, 2012 at 12:40 am

      Thanks ya, Mbak ;).

  21. naniyusuf
    nani yusuf August 8, 2012 at 3:26 pm

    artikelnya kereeenn
    tantangan bgt buat parents utk menemukan+mengembangkan kecerdasan masing2 anak dg tepat
    TFS mom :)

    1. Davincka
      Jihan Davincka August 10, 2012 at 12:41 am

      Tantangan buat semua orang tua ^_^.

  22. bajajpinky
    pradnya anindita August 8, 2012 at 10:22 pm

    nice article!!! msh byk orang yg menganggap kecerdasan itu terbatas dan dinilai dr akademis saja. pdhl cerdas itu byk bentuknya. saya aja yg (kyknya) pny kecerdasan logika srg merasa kecerdasan ini aja blm bs bkn saya sukses. semoga kita bisa mengasah kecerdasan anak2 kita ya moms!!!

    1. Davincka
      Jihan Davincka August 10, 2012 at 12:42 am

      Sip, good luck buat kita semua ya, Moms ^_^

  23. Adenita Priambodo
    Adenita August 9, 2012 at 5:00 am

    Artikelnya keren!Waah, mbak Jihan..aku berasa dikasih kaca banget soal jalan dan nyasar.. hwhehe jadi inget soal pola kerjaku yang ngacak, sementara suami sangat runut dan sebagai anak teknik emang jagonya logika, kadang-kadang suka terintimidasi dengan ‘kecerdasan’orang lain yang menguasai logis dan visual. Gara2 artikel ini, jadi diingatkan kekuatan sendiri yang harus di syukuri dan menularkan ‘dua kekuatan’ kami kepada anak.. thanks for sharing, Mbak :)

    1. Davincka
      Jihan Davincka August 10, 2012 at 12:43 am

      Hehehehehe, waduh, ternyata banyak nih temennya soal nyasar-nyasar di jalan, yak :D *tossss*

  24. Honey Josep
    Honey Josep August 9, 2012 at 2:42 pm

    Jihan, tulisannya bagus sekali!

    gw tau itu iklan apa :D

    *toss* kecerdasan spasial gue juga kurang, walau juara kelas dari SD- SMA jugaaaa :p

    1. Davincka
      Jihan Davincka August 10, 2012 at 12:44 am

      Ahahahahahaha, iklan apa cobaaa? :P. Punya kelemahan secara spasial memang kadang bikin gemes, yak hehehe.

  25. dadidedo
    Anggraini Karimuddin August 9, 2012 at 3:16 pm

    PR nya kita sebagai orang tua itu ya mencari sebetulnya anak kita cerdas di bagian yang mana. Dan itu gak gampang ya. Tapi gw sependapat. Sungguh old school banget kalau orang-orang masih berpendapat jago matematika dan bahasa inggris itu jadi patokan kalau anak itu cerdas atau gak.
    Tapi selain itu yg lebih penting lagi, anak kita itu punya passion dimana sih? If they can follow their passion and work on it with their heart, they can be future rock star! Menurut gw tugasnya orang tua itu menggali potensi dan mengarahkan minat mereka ke tempat yang terbaik untuk si anak? Ya gak? :)

    1. Davincka
      Jihan Davincka August 10, 2012 at 12:45 am

      Setuju! Passion biasanya tidak jauh-jauh dari bakat alaminya sih ya harusnya hehehe.

  26. mielle
    mielle August 9, 2012 at 3:55 pm

    Nice article
    mau share aja, kr kemarin habis konsultasi dg konsultan finger print analysis, jadi tau multiple intelligence anakku (3y,10months) strongnya di bidang logika matematika,visual spasial,body kinestitic. Makanya gak heran kenapa dia dibilang kayak cacing gak bisa diam, kecuali kalo tidur. dan dia memang strong dibidang matematika,dan pemahaman bentuk, tempat, dan dimensi.
    Dan kr verbal linguistiknya biasa2 saja (kemampuan dia mengeja kata2 masih agak kurang), aku jadi tidak terlalu merasa kecil hati dan terlalu push dia utk bisa mengeja dg benar.
    ada kalanya sebagai parents, kita suka membandingkan anak kita dg anak lain. (temannya sdh bisa baca satu kalimat sederhana, anakku kok belum bisa)
    Dg tau bahwa setiap anak unik, kita jadi bisa lebih fokus utk mengarahkan anak sesuai dg potensinya.

    1. Davincka
      Jihan Davincka August 10, 2012 at 12:46 am

      Betul, Mom :). ‘Peer pressure’ itu memang bukan perkara gampang hehehe.

  27. aMi_Paramita
    aMi_Paramita August 9, 2012 at 9:58 pm

    Tosss aku jg bodoh banget di mata pelajaran olahraga. nilai 6 atau 7 kyny udah dikatrol banget sama gurunya, hihihihi…

    Banyak ortu jaman dulu yg ga ngerti sama multiple intelligence (MI) ini, termasuk ortuku. Dulu aku suka minder soalnya kedua kakakku lulusan kedokteran, sekalipun pas SMA aku jurusan IPA tapi nilai ‘mafia’ jelek mulu, untung kuliah masuk ke jurusan yg ga ada itung-itungannya. Ortu sempet kecewa karena jurusanku beda sendiri, mereka selalu nganggep kedokteran or akuntansi lah yg bakal sukses.

    Begitu tau tentang MI, sedari dini lebih baik kita asah semuanya, nanti seiring dengan proses belajar mereka pasti ada kok yg menonjol. Nah, kalo udah keliatan yg menonjol, itulah yg kita support.

    1. Davincka
      Jihan Davincka August 10, 2012 at 12:49 am

      Hehehehe, iya betul banget. Bahkan di masa sekarang, profesi dokter masih dianggap salah satu profesi paling ‘sakral’ :D. Salam kenal ya, Mbak :).

  28. Niniek Rofiani
    niniek rofiani August 10, 2012 at 3:03 pm

    jadi ingat lagunya Barney, yang salah satu liriknya “…..everyone is special in his or her own way” setuju sama Jihan, I also refuse to determine Smart in those limited term. ayok kita membantu anak-anak kita menemukan bakat dan kecerdasannya sendiri. jadi sebenarnya gak fair juga memaksakan anak2 kita ikut kursus ini itu, sekolah dengan standar international atau 3 bahasa sekaligus, jika hal itu membuat anak tidak enjoy, dan makin susah menemukan bakatnya….btw TFS Jihan

  29. ayumuhyidin
    Ayu Muhyidin August 10, 2012 at 11:14 pm

    Baru baca, n bgs bgtt……..manfaat sekali. Salam kenal y bun……

  30. rapa
    Mita Koesnidar August 15, 2012 at 11:28 am

    Seneng bacanya, dan lega. Dulu waktu ABG sempet stress sendiri karena dogma masyarakat kebanyakan, kenapa ga bisa maju di bidang-bidang yang menurut ’100 dari 100 orang’ itu paling OK untuk masa depan. Jaman dulu gitu loh, kalo ga ikut jadi dokter/insinyur/profesor rasanya dunia runtuh.

    Tapi untunglah orangtuaku malah santai dan bebasin anaknya untuk tetap menjalani apa yang lebih nyaman, bisa, dan senang untuk aku jalani. Jadi ke Nindia aku juga ga memaksakan apa-apa dan hanya mengoptimalkan apa yang anakku senang (dalam hal positif).

    “God didn’t have time to make a nobody, only a somebody. I believe that each of us had God-given talents within us waiting to be brought to fruition.” -Mary Kay Ash

Post a Comment

You must be logged in to post a comment.