Si Sulung yang Selalu Sakit Saat Ujian

Saya bukanlah tipe ibu yang rajin menemani anak belajar, justru kami orangtua yang cenderung agak cuek. Menurut saya, anak tidak perlu dipaksa belajar, sehingga kaget saat teman sekantor bercerita kalau ia menunggui anaknya belajar selama seminggu UTS. Bisa diakui, saya sering sudah merasa sangat lelah saat pulang kerja dan saya juga tidak telaten. Selama ini saya hanya bertanya pada si Sulung apakah ia bisa mengerjakan ujiannya di sekolah. Jika ia menjawab bisa, saya langsung merasa lega. 

Oleh karena itu saya kaget sekali begitu mengambil rapor si sulung ketika ia duduk kelas 4 SD. Wali kelasnya dengan hati-hati menanyakan apakah saya memasang target anak harus nilainya bagus, juara, dan sebagainya. Saat itu saya menjawab kalau untuk belajar saja saya tidak mewajibkannya. Menurut beliau, si Sulung selalu sakit saat ujian, karena kebetulan sudah dua tahun berturut-turut menjadi wali kelas si Sulung, jadi hal ini menjadi perhatiannya. Bu Wali Kelas berpikir apakah mungkin tuntutan dari orangtua menyebabkan sakit itu. SAya teringat saat kelas satu dan kelas dua ia juga sakit selalu ulangan berlangsung dan harus mengikuti susulan. Bahkan sempat menginap beberapa hari di rumah sakit saat kelas dua. Hal yang sama terjadi di kelas empat. 

Saya lalu berdiskusi dengan suami, mencoba mencari apa yang salah dengan kami sehingga si Sulung sakit jika menghadapi ujian. Kami juga berkomunikasi lebih banyak dengan si Sulung, mengatakan bahwa kami tidak menuntut agar ia selalu menjadi nomor satu atau selalu mendapatkan nilai bagus. Hasil apa pun yang diperolehnya akan kami hargai karena ia sudah berusaha dan hal yang terpenting adalah kesehatan. Kami berulang kali berpesan seperti itu. 

Ternyata memang komunikasi adalah kuncinya. Kami tidak pernah memaksa belajar atau meminta si Sulung menjadi juara. Karakternya yang sensitif justru membuatnya merasa terbebani karena bingung apa yang diinginkan oleh orangtuanya. Setelah kami lebih banyak berkomunikasi, ternyata si Sulung mulai bisa berprestasi dan pada saat kelas 5 SD ia tidak sakit lagi saat akan ujian. Bahkan si Sulung berhasil mencapai nilai terbaik ujian nasional di SD-nya. Sekarang ia sudah SMA dan yang terpenting tidak sakit lagi saat ujian. 

 

Berbeda dengan si adik, yang kini duduk di kelas 5 SD. Karakternya keras dan sangat berbeda dengan kakaknya. Saya harus cerewet mengingatkan agar ia mau membuka buku, atau belajar saat ujian, mengingatkan apakah ada PR atau tidak. Si anak tengah ini lebih keras kepala dan harus rajin diingatkan untuk belajar, sementara kepada kakaknya saya malahan mengingatkan agar jangan belajar terus. Sedangkan untuk si Bungsu yang masih TK, saya masih harus menyelami karakternya, mudah-mudahan pada akhirnya anak-anak bisa mengerti kalau belajar itu untuk diri sendiri dan tanpa paksaan. Kami yakin mereka memiliki kecerdasan masing-masing, dan sadar kalau kami sebagai orangtua selalu akan menyayangi dan mendukung mereka.  

4 Comments

  1. avatar
    Honey Josep November 8, 2017 4:42 pm

    Saya juga termasuk ortu yang santai soal ujian anak.

    Tapi berhubung sekolahnya menuntut orangtua untuk terlibat dan men-drill anak, maka tugas papanya lah untuk mengajarnya.

    1. avatar

      As .



  2. avatar
    dieta hadi November 6, 2017 12:33 pm

    terimakasih mama fitri sharingnya. setuju banget ya komunikasi sama anak itu penting banget agar anak juga mengerti apa yang kita suka ataupun tidak suka begitu juga sebaliknya dengan anak. Saya pun tidak pernah menargetkan apapapun kepada anak yg terpenting bagi saya dia enjoy dalam menjalani prosesnya, jangan sampai terbebani.

    1. avatar

      As .



  3. avatar
    Cindy Vania November 6, 2017 11:59 am

    Terima kasih sharingnya ya mama Fitri.
    Komunikasi dan memahami karakter masing-masing anak dalam belajar memang penting banget biar orang tua tahu, cara apa yang paling tepat diterapkan ke anak :)

    Saya sendiri awalnya juga agak cuek masalah belajar, lalu mulai agak keras, dan sekarang nurutin anak-anak aja. Yang penting mereka paham dan bisa ngerjain testnya :D

    1. avatar

      As .



  4. avatar
    Musdalifa Anas November 6, 2017 6:18 am

    Terima kasih mama Fitri sharingnya. Benar banget ya komunikasi ke anak itu penting. Sayapun begitu, saya gak memaksakan anak sulung saya belajar, saya biasanya hanya mengingatkan aja kalau sebentar lagi mau bermain peran (ujian) atau home challenge-nya udah dikerjakan belum. Biasanya kalau masalah akademik, ayahnya yg bertanggung jawab, termasuk menemani/mengecek hasil home challenge (PR) nya anak.

    1. avatar

      As .



Post a Comment

You must be logged in to post a comment.