Siap Bekerjasama Dengan Sekolah?

Sudah beberapa tahun ini, sejak saya bekerja di dunia pendidikan, teman-teman saya yang sudah menjadi mama dan papa tidak jarang bertanya, “Menurut kamu sebaiknya anakku sekolah di mana ya?” dan pertanyaan itu tidak pernah bisa saya jawab dengan mudah, karena justru bagi saya, pertanyaan tersebut adalah pangkal diskusi panjang tentang visi/cita-cita, hal-hal yang dianggap penting, sekaligus kecemasan yang dirasakan orangtua. Maka biasanya, teman saya bukannya terbantu malah jadi bingung setelah ngobrol dengan saya.

Bingung karena banyak sekali harapan orangtua terhadap anak tentunya. Sehingga rasanya tidak ada sekolah yang benar-benar klop, seratus prosen memenuhi harapan orangtua. Ada sekolah yang mengajarkan bahasa asing dengan efektif, tapi tidak mengajarkan agama secara intensif. Ada sekolah yang mempunyai fasilitas teknologi cangih, tetapi biaya sekolahnya terlalu mahal. Ada yang lingkungannya baik sekali dan guru-gurunya berkualitas, tapi terlalu jauh dari rumah, dan seterusnya. Masalah yang dialami masyarakat urban seperti ini memang tidak bisa selesai dengan satu jurus jitu. Lagi pula, saya memang tidak pernah percaya ada satu jurus jitu tentang mendidik anak dan remaja. Pendidikan buat saya adalah hal yang kompleks sehingga tidak bisa terlalu disederhanakan.

Sulitnya memilih sekolah adalah karena kita tahu konsekuensi dari keputusan tersebut akan membawa dampak yang panjang, sehingga orangtua harus hati-hati dalam menentukan pilihan. Belum lagi rasa khawatir, takut “beli kucing dalam karung” atau merasa terbuai dengan brosur dan testimonial. Dan ketika berusaha mencari informasi lebih banyak, sumber informasi satu dengan lainnya bisa begitu berbeda.

Misalnya teman saya, seorang ibu yang anaknya akan masuk SD, pernah curhat seperti ini:

“Sepertinya Dio sih senang waktu lihat kelasnya kemarin. Tapi kan namanya juga sekolah lagi Open House, apa iya setiap hari seperti itu?

"Kira-kira murid yang lain seperti apa ya, pergaulan Dio sama teman-temannya kan harus hati-hati juga.”

Dan Mama Dio pun meneruskan lagi sebelum saya merespon apa-apa.

“Katanya di sekolah itu juga PR-nya banyak. Gimana menurutmu, perlu ngga sih anak dikasih PR? Lagipula saya dan papanya Dio bekerja, pulang malam. Nanti kalau dia setiap hari dapat PR, siapa yang bantu Dio?

"Lalu saya baca di blogs orangtua murid di sekolah itu, katanya sekolahnya suka banyak acara field trip. Sibuk banget kayanya, Dio kira-kira akan stress ngga ya?”

Pada teman-teman yang mengalami hal seperti ini, biasanya saya memberikan masukan bahwa sulit sekali (kalaupun ada) menemukan sekolah yang benar-benar ideal, sesuai harapan, visi, kondisi, dan keterbatasan orangtua. Alasannya sederhana.

No one can work alone!

Tidak ada yang bisa mendidik anak sendirian. Untuk tumbuh kembang, anak (bahkan orang dewasa), perlu “support system” yang kuat. Dan karena namanya juga “system”, pasti tidak cukup hanya satu pihak yang mendidik anak. Contohnya begini, misalnya sekolah sudah mendisain proses belajar yang baik, tapi ternyata anaknya tidak siap belajar karena kurang tidur akibat main game. Di kelas anak-anak diajarkan untuk bekerja sama dan saling berbagi, ternyata mungkin di luar sekolah mereka dipacu untuk bersaing dan memenangkan pertarungan dengan segala cara. Ini ilustrasi sederhana dari tidak kuatnya support system.

Ini artinya sekolah tidak bisa kerja sendirian untuk mendidik anak dan keluarga juga membutuhkan sekolah (termasuk home schooling system ya) dalam mendidik anak.

Menyadari bahwa sekolah tidak bisa bekerja sendirian membuat saya percaya bahwa kerjasama antara sekolah dan rumah adalah hal yang sangat penting. Feedback dari orang tua tentang PR, misalnya, akan sangat berguna untuk guru karena tidak semua guru menyadari bahwa setiap anak memiliki kebutuhan belajar dan kondisi yang unik. Berdasarkan pengalaman saya jadi guru SD dulu, dalam satu kelas berisi dua puluhan anak, ada orangtua dari salah satu anak meminta saya untuk memberikan PR setiap hari agar dia dapat mengikuti perkembangan belajar di sekolah; ada juga orang tua yang meminta agar tidak perlu ada PR; sementara orang tua lain minta supaya anaknya diberikan PR tetapi tidak dalam bentuk tulisan karena anaknya masih sulit menulis, dan sebagainya.

Masukan dari orangtua yang beragam tersebut membuahkan satu kebijakan baru di sekolah kami: projek mingguan. PR diberikan pada hari Jumat untuk dikerjakan selama seminggu, sehingga baru dikumpulkan lagi pada Jumat berikutnya. Projek ini dibantu orangtua, dan biasanya berupa karya yang melibatkan kreativitas, jadi tidak hanya menulis; dan projek ini hanya satu namun gabungan dari intisari beberapa mata pelajaran.

Sekolah perlu masukan dari orang tua agar mereka bisa lebih optimal lagi mendidik anak. Ini artinya, orangtua jangan pernah merasa sungkan untuk datang ke sekolah, ngobrol dengan guru dan karyawan lainnya, dan bertukar pikiran tentang pendidikan anak. Jangan sungkan karena itu memang hak orangtua. Namun yang perlu diingat juga adalah pentingnya rasa saling percaya antara orangtua dan guru. Kedua pihak perlu percaya bahwa apapun hal yang didiskusikan adalah demi pendidikan anak. Guru percaya dengan dukungan orang tua, dan orangtua pun percaya bahwa guru dan sekolah selalu berusaha untuk memberikan yang terbaik untuk mendidik anak mereka.

Sehingga kalau kembali ke masalah awal tentang memilih sekolah dan bertahan atau pindah, maka saya ingin berbagi satu saran. Untuk teman-teman yang masih dalam proses memilih sekolah, coba cek bagaimana sekolah menerima kehadiran dan masukan orangtua. Apakah mereka terbuka terhadap kritik dan saran? Salah satu cara mengetahuinya adalah dengan mengecek, apakah ada kebijakan sekolah yang dibuat berdasarkan masukan orangtua, seperti kasus PR di sekolah saya mengajar dulu?

Semoga berguna dan semoga kita bisa terus berdiskusi tentang hal ini.

*image dari sini.

11 Comments

  1. avatar
    sidta December 20, 2012 9:06 am

    Asa baru 6 bulan sekolah dan saya masih belum bisa menyampaikan saran, atau apapun, secara gamblang ke gurunya. Kadang masih ada rasa sungkan.

    Kemarin baru terima raport, dan kepala sekolahnya bilang Asa suka 'memendam perasaan'. padahal setahu saya di rumah tidak begitu. agak curiga itu karena ada seorang oknum guru yang pernah membentak Asa (soalnya sekali dia melakukan itu saat ada saya). tapi karena oknum guru ybs sedang ada di ruangan, saya malah tidak mengutarakannya.

    sampai rumah, menyesal sangat .. :(

    1. avatar

      As .



  2. avatar
    Nisa Faridz December 18, 2012 11:06 pm

    Thank you, all.
    mungkin ada baiknya ketika nanti tanya-tanya ke sekolah, bisa dimasukkan juga pertanyaan: "biasanya ada ngga pertemuan antara guru kelas dengan orangtua?
    seberapa sering?
    ngapain aja? (ini untuk cek apakah sekedar formalitas atau benar-benar diskusi)
    itu per kelas atau seluruh guru dan ortu? (yg baik adalah diskusi yang lebih fokus, perkelas, tidak terlalu ramai)
    membahas apa aja?
    dst. :)
    semoga berguna ya :D

    1. avatar

      As .



  3. avatar
    Fanny Hartanti December 18, 2012 6:24 pm

    Nisa, artikelnya keren!
    Bener banget, ortu nggak cuma harus menuntut sekolah untuk memberikan pendidikan yang baik bagi anaknya tapi juga harus bekerjasama dengan membantu/menyumbang baik dalam bentuk saran, informasi dll.

    1. avatar

      As .



  4. avatar
    WiwiT December 18, 2012 1:58 pm

    Artikelnya membuat kriteria mencari sekolah jadi bertambah nih.. heuheu.. masih PR mencari sekolah yang tenaga pendidiknya siap menerima masukan dari orang tua murid. Wish me Luck ya! Really love this article.

    1. avatar

      As .



  5. avatar
    Gabriella Felicia December 18, 2012 11:10 am

    Setuju Nisa... menyekolahkan anak bukan berarti menyerahkan 100% pendidikan anak ke sekolah. Harus ada kerja sama dan komunikasi yang baik. Thanks sudah mengingatkan melalui artikelnya, karena gw suka males ngobrol sama guru2nya Albert...

    1. avatar

      As .



Post a Comment

You must be logged in to post a comment.