Siap Bekerjasama Dengan Sekolah?

nisafaridz
Nisa Faridz Saat ini sedang menempuh studi S3 di State University of New York at Albany, USA dengan fokus kajian tentang partnership antara sekolah, rumah, dan masyarakat. Juga menjadi tenaga sukarela di salah satu sekolah dasar di Albany, NY.
Have question for our experts ?
Feel free to ask them here!

Sudah beberapa tahun ini, sejak saya bekerja di dunia pendidikan, teman-teman saya yang sudah menjadi mama dan papa tidak jarang bertanya, “Menurut kamu sebaiknya anakku sekolah di mana ya?” dan pertanyaan itu tidak pernah bisa saya jawab dengan mudah, karena justru bagi saya, pertanyaan tersebut adalah pangkal diskusi panjang tentang visi/cita-cita, hal-hal yang dianggap penting, sekaligus kecemasan yang dirasakan orangtua. Maka biasanya, teman saya bukannya terbantu malah jadi bingung setelah ngobrol dengan saya.

Bingung karena banyak sekali harapan orangtua terhadap anak tentunya. Sehingga rasanya tidak ada sekolah yang benar-benar klop, seratus prosen memenuhi harapan orangtua. Ada sekolah yang mengajarkan bahasa asing dengan efektif, tapi tidak mengajarkan agama secara intensif. Ada sekolah yang mempunyai fasilitas teknologi cangih, tetapi biaya sekolahnya terlalu mahal. Ada yang lingkungannya baik sekali dan guru-gurunya berkualitas, tapi terlalu jauh dari rumah, dan seterusnya. Masalah yang dialami masyarakat urban seperti ini memang tidak bisa selesai dengan satu jurus jitu. Lagi pula, saya memang tidak pernah percaya ada satu jurus jitu tentang mendidik anak dan remaja. Pendidikan buat saya adalah hal yang kompleks sehingga tidak bisa terlalu disederhanakan.

Sulitnya memilih sekolah adalah karena kita tahu konsekuensi dari keputusan tersebut akan membawa dampak yang panjang, sehingga orangtua harus hati-hati dalam menentukan pilihan. Belum lagi rasa khawatir, takut “beli kucing dalam karung” atau merasa terbuai dengan brosur dan testimonial. Dan ketika berusaha mencari informasi lebih banyak, sumber informasi satu dengan lainnya bisa begitu berbeda.

Misalnya teman saya, seorang ibu yang anaknya akan masuk SD, pernah curhat seperti ini:

“Sepertinya Dio sih senang waktu lihat kelasnya kemarin. Tapi kan namanya juga sekolah lagi Open House, apa iya setiap hari seperti itu?

“Kira-kira murid yang lain seperti apa ya, pergaulan Dio sama teman-temannya kan harus hati-hati juga.”

Dan Mama Dio pun meneruskan lagi sebelum saya merespon apa-apa.

“Katanya di sekolah itu juga PR-nya banyak. Gimana menurutmu, perlu ngga sih anak dikasih PR? Lagipula saya dan papanya Dio bekerja, pulang malam. Nanti kalau dia setiap hari dapat PR, siapa yang bantu Dio?

“Lalu saya baca di blogs orangtua murid di sekolah itu, katanya sekolahnya suka banyak acara field trip. Sibuk banget kayanya, Dio kira-kira akan stress ngga ya?”

Pada teman-teman yang mengalami hal seperti ini, biasanya saya memberikan masukan bahwa sulit sekali (kalaupun ada) menemukan sekolah yang benar-benar ideal, sesuai harapan, visi, kondisi, dan keterbatasan orangtua. Alasannya sederhana.

No one can work alone!

Tidak ada yang bisa mendidik anak sendirian. Untuk tumbuh kembang, anak (bahkan orang dewasa), perlu “support system” yang kuat. Dan karena namanya juga “system”, pasti tidak cukup hanya satu pihak yang mendidik anak. Contohnya begini, misalnya sekolah sudah mendisain proses belajar yang baik, tapi ternyata anaknya tidak siap belajar karena kurang tidur akibat main game. Di kelas anak-anak diajarkan untuk bekerja sama dan saling berbagi, ternyata mungkin di luar sekolah mereka dipacu untuk bersaing dan memenangkan pertarungan dengan segala cara. Ini ilustrasi sederhana dari tidak kuatnya support system.

Ini artinya sekolah tidak bisa kerja sendirian untuk mendidik anak dan keluarga juga membutuhkan sekolah (termasuk home schooling system ya) dalam mendidik anak.

Menyadari bahwa sekolah tidak bisa bekerja sendirian membuat saya percaya bahwa kerjasama antara sekolah dan rumah adalah hal yang sangat penting. Feedback dari orang tua tentang PR, misalnya, akan sangat berguna untuk guru karena tidak semua guru menyadari bahwa setiap anak memiliki kebutuhan belajar dan kondisi yang unik. Berdasarkan pengalaman saya jadi guru SD dulu, dalam satu kelas berisi dua puluhan anak, ada orangtua dari salah satu anak meminta saya untuk memberikan PR setiap hari agar dia dapat mengikuti perkembangan belajar di sekolah; ada juga orang tua yang meminta agar tidak perlu ada PR; sementara orang tua lain minta supaya anaknya diberikan PR tetapi tidak dalam bentuk tulisan karena anaknya masih sulit menulis, dan sebagainya.

Masukan dari orangtua yang beragam tersebut membuahkan satu kebijakan baru di sekolah kami: projek mingguan. PR diberikan pada hari Jumat untuk dikerjakan selama seminggu, sehingga baru dikumpulkan lagi pada Jumat berikutnya. Projek ini dibantu orangtua, dan biasanya berupa karya yang melibatkan kreativitas, jadi tidak hanya menulis; dan projek ini hanya satu namun gabungan dari intisari beberapa mata pelajaran.

Sekolah perlu masukan dari orang tua agar mereka bisa lebih optimal lagi mendidik anak. Ini artinya, orangtua jangan pernah merasa sungkan untuk datang ke sekolah, ngobrol dengan guru dan karyawan lainnya, dan bertukar pikiran tentang pendidikan anak. Jangan sungkan karena itu memang hak orangtua. Namun yang perlu diingat juga adalah pentingnya rasa saling percaya antara orangtua dan guru. Kedua pihak perlu percaya bahwa apapun hal yang didiskusikan adalah demi pendidikan anak. Guru percaya dengan dukungan orang tua, dan orangtua pun percaya bahwa guru dan sekolah selalu berusaha untuk memberikan yang terbaik untuk mendidik anak mereka.

Sehingga kalau kembali ke masalah awal tentang memilih sekolah dan bertahan atau pindah, maka saya ingin berbagi satu saran. Untuk teman-teman yang masih dalam proses memilih sekolah, coba cek bagaimana sekolah menerima kehadiran dan masukan orangtua. Apakah mereka terbuka terhadap kritik dan saran? Salah satu cara mengetahuinya adalah dengan mengecek, apakah ada kebijakan sekolah yang dibuat berdasarkan masukan orangtua, seperti kasus PR di sekolah saya mengajar dulu?

Semoga berguna dan semoga kita bisa terus berdiskusi tentang hal ini.

*image dari sini.

11 Comments

  1. sofi
    Khalida Sofia December 18, 2012 at 12:22 am

    kebetulan sekali mbak nisa..nice topic, aq lg bingung, sama sekolahnya anak aq, yang di sini terkenal bagus. problemnya adalah ada satu anak yang suka jahil dan menyakiti anak lain,anaku salah satunya, he looks stress dan tertekan sekali kalau mw sekolah, sy pun coba kasih arahan ke anak sy untuk mencoba proteksi diri jika anak tersebut nakal, dan banyak anak juga yg sering disakiti oleh anak tersebut, sy coba berdiskusi dgn guru nya pun msh blm ada solusi dan dianggap masalah yg biasa, tapi efek nya jd seperti ini pd rayhan , jd gak mau sekolah, tidak bergembira dan tdak bersemnagat, pdhl masuk ke sekolah tersebut mengeluarkan biaya yang tidak sedikit :( need help#

  2. nisafaridz
    Nisa Faridz December 18, 2012 at 1:26 am

    mbak, I am so sorry to hear masalah yang dialami Rayhan :( saya bisa mengerti gimana repotnya kalau anak ngga mau sekolah karena alasan yang sebenarnya bisa diterima. saya ngga tau seberapa serius pembicaraan dengan pihak sekolah sudah dilakukan, tapi sebaiknya memang sekolah mulai mendengarkan isu bullying ini. mungkin bisa dilakukan secara bersama-sama dengan orangtua murid yang lain.
    menurut saya, beberapa hal yang mungkin perlu diperhatikan ketika diskusi dengan sekolah:

    1. diskusinya bersama guru dan kepala sekolah sebab soal bullying seperti ini saya yakin perlu jadi perhatian sekolah, bukan cuma guru kelas.
    2. pertemuannya direncanakan bersama kepsek sehingga tidak terganggu dengan kegiatan lain ;)
    3. ortu perlu percaya bahwa sekolah mau peduli dengan isu ini, dan sebaliknya, sekolah juga perlu percaya bahwa ortu ngga sekedar complain (ini yang biasanya bikin banyak guru ‘enggan’ ketemu ortu) melainkan fokus pada solusi.
    4. terkait dengan membangun “trust” no. 3 tadi, perlu dikomunikasikan bahwa ortu mengerti banyak hal yang harus diperhatikan kepsek dan guru di sekolah, oleh karena itu jika ada hal yang bisa dilakukan berasama, di mana ortu bisa bantu, mari diskusikan bersama.
    terus terang aja mbak, sulit kalau guru terus terusan memantau anak, apalagi ketika waktu bermain. guru perlu menyiapkan ruang kelas, materi belajar, dsb. padahal di tempat bermain lah biasanya kasus bullying terjadi. mungkin baik juga kalau ada ortu yang bersedia volunteer menjaga anak-anak ketika jam istirahat, misalnya.

    seharusnya sekolah mau mencari jalan keluar, karena isu seperti ini akan selalu ada.

    semoga membantu ya mbak.

  3. ninit
    ninit yunita December 18, 2012 at 6:29 am

    mbak nisa,
    kebetulan di sekolah alde juga sama banget ttg PR. jadi setiap selasa, anak2 diberikan PR untuk semua mata pelajaran. waktu pengumpulannya bebas tapi tidak melebihi hari selasa minggu depan. kalau ya, nanti poin-nya berkurang.

    suami saya termasuk yang sangat aktif memberikan saran dan sering berkonsultasi dengan guru2 alde. tiga bulan pertama di SD termasuk tough untuk alde karena alde blm bisa membaca dan menulis dengan lancar. sekarang alhamdulillah sudah bisa lancar.

    betul sekali, kita dan sekolah harus bekerjasama dengan baik. terima kasih atas artikelnya mbak nisa :) menyenangkan sekali bacanya.

  4. nisafaridz
    Nisa Faridz December 18, 2012 at 7:29 am

    terima kasih mbak Ninit :)

    senang pastinya kalau sekolah peduli dengan kebutuhan belajar anak kita ya. saya juga pernah terima masukan dari salah satu orangtua tentang kebiasaan membaca anaknya di rumah. menariknya, murid saya ini hobinya baca. tetapi ketika diberi tugas untuk membaca buku cerita di rumah, dia malah jadi malas. kata ibunya: “mungkin karena kali ini membaca seolah-olah bukan hobinya lagi tetapi sudah jadi tugas…” walah, padahal tugas itu saya berikan supaya anak terdorong untuk membaca.

    intinya, setiap anak unik dan guru sulit sekali untuk mampu mengidentifikasi satu persatu. maka guru perlu bantuan dan masukan orangtua untuk itu, seperti halnya pengalaman Alde ya mbak Ninit :)

  5. sLesTa
    shinta lestari December 18, 2012 at 9:09 am

    nisaa… as always, selalu suka ama tulisan nisa. dan gue setuju banget dengan apa yang ditulis. intinya selama anak masih tinggal dengan orang tuanya, urusan belajar itu tidak 100% tugas guru di sekolah, tapi orang tua tetap punya andil. makanya kadang suka miris dengar orang tua yang lebih mementingkan masuk sekolah mahal karena “katanya” sekolahnya bagus trus berharap anak pintar dari apa yang dipelajari di sekolah tapi di rumah tidak distimulasi dan gak ikut andil dengan proses belajar karena dengan pemikiran.. ya itu tugas guru di sekolah.

    gue selalu ingat rumus partisipasi ortu & guru. TK – 100% ortu, SD – 75% ortu, 25% guru, SMP – 50% ortu, 50% guru, SMA – 25% ortu, 75% guru, Kuliah – 100% guru

    mungkin rumusnya gak akurat sih, tapi mayan ngasih indikasi bahwa gimana pun ortu tetap punya peran penting. pas kuliah, anak yang memegang peran karena disitulah masa transisi untuk menghadapi real world. tapi tetap orang tua mesti harus monitor. i really do believe in that!

    berhubung anak2 gue masih pada kecil2, jadi belom ngalamin langsung nih. tapi udah mulai siap2.. :)

  6. nisafaridz
    Nisa Faridz December 18, 2012 at 10:14 am

    Shinta, Thank you :*

    walau gue ngga tau ada rumus persentase-nya, tapi bener bahwa proses belajar anak itu ngga bisa lepas dari peran ortu. tapi mungkin kalau pakai rumus paling sederhana: hitung rasio waktu yang anak habiskan di sekolah vs. di luar sekolah, dan hitungan ini harus menyertakan liburan sekolah, maka kebayang ngga bahwa anak di sekolah (indonesia) hanya kurang dari 20% total jam setahun. sisanya bisa saja di after-school-programs (les, kursus, klub, dll.) tapi itupun tidak lepas dari kebijakan keluarga tentang jenis kegiatan yang dilakukan anak setelah sekolah.
    jadi di <20% itu kita berharap supaya anak bisa belajar sebaik mungkin :)

  7. gabriella
    Gabriella Felicia December 18, 2012 at 11:10 am

    Setuju Nisa… menyekolahkan anak bukan berarti menyerahkan 100% pendidikan anak ke sekolah. Harus ada kerja sama dan komunikasi yang baik. Thanks sudah mengingatkan melalui artikelnya, karena gw suka males ngobrol sama guru2nya Albert…

  8. Kira Kara
    Bunda Wiwit December 18, 2012 at 1:58 pm

    Artikelnya membuat kriteria mencari sekolah jadi bertambah nih.. heuheu.. masih PR mencari sekolah yang tenaga pendidiknya siap menerima masukan dari orang tua murid. Wish me Luck ya! Really love this article.

  9. fanny
    Fanny Hartanti December 18, 2012 at 6:24 pm

    Nisa, artikelnya keren!
    Bener banget, ortu nggak cuma harus menuntut sekolah untuk memberikan pendidikan yang baik bagi anaknya tapi juga harus bekerjasama dengan membantu/menyumbang baik dalam bentuk saran, informasi dll.

  10. nisafaridz
    Nisa Faridz December 18, 2012 at 11:06 pm

    Thank you, all.
    mungkin ada baiknya ketika nanti tanya-tanya ke sekolah, bisa dimasukkan juga pertanyaan: “biasanya ada ngga pertemuan antara guru kelas dengan orangtua?
    seberapa sering?
    ngapain aja? (ini untuk cek apakah sekedar formalitas atau benar-benar diskusi)
    itu per kelas atau seluruh guru dan ortu? (yg baik adalah diskusi yang lebih fokus, perkelas, tidak terlalu ramai)
    membahas apa aja?
    dst. :)
    semoga berguna ya :D

  11. Sidta
    Dian Arsita Kurniawati December 20, 2012 at 9:06 am

    Asa baru 6 bulan sekolah dan saya masih belum bisa menyampaikan saran, atau apapun, secara gamblang ke gurunya. Kadang masih ada rasa sungkan.

    Kemarin baru terima raport, dan kepala sekolahnya bilang Asa suka ‘memendam perasaan’. padahal setahu saya di rumah tidak begitu. agak curiga itu karena ada seorang oknum guru yang pernah membentak Asa (soalnya sekali dia melakukan itu saat ada saya). tapi karena oknum guru ybs sedang ada di ruangan, saya malah tidak mengutarakannya.

    sampai rumah, menyesal sangat .. :(

Post a Comment

You must be logged in to post a comment.