Tidak Mengambil Alih Proses Belajar Anak

nisafaridz
Nisa Faridz Saat ini sedang menempuh studi S3 di State University of New York at Albany, USA dengan fokus kajian tentang partnership antara sekolah, rumah, dan masyarakat. Juga menjadi tenaga sukarela di salah satu sekolah dasar di Albany, NY.
Have question for our experts ?
Feel free to ask them here!

Kali ini saya ingin berbagi tentang satu pelajaran yang saya alami ketika menjadi guru SD kelas 1 beberapa tahun yang lalu, tentang pekerjaan rumah (PR), dan “bagi-bagi tugas” antara guru dan orangtua dalam membantu anak belajar.

Salah satu alasan guru (setidaknya saya) memberikan tugas rumah (sekarang namanya macam-macam kan ya, ada PR, tugas, project, dll.) adalah untuk mengkomunikasikan dua hal kepada orang tua murid. Pertama, kami mau memberitahu topik atau konsep apa yang sudah/sedang/akan dipelajari anak, sekaligus memberitahu level kemampuan anak untuk mengerjakan soal atau mengaplikasikan konsep yang dipelajarinya. Kedua, dan ini terkait dengan alasan pertama, kami juga ingin menyampaikan secara tersirat bahwa walaupun ada guru, orangtua tetap perlu membantu anaknya belajar di rumah. Jadi PR itu seperti “alarm” yang mengingatkan bahwa mungkin anak perlu dibantu melancarkan kemampuan menulis, membaca, dan sebagainya.

Karena ingin orang tua terlibat, maka seringkali saya dan teman-teman guru merancang tugas sedemikian rupa supaya orang tua bisa berpartisipasi dalam mengajar di rumah. Tugasnya diberikan setiap hari Jumat, untuk dikumpulkan di hari Jumat minggu depannya; dengan harapan orang tua yang bekerja bisa membantu di akhir pekan. Instruksi pengerjaan tugasnya juga disampaikan dengan bahasa “dewasa” yang memang dialamatkan untuk orang tua, bukan anak-anaknya.

Pernah dengar “science fair”? Di banyak sekolah di Indonesia sudah ada kegiatan ini juga, ya. Science Fair adalah salah satu bentuk tugas di mana orang tua harus terlibat cukup aktif. Setiap anak harus menentukan topik atau konsep yang ingin ia pamerkan di sekolah, biasanya menggunakan poster/panel dan alat peraga/contoh. Anak-anak harus memamerkannya dengan cara yang menarik sekaligus informatif, sehingga teman-temannya di sekolah bisa belajar dari satu sama lain. Orang tua diharapkan membantu anak menyiapkan pameran tersebut: membeli bahan, membuat poster/panel, membuat alat peraga, mencari sumber informasi, membantu anak memahami konsep, dan sebagainya.

Tetapi, ada dua hal yang dikhawatirkan guru (setidaknya saya dan guru-guru yang saya kenal) tentang tugas yang melibatkan orang tua atau kegiatan semacam science fair ini. Satu, kami khawatir orang tua benar-benar sibuk dan kesulitan dalam menyediakan waktu untuk bekerja sama dengan anak, sehingga presentasi anak menjadi tidak maksimal. Untuk masalah ini, biasanya (dan sebaiknya) guru punya “rescue team” yang siap membantu anak; mulai dari membantu membicarakan dengan orang tuanya, bahkan kadang harus turun tangan juga untuk projeknya. Semata-mata karena kami ingin semua anak belajar, dan kami tidak mau si anak kecil hati karena presentasinya tidak maksimal.

Kekhawatiran guru yang lain adalah lawan dari masalah pertama tadi. Kami khawatir, bukannya orang tua membantu, malah anak yang harus membantu orang tua membuat presentasi. Bukannya ide anak yang dituangkan, tetapi justru ide orang tuanya. Nah, yang ini jalan keluarnya terus terang tidak mudah. Saya dan teman-teman sering merasa sedikit kecewa kalau karya anak lebih banyak mencerminkan hasil kerja orang tua daripada si anak itu sendiri. Kecewa karena itu bukan tujuan dari tugas. Tujuan utamanya tentu adalah belajar. Tegasnya, proses belajar si anak.

Kadang kami berusaha menegaskan bahwa tugas ini bukanlah kompetisi. Dan tidak harus sempurna. Kami tidak mengharapkan presentasi siswa kelas 4 SD tentang terjadinya hujan disampaikan dengan menggunakan peralatan canggih dari lab ayahnya. Kami juga tidak mengharapkan anak menghafal detil istilah-istilah kedokteran ketika menjelaskan “mengapa kalau lapar kita sakit perut?”

Karena guru bertemu tiap hari di kelas dan mengenal minat dan hobi anak, maka kami juga bisa merasa bahwa projek yang dikerjakan itu bukan minat anak yang sebenarnya, atau hasil karya yang orisinil atau bukan. Tetapi terus terang sangat sulit menyampaikan kepada orang tua untuk take it easy, biarkan pekerjaan anak tidak sesempurna yang kita (orang dewasa) harapkan, dan biarkan anak menikmati proses belajarnya.

“Mungkin karena jaman kita dulu tidak ada science project, makanya orang tua terlalu antusias,” ujar teman saya ringan. Ada benarnya. Tetapi saya pikir mungkin ada baiknya sekolah juga senantiasa mengingatkan bahwa ini bukan masalah bagus atau kerennya presentasi, tetapi bagaimana anak belajar. Kalaupun mau dipertandingkan, sebaiknya pertandingannya bukan masalah canggihnya alat yang digunakan, tetapi bagaimana kemampuan anak menguasai konsep, menjelaskannya, dan bagaimana mereka termotivasi untuk terus belajar.

Beberapa tahu kemudian, setelah saya tidak mengajar SD lagi, saya ngobrol-ngobrol dengan seorang teman yang anaknya baru saja selesai science fair. Teman saya menunjukkan foto-fotonya, sebuah panel yang luar biasa rapi di-print colorful di percetakan, dan alat peraganya pun dibuat oleh pengrajin profesional. Ia tidak membiarkan anaknya yang berusia 9 tahun itu “terlalu banyak” terlibat karena “pilihan warnanya ngaco deh, tulisannya juga berantakan, sakit mata nanti yang lihat.”

“Nis,” timpal teman saya ketika saya sarankan untuk memberi ruang lebih besar kepada anaknya untuk berkarya, “aku dan suami ngga tega lah kalau anakku karyanya paling jelek di sekolah. Apa kata teman-temannya nanti? Apa kata orang tua lain, kesannya anakku ngga diperhatiin. Ngeri Nis, omongan ibu-ibu di sekolah, apalagi aku sama suami kan kerja, jadi nggak bisa aktif di sekolah, takut banget kami dianggap kurang perhatian ke anak. Jadi sebisa mungkin kalau ada tugas yang kami bisa bantu, kami bantu maksimal, deh.”

Ups. Ternyata tidak sesederhana itu ya masalahnya. Maka kami terus ngobrol, tentang apa “proses belajar” sebenarnya, dan support seperti apa yang diperlukan anak belajar. Kami cukup lama membahas soal “support” ini, karena jangan sampai dukungan berubah menjadi “mengambil alih”. Termasuk dalam obrolan kami adalah: siapa yang lebih tahu – dan lebih penting untuk memahami – seberapa besar dukungan orang tua, si anak itu sendiri atau orang tua murid yang lain? ;)

*image dari sini.

12 Comments

  1. ninit
    ninit yunita September 9, 2013 at 6:27 am

    nis,
    bener banget deh begitu baca artikel ini. soalnya saya pernah mengalami. kayaknya yang anak sendiri biasa aja yang lain canggih-canggih dengan peralatan dan istilah yang luar biasa. sebenernya ngga minder atau gimana sih, ya gimana yaaa memang rasanya saat science fair ini ya kemampuan anak sendiri belum sejauh itu. yang penting proses belajar anak sih meskipun lewat jalan yang sederhana.

    terima kasih nis untuk selalu mengingatkan :) great article as always.

  2. hary
    hary augustina September 9, 2013 at 9:22 am

    tapi mom. lumayan tampak loh ke aku dan adek aku. dulu kita saat SD pernah buat prakarya hasil jerih payah kita sendiri. dan ortu sih mendukung. ayo buat sendiri .pasti bisa. namun lingkungan termasuk didalamnya ada seorang guru yg meremehkan dan melecehkan karya kita:( sedih mom. adalagi kejadian kita diminta mengumpulkan sapu lidi untuk sekolah. aku dan adek aku buat sendiri dengan kemampuan kita dibantu sama kakak yg menebangin pelepah kelapa. membantu menyerut gagangnya.

    eh pas dikumpulkan karya aku dan adek aku malah dibilangin gak mampu beli ya? kerja keras kita menyerut daun, mengeringkan, mengikat. merapikan gak dilihat. mereka melihat nilai akhirnya. karena sapu kami buatan sendiri. nilainya rendah dibandingkan mereka yg beli.
    hal ini membekas banget diingatan aku. sedih ya?

  3. amaliaputri
    Amalia Putri September 9, 2013 at 4:03 pm

    Nisa, cerita dikit yah :) dulu pas saya kelas 3 atau 4 sd, ada tugas prakarya. Nah, ibuku berkomentar sama persis sama yang di artikel, malu punya anak yang karyanya jelek dan takut dianggap gak bisa ngurus anak lah. Akhirnya tugas prakarya ku dikerjakan sama ibuku. Always.

    Waktu pengumpulan tugas, temen sebangku aku nunjukkin hasil prakarya-nya, yang kuanggap sebenarnya gak rapih tapi juga gak jelek2 amat. Keliatan banget bikinan anak kecil :) Dia cerita gimana dia bikin prakarya ini seharian di hari minggu bahkan sampai semalam suntuk, sambil ditemenin sama orangtuanya. Pas temen aku liat karyaku, dia berdecak kagum dengan mata berbinar dan bilang, “bagus banget! pasti punya kamu dapat nilai 10″
    Akhirnya? pas penilaian oleh guru, aku dikasih nilai 6 dan temenku nilai 8 :) Gurunya sih diem aja, gak pake komentar atau bertanya ini pekerjaan siapa. Tapi jujur, jadi malu dan menyesal sama diri sendiri. Coba nilai 6 itu aku dapatkan karena memang itu karyaku..

  4. fanny
    Fanny Hartanti September 9, 2013 at 5:19 pm

    artikelnya bagusss..
    menurut aku, ngebiarin si anak ngejalanin proses belajarnya juga penting supaya dia belajar memilih prioritas, mengatur waktu dan tanggung jawab.
    alyssa kalau ngerjain tugas pasti last minute deh. baru dia panik heboh. nah kalau sampai kejadian tugas nggak kelar pas deadline, yo wes biarin dia dimarahin, biar belajar next time mesti bisa atur waktu lebih baik. hihi
    tega memang, lebih tepatnya, ditega-tegain.

  5. eksinads
    Eksi Nadiasti September 10, 2013 at 8:46 am

    Ini Kak Nisa yang softball dulu ya? Ini Eksiii :-) Heheeh Keren banget lagi kuliah di NY!!

    Baca artikel yang lain, memang memilih sekolah untuk anak itu bikin galau ya. Dan banyak/tidaknya PR menjadi salah satu tolak ukur sekarang, karena banyak ibu-ibu yang ga mau membebani anaknya.

    Apakah krn belajar dari pengalaman ibu-ibu ini waktu jaman sekolah dulu, yang sering stress karena banyak PR ya? :-)

  6. corinne
    corinne tan September 10, 2013 at 3:19 pm

    artikelnya bagus. bagaimana ya bisa seimbang antara membantu dan mendorong anak membuat sendiri. belum ngalami sih…
    jadi ibu2 kudu tebel muka dan ga takut diomongin juga yah? Dilema para ibu

  7. meggy
    meggy September 11, 2013 at 2:57 pm

    artikel yg ‘menyentil,’ tapi baguus.. sepertinya sekarang memang lebih banyak persaingan antar orangtua yah (dalam banyak hal).. sampai lupa bahwa sebenarnya si ‘pemeran utama’ itu si anak, bagaimana dia belajar mencintai proses belajar itu sendiri, bukan hanya ‘disuapi’ oleh orangtua/guru. Jadi ingat pernah baca di salah satu buku, “setiiap anak lahir dengan kecintaan akan belajar, seringkali justru orangtua/guru yang memadamkan itu.” Lihat saja baby/toddler yg selalu curious mempelajari hal2 baru.. ^^ *mempersiapkan diri menebalkan muka/kuping kalau nanti waktunya tiba* :) :)

  8. gabe1981
    Seymour Magabe September 11, 2013 at 9:29 pm

    Saya masih ingat betul mama selalu bilang gak apa2 nilai jelek yang penting kreasi sendiri. Jadi tetap bangga walau cuma bawa nilai 6-7 buat prakarya

  9. nisafaridz
    Nisa Faridz September 11, 2013 at 9:57 pm

    Dear Urban Mamas,

    Terima kasih banget ya komentar dan apresiasinya. Ada 2 poin tanggapan saya:

    1. Saya terus terang berusaha konsisten menulis urusan sekolah karena sejauh pengamatan saya, seringkali komunikasi antara sekolah dan orangtua tidak cukup mendalam. Komunikasi seringkali sekedar PR, nilai ulangan, rapot, dan hal-hal yang sebenarnya tidak terlalu mendasar. tetapi diskusi “kita ingin anak-anak kita menjadi orang yang seperti apa? kita ingin mereka belajar apa saja?” seolah-olah tidak perlu dibahas lagi, padahal penting banget.

    2. Terkait dengan poin 1, saya share tulisan ini juga ke teman-teman guru, jadi bukan ke mama saja. Komentar teman-teman sebagai seorang ibu di sini, semoga terbaca juga oleh guru (dan calon guru, karena saya share juga ke mahasiswa2 saya), sehingga siapa tahu bisa jadi bahan refleksi untuk guru.
    misalnya ketika mbak Seymour, dan juga mbak Amalia Putri cerita bagaimana guru memberikan nilai rendah untuk prakaryanya yang orisinil tanpa banyak dibantu ortu, semoga hal tersebut bisa jadi masukan untuk guru agar lebih menghargai proses belajar mandiri, bukan sekedar produknya (hasil akhir karyanya) yang dinilai.

    :)

  10. Theresia Triningsih
    Theresia Triningsih September 12, 2013 at 8:58 am

    Kadang orang tua atau guru tidak sadar bahwa untuk menjadi bisa atau menghasilkan yang terbaik itu melalui proses tidak bisa terlebih dahulu.

  11. nna
    nna September 16, 2013 at 12:40 pm

    hiyaaaa… PR tarik garis (tracing) aja suka bikin stress karena liat anak sesuka2nya ngerjainnya… tapi ya sudahlah pasrah biarin dia kerjain sebisanya.. yg penting pas waktu dikumpul udah kelar.. hehee

  12. Honey Josep
    Honey Josep October 2, 2013 at 12:57 pm

    *ngaca*

    Mudah-mudahan saya ga ikutan rempong kalau suatu saat nanti Darren ada science fair :D

    Artikelnya bagus mbak Nisa :)

Post a Comment

You must be logged in to post a comment.