Tiga Anak Sulung

Adhitya

Menjadi anak sulung itu, no doubt, tidak mudah. Kita semua tahu bahwa sudah menjadi kebiasaan bahwa anak sulung kerap harus tumbuh menjadi panutun adik-adiknya. Terkadang anak sulung membantu orangtua bekerja. Yang lebih jauh lagi, beberapa anak sulung tidak sekolah, membantu orangtua di sawah agar adik-adiknya dapat sekolah. Para adik menjadi insinyur dan si sulung tetap menjadi petani.

Tidak perlu sejauh itu, kita bisa lihat di kehidupan dekat kita sendiri. Masing-masing dari kita kalau nggak punya kakak sulung, ya jadi anak sulung itu sendiri. Sulitnya selain menjadi panutan adalah, harus sabar. Harus berbagi banyak hal dengan si kecil karena orangtua berpikir tidak perlu beli 2 barang yang sama untuk 2 anak yang beda. Tapi ada satu hal yang saya lihat jarang dibahas. Yaitu bahwa pembentukan karakter si sulung oleh orangtua. No doubt bahwa semua orangtua ingin mendidik anaknya dengan benar. Saya belum pernah bertemu orangtua yang niat mendidik anaknya dari kecil jadi orang jahat. Jika kita berangkat dari asumsi bahwa semua orang tua niat mendidik anak dengan benar, bermental baik, menjadi bibit yang unggul, lantas kenapa di dunia ini ada orang yang sukses dan ada yang tidak? Kenapa ada yang benar-benar menjadi bibit unggul, ada yang biasa saja, ada yang jadi tidak mandiri, dan malah ada yang menyusahkan orangtua? Padahal niat semua orang tua itu sama, mendidik anak mereka agar menjadi orang yang baik bagi masyarakat. Then there must be something wrong here.

Kemudian ada lagi pertanyaan. Jika memang semua anak sulung terdidik sabar, bermental teladan dan lainnya, lantas kenapa dari semua deretan pemimpin yang terkenal, tidak semua sulung? Deretan manusia-manusia luar biasa sepanjang masa lahir ada yang sulung, ada yang bungsu, ada anak tengah, malah ada yang anak tunggal. Kenapa tidak semua pemimpin di dunia ini anak sulung? Yang katanya terbiasa memimpin dan menjadi teladan dari kecil?

Untuk mencari jawabannya, saya ingin cerita masa kecil saya dulu ketika di Medan. Orangtua saya kerja di kilang minyak lepas pantai di Medan beserta 3 orang engineer lainnya. Kita sebut saja mereka Pak AA, Pak BB, Pak CC, dan ayah saya. Mereka semua diberi rumah berderet persis. Kita berbagi pekarangan belakang yang sama. Mereka semua juga sama, pengantin baru. Engineer-engineer yang baru lulus, diterima kerja dan ketika tahu bahwa mereka ditempatkan di Medan, langsung mengajak nikah pasangannya. Di tahap ini mereka masih sama. Bahkan mereka melahirkan anak sulung mereka di waktu yang berdekatan. Kemudian mereka melahirkan anak kedua dan ketiga. Keempat engineer ini sistem kerjanya adalah 3 minggu di oil rig dan 3 minggu di rumah. Dan di sini saya mulai bisa mengingat.

Pak AA
Pak AA mempunyai dua anak. AA sulung dan AA bungsu. Pak AA ingin mendidik disiplin pada mereka. Metode yang dia gunakan adalah mencambuk dengan ikat pinggang. Yang lain adalah sapu lidi dan rotan kalau tidak salah. Saya pernah main ke rumah Pak AA dan mendapati AA sulung menangis di sofa. AA bungsu hanya melihat dari kejauhan.

Pak BB
Pak BB mempunyai dua anak. BB sulung dan BB bungsu. Pak BB mendidik anak-anaknya dengan mengancam. Yang paling sering kena adalah BB sulung. Diancamnya macam-macam. Saya pernah main di halaman belakang dan mendapati BB sulung stres berat. Dan stresnya gak main-main. BB sulung mengidap kelainan saraf motorik di mana meski gak ada angin gak ada apa, dia kelojotan sendiri. Saya pernah bertanya kepada ibu kenapa BB sulung seperti itu. Ternyata karena stres. Umur kita di bawah 10 tahun by the way, waktu itu.

Pak CC
Pak CC punya 3 anak. CC sulung, CC tengah, dan CC bungsu. Saya melihat dia sabar dan mengayomi. Seakan sadar bahwa nggak banyak yang dia bisa harapkan dari anak kecil dan kenakalannya. Sering ajak diskusi, kasih perhatian. Dia jarang marah. Malah saya nggak pernah melihat dia marah, setidaknya ketika saya main sama anak-anaknya. Mungkin dia sadar bahwa setelah 3 minggu nggak ketemu, dia harus win back simpati anak-anaknya makanya dia gak ambil pusing sama sedikit kesalahan-kesalahan adolescent mereka.

Sepuluh Tahun Kemudian
Lama berselang dari masa kecil kita, keempat keluarga ini banyak yang pindah ke kantor pusat mereka di Jakarta. Kami masih sering bertemu kalau ada acara kantor Ayah. Tapi karena rumahnya jauh jadi jarang. Makin kami besar, kami makin lepas kontak.

Duapuluhlima Tahun Kemudian
Suatu hari kakak saya menikah dan Ayah mengundang semua teman lamanya ke resepsi. Saya excited banget karena anak-anak AA BB dan CC ini.
Dan ini yang saya dapatkan:

  1. Anak-anak Pak AA: AA bungsu sedang S2 dan sudah jadi kontraktor. AA sulung tergantung narkoba.
  2. Anak-anak Pak BB: BB bungsu yang masih SMA sudah bolak-balik Jakarta – Sao Paolo karena dia menjadi duta Unicef dalam sebuah world wide programnya. BB sulung kuliah saja seperti biasa dan itu pun katanya kesulitan berprestasi. Setalah 25 tahun ini, kelainan syarafnya masih ada.
  3. Anak-anak Pak CC: CC bungsu sekolah di Amerika. CC tengah memilih kerja di San Diego. CC sulung kerja di salah satu bank paling bergengsi di Indonesia.

Dari sini saya berpikir. Kenapa AA dan BB sulung memiliki kesulitan hidup? Sedangkan AA dan BB bungsu menjalani kehidupan yang saya anggap spektakuler. Ini berlawanan sekali dengan stigma yang hadir dalam kehidupan bangsa timur di mana kita kerap berpandangan:

  1. Si sulung anak yang mantep, mandiri.
  2. Si bungsu adalah anak manja yang gak bisa mandiri. Anak mami.

Sering kali dalam 20 tahun pertama hidup saya, dalam cincin sosial saya, ada saja yang bilang:

  1. “Lu bungsu sih, Dit.”
  2. “Lu bungsu ya, Dit?”
  3. “Dasar bungsu! Gini aja capek.”

Jawabannya adalah:

  1. Bungsu, dengan cepat belajar dari kesalahan kakaknya. Sementara kakaknya nabrakin mobil dan dimarahin sampe trauma oleh si bapak, si bungsu dengan cepat belajar “Oh, nabrakin mobil gak boleh.” Dan ada banyak sekali hal-hal seperti ini di mana si sulung harus suffer dan si bungsu menuai pelajarannya. Sementara si sulung trauma dan kehilangan confidence untuk proaktif mencoba sesuatu lagi, si bungsu jadi well prepared dan malah penasaran pengen nyoba apakah dia bisa do better apa nggak.
  2. Orang tua cenderung tidak sadar bahwa dia bereksperimen dengan si sulung. Mau tidak mau, memiliki si sulung adalah pengalaman pertama mereka menjadi orang tua. Ketika mereka menemukan sulung melakukan kesalahan, 40% kemungkinan orang tua juga nggak tau anaknya harus diapain. Si sulung mecahin kaca dan digampar bapaknya. tapi setelah lama bapaknya sadar bahwa sulung jadi trauma. Dia insyaf dan berjanji tidak mengulangnya. Ketika bungsu mecahin toples, si bapak gak gampar. Sementara si bungsu termaafkan, sulung yang udah trauma digampar, juga sakit hati melihat perlakuan yang gak adil. padahal sang bapak udah insyaf juga udah baik. Serba salah.

Dan ada banyak sekali kejadian seperti ini dalam kehidupan adik kakak. Pak AA misalnya, AA sulung pada awalnya dididik dengan sangat keras. Lima tahun kemudian sepertinya Pak AA sadar bahwa metodenya salah sehingga approach pada AA bungsu sangat berbeda. Sedihnya lagi, Pak AA terkadang menyiratkan kekecawaannya bahwa Aa sulung -kasarnya nih- “produk gagal.”
Padahal kalau saya lihat, kegagalan ada di pihak dia. Gimana nggak? Di saat AA sulung berumur 5 tahun, dimana dia mendefine benar-salah dari ajaran orang tua, dia jarang bertemu bapaknya yang ada di oil rig dan pulang-pulang di sabuk.

Orang tua juga berproses untuk menjadi dewasa. Orang tua hidup di dua jaman. Jaman dia jadi anak dan jaman dia jadi orang tua. Kedua jaman ini beda total. Masalahnya, ada beberapa orang tua yang anak sulungnya masuk usia didik kritis (masa dimana anak kecil mendefine benar-salah dari ajaran ortu -ini masa yang saya define sendiri ya, tidak tau di dunia psikologi ada apa nggak, yang jelas sarjana psikologi tentunya lebih tahu dari saya) orang tuanya masih hidup di jaman dulu.

Di setiap saat orang tua harus dihadapkan dengan pilihan kemungkinan yang tidak enak dan sadar tidak sadar pilihan yang mereka ambil membentuk mentalitas para anak dan yang menyeramkan bagi orang tua, sadar tidak sadar, mentalitas anak adalah bekal si anak untuk survive di kehidupan mereka nanti.

As for me and kakak saya, we grew up fine. Tapi memang ada yang saya pelajari dari bapak saya yang saya pilih untuk tidak melakukannya yaitu kerja di tempat remote, yang jauh dari keluarga.
Ibu pernah cerita ketika saya masih merangkak, kakak saya sudah bisa bicara. Suatu hari bapak pulang dari oil rig dan kakak bertanya pada ibu, “Mah, itu siapa?”

In the end, jadi orang tua itu adalah pilihan yang kesiapannya terkadang harus lebih dalam dari yang kita kira. Saya bersyukur punya masa kecil dan teman-teman yang dimana saya bisa menimba pengalaman agar saya bisa menerapkannya atau malah tidak diterapkan ke keluarga kecil saya ini.

42 Comments

  1. indriani budi utami
    indriani budi utami June 20, 2011 at 3:49 am

    [quote] Bungsu, dengan cepat belajar dari kesalahan kakaknya
    Orang tua cenderung tidak sadar bahwa dia bereksperimen dengan si sulung
    Orang tua juga berproses untuk menjadi dewasa [/quote]

    setuju banget dengan 3 quote di atas.

  2. tisyonk
    tisa 'tisyonk' June 20, 2011 at 3:57 am

    Very inspiring article Kang Adit :)

  3. nidya
    Nidya June 20, 2011 at 4:52 am

    thank you kang..tulisan akang bs jd pengingat gw :)
    btw..tentang anaknya pak BB yg suka kelojotan..temen kantor gwpun ada yg seperti itu :(

  4. maminya_altaf
    atika June 20, 2011 at 4:54 am

    ulasan yg sangat bagus. betu kadang anak sulung terlalu banyak dituntut dan dapet susahnya aja. jd kt sbg orangtua skrg harus aware y.

  5. winD
    Winda Deftiani June 20, 2011 at 5:55 am

    kang Adit, tfs. baguuus dan menggugah. saya sulung dan kadang merasa tuntutannya ‘lebih’ banyak. semoga saya bisa jadi orang tua yang lebih baik :)

  6. trias.kelly
    trias kelly June 20, 2011 at 6:46 am

    Aduuuh jd terharu, bagus banget.
    Bener banget soal “orangtua cenderung tidak sadar bahwa dia bereksperimen dgn si sulung”
    Tulisan mengingatkan aq dalam mendidik dan mengasuh naldi.
    TFS

  7. SunShine
    Fitria Adriadi June 20, 2011 at 8:11 am

    artikelnya bagus :)
    TFS

  8. siska.knoch
    Siska Knoch June 20, 2011 at 8:36 am

    Keren banget artikelnya, tfs pak Adit :)

  9. otty
    Pangastuti Sri Handayani June 20, 2011 at 8:44 am

    Tulisannya bagus banget :)

  10. charissarhanie
    rani nurcharissa June 20, 2011 at 8:45 am

    great article!

    nambahin satu pendapat dari point of view anak sulung bukan hasil didikan tipe pak AA ato BB tapi gak purely CC juga. saya kadang2 malah salut dgn anak kedua dan seterusnya loh, kadang2 krn perhatian ortu terlalu focus sama si sulung kehadiran anak berikutnya sering terlupakan. Ibaratnya, level of excitement orang tua kadang sudah agak berkurang. baju2 jarang yang baru, foto pun gak sebanyak anak pertama, dan kadang jadi korban ‘bully’ anak sulung (pengalaman pribadi). saya sendiri merasa kadang pola pikir saya agak kurang dewasa jikalau dibandingkan dgn adik saya, mungkin ada untungnya ayah saya meninggal saat kami masih kecil2 jadi secara tdk langsung mendewasakan diri saya dan sadar sama tanggung jawab terhadap keluarga.

    keuntungan sebagai anak sulung buat saya pribadi adalah sejak kecil sudah dibiasakan hidup mandiri. punya tabungan pribadi utk mengelola uang saku, bebas pergi tanpa diinterogasi, night curfew yg lebih longgar, diberi kebebasan memilih jurusan yg diminati, dan pendapat saya akan selalu didengar oleh orang tua. tentunya bukan tanpa syarat kalau prestasi di sekolah pun dikontrol dengan ketat, hehehe…

  11. nawang
    Lisna Ekowatiningrum June 20, 2011 at 8:50 am

    Wah, bener banget..saya jg anak sulung yg masa kecil sering dipukul kalo salah..untung masih jadi orang bener :P
    Baca ini, jadi sadar kalo orang tua memang berproses juga & tanpa sadar bereksperimen terhadap anak sulungnya.
    Adik saya yg terakhir sekarang ga pernah dipukul kalo salah. Dan dia (termasuk adik kedua saya) belajar banyak dr pengalaman hidup saya.
    Sekarang sebagai orang tua baru, belajar dari cara mendidik orang tua serta dr macam2 referensi kayak dari forum TUM juga.
    TFS, ijin copas quote-nya ya Mas Adhit.

  12. mami Yo
    yoana June 20, 2011 at 9:18 am

    Aaarrrggghh tertampar rasanya..jd ngerasa terlalu keras sama si sulung dan super lembek sama si bungsu huhuhu *menyesaaaal*

    tx for sharing,pak Adhit..indeed, its a very good article :)

  13. uminyakiera
    Era June 20, 2011 at 9:18 am

    Setuju banget. Seperti yang pernah saya baca di salah satu milis, “bagilah cinta yang banyak pada si kakak, agar ia bisa membaginya dengan sang adik”. Klop deh.

  14. asrie
    asri kusumawardhani June 20, 2011 at 10:05 am

    lam kenal mama semua, saya peserta baru di TUM ini. saya terharu baca artikel ini, saya juga anak sulung dari tiga bersaudara dan saya setuju dengan mba lisna sebagai anak sulung saya dituntut ini itu oleh orang tua saya yang didikannya bisa dibilang keras jg kadang sampe memukul dengan tangan pernah juga sih dengan sapu lidi. Selisih usia saya 4 tahun dengan adik kedua dan 5 tahun dengan adik ketiga. memang kadang saya sebagai kakak selalu menjadi sasaran empuk omelin klo ada kesalahan yang dibuat atau pun adik saya yang berbuat kadang saya jg yg diomelin dibilang ga memberi contoh dengan baiklah, dll. Sampe terkadang terpikir dalam benak saya orang tua saya pilih kasih dan ga sayang sama saya ga jarang terlintas dipikiran saya untuk pergi dr rumah tapi alhamdulillah saya dibekali ilmu agama yg baik dan punya ustad yg baik dan sabar dari beliau saya belajar untuk sabar dan berpikir positif kalau itu untuk kebaikan saya nantinya agar hidup saya baik mungkin kalau tidak kuat iman saya sudah ga tau jd apa saya sekarang ini. Alhamdulilah dengan berdoa dan bersabar semua bisa teratasi dan sekarang saya mempunyai satu anak dan merasakan bagaimana sulitnya jd orang tua. Klo terlalu menuruti kemauan anak kita juga salah, terlalu keras jg salah. Buat saya hanya dengan berdoa dan bersabar semoga saya bisa menjadi orang tua yg baik dan memberi contoh yg baik untuk anak2 saya dan mendidik anak sulung saya dengan kesabaran dan kedekatan hati dan sebisa mungkin berbicara/ berkomunikasi baik dengan anak saya.

  15. rachanlie
    mira a June 20, 2011 at 10:24 am

    Great article kang Adit.. TFS ya.. :)

  16. rainiw
    Aini Hanafiah June 20, 2011 at 10:25 am

    Tfs kang Adit.. bagus bgt artikelnya, a pure gold :D
    Jujur, pas bacanya jd nyesek krn plek sama dgn masa kecil yg dialami. Terutama yg bagian disaat anak sampai di usia didik kritis, orangtuanya masih berada di jaman dulu. Semoga kita semua TUMblers bisa jadi ortu yg lebih baik, yg menjejak di masa sekarang bersama anak2nya :)

  17. maymoms
    Susan Aldilla June 20, 2011 at 10:36 am

    Bagus banget ! :D
    Istilahnya “derita anak sulung”. Aku anak sulung, waktu kecil ga terima kok ortu ‘lembek’ sama adikku. Tp syukurlah keluarga kami cukup demokratis, tdk se keras AA dan BB. Jadi kami tumbuh baik. Ada sdkt ga terima, tp tdk sampai jd ekstrim. Sedih kalau anak sulung yg trauma jd punya masa depan yg buruk. Bagaimana yah ‘mengobatinya’. Perlu terus bljr jd ortu, ssd jamannya :)

  18. cytazz
    cytazz June 20, 2011 at 10:42 am

    hyaaakk ngena banget, thanks kang adit. ijin sharing ya :D

  19. adisanita
    adisanita June 20, 2011 at 11:07 am

    Walaupun dulu dah pernah baca di blognya Adit, tp pas baca lagi, jd merenung lagi.. soalnya saya dan suami berdua sama2 sulung,adik saya 3 dan adik suami 2, dan memang tanggung jawab kita berdua sangat2 besar, maunya kita itu jadi contoh adik2 kita, dan sisi baiknya sih, kita jadi hati-hati kalau bertindak,jangan sampai apa yang kita perbuat malah jadi contoh yg ga baik buat adik2 kita.
    Untuk penerapan ke anak sulung kami, suami selalu menekankan jangan mau selalu ngalah sama adiknya, malahan disuruh tuh untuk balas mukul, kalau adiknya mulai mukul duluan, dan udah gitu.. baru deh dipisahin dan diajak berdamai, yg penting si kakak udah balas, biar dia ga tertekan, krn pengalaman bapaknya yg harus ngalah terus ke adiknya, pdahal bukan dia yg salah.

  20. Ajeng Amanda
    Ajeng Amanda June 20, 2011 at 11:09 am

    Keren ceritanya kang Adit..TFS ya..
    Mudah2an para urban mama dan urban papa bisa belajar dari cerita ini..

  21. sLesTa
    shinta lestari June 20, 2011 at 11:11 am

    komen gue mirip2 sama rani nurcharissa. kalo di gue ngerasa sebagai anak sulung gue jadi terlatih untuk mandiri dan diharapkan sebagai role model buat adek gue. gue gak dididik seperti anaknya pak AA atau pak BB, mungkin lebih ke pak CC. tapi gue justru malah kasian ama adek gue.

    karena sepanjang hidup adek gue, dia jadi terbayang2 sama sosok si kakak yang udah lebih begini atau begitu, kok adeknya gak? padahal kan kita dua manusia berbeda. tapi untungnya gak ngaruh gimana2 secara psikologis sih, cuma gue suka kasian aja, kalo sampe adek gue di compare ama gue. gue juga pasti ga mau begitu kalo gue jadi dia soalnya.

  22. riansr
    Rianasari June 20, 2011 at 11:11 am

    Makasih tulisannya ya.. :) mengingatkan saya utk lebih sabar dlm menghadapi si sulung yg lg caper karena baru punya adek.

  23. Niniek Rofiani
    niniek rofiani June 20, 2011 at 12:01 pm

    tfs ya….

    jadi pengen share juga nih. saya dan adik saya dididik secara berbeda. karena ortu saya bercerai, adaik saya dididik oleh Ibu, sedangkan saya dididik oleh Ayah dan Nenek. yang mana dua orang ini juga sangat bertolak belakang, Nenek saya orang yang otoriter, sedangkan ayah saya cenderung sabar, dan “nrimo”. saya mendapati ketika saya dan adik saya berkumpul lagi ketika kami sudah sama sama besar, dan kini sudah berumah tangga.

    adalah:
    - saya secara pekerjaan lebih baik, otomatis dari segi finansial. saya lebih sabar dan lebih hati2 dalam bertindak.
    - adik saya sejak kami berkumpul seringkali sebagai copy cat penampilan saya. tapi tidak dalam hal kehatia-hatian dalam hidup. istilahnya lebih sembrono.

    kalo dilihat memang terbalik dari cerita di atas ya. karena sayalah yang sejak kecil sudah mengalami kerasnya tempaan didikan dari Nenek saya, menjadi orang yang lebih baik dan lebih siap menghadapi kehidupan ini. sedangkan adik saya sekarang kehidupan rumah tangganya malah kurang baik.

  24. chocopinkholic
    Septhia Astriana June 20, 2011 at 1:14 pm

    Nice posting..
    Kebetulan baru punya anak, mudah-mudahan bisa mendidik dengan baik si sulung :)
    Btw sharing daku sebagai anak sulung ya.. Karena proses mendapatkan aku cukup lama (which is 7 years), jadilah aku anak sulung kesayangan. Tapi alhamdulillah tetep bisa jadi panutan/contoh bagi adik-adik (punya 3, cewe semua).. Biasanya sih aku jadi benchmarking, dan adik-adik (alhamdulillah) lebih baik daripada aku :D

  25. MamaYumi
    Mei Mei June 20, 2011 at 2:54 pm

    duh merasa tertohok. kayaknya aku udah terlalu keras ama yg sulung :) musti belajar sabar kayaknya. berharap ga terlalu sering mukulin yg sulung tiap dia berbuat kesalahan, tp kog ya badungnya ga ketulungan =))
    TFS yah! tulisan yg bagus ^^

  26. AjengAdrianto
    Ajeng Fenthianika June 20, 2011 at 3:04 pm

    Artikelnya bagus banget..TFS kang Adit :D

    Sangat insipiratif buat para urban papa n mama nich..

  27. tari quennell
    lestari yudiastuti June 20, 2011 at 4:16 pm

    sangat inspiratif :)
    klo untuk aku mengingatkan untuk belajar dari pengalaman dan sekitar agar lebih baik dalam mendidik anak2 kita :)

  28. mamashofi
    mamashofi June 20, 2011 at 9:34 pm

    Benar-benar merasa tertampar seperti Yoana dan tertohok seperti Mei Mei
    saya merasa sangaaat menyesal dengan cara saya bersikap kepada Si Sulung…terlalu keras dan terlalu tinggi ekspektasinya (secara si sulung adalah anak cowok dan 2 adeknya cewek): harus belajar, harus mengalah, harus menurut, harus bagus nilainya dst
    sampe-sampe suami menganggap saya dan si sulung seperti Tom and jerry yang selalu bermusuhan…
    namun sedikit demi sedikit mulai menepati janji untuk berlaku lebih sabar dan tidak terlalu tinggi pengharapannya.
    Dan hasilnya si sulung bisa membuktikan diri ” Alhamdulillah, hari ini sulungku lulus SD dengan nilai yang baguss…ibu bangga padamu Nak, maapken ibu yang kurang mempercayaimu”
    BTW artikelnya bagus…

  29. nanad
    swastikha nadia June 20, 2011 at 10:46 pm

    jleb…kena deh,,
    pengalaman sebagai anak sulung, ngerasa klo orangtua agak pilih kasih antara aku dan adek2ku..ternyata mungkin mereka emang saat ngedidik aku belum tau info dan ilmunya sebanyak pas adek2ku lahir ya?gak kepikiran sampe situ sampe baca artikel ini..

    tfs ya mas adhit, great article :D

  30. sondang
    Sondang June 21, 2011 at 4:43 am

    subuh begini baca ini, langsung noleh ke samping ke krucils tercinta. Jadi mewek, membayangkan betapa ngaruhnya didikan ortu terhadap anaknya. (dan saya mewek di bagian AA sulung tergantung narkoba, setelah seblumnya cuma berkaca-kaca baca masa kecil AA Sulung dan BB Sulung)
    Jujur aja, dulu aku termasuk yg ngerasa parenting itu learning by doing. Itu bener sih, tapi salah banget kalo gak berusaha cari ilmu parenting, buat menghindar dari menjadikan anak pertama percobaan. Waktu itu Bu Ely Risman juga ngingetin, kalau anak sulung itu biasanya ‘korban’ percobaan ortu.
    Oh so help us dear God.
    TFS Adit.

  31. crey
    Chrisye Wenas June 21, 2011 at 7:23 am

    Well said, kang Adhit! Tfs yaa…
    *bookmarked*

  32. Adhitya
    Adhitya Mulya June 21, 2011 at 11:56 am

    Dear all mamas and papas. thank you for the comments and thank you for reading – and you’re most welcome. Mohon maaf baru bisa bales-bales sekarang.

    Semoga semua ini bisa jadi bahan pembelajaran untuk kita. We all want what is best for our children.

  33. muttimitha
    Mitha June 21, 2011 at 11:59 am

    bacanya ngembeng..tanpa sadar sudah seperti itu sama si sulung..
    TFS kang Adhit..ngena banget deh..
    dan sama dengan doa Sondang: Oh so help us dear God..to raise to nurture and to love our kids

  34. mamakeno
    Nova Sylvana June 21, 2011 at 1:26 pm

    Makasih udah ngingetin. Artikel yang sangat bagus! :)

  35. wardani
    liana wardani June 21, 2011 at 9:09 pm

    bagus artikelnya. tq ….. jadi inget waktu kecil dulu mama selalu nyubit kl saya “nakal” tp adek saya bebas melenggang … hanya karena saya sulung dan lebih gemuk wkwkwk …. sekarang saya memanggil mas dan mbak untuk anak saya, sedikit mengingatkan saya bahwa tdk ada beda antara keduanya.

  36. Ratna Wulandari
    Ratna Wulandari June 22, 2011 at 5:34 pm

    bagus bener artikelnya, kang adit:) bravo bravo! TFS yaaaah… ^_^

  37. knip
    pinky andryani June 23, 2011 at 12:04 pm

    Satu pelajaran lagi yang saya ambil setelah bergabung di TUM..
    Thanks Kang Adit sudah memberikan ilmu baru menjadi orang tua yang lebih baik.

  38. Devina
    Devina June 23, 2011 at 2:31 pm

    a very inspiring one…tfs y kang adit :)
    aku anak sulung dari 3 bersaudara, adik2ku cowo semua dan alhamdulillah orang tuaku tdk mendidik seperti AA maupun BB tp jg ga terlalu CC, walo mamaku memang cenderung lbh keras dr papa dlm hal mendidik tp ga sampe bkn trauma scr psikologis dan skr setelah anak pertamaku lahir, aku mahfum knp seorang ibu lbh keras dlm mendidik anaknya dr sang ayah, mengandung dan melahirkan ternyata bnr2 pengalaman yg bkn aku pribadi merasa ‘reborn’.

    oia pengalamanku menjadi anak sulung mirip dgn mama slesta, aku sering dijadikan role model utk adik2, terkadang mereka jd sebal dan suka blg “kl uni aj ga bs, gmn kita…” atau “ya iyalah..uni kn pinter..bla bla…”
    yg lucu walo aku sulung tp jarang dimarahin, apa krn aku perempuan y? pernah bkn baret mobil wkt baru belajar nyetir,tp g dimarahin eh kl adikku pasti diomelin,yah mungkin kl cowo dianggap lebih jago dlm dunia nyetir menyetir kali y

    kadang aku senang tp jg suka risih dijadikan panutan, karena tiap individu berbeda dan punya keunikan masing2 jd g bs menyamaratakan apa yg diraih si kakak maupun yg dimiliki si adik bs diperoleh semuanya.

    Sekarang aku sdg belajar jd seorang ibu, mudah2an aku n suami bs menjadi orang tua yg baik bagi Attila (almost 5 mos). Senangnya gabung di TUM, byk sekali sharing yg bermanfaat :)

  39. BubuBebe
    Feny June 23, 2011 at 6:36 pm

    Ikutan comment yahhhh
    Dalam salah satu teori psikologi, ada istilah favorable dan unfavorable outcome dari masing-masing susunan anak (sulung,tengah,bungsu). Hal ini bisa terjadi karena prinsip nature dan nurture atau interaksi antara individu dan lingkungan. Setiap individu dapat mempersepsi pengalamannya secara berbeda. Itulah mengapa didikan yang “keras” bisa membuat anak bermental baja atau justru stress.
    Kenali anak, hayati anak, munculkan kesediaan untuk terlibat dengan anak adalah hal yang sangat membantu dalam melakukan pola asuh.
    Nice article Kang Adit…populer namun berisi….

  40. desy wulansari
    Desy Wulansari June 30, 2011 at 2:05 pm

    Wah artikel yang sangat bagus. Ini terjadi dengan kakak sulung saya sendiri dan kakak sulung suami yang menurut saya kurang tough dan kurang spirit of survival-nya. Untung kami sama-sama anak “pertengahan” jd bisa mempelajari apa yg sebaiknya dilakukan atau tidak dilakukan. Semoga perlakuan kita kepada anak kita akan lebih baik dengan berkaca pengalaman pada saat masa kecil. Bagaimanapun kita sayang pada orang tua kita, tetapi perlakuan dari orang tua kita dalam mendidik anak seharusnya bisa diambil pelajaran berharga, yang baik patut ditiru..yang tidak sesuai sebaiknya dihindari.

Post a Comment

You must be logged in to post a comment.