You are a Mother First

sLesTa

Sebagai ibu bekerja, sudah menjadi pilihan saya, walaupun berat rasanya untuk pergi setiap ke kantor setiap pagi dan meninggalkan anak-anak di rumah. Saya yakin semua ibu bekerja mempunyai perasaan seperti saya setiap pagi ketika harus pergi ke kantor. Rasanya malas sekali meninggalkan rumah, apalagi ketika Senin datang, setelah dua hari penuh meluangkan waktu bersama anak-anak.

Tapi menjadi ibu pekerja adalah pilihan yang saya inginkan ketika anak-anak lahir. Ketika anak pertama saya lahir, saya sempat berpikir, apa sebaiknya saya di rumah saja. Rasanya tidak tega meninggalkan anak di rumah dan dijaga oleh orang lain. Lalu ibu saya, yang sebenarnya ibu rumah tangga, meminta saya untuk tidak usah memikirkan hal itu. Menurut Mama, sebaiknya saya tetap bekerja karena itu bagus untuk saya dan jati diri saya, tidak hanya sebagai Ibu tapi juga bisa berprestasi di luar sana. Saya menurut, walaupun dengan berat hati. Saya juga bingung, bagaimana mungkin Ibu saya berpikir seperti itu ya? Padahal ibu dulu tidak bekerja.

Tapi seiring dengan waktu, saya mengerti apa yang dikatakan Mama. Beliau tahu benar kalau saya ini orang yang tidak bisa diam. Kalaupun saya ada di rumah, saya pasti tetap akan berkarya. Dan ketika saya memutuskan untuk tetap bekerja, saya pasti akan bisa mengatur waktu saya dengan baik agar peran saya sebagai Ibu tetap besar bagi anak-anak saya.

Terbukti, saya berhati-hati sekali dalam menjalani waktu saya di kantor. Saya berusaha “mengerem” karier saya karena saya ingin punya banyak waktu dengan anak saya, tanpa harus stres dan sibuk dengan kegiatan-kegiatan kantor yang tidak ada habisnya. Lalu anak kedua saya lahir, dan saya memiliki bos baru, seorang wanita yang mungkin hanya beda 3-4 tahun umurnya dari saya. Sudah mempunya jabatan yang amat sangat senior dan memiliki dua anak laki-laki yang masih kecil. Dari awal, bos saya ini menegaskan kalau waktu bekerjanya hanyalah dari jam 8 sampai jam 6 sore karena dia harus pulang dan menidurkan anak-anaknya. Beliau mengajarkan kepada saya tentang pentingnya waktu berkualitas bersama anak. Bos saya ini sibuk luar biasa, dan walaupun dia pulang jam 6 sore setiap hari, jam 10 malam dia terlihat kembali bekerja dan email-email balasan banyak berdatangan darinya di malam hari. Saya berpikir, apabila beliau bisa melakukan hal itu, kenapa saya tidak?

Saya belajar untuk mengatur waktu antara menjadi seorang profesional yang penuh dengan tuntutan pekerjaan dan seorang Ibu yang tak lekang dari mengurus anak-anak di rumah.

Perasaan bersalah yang dulu pernah hinggap karena harus bekerja, pelan-pelan mulai hilang. Tentu saya sedih ketika banyak hal yang mungkin saya bukan menjadi orang pertama yang melihatnya. Tapi saya selalu ada secara presence untuk kedua anak saya. Saya tetap ada ketika bangun di pagi hari, sarapan pagi dan makan malam. Saya luangkan waktu untuk mengajari anak pertama saya untuk latihan piano setiap malam, dan bermain dengan si kecil sampai puas dan tertidur. Bahkan, saya masih menyusui anak kedua saya di usianya yang 20 bulan. Kesibukan dan tanggung jawab saya di kantor makin banyak, kadang sampai saya tidak mengambil izin sakit atau cuti karena meeting di sana sini yang saya harus hadiri. Tapi selama tidak mengganggu kegiatan anak-anak, saya tidak masalah. Kalau saya mesti hadir di sekolah anak-anak, kantor terpaksa harus menunggu atau saya cuti.

Di saat anak pertama saya libur sekolah, saya ajak dia untuk ikut ke kantor dan melihat mama-nya bekerja. Kadang sampai saya biarkan dia membuat meja saya berantakan, sementara saya tinggal meeting di ruang meeting. Ketika si kecil sakit dan mesti menempel sama Mama, saya terpaksa harus kerja dari rumah. Untungnya kantor saya mendukung ini semua, sehingga saya tetap bisa mengatur peran saya sebagai seorang Ibu dan seorang wanita karier.

Ketika si kecil menangis waktu saya akan pergi di pagi hari, saya ajak dia pergi bermain di playground dan mengajarkannya untuk salaman dan mengucapkan “bye bye” ketika saya pergi. Supaya dia melihat kalau Mama-nya pergi untuk ke kantor, bukan untuk meninggalkannya tanpa alasan yang tidak jelas. Saya siapkan seorang nanny ketika saya meninggalkan si kecil di rumah yang saya ajari dan pilih dengan hati-hati. Untuk anak pertama saya yang sudah berumur 5 tahun, saya taruh dia di childcare yang juga memberikan after-school care (termasuk makan & tidur siang) sampai saya pulang kantor.

Kadang saya suka berpikir, kasian ya mereka harus berkegiatan tanpa mama & papanya ketika hari kerja. Tapi saya tepis semua itu karena saya tahu, pilihan saya ini adalah pilihan untuk anak-anak saya juga. Dan saya bisa melihat kalau anak-anak tumbuh sehat, ceria dan mandiri. Dan itu adalah reward terbesar yang bisa saya terima.

Yang penting, apa pun pilihan seorang Mama, saya yakin itu adalah pilihan terbaik untuk dirinya, anak-anak dan keluarganya. Jadi apa pun itu, tidak perlu untuk menyesali dan bersedih. Jalankan apa yang sudah jadi pilihan Mama dengan maksimal, dengan managemen waktu yang baik. Karena apa pun pilihan Mama, you are a mother first and will always be one for your children!

50 Comments

  1. Lilypoet
    Lilypoet October 2, 2013 at 1:47 am

    saya malah berniat sekali untuk berhenti bekerja untuk menjadi fulltime mom, tapi suami, keluarga saya, keluarga mertua, dan teman kerja saya tidak mendukung, katanya sayang saya susah-susah masuk pns. jadinya si baby dititipin ke ortu, sedih tiap berangkat kerja.

  2. ninit
    ninit yunita October 2, 2013 at 6:55 am

    great writing shin, as always…
    yakin deh banyak yang terinspirasi setelah baca artikel ini. dengan support system yang oke semua insya Allah bisa jalan dan dimudahkan yaa…

  3. bilarina
    Nabila Syafrina October 2, 2013 at 8:00 am

    Bener banget mba Ninit, saya sangat terinspirasi sekali dengan tulisan mba Shinta.Saya seorang auditor dan anak saya masih berusia 5 bulan. Besok adalah pertama kalinya saya akan berlembur ria (sampai dua minggu ke depan) setelah dari awal hamil diberikan kelonggaran untuk pulang tepat waktu. Dengan izin suami, insya Allah bisa dimudahkan dan bisa me-manage waktu dengan baik. Amin.

  4. adelina
    Adelina October 2, 2013 at 8:05 am

    mbak shinta, bagus banget artikelnya :’) setuju mbak, kita harus bisa membagi waktu (kapan bekerja dan kapan waktu untuk anak-anak)dan saya juga lagi mengusahakan kayak mbak gitu.. ternyata kalo saya konsisten, anak pun jadi tidak terlalu merengek di pagi hari ketika saya harus berangkat kerja di pagi harinya.. air matapun berkurang deh setiap hari :) paling senang kalau kantor memahami ya dan salut sama mbak shinta dan atasannya! we are a mother first and will always be one for our children! :)

  5. dewdewlubis
    dewi lubis October 2, 2013 at 8:41 am

    Mba Shintaaa, bagus bangeet artikelnya!semangat buat para moms diluar sana yang setiap harinya juggles their role as a mom and career women!

  6. eka
    Eka Wulandari Gobel October 2, 2013 at 9:20 am

    Mama shinta tulisannya baguuus :) menginspirasi para working mom.
    Semoga selalu dimudahkan yaa.. aamiin.
    Btw, itu foto nei lagi nangis lucu bangeet! cup cup cup neiii :*

  7. yuniastuti
    yuniasih dwi astuti October 2, 2013 at 10:36 am

    semoga para working mom selalu diberikan kemudahan dalam menjalankan perannya sebagai orangtua, teman, sahabat bagi anak2, istri yang hebat bagi suami, menantu yang disayang mertua ;) dan atasan/bawahan yang menjadi panutan ditempat kerja…amiiiinnnn…..

  8. Silpe
    Silfa Reskhy October 2, 2013 at 10:45 am

    tulisannya bagus banget, terima kasih sudah menginspirasi mba :)

  9. ZataLigouw
    Zata Ligouw October 2, 2013 at 11:09 am

    Shintaaa..makasih tulisannya.. gw tercerahkan lagi nih, jadi semangat lagi juga. Gw emang udah gak sminggu full kerja, tapi situasinya beda tipis aja sama yg full time kayanya hehehe..
    bener Shin, gw juga stelah anak2 tidur biasanya kembali bergerilya, ngerjain kerjaan yg belum selesai :)

    sekali lagi makasih tulisannya Shinnn..

  10. arninta
    arninta pusiptasari October 2, 2013 at 11:12 am

    selalu suka sama tulsian mba shinta, sbg newbie working mom membantu bgt ‘menguatkan’ hati dan meluruskan niat artikel2 mba shinta..thanks yaa mbaa sharingnya :)

  11. ipeh
    Musdalifa Anas October 2, 2013 at 11:34 am

    Shin, artikelnya bagus senang banget bacanya. Gue pernah merasakan sebagai full time dan working mom, sama aja kok, sama-sama sebagai Ibu.
    Thanks Mama shinta, inspiratif sekali

  12. sLesTa
    shinta lestari October 2, 2013 at 1:06 pm

    @lilypoet: sebaiknya kalau memang niat mama adalah untuk di rumah, jangan dipaksa. karena dengan merasa sedih meninggalkan anak-anak, jadinya kerja merasa terpaksa dan anak-anak juga jadi melihat mama-nya gak happy. do what makes you happy!

    @ninit: aww.. thanks ninit! :* muach muach.. amiinn kalo emang ada yang bisa terinspirasi dari tulisan ini.

    @nabila: makasih ya! good luck buat masa-masa lemburnya. you can do it! dijalanin aja, dan yang penting, bagi waktu yang benar. semoga hasilnya memuaskan, in terms of your work and family.

    @adelina: terima kasiihhh *cium* benar sekali. kalau kita konsisten, anak juga terbiasa. anak itu dibentuk dengan rutinitas. selama kita bisa tetap connect dengan anak selama di rumah, semestinya it’s fine. saya lebih happy melihat anak-anak saya karena terbiasa melakukan apa2 tanpa orang tuanya, mereka jadi lebih mandiri (walopun kalo ada mama-papanya, malah manja semua pengen dibantuin).

    @dewi lubis: semoga yaa! there’s nothing wrong being away from your kids. they will know who their mothers are, asal pas lagi sama anak-anak juga pikirannya jangan kemana-mana :) quality is better than quantity.

    @eka: hihi makasih mama eka! itu nei mah manja nangis karena gak diajak pergi. begitu diajak kebawah, trus liat gue naik mobil juga dia udah ketawa2 sambil dadah2 “bye bye mama” gitu.

    @yuniasih dwi astuti: amiinnnnnn…

    @silfa reskhy: makasih, semoga membantu para working mom untuk tidak sedih ketika meninggalkan anak-anaknya di rumah.

    @zata: kalau sudah terbiasa kerja, mau stay di rumah pun pasti ga bisa diem ya. adaaa aja yang mau dikerjain. wajar2 aja. a mom is also human, perlu jati diri, butuh pengakuan, dll. makanya even SAHM pun perlu yang namanya me-time. buat kita2 yang kerja, waktu di kantor itu lah me-time kita. walopun me-time nya gak yang happy2 sih.. stress seringnya! hahaha..

    @arninta: aww, makasih yaa!! semangaaatt!! pasti bisa.

    @musdalifa: yes, ipeh! mau kerja ato di rumah, sama2 mama. dan buat anak-anaknya, gak mungkin salah kok mama yang mana.

  13. Honey Josep
    Honey Josep October 2, 2013 at 1:06 pm

    *mbrebes miliiii*

    tfs Slesta :)

  14. bundamalika
    bundamalika October 2, 2013 at 1:08 pm

    Mba Shinta….

    Artikel nya baguss banget, inspiratif dan menjadi penyemangat di saat perasaan bersalah meninggalkan anak datang.Terima kasih & sukses selalu ya :)

  15. wiwien09
    wiwien09 October 2, 2013 at 2:11 pm

    mbk shinta, inspiratif bgt tulisannya…jadi menitikkan air mata, krn today, anakku sakit tp kerjaan di kantor lg urgent jdnya mesti ngantor hik..hik..hik.. tp emang kudu pinter bagi waktu dan bisa memaksimalkan waktu buat mom yang kerja.kadang memang dilema kalo pagi hari liat si kecil merengek gak boleh mama nya kerja, tp di sisi lain butuh cicilan yang kudu dilunasi krn 1 dapur belum ngepul…hehehehehe *curcol… jadi ya tergantung ma niat dan diserahkan ke Allah SWT, pasti ada jalan terbaik..

  16. pramaswari
    Pratiwi Pramaswari October 2, 2013 at 2:48 pm

    mba shinta….thanks for sharing your stories :)

  17. yulia handayani
    yulia handayani October 2, 2013 at 3:01 pm

    Setuju dengan mama shinta. Yang penting niat bekerja buat keluarga juga. Gimanapun & apapun itu working mommy dibawa enjoy klo saya. Klo ingat jarang tempuh kantor pp +/- 4-5 jam, pgn rasanya lgsg ngajuin surat resign. Untungnya punya boz yg pengertian & harus dibuat mengerti (agak maksa dikit). Saya masih bisa mandiin, antar Alya skul. Klo pas Alya libur, dia yang gantian nganterin saya ke stasiun. Klo Alya sakit, tinggal kerja dari rumah & standy untuk di telp. Cuti selalu saya ambil untuk kegiatan yang berhubungan dengan Alya.

  18. mamanyapanyanya
    mamanyapanyanya October 2, 2013 at 3:23 pm

    mbak
    ceritanya bagus :D
    saya juga bekerja fulltime dari jam 7.30-16.30. bawaannya biasa repot dan aktif trus sih. jadi kalau gk kerja dirumah pasti stress. kalau gk ya cari kesibukan or kerjaan yang dr rumah. sementara ini, setiap pagi fanya (5bln)dititipin dirumah omanya. sore pulang kerja saya jmpt. kalau sudah pulang, fanya ikut saya trus. sampai laptop ditinggal di kantor biar gk ada keinginan melanjutkan pekerjaan kantor dirumah hahaha
    saya merasa beruntung fanya masih ada yg jagain dr lingkungan kluarga. jadi saya masih bisa tenang bekerja untuk mempersiapkan masa depannya.
    salam salut buat semua working mom

  19. hanifa
    hanifa October 2, 2013 at 7:57 pm

    Tiap pagi saat brangkat ke kantor sering melow, tapi dijalan saya slalu berdoa mudah2an Key ngga rewel dan meyakinkan diri kalau Key akan dijaga baik2 sama mbah-nya, It’s work.. begitu sampe kantor melow-nya ilang dan terganti dengan semangat bekerja sebaik2nya biar kerjaan cepet beres dan pulang tepat waktu. Oh iya tadinya begitu Key lahir saya berniat resign tapi kayaknya mertua kasian dan ngga tega liat sy kebosanan dirumah terus pdhl dulunya aktif banget. Akhirnya beliau sendiri yan nyuruh saya bekerja kembali Dan senangnya lagi Beliau bersedia dititipin Key.. Ngga terasa Key udah mau 3 taun dan so far semuanya baik2 saja, Alhamdulillah..

  20. rhisuka
    riska nurmarlia October 3, 2013 at 7:25 am

    Great article. Setuju banget sama shinta. Dan sebagai ibu bekerja, selain kantor yang mendukung, yang sangat penting juga adalah pasangan yang mendukung. Imo, jadi ibu ga gampang, baik jadi working mom maupin sahm. Kalo working mom, selain susahnya balancing dua kewajiban antara di rumah dan di kantor, yang juga susah adalah “mengerem” ambisi and be okay with it. Kadang berat banget buat melewatkan satu opportunity, tapi kaya yang shinta bilang, we are a mother first. Sukses terus ya shiiiiin :)

  21. anovita
    anovita October 3, 2013 at 9:33 am

    PENCERAHAN :)
    saya baru saja melahirkan anak pertama, masih cuti dan lagi galau-galaunya milih balik kerja atau nggak. suami dan orang tua sih ngijinin balik kerja (dan hati saya pun pengen balik kerja lagi). semoga pilihan saya yang terbaik ya, untuk semuanya terutama untuk anak saya. Aamiin :)

  22. asripraba
    asripraba October 3, 2013 at 10:35 am

    makasih mom. seminggu ini hampir tidak bisa tidur karena galau akut dan sempat berfikir resign di usia baby ku yg baru 9m, ditambah ada sedikit masalah di kantor. Rasa bersalah selalu ada setiap pagi berangkat kantor, dan malam. rasanya sedikit sekali waktu tersisa untuk bersama anak. Akhirnya terbuka sekali baca ini. Meskipun di rumah bersama anak adalah hal yang luar biasa menyenangkan, tapi aku bekerja bukan karena terpaksa. aku bekerja karena memang aku suka bekerja. Resign bukan menyelesaikan masalah, tapi lari dari masalah. karena aku yakin suatu saat aku pasti tetap mencari kesibukan meskipun di rumah.

  23. amelia lee
    frita amelia October 3, 2013 at 10:57 am

    Mbak shin,sukses bikin mewek,dan bikin semangat,,uda 3hr ini pra lg unwell,,jadinya saya stay drumah,,kerja dari rumah saja,,jadinya kalo ada pasien d poli,perawat dtg panggil saya,stelah slese 1 pasien,balik lg krumah,,bsyukur skali,jarak rumah dan puskesmas cuma 5 langkah 2 lompatan,,tiap harinya saya harus bw pra k poli,dgn strollernya,,gantian jagain sm bapaknya pra,,kalo poli umum sepi,pra ikt bapaknya,,
    kdg mewek malem2,kasian pra,lingkungan dia tumbuh,lingkungan dgn resiko besar
    duh,mewek sejadi-jadinya
    and i’m full time m0mmy,also a part time dentist

  24. wirani
    Yekti Wirani October 3, 2013 at 12:31 pm

    Mbak shinta, jadi mbrebes mili di meja kantor. Tfs, kembali membesarkan hati saya utk tetap bekerja meski kdg utk ninggalin anak di setiap pagi rasanya berat. Dilema seorang ibu dgn tanggung jawab yg tdk hanya anak dan keluarga saja tapi juga membantu suami :). thx mbak shinta

  25. crey
    Chrisye Wenas October 3, 2013 at 1:05 pm

    baruuu bacaaa dan as always great article shin!
    couldn’t agree more!! :)))
    ini salah 1 alesan gw pindah kerja juga karna msh blm kesampean jd ibu rt beneran….
    tfs, shin *hugs

  26. ibuaufa
    Gugik Rahayu October 3, 2013 at 3:00 pm

    Hmmm…lagi berandai-andai : andai saja suami baca ini… memang ada keinginan untuk terus sebagai WM, tapi apadaya kalo suami ga mendukung ?? gmn Mbak Shinta ?

  27. Amigia
    Amigia Intamani October 3, 2013 at 4:06 pm

    tulisan yg keren mba shinta,, bener bgt tuh, qta harus lakuin apa yg kita suka,dan percaya bahwa semua akan berjalan baik ketika kita lakukan good time management,, smangat berkarya dan jadi ibu terbaik untuk anak2 qta,,

  28. inme
    inme October 3, 2013 at 5:13 pm

    What a great sharing!

    saya dan mungkin bnyak working moms lain yg juga sdg berjuang berusaha menjaga kualitas waktu baik saat d rmh maupun d kantor.. jdi merasa tersupport bacanya. :)

  29. Mama Kinan
    Sugiharti Sudiono October 3, 2013 at 11:56 pm

    terimakasih sharingnya mbak shinta…
    asli ini kebimbangan saya saat ini diantara ingin resign dan terus bekerja, suami terserah saya asal anak dan keluarga nomer satu, bapak dan ibu saya memberikan saran untuk bekerja dan membagi waktu serta memberikan waktu yang berkualitas untuk keluarga…beruntung juga meskipun perushaan MNC swasta tapi mendukung untuk ibu bekerja seperti saya…kebimbangan kebimbangan ini persis yang mbak sinta ungkapkan… rasanya saat meninggalkan bekerja dipagi hari..dan bener banget insyallah kalo kita yakin ini yang terbaik dan demi keluarga pasti dimudahkan dan diberikan jalan, anak anak happy dan berkembang sesuai usia, cerdas, kreatif, dan kitapun masih bisa berkarya

  30. mommy kirra
    mommy kirra October 4, 2013 at 8:08 am

    Makasih sharingnya mbak.. tulisannya inspiring sekali
    saya lagi mempertimbangkan buat resign karena khawatir baby kirra 8m ngerasa kurang kasih sayang dan perkembangannya kurang bagus karena tidak di dampingi orang tua setiap saat. apalagi papanya juga kerja di luar kota
    Untungnya baby kirra di rawat nenek dan kakeknya ketika saya bekerja jadi sedikit lega.
    Intinya memang gimana kita bisa me manage waktu dengan baik. Saya masih kejar2an waktu untuk pumping di kantor, karena tiap hari selalu ada meeting dan bolak-balik antara field dan office
    Keep spirit ya working mom untuk memberikan yang terbaik buat si buah hati dan keluarga

  31. thalia
    thalia kamarga October 4, 2013 at 11:36 am

    neiiii, sedih banget fotonya… T_T

    great writing shin! yep, we’re mothers, no matter what career choice we choose.

  32. nov afni
    sinta khairunnisa October 4, 2013 at 4:15 pm

    mb shin…
    aku terharuuu..bener banget, anak2 kita tahu apapun pilihan ibunya itu yg terbaik untuk kebaikan semua terutama anak2..
    izin share di wall fbku ya mba…
    thank u

  33. fitrasani
    Fitrasani Helmi October 4, 2013 at 4:47 pm

    mbaaaaak,,,
    Makasiiih tulisannya, your writing is so inspiring…
    *terharu bangeeeeet*
    Seperti menambah energi saya menjalani pilihan menjadi ibu bekerja :) tfs

  34. nisa_huri
    nisa_huri October 7, 2013 at 10:47 am

    aku banget ini..
    betul skali..time management and support system is very important..
    saya sebelum ngantor diusahain banget anak sudah sarapan dan dimandikan, makan siang di rumah, pulang teng-go and I choose part time nanny..
    biar pulang kerja aq bsa full time sama anak..alhamdulillah jg ortu kasih support dan bantuan utk ngawasin anakku d rumah..

  35. RismaPria
    RismaPria October 8, 2013 at 1:27 am

    Halo,, mbak shinta,,
    ikut nimbrung boleh y,, heehe

    maap y sebelumnya mungkin ada salah2 kata,,,
    setelah sya baca2,,,
    apa mbak sinta single parent? klo iya, berarti gk ada salahnya mbak sinta bekerja, krna dengan bekerja bisa dpt duid untuk biaya anak2.
    Klo masi berstatus sbagai istri seseorang, berarti mbak shinta bekerja untuk diri sendiri demi mencari jatidiri dan prestasi. Seandainya bisa, smua anak ingin selalu berada di samping ibunya.

    Tnkyu…
    Btw saya adalah seorang suami dan ayah dr istri dan anak saya.

  36. sLesTa
    shinta lestari October 8, 2013 at 10:21 am

    @RismaPria: saya bukan single parent. semua ini bisa dilakukan karena saya punya support yang bagus, selain seorang ART yang membantu di rumah, juga suami yang selalu memberikan support untuk saya tetap bekerja dan meraih mimpi dan prestasi.

    seandainya bisa, semua ibu juga ingin selalu berada di samping anaknya. tapi pada kenyataannya, saat berpisah dari ibu atau bapaknya itu, justru yang membuat anak untuk belajar lebih mandiri dan lebih tough. dan kita pun tau, gak selamanya anak mau terus2an dekat ibu-nya. akan ada masanya nanti mereka juga malah gak mau ditemenin orangtuanya terus, punya kesibukan masing2 dll.

    inti yang saya sampaikan dari cerita ini adalah, semua ibu pasti ingin yang terbaik buat anaknya. dan semua ibu juga mempunyai latar belakang yang berbeda-beda, jadi tidak ada yang paling benar, mau jadi ibu bekerja atau ibu RT. dua-duanya sama. sama-sama seorang ibu untuk anak-anaknya, yang penting bisa menjalankan tugasnya dengan baik.

  37. RismaPria
    RismaPria October 8, 2013 at 6:58 pm

    @shinta lestari
    tidak ada yg paling benar, karna smua disesuaikan dengan kondisi,,
    Maaf mbak sinta, sudah saya tulis d atas, klo single parent masuk akal buat saya klo mbak sinta kerja,,, tp klo berstatus masi bersuami, saya masi belom nemu logikanya kenapa mbak sinta kerja? apa ada suatu kondisi yang mengharuskan mbak sinta kerja? Klo saya liat alasan mbak sinta di atas adalah untuk prestasi dan mencari jati diri mbak sinta.

    Seperti mbak sinta bilang, setiap ibu ingin berada d samping anak. Dan semua ada masanya, sekarang masa untuk mbak sinta atau untuk anak?

    Maaf y mbak sinta, saya kurang bisa menulis dengan kata yg halus, tp saya cm berusaha mengungkapkan pikiran saya saja.

  38. Retno Sawitri Listya
    Retno Sawitri October 9, 2013 at 11:42 am

    There’s always a different story in every parenting style.
    Itulah kenapa, kita tdk bisa menggeneralisasikan keadaan atau pola kita mengasuh dan mengelola keluarga. Setiap saat dan setiap waktu, akan berbeda tantangannya. Tujuan dan apa yg kita cari akan sangat berbeda satu sama lain, dari waktu ke waktu.
    Kita tak akan sepenuhnya paham akan keadaan seseorang, kalau kita belum/tidak pernah berada di posisinya. Atau minimal pernah merasakan hal serupa. Sudut pandang seseorang juga akan sangat berbeda dalam kasus ini. Laki-laki yang memandang, akan berbeda halnya bila perempuan yang memandang. Belum lagi kita menghadapi tipikalitas irang yang berbeda2. Sama halnya disini, kita tak akan pernah paham akan kondisi keluarga Mb. Shinta. Yang tau persis adalah mb.shinta dan keluarganya sendiri. Mb.Shinta dan Keluarga telah mengambil keputusan dan menempuh jalannya sendiri dgn bahu membahu bersama team-nya. So far so well. Move on, mbak.
    Kalau seseorang sudah menemukan apa yg dia cari, dan keluarga bisa saling support, kenapa tidak. Kita (baik laki-laki maupun perempuan) punya hak untuk berkarya, mengembangkan diri, dan erat kaitannya dengan peningkatan kualitas diri melalui penguasaan ilmu, keterampilan, pengalaman. Entah itu didapat dengan membaktikan diri dalam mengurus keluarga, didapat dari bekerja/berkarier, atau kombinasi keduanya.
    Kembali ke konteks perempuan berkarier, faktanya, hal ini tidak melulu perkara uang atau perkara ada-tidaknya yang menafkahi. Perempuan yang berdaya, berilmu dan terampil-berpengalaman, tentu lebih disuka. Sekali lagi, ini bisa didapat baik dgn berkecimpung di rumah atau dengan berkarier di luar sana. Aktualisasi diri itu perlu (walau gak harus dgn berkarir). Kami para perempuan, dibekali ortu kami dgn ilmu, ketrampilan, dll. Kewajiban kami untuk membaktikannya pada keluarga, juga pada masyarakat.
    Kami, perempuan, memang tidak memiliki kewajiban untuk bekerja (apalagi hanya dalam konteks mencari nafkah/duit). Walaupun memang ada catatan tersendiri bagi kami para perempuan (khususnya yang sudah berkeluarga) untuk bisa berkarier di luar sana. Banyak catatan bahkan. Karena, kami akan mengambil peran ganda, dengan kesibukan yang (bahkan) diluar bayangan kami. itu belum terhitung faktor-x yang terkadang muncul di luar perhitungan. Keluarga jelas prioritas utama. Kalau kami tidak bisa/tidak yakin dengan bisa terpenuhinya catatan2 itu, lebih baik jangan mengambil resiko untuk berkarir di luar sana.
    ***
    Perempuan menikah, bersuami, dinafkahi, punya anak, lalu tinggal dirumah urus anak, suami dan rumah tangga: Normatifnya begitu. Kalau ada pasangan yg menempuh jalan lain? (mengingat tujuan org jga berbeda2) kenapa tidak? Hidup tidak bisa saklek. Tak akan selesai kita mencari logika atau me-logika-kannya.
    Kalau kebetulan suami kita tipikal org yg lebih suka melihat istrinya urus rumah tangga sembari berkarir? Dan suka menjadi bagian dari the dream team untuk mensupport dan membantu? Saya pikir kenapa tidak? Keluarga terurus, tumbuh kembang anak terkendali, kemampuan diri ter-upgrade, ada sesuatu lebih yg kita persembahkan unt keluarga dan masyarakat luas. Kalau kita sebagai perempuan bisa mejalankan kewajiban, tertunaikan haknya, energi2 kita tersalurkan, kita bahagia, tidak mustahil keseimbangan itu terpenuhi.
    Kalau suami kita tipikal orang yg suka kita berkecimpung membaktikan diri murni unt keluarga dan memang menjadi komitmen bersama dari awal? Kenapa tidak? Membaktikan semua bekal yg sdh kita dapat unt membangun keluarga. Tak perlu takut kekurangan rejeki untuk wanita yg tidak berkarier, karena rejeki sudah diatur dan tak akan tertukar. Meski tidak bergaji, tapi tetap ber-rejeki.
    Semua ada kurang dan lebihnya. Tak bisa saklek dan disamakan. Kita hargai jalan hidup yg dipilih masing2 keluarga, karena keadaan tak pernah sama.
    ***
    Saya angkat topi untuk mb. Shinta, dan juga para succesful working mom. Yang bisa berkarya, menghasilkan karya berkualitas, juga memiliki keluarga yang berkualitas. menjalankan peran ganda sungguh tidak mudah.
    Saya angkat topi untuk para ibu rumah tangga yang berkat perannya bisa memiliki keluarga yang berkualitas, karena nyata2 saya rasakan, betapa kompleksnya mengurus rumah tangga.
    Tak perlu mempermasalahkan pilihan yg diambil keluarga lainnya. Jalankan setiap peran yang diberikan dan kita ambil dengan baik, hasilkan kualitas pada setiap karya kita, Maju terus Indonesian Mom …
    Mohon maaf, Salam.

  39. sLesTa
    shinta lestari October 9, 2013 at 12:43 pm

    terima kasih mama Retno atas inputsnya. dan benar sekali! jawaban yang mama berikan persis yang ingin saya sampaikan kepada RismaPria.

    tiap keluarga mempunyai pilihan dan kondisi yang berbeda-beda, dan tidak semua orang bisa menerima kenapa seorang istri mesti tetap bekerja. seperti yang mama Retno bilang, sebagai wanita kita tetap perlu memiliki aktualisasi diri. bukan berarti dengan saya bekerja jadi saya tidak mengurus anak. semua tetap dijalankan untuk menghasilkan yang terbaik sesuai dengan keinginan/impian dan tujuan dari keluarga saya.

    dan memang gak ada yang paling benar, karena dua-duanya benar, dua-duanya adalah tetap menjunjung perannya sebagai ibu. hidup ini banyak pilihan, dan saya memilih untuk ttap bekerja dengan segala konsekuensinya. yang penting suami dan keluarga saya mendukung.

  40. ayuning
    Ayuning Martha Riskiyani October 9, 2013 at 6:08 pm

    Mba Shinta,
    Thanks artkelnya..honestly its not about the money . posisi saya juga sama.Alhamdulillah dpt kerja yg flexible walaupun swasta. tiap pagi bisa anter si kakak dulu sekolah :))

  41. RismaPria
    RismaPria October 10, 2013 at 8:22 am

    @shinta lestari dan @Retno Sawitri
    Dalam segala hal mbak, klo tidak sesuai dengan logika berarti saya sudah di bohongi atau sudah membonhongi orang,,
    Siapa yg bilang kalau seorang ibu bekerja itu salah?
    Siapa yg bilang kalau menjadi ibu rumah tangga itu tidak berprestasi?
    Sepertinya di sini tidak ada mengatakan dengan saklek bahwa “anda salah” karena suatu kondisi cuma yg menjalaninya yg tau,, memang benar,, tidak ada yg menyangkal,,

    Saya jg bukan suami mengharuskan istri saya d rumah sebagai ibu rumah tangga,, walaupun gaji pas2an,,
    pas butuh buat beli mainan, pas ada duid,,
    pas butuh buat beli baju, pas ada duid jg,,
    pas butuh beli hp, pas ada rejeki,,

    Istri sementara ini memang mengambil keputusan menjadi ibu rumah tangga, dan ada alasannya,,, d balik semua keputusan setiap orang mempunyai alasan berbeda2 sesuai dengan kondisi,, dan itu butuh pengorbanan,,
    Pengorbanan waktu full time mengurus anak,,
    Pengorbanan gk bisa kerja seperti yg dia cita2kan,,
    Pengorbanan gk bisa shopping semaunya,,
    Pengorbanan d rumaaaaaaah mulu seharian,,,
    Pengorbanan dapet duid ngepas mulu dari suami,,

    Semua demi apa? Demi anak dan tidak ingin menyusahkan orang tua,, itu alasannya,,
    Tp keputusan itu jg bisa berubah, tergantung kondisi lah,,

    Trus Suami gmn, ongkang2 doank? hehehee,,, y sama pengorbanan jg,,
    Pengorbanan duid gaji ludes d tagih bini,,
    Pengorbanan gk bisa nongkrong sering2,,
    Pengorbanan yg utama adalah anak istri, setelah itu baru suami,,
    Pengorbanan klo pulang k rmh gk bisa istirahat, gantian ama istri ngurusin anak,,

    Jgn terbawa opini yg saya bawa tentang pengorbanan karena itu cm iklan aja,,
    Kembali ke acara utama, liat alasan dan logika knp istri saya memilih menjadi ibu rumah tangga?
    -dia ingin bertanggung jawab terhadap pendidikan informal anak kami, apapun yg terjadi dia ingin apa terjadi dengan anaknya nanti adalah tanggungjawabnya, bukan tanggung jawab orang lain baby sitter,mertua,orangtua dll.
    -tidak ingin menyusahkan orang tua karna d titipin anak seharian penuh, walaupun orangtua ngotot cucunya d rmh nenek aja.

    Dua hal itu saya kira alasan yg masuk akal dan mempunyai logika menurut saya..

    Dan kalau ada seorang istri yg bekerja, kira2 alasan yg bisa d terima:
    -butuh duid untuk kebutuhan anak,karna buat nambahain gaji suami yg ngepas
    -takut kalau suatu saat d tinggal suami, sang istri tidak mempunyai matapencaharian untuk menghidupi keluarganya (mudah2an tadak terjadi),jd mulai dr awal sudah berkarir
    -bekerja karena sudah d tinggal suami, sehingga terpaksa bekerja.

    Klo ibu2 mencari prestasi dan mencari jati diri dengan cara bekerja saya kira itu bukan pengorbanan,,
    Krna pengorbanan ada ketika kita tidak ingin mnyakiti orang yg kita sayangi,,

    Semua orang pria wanita, boleh bekerja,,, tp berprestasi bukan hanya ditunjukkan dengan bekerja d suatu perusahaan atau ikut meeting, tp berprestasi jg bisa d raih dengan menjadi Ibu Rumah Tangga,,

  42. sLesTa
    shinta lestari October 10, 2013 at 8:42 am

    RismaPria: coba dibaca lagi, dimana yang saya bilang Ibu Rumah Tangga itu salah dan tidak bisa berkarya? Lalu kalau saya merasa saya bisa berprestasi di kantor, apa tidak boleh? Kalau saya bisa tetap berprestasi tapi saya tetap bisa menjadi orang tua yang mengurus anak (dan tidak hanya saya saja, tapi saling bantu dengan suami), bertanggung jawab penuh atas urusan keluarga (tentu dengan bantuan suami), dan sama sekali tidak pernah menyusahkan orangtua (karena saya tinggal jauh dari orang tua), kenapa tidak?

    Mungkin logika Anda perlu dicermati, kenapa semua urusan keluarga harus dilakukan ketika physically orang nya ada di rumah? Tidak mesti kok!

    Pembahasan Ibu RT dengan Ibu Bekerja ini tidak akan ada habisnya, jadi gak perlu berlarut larut dibahas lagi. Semua orang mempunyai pilihan dengan kondisi yang berbeda, gak perlu judging kalau bilang saya tidak berkorban karena pilihan saya untuk tetap bekerja, karena Anda tidak kenal saya atau Ibu2 yang memilih untuk bekerja.

  43. RismaPria
    RismaPria October 10, 2013 at 12:22 pm

    @shinta lestari
    seharusnya ibu shinta yg harus baca lagi, bukan saya,,
    saya tidak pernah menjudge orang asalkan orang tidak menjudge saya juga,,, heehehe,,

    apa ibu sinta sudah baca komen saya? apa ibu sadar yg kita bahas d sini sudah menjauh dr komen saya atas artikel yg ibu sinta buat? knp menjauh, apa sudah d baca komen saya?

    Setidaknya saya bisa ambil secuplik komen anda yg terakhir:
    “Mungkin logika Anda perlu dicermati, kenapa semua urusan keluarga harus dilakukan ketika physically orang nya ada di rumah? Tidak mesti kok!”
    Klo begitu, saya jg bisa nulis, “Ngapain kerjaan kantor harus d urusin d kantor? kan ada internet, kan ada hp, kan ada 3G, kan ada email, kan BBM,, dll banyak sih,,,”
    Jd pertanyaan hari ini, knapa kerjaan kantor koq orangnya harus d kantor juga?

    Nah jd panjang kan, gk perlu panjang2, baca dulu komen saya paling pertama, klo sudah baca, jawab dalam hati aja pertanyaan dr komen saya yg pertama itu.
    Itu klo uda d baca….

  44. fanny
    Fanny Hartanti October 10, 2013 at 5:16 pm

    Shinta, you rockkk! toss dulu ah sesama working mom.
    Nyokap gue juga dulu working mom (sekarang pensiun).
    Pas masih kecil gue juga suka protes kenapa mama jarang di rumah. Tapi semakin dewasa gue semakin nyadar kalau she’s proud of her job and it makes her happy and there’s nothing wrong with that! she is still a great mom !!!!

    Lambat laun gue jadi ngerti dan ikut bangga dengan segala acvhiements dia, mata dia yang berbinar2 kalau cerita soal kerjaannya and i am soooooooooo prouddddd of her.

    Nyokap juga lah yang ngedukung gue untuk kerja (plus suami dan mertua tentunya).
    so yesss, gue pengin kayak nyokap dan semoga neng AL juga nantinya bisa mengerti pilihan gue.

    toss lagi ahhhh

  45. milha_nusanta
    karmila nusanta October 10, 2013 at 11:18 pm

    memang setiap keluarga pasti pny keputusan yang berbeda2 untuk keluarganya termasuk seorang ibu menjadi ibu rumah tangga atau working mom.

    tulisan mba shinta bagus banyak yang terinspirasi apalgi working mom..

    saya jg dibesarkan dari orang tua yang bekerja, dlu rasanya ingin sekali ibu saya menemani hari-hari sya tetapi memang blum bisa dan ibu saya menjelaskan apa yang dia kerjakan dan ibu saya menganggap smua akan baik2 aja tanpa tahu apa yg saya rasakan, dan saya sendiri sudah harus dan wajib mengerti utk itu, mendukung ibu saya bekerja.

    setelah saya menikah dan mempunyai anak, saya memutuskan utk menjadi ibu rumah tangga, tetapi ibu rumah tangga yang tdk hanya didapur, banyak yang bisa saya kerjakan tanpa meninggalkan anak saya, jadi saya tetap bisa selalu bersamanya dimasa emas nya dan menjadi orang pertama dan langsung melihat tumbuh kembang anak saya.

    saya berbisnis kecil-kecilan sampai sekarang sudah mempunyai beberapa pegawai, saya seneng ketika bisa berbagi dan membantu orang lain, melatih keterampilan sampai membuka lowongan pekerjaan, dan tidak mewajibkan saya meninggalkan anak saya dalam waktu yang lama.

    jadi walaupun ibu rumah tangga menjadi pilihan buat saya, mungkin ini adalah cara saya mengaktualisasikan diri saya.

    dan sudah menjadi tujuan keluarga saya ingin anak2 saya menjadi anak yang mandiri dan mempunyai jiwa wirausaha menjadi pengusaha dan tidak menjadi pekerja atau pegawai.

    maaf sebelumnya tulisan saya ini bukan utk membanding-bandingkan lebih baik ibu rumah tangga ataupun working mom, cuma sekedar berbagi cerita jadi banyak hal yang bisa dilakukan ketika keputusan harus menjadi ibu rumah tangga.

    working mom ataupun ibu rumah tangga tetap menjadi kebanggaan utk keluarga.

    maaf sebelumnya kalau ada kata2 saya yang kurang berkenan. damaii mom..

    salam mami kece… hehheee

  46. erlia
    Erlia Anom October 10, 2013 at 11:36 pm

    Gue setuju sama shinta, mau kerja atau nggak kerja itu nggak bakal ngerubah status ‘keibuan’ seseorang. Nyokap gue kerja dari gue bayi sampe gue kuliah, dan itu nggak ngubah statusnya sebagai nyokap gue. She’s forever my mother. Gue skrg kerja & belom punya anak. Kalaupun nanti punya, gue bakal tetep kerja selama didukung sama sn :D.

    Dan untuk debat kusir tentang apa yang seharusnya dilakukan seorang istri, I think people should stop questioning other families’ decision. It has nothing to do with their life and we’re not answerable to them for every decision we made. What matter the most is our family, husband/wife and children. Kalau mereka setuju & mendukung keputusan kita, ya udah…PERIOD.

    #baliktidurlagi

  47. kenziesMom
    kenziesMom October 12, 2013 at 6:11 am

    Thanks for sharing mba shinta, great article. Kebetulan mamaku jg working mom, dan masih bekerja sampai sekarang. Tapi walaupun dia bekerja, mamaku tetap menjadi mama yang luar biasa buat anak2nya. Itu juga yang menginspirasi aku buat bekerja. Aku yakin banget kalau apa pun yang kita pilih, keluarga pasti tetap jadi prioritas utama kita, dan segala yang kita lakukan itu adalah yang terbaik buat keluarga kita. Makanya, biarpun mamaku bekerja, mama tetap jadi sahabat terbaik aku dan selalu ada setiap aku butuhkan. Kalau ada perdebatan masalah wanita bekerja dengan ibu rumah tangga, honestly itu adalah urusan keluarga masing2 dan kita sama sekali ga punya hak untuk men judge keputusan keluarga lain. Selama suami dan keluarga mendukung, i really don’t care with some random people opinion. The point is, i’m a working mom but i still can be a great wife for my husband, a great mother for my children, and still a very great me for myself. Aktualisasi diri memang penting, dan pencapaiannya berbeda-beda pada setiap org. Jadi stop men judge seseorang atas pilihannya, setiap pilihan pasti ada konsekuensinya, mari kita jalani saja konsekuensi masing-masing:)

  48. vieni
    Vini Ratnasari October 18, 2013 at 9:08 pm

    Aiiihhh mbak shinta aku padamu. Semangat!

    Saya dokter dan full time mom. Saya bisa mengerjakan kedua itu saat bersamaan. Profesi saya sebagi dokter dengan sumpah yang sudah saya jalani menuntut saya untuk berkerja kepada masyarakat tapi bukan berarti im not full time mom untuk anak saya. Sebelum saya berangkat kerja saya pastikan anak saya sarapan n mandi dengan saya sendiri, saya menitipkan kepada asisten, n pulang tepat waktu (kalo tidak ada pasien gawat) untuk anak saya dan bermain sampai dia tidur. Itu saya sebut full time mom.

    Anak saya pasti bangga pada saya, dan semua anak pasti bangga pada ibunya.

  49. mamizidan
    Azzahro Wijaya October 18, 2013 at 9:30 pm

    very nice sharing bun.. :’( saya terharu bacanya…
    ibu saya juga wanita karier… kerja di luar kota/negri terus… kadang pergi sampai 4 bulan ga pulang-pulang.. bahkan sekarang sudah punya cucu pun… beliau tetap berusaha mencari nafkah untuk keluarga kami…

    Alhamdulillah.. Selama ini saya tidak pernah merasa seperti “anak pembantu”, anak tidak terurus… I love my mom and I’m proud of her…

    tentu saja, pekerjaan sebagai ibu rumah tangga itu berat.. tapi untuk ibu yang bekerja? dobel beratnya… meskipun kelihatannya bisa dibilang “enak” karena ada PRT…

    Perempuan itu sebenarnya punya talenta yang sangat hebat, yang sayang sekali kalau tidak dimanfaatkan… saya sekarang bekerja di rumah, mengajar les anak-anak, dan saya sangat bersyukur karena saya bisa bekerja sambil mengurus anak, menyusui, dan mendampinginya setiap saat… :’D

  50. AjengAdrianto
    Ajeng Fenthianika December 15, 2014 at 3:28 pm

    wahh ketinggalan banyak.. baru nemu tulisan mama shinta..

    you rock mama @sLesta.. keputusan saya pun menjadi working mom tetap membuat saya mengurus rumah..

    smua pilihan ada konsekuensi baik dan buruk dalam mengambil keputusan..

    piss..:-*

Post a Comment

You must be logged in to post a comment.