Yuk, Cerdas Salurkan Emosi agar Mama Tetap Waras

Febi Purnamasari A new mother of two who loves sharing whatever she has learned from seminars and books especially related to parenting issues. She’s now developing her career path as journalist for a national television. Belly-dancing is her hidden obsession.

Pernah enggak sih, Urban Mama merasa sangat stres, sedih, dan penuh emosi karena tekanan lingkungan? Kebetulan, kondisi itu melanda saya bulan lalu.

Saya tipikal ibu yang selalu berusaha tenang ketika anak sakit. Selama saya tahu gejala-gejala penyakit pada anak mengarah pada infeksi virus ringan, observasi terhadap anak akan jadi keputusan saya dan suami. 

Saya juga selalu berusaha legowo ketika anak rewel karena penyakitnya. Kalau sudah begitu, saya sebisa mungkin menangani buah hati dengan ekstra sabar dan banyak-banyak menenggak vitamin saja agar bisa tetap fit. "Badai pasti berlalu. Saya harus tetap waras agar bisa melalui ujian ketika anak sakit yang pasti datang dan pergi," begitu prinsip saya. 

Namun ambang batas kesabaran saya sempat kebobolan. Padahal, saya pernah menghadapi kerewelan anak yang lebih parah daripada saat itu. Alasannya, ibu kandung dan mertua menekan saya maupun suami untuk membawa si sulung ke dokter. Sementara, waktu itu belum genap tiga hari si kakak demam, jadi menurut saya, dokter pun masih akan kesulitan menegakkan diagnosis. Saya pribadi juga yakin, anak saya hanya sakit common cold atau influenza karena gejalanya demam, batuk, dan pilek saja. Meski begitu, berkali-kali mereka memohon agar anak saya dibawa ke dokter. Bahkan, saya sampai dibilang ibu yang tega karena lebih memilih untuk observasi anak dulu. Sampai akhirnya, saya harus cari dokter yang buka konsultasi di hari Minggu demi "memuaskan" kecemasan nenek dan eyang si sulung. 

Suatu ketika, saya merasa sangat marah dan frustrasi dengan keadaan yang saya hadapi. Ditekan sana-sini, letih, dan harus menghadapi tangisan anak setiap saat. Bila biasanya saya bersabar menghadapi kerewelan anak saat sakit, kali itu emosi saya memuncak. Otak saya berkali-kali mengingatkan diri ini jangan sampai luapan emosi dapat menyakiti diri sendiri apalagi buah hati. Saya hanya bisa menangis, sementara saat itu suami sedang tidak bisa menjadi tempat bercerita. Bagi saya saat itu, menangis saja tak cukup dan saya butuh menyalurkan emosi. 

Keesokan harinya, kondisi psikis saya ternyata belum membaik. Saya juga merasa marah kepada suami karena ia tidak berusaha menanyakan kondisi saya. Saat itu, saya ingin emosi saya ditangani secara profesional. Akhirnya, saya pun memutuskan menemui psikolog dewasa. 

Saat konsultasi dengan Psikolog Felicia Ilona Nainggolan di Personal Growth Jakarta Barat, saya meluapkan semua emosi yang melanda diri beberapa hari belakangan. Saya ceritakan semua kekesalan, kesedihan, dan kegelisahan saya ketika anak sakit sementara ditekan orangtua dan mertua.  

Bersama Psikolog Felicia, kami pun mengurai solusi agar kondisi psikologis saya bisa normal kembali. Hasilnya sebagai berikut:

1. Memperbaiki hubungan dengan anak yang berlandaskan kasih sayang. Menurut Psikolog Felicia, selama ini perlakuan saya terhadap anak mungkin dibayang-bayangi kekhawatiran akan pendapat orang lain tentang cara saya mengasuh buah hati. Ini tak lepas dengan kondisi saya saat ini yang masih tinggal bersama mertua. Ia meminta saya untuk mengasuh anak murni karena cinta. Jika tidak, anak akan tahu ketika kita justru bersikap sebaliknya. Ini cukup terbukti karena malam saat emosi saya memuncak, si kakak rewel luar biasa. 

2. Salurkan emosi, jangan dipendam. Masih menurut psikolog, ketika seorang ibu merasa sedih atau marah, salurkanlah energi tersebut agar terhindar dari luapan emosi yang merugikan diri sendiri maupun orang lain. Hal-hal yang bisa Urban Mama lakukan ketika dilanda emosi:

  • Berdoa. Di penghujung ibadah, kita bisa mengadukan hal-hal yang dirasakan kepada Sang Pencipta. Hanya Tuhan yang tahu isi pikiran setiap manusia, bukan?
  • Bercerita, bisa dengan suami atau teman/kerabat perempuan yang senasib atau punya kemiripan masalah. Kalau saya pribadi, bercerita dengan tenaga profesional seperti psikolog ternyata sangat membantu mengurai permasalahan yang terakumulasi. Sebenarnya, suami adalah tempat cerita terbaik, namun ada kalanya pria tidak sensitif ketika perhatiannya diharapkan karena lelah atau memang sudah bawaannya sebagai kaum adam yang cenderung mengedepankan logika.
  • Jika ingin bercerita dengan suami, pastikan Urban Mama menyampaikan maksud secara tegas dan langsung. Sampaikan bila Urban Mama ingin dipeluk, diperhatikan, dan didengarkan. Menurut Psikolog Felicia, pria tidak punya kemampuan untuk peka dengan perasaan seseorang, berbeda dengan perempuan.
  • Menuliskan hal-hal yang membuat kesal, bisa di buku atau blog. 
  • Menggambar atau mewarnai, biasanya perasaan Mama akan tergambarkan lewat aktivitas ini.
  • Olahraga dapat membantu Urban Mama menyalurkan energi negatif.  Misalnya dengan berlari, muay thai (sepertinya seru untuk melampiaskan kekesalan), dan olahraga kardio lainnya.
  • Relaksasi lewat yoga maupun meditasi. Teknik pernapasan yang baik ternyata bisa membantu tubuh dan pikiran menjadi lebih relaks.
  • Berjalan-jalan sendirian, kegiatan ini dapat memungkinkan Urban Mama untuk merenungkan kembali situasi yang sedang dihadapi.
  • Jika emosi tak lagi bisa ditahan dan sedang seorang diri, Mama bisa melampiaskannya pada benda-benda yang aman dan tidak menimbulkan kerusakan maupun membahayakan diri sendiri juga orang lain. Contoh, meninju bantal, membanting guling, dan benda-benda bukan pecah belah lainnya. 


Dulu saya sempat menganggap perilaku mamanya Nene-chan di film Sinchan ini aneh, tapi ternyata dapat juga dibenarkan ketika luapan emosi sudah tidak bisa tertahan lagi, sementara kita harus menyembunyikannya secara profesional.

Pelajaran yang bisa dipetik dari peristiwa ini:

  • Kondisi kejiwaan ibu yang sehat tentunya akan berpengaruh terhadap kebahagiaan orang-orang terdekatnya mulai dari suami sampai anak. Ingat, Mama, sebagian besar kasus kekerasan terhadap anak, dilatarbelakangi kondisi psikis ibu yang terganggu. So, you are responsible for your own happiness, Moms. 
  • Ketika merasa depresi dan tidak ada sosok yang dapat dipercaya untuk bercerita, jangan sungkan untuk berkonsultasi kepada psikolog. Memang harus merogoh kocek tak terduga (ya, saya tidak pernah menganggarkan ini sebelumnya), tapi setelah keluar dari ruang konsultasi, saya merasa jauh lebih baik dan lega. 

Kalau Urban Mama, punya tips apa saja untuk menyalurkan emosi negatif? Berbagi yuk, di kolom komentar. 

 

5 Comments

  1. avatar
    Haifa Haifa October 24, 2017 2:41 pm

    Unfortunately saya bukan tipikal bisa melampiaskan emosi ke hal lain, walaupun saya bukan tipe pemarah, cenderung superfriendly malah. Kalau ditekan siapapun saya meledak spontan. Meledak disini lebih ke marah langsung dengan tone meninggi dan menunjukkan sikap kalau saya tidak sependapat. Tapi setelah itu biasanya saya minta maaf. Masukan silakan, tp tolong jangan tekanan. Tapi setelah itu saya bisa cukup netral lagi. Lingkungan keluarga saat ini sudah cukup memahami itu karena saya terus belajar meyakinkan bahwa saya InsyaALLAH akan berusaha melakukan yang terbaik. Tapi efeknya ya mereka jd super hati hati menawarkan bantuan atau saran kalau saya belum superkewalahan. Hahaha... Mudah mudahan artikel ini dapat saya Implementasikan perlahan. Thanks Mom!

    1. avatar

      As .



  2. avatar
    Dahlian Ayu Novanti October 20, 2017 10:37 am

    Saya rasa hampir semua ibu pernah diposisi itu, perjuangan untuk mengontrol emosi. Saya biasanya dengerin musik yang agak ngebit sambil nyanyi2 supaya emosinya tersalurkan, bercerita sama suami juga sangat dianjurkan biar sama2 tau masalahnya dan bisa cari solusinya.

    1. avatar

      As .



  3. avatar
    Shinta Daniel October 19, 2017 3:02 pm

    Setuju banget sama artikel ini. Been there too dan emang bener statement "sebagian besar kasus kekerasan terhadap anak, dilatarbelakangi kondisi psikis ibu yang terganggu".. merindiiing, semoga ibu2 di seluruh dunia selalu diberi ketenangan dan "kewarasan"

    1. avatar

      As .



  4. avatar
    dieta hadi October 18, 2017 11:10 am

    sepertinya hampir setiap ibu pernah mengalami hal serupa ya. Tetapi emmang benar mengontrol emosi itu paling susah, saya pun merasakannya. Biasanya tempat saya meluapkan semuanya adalah suami, ketika sudah meluapkan ke suami saya biasnaya lebih santai dan enjoy.

    1. avatar

      As .



  5. avatar
    Woro Indriyani October 17, 2017 11:10 am

    TFS Mama Febi :). Setuju banget, sayapun pernah ada di kondisi mirip seperti itu, anak sakit dan tekanan sana sini. Apalagi dengan pekerjaan saya yang tidak mau tau apakah anak saya sedang butuh saya atau tidak. Melegakan sampai akhirnya sudah cerita ke suami apa yang sudah terjadi dan apa yang saya rasakan. Karena biasanya kebanyakan bapak-bapak bisa lebih logis, jadi saya paling suka bercerita ke suami dan mendengarkan pendapatnya setelah itu.

    1. avatar

      As .



Post a Comment

You must be logged in to post a comment.