Asi & Vaksinasi, Perlindungan Terbaik Untuk Buah Hati

Fatimah Berliana Monika Konselor Laktasi & La Leche League (LLL) Leader of Rochester South NY, US. Lulusan S1 Fakultas Teknik Sipil&Perencanaan ITB & S2 Magister Manajemen Universitas Indonesia.

Berdasarkan data dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), diperkirakan setiap tahun 130 juta bayi dilahirkan di dunia dan 4 juta bayi meninggal dalam 28 hari pertama kehidupannya. 75% kematian bayi tersebut terjadi di minggu pertama kehidupan bayi dan 25% kematian bayi terjadi dalam 24 jam kehidupan bayi. Kematian bayi berkontribusi 40% dari total kematian balita (anak di bawah 5 tahun) di seluruh dunia. 67% kematian bayi di dunia terjadi di 10 negara dan yang utama di Afrika dan Asia.

Tentu saja fakta tersebut sangat menyedihkan. Apa sajakah penyebab utama kematian bayi-bayi tersebut? 3 penyebab utama kematian bayi di seluruh dunia yang pertama adalah karena menderita infeksi (terutama sepsis, pneumonia, tetanus, dan diare) – 36%. Penyebab kematian bayi yang kedua adalah kelahiran prematur – 28% dan yang ketiga adalah birth asphyxia (asphyxia artinya kekurangan oksigen. Birth asphyxia terjadi ketika otak bayi dan organ lainnya tidak mendapatkan cukup oksigen sebelum, selama atau setelah kelahiran) - 23%.

Pertanyaan selanjutnya: Bagaimana cara menurunkan angka kesakitan dan kematian terutama pada bayi, sejak bayi tersebut dilahirkan?

Apakah ASI saja cukup untuk melindungi bayi dari berbagai penyakit sehingga ada pihak-pihak yang mengeluarkan statement Imun Is ASI yang maksudnya ASI saja cukup, tidak perlu lagi vaksinasi?

Tulisan saya kali ini akan membahas mengenai hal ini.

Imunisasi adalah suatu upaya & proses untuk menimbulkan kekebalan/ imunitas terhadap penyakit. Imunisasi ada 2 macam yaitu Imunisasi pasif dan Imunisasi aktif.
Imunisasi pasif didapatkan ketika seseorang diberikan antibodi yang berasal dari luar tubuh. Walau Imunisasi pasif dapat memberikan perlindungan/proteksi saat itu, tapi efek Imunisasi pasif ini hanya temporer atau tidak berlangsung lama/dalam jangka waktu yang panjang. Beberapa contoh Imunisasi pasif misalnya bayi yang mendapatkan antibodi dari Ibunya melalui plasenta. Contoh lain, penyuntikan Imunoglobulin (misalnya Anti Hepatitis B, Anti hepatitis A, rabies).

Contoh lain imunisasi pasif adalah ASI. Berbagai keunggulan ASI pasti Mama sudah mengetahuinya (ASI yang terbaik untuk bayi & Mama). Sejak dilaksanakannya IMD (Inisiasi Menyusu Dini), bayi mendapatkan ASI awal/kolostrum yang jumlahnya sedikit tapi luar biasa manfaatnya untuk bayi. ASI tidak hanya memberikan nutrisi yang terbaik bagi bayi, tapi juga memberikan perlindungan pada bayi.




Di dalam kolostrum/ASI awal yang keluar hari pertama hingga sekitar hari ke empat pasca kelahiran, terdapat 100.000 hingga 5 juta lekosit /ml dan bertahap menurun sehingga ASI matang (pasca 2 minggu kelahiran) mengandung 1.000 – 5.000 lekosit /ml. Lekosit kita kenal sebagai sel darah putih yang membantu tubuh melawan infeksi. Selain itu ASI mengandung berbagai antibodi (M, A, D, G, E) dimana sIgA (Secretory Immunoglobulin A) yang jumlahnya paling banyak.

Dari berbagai penelitian, ASI dapat melindungi bayi dari beberapa penyakit seperti otitis media/infeksi telinga, penyakit pada saluran pernafasan (seperti batuk pilek/common cold), penyakit pada saluran pencernaan (seperti diare), ISK / infeksi saluran kemih.
Seperti yang telah saya sebutkan sebelumnya, kekebalan yang diberikan ASI itu hanya sementara, serta ASI tidak bisa merangsang tubuh bayi untuk membentuk antibodi sendiri. Selain itu perlindungan ASI tidak untuk semua penyakit, dengan kata lain, ASI tidak dapat melindungi bayi dari berbagai penyakit berat dan spesifik.

Gambar di bawah ini adalah contoh penyakit-penyakit spesifik/khusus yang tidak bisa dicegah hanya dengan memberikan ASI saja (cacatkarena polio, tetanus, pertussis/ batuk rejan, rubella, hib, cacar air, selain itu ada juga penyakit campak, meningitis, TB/ Tuberkulosis, dll).


Sumber: Canadian Immunization Awareness Program

Jenis Imunisasi yang kedua adalah Imunisasi aktif.
Imunisasi aktif didapatkan ketika tubuh mendapatkan paparan dari organisme suatu penyakit sehingga sistem kekebalan tubuh memproduksi antibodi untuk penyakit tersebut.
Paparan terhadap organisme suatu penyakit dapat terjadi melalui infeksi penyakit sebenarnya (hasilnya natural immunity) atau melalui dimasukannya organisme penyakit yang sudah dimatikan/dilemahkan melalui Vaksinasi (hasilnya vaccine-induced immunity). Imunisasi aktif sifatnya jangkapanjang bahkan bisa seumur hidup. Bisa dilihat dalam gambar di bawah ini bagaimana kekebalan aktif didapatkan. Tentu saja suatu pemikiran yang berisiko jika menunggu untuk sakit dulu agar mendapatkan kekebalan alami. Seperti gambar sebelumnya, banyak penyakit berat yang dapat menimbulkan kecacatan bahkan kematian. Vaksinasiadalah ‘shortcut’ atau jalan pintas untuk mendapatkan kekebalan aktif dengan risiko yang jauh lebih kecil (KIPI atau Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi umumnya ringan seperti demam atau sedikit bengkak di lokasi suntikan vaksin).



Istilah Vaksinasi itu sendiri sering disebut dengan Imunisasi. Dengan Vaksinasi (Imunisasi), sekitar 2-3 juta kematian anak di dunia dapat dicegah. Keuntungan Imunisasi dalam jangka panjang dan skala yang lebih luas adalah pemberantasan penyakit dari suatu daerah bahkan dunia. Sebagai contoh penyakit variola/cacar/smallpox yang sudah musnah (eradikasi) dari bumi sejak tahun 1979. Selain itu penyakit polio di beberapa negara sudah tidak ada dan badan kesehatan dunia sedang mengejar tercapainya eradikasi/ musnahnya penyakit polio di dunia. Gambar di bawah ini adalah contoh bukti keberhasilan program Vaksinasi dalam menurunkan angka kematian akibat berbagai penyakit yang sudah ada vaksinnya di US.


Sumber: Centers for Disease Control and Prevention (CDC)

Banyak yang bertanya kenapa vaksinasi diberikan pada usia yang sangat dini, bahkan sejak bayi lahir seperti pemberian vaksin Hepatitis B? Jawabannya, karena penyakit-penyakit yang dapat dicegah dengan pemberian vaksinasi biasanya menyerang bayi di awal kehidupannya, dimana sistem kekebalan tubuh bayi belum mampu melawan serangan kuman tersebut walau bayi masih membawa kekebalan dari Ibu (maternal immunity) dan menerima ASI. Misalnya saja vaksin campak diberikan saat bayi berusia 9 bulan, karena maternal immunity hanya sampai usia bayi 9 bulan, dan itupun sifatnya imunisasi pasif.
Selainitu, waktu pemberian vaksinasi juga disesuaikan dengan pola penyakit yang biasanya menyerang anak pada rentang usia tertentu, sehingga Vaksinasi dapat melindungi anak lebih awal sebelum penyakit tersebut menyerang anak. Dapat dilihat di bawah ini adalah Jadwal Imunisasi Anak Umur 0-18 tahun Rekomendasi IDAI (Ikatan Dokter Anak Indonesia) 2011.

Apabila gambar tersebut kurang jelas sila download jadwal imunisasi tersebut ">di website IDAI.

Hal yang terakhir yang akan saya sampaikan adalah manfaat ASI dalam meningkatkan respon kekebalan dari vaksin. Dari beberapa penelitian ternyata bayi-bayi yang menerima ASI dan vaksinasi Hib, tetanus, BCG kadar antibodinya lebih tinggi dibandingkan dengan bayi-bayi yang menerima vaksinasi tersebut dan tidak/kurang mendapatkan ASI.

Semoga Mama paham bahwa ASI saja tidak cukup untuk melindungi bayi dari berbagai penyakit. Jadi memberikan ASI & Vaksinasi kepada anak-anak kita adalah salah satu upaya kita untuk melindungi generasi penerus.

32 Comments

  1. avatar
    laticia August 4, 2014 1:55 pm

    sekali lg mksh infonya monik...

    1. avatar

      As .



  2. avatar
    Fatimah Berliana Monika August 3, 2014 9:56 pm

    Mba Laticia,

    Pelajari how to treat BCA scar :

    https://www.healthed.govt.nz/resource/bcg-vaccine-after-care-parents-%E2%80%93-english-version

    -Monik

    1. avatar

      As .



  3. avatar
    laticia August 3, 2014 5:53 pm

    makasih ya mbak atas infonya mbak... dan oh ya 1 lagi ya mbak hehe maaf rewel mbak, bekas imunisasi BCG anak saya kan nanahnya pecah sendiri mbak dan belum keluar semua eh udah kering.. itu gimana ya mba mau dipencet sampai bersih atau bagaimana ya , makasih banget ya mbak..

    1. avatar

      As .



  4. avatar
    Fatimah Berliana Monika August 2, 2014 6:47 pm

    Mba Laticia,

    Kan saya tulis dosis pertama vaksin Rotavirus maksimal usia bayi 14 minggu 6 hari atau setelah bayi usianya lewat dari 14 minggu 6 hari maka Vaksin Rotavirus dosis pertama tidak bisa diberikan, seperti anak Mba.

    -Monik

    1. avatar

      As .



  5. avatar
    laticia August 2, 2014 3:07 pm

    wah makasih banget ya mba.. tapi saya agak kurang paham dengan yang Rotavirus.. umur anak saya sekarang kan 16minggu 3 hari.. sedangkan dijadwal yang mbak berikan itu dijelaskan kalau rotavirus tidak boleh diberikan untuk > 15minggu.. boleh mohon penjelasan nya .. makasih ya mbak..

    1. avatar

      As .



Post a Comment

You must be logged in to post a comment.