Bahaya Pemberian MPASI Dini & Menundanya

Fatimah Berliana Monika Konselor Laktasi & La Leche League (LLL) Leader of Rochester South NY, US. Lulusan S1 Fakultas Teknik Sipil&Perencanaan ITB & S2 Magister Manajemen Universitas Indonesia.

Pada bulan Mei 2001, World Health Assembly (badan penentu kebijakan dari organisasi kesehatan dunia WHO/World Health Organization) yang ke 54 menyatakan pentingnya promosi & edukasi pemberian ASI eksklusif selama 6 bulan. Sudah banyak penelitian dilakukan yang mendukung hal ini, sayangnya masih banyak tenaga kesehatan dan masyarakat yang belum melaksanakan hal ini.


Pemberian makanan yang tepat serta optimal sangatlah penting untuk kelangsungan hidup, tumbang (pertumbuhan & perkembangan) bayi dan anak sejak usia 0 hingga 2 tahun. Menurut Global Strategy on Infant & Young Child Feeding, pemberian makanan yang tepat adalah menyusui bayi sesegera mungkin setelah lahir (IMD/Inisiasi Menyusu Dini), memberikan ASI eksklusif sampai usia 6 bulan, dilanjutkan pemberian MPASI (Makanan Pendamping ASI) yang tepat & mencukupi sejak usia 6 bulan, dan melanjutkan pemberian ASI sampai usia 2 tahun/lebih.


Masih banyak pihak yang salah paham mengenai definisi ASI eksklusif. Pengalaman saya ketika memberikan konseling menyusui di salah satu RS, ada seorang Mama yang menyatakan telah memberikan bayinya ASI eksklusif, ternyata setelah kami berdiskusi lebih lanjut, Mama tersebut selalu memberikan air putih kepada bayinya pasca disusui. Sementara ada juga Mama yang sedih karena harus memberikan obat ke bayinya yang sedang sakit sehingga merasa sudah gagal memberikan ASI eksklusif. Lantas, bagaimana definisi ASI eksklusif yang benar?


Pemberian ASI eksklusif / menyusui eksklusif adalah memberikan hanya ASI saja pada bayi dan tidak memberi makanan/minuman lain, termasuk air putih (di Indonesia juga umumnya diberi air madu, air gula, air teh manis, dll), KECUALI obat-obatan dan vitamin / mineral tetes sesuai anjuran dokter/tenaga kesehatan lainnya.


Organisasi-organisasi kesehatan internasional termasuk Indonesia di bawah ini merekomendasikan semua bayi mendapatkan ASI eksklusif selama 6 bulan pertama kehidupannya (bukan selama 4 sampai 6 bulan seperti rekomendasi lama sebelum tahun 2001):


1. WHO (World Health Organization)
Pemberian nutrisi yang tepat dan mencukupi sejak bayi sangat penting untuk kesehatan jangka panjang. Bayi harus mendapatkan ASI eksklusif selama 6 bulan untuk mencapai pertumbuhan, perkembangan dan kesehatan yang optimal. Selanjutnya untuk memenuhi kebutuhan nutrisinya yang terus meningkat bayi usia 6 bulan harus menerima Makanan Pendamping ASI/complementary food yang bernutrisi dan aman sambil melanjutkan pemberian ASI sampai usia 2 tahun/lebih.


2. UNICEF (United Nations Children’s Fund)
Pemberian asupan yang optimal untuk bayi dan anak usia 0-2 tahun sangat penting. Pemberian asupan yang optimal ini berarti Mama diupayakan agar melakukan IMD/Inisiasi Menyusu Dini segera setelah kelahiran & selama 1 jam, memberikan ASI eksklusif selama 6 bulan dilanjutkan sampai 2 tahun/lebih, bersama dengan pemberian MPASI sejak usia 6 bulan yang bernutrisi baik, aman , sesuai usia bayi/anak, dan menggunakan sistem responsive feeding.


3. AAP (American Academy of Pediatrics).
AAP merekomendasikan bayi disusui secara eksklusif selama 6 bulan kehidupannya (tidak perlu tambahan makanan/minuman apapun kecuali pemberian vitamin/suplemen & obat sesuai indikasi medis). Bayi harus melanjutkan menyusui selama setahun/lebih selama diinginkan Mama dan bayi.


4. Australian National Health & Medical Research Council
Di Australia, sangat direkomendasikan para bayi mendapatkan ASI eksklusif selama 6 bulan dilanjutkan sampai usia 1 tahun/lebih sesuai keinginan Mama dan bayi.


5. IDAI (Ikatan Dokter Anak Indonesia)
Pemberian ASI eksklusif selama 6 bulan pertama cukup untuk mencapai tumbuh kembang yang optimal. Makanan pendamping ASI/MPASI kaya zat besi diberikan secara bertahap mulai usia 6 bulan.


Sumber : Key Message Booklet UNICEF


Banyak para Mama yang khawatir bayinya kelaparan saat bayi terus menerus menyusu (bisa saja bayi sedang dalam tahap Grow Spurt/percepatan pertumbuhan yang normal terjadi antara usia 0-6 bulan) serta menunjukkan ketertarikan akan makanan. Padahal kesiapan bayi untuk menerima MPASI tergantung dari kematangan sistem pencernaan bayi dan perkembangan bayi lainnya.


Berikut ini adalah bahaya / kerugian pemberian MPASI dini:


    1. Bayi lebih rentan terkena berbagai penyakit.
    Saat bayi menerima asupan lain selain ASI, maka imunitas/kekebalan yang diterima bayi akan berkurang. Pemberian MPASI dini berisiko membuka pintu gerbang masuknya berbagai jenis kuman, belum lagi jika MPASI tidak disajikan secara higienis. Banyak penelitian yang menyatakan pemberian ASI eksklusif melindungi bayi dari berbagai penyakit seperti penyakit pernafasan, infeksi telinga dan penyakit saluran pencernaan yang umum diderita anak-anak seperti diare.


    2. Berbagai reaksi akibat sistem pencernaan bayi belum siap.
    Bila MPASI diberikan sebelum sistem pencernaan bayi siap untuk menerimanya, maka makanan tersebut tidak dapat dicerna dengan baik dan bisa menimbulkan berbagai reaksi seperti diare, sembelit/konstipasi, timbulnya gas, dll.
    Tubuh bayi belum memiliki protein pencernaan yang lengkap. Berbagai enzim seperti amylase, enzim yang diproduksi pankreas belum cukup ketika bayi belum berusia 6 bulan. Begitu pula dengan enzim perncerna karbohidrat (maltase, sukrase), dan lipase serta bile salts untuk mencerna lemak.


    3. Bayi berisiko menderita alergi makanan.
    Memperpanjang pemberian ASI eksklusif menurunkan angka terjadinya alergi makanan. Usia 4-6 bulan kondisi usus bayi masih “terbuka”, antibodi (sIgA) dari ASI bertugas melapisi organ pencernaan bayi & memberikan kekebalan pasif, mengurangi terjadinya penyakit dan reaksi alergi sebelum penutupan usus terjadi. Bayi mulai memproduksi antibodi sendiri & penutupan usus terjadi saat bayi berusia 6 bulan.


    4. Bayi berisiko mengalami obesitas/kegemukan.
    Pemberian MPASI dini sering dihubungkan dengan meningkatnya kandungan lemak dan berat badan pada anak-anak.


    5. Produksi ASI Mama dapat berkurang.
    Makin banyak makanan padat yang diterima bayi maka berpotensi bayi akan mengurangi permintaan untuk menyusu. Bayi yang makan makanan padat pada usia yang lebih muda cenderung lebih cepat disapih.


    6. Persentasi keberhasilan KB/pengaturan kehamilan alami menurun.
    Pemberian ASI eksklusif biasanya sangat efektif dalam mencegah kehamilan secara alami. Saat MPASI sudah diberikan maka bayi tidak lagi menyusu secara eksklusif sehingga persentasi keberhasilan KB metoda alami ini akan menurun.


    7. Bayi berisiko tidak mendapatkan nutrisi optimal seperti ASI.
    Umumnya MPASI dini yang diberikan bentuknya bubur encer/cair yang mudah ditelan bayi. MPASI seperti ini mengenyangkan bayi tapi dengan nutrisi yang tidak memadai.


    8. Bayi berisiko mengalami Invaginasi usus/intususepsi.
    Invaginasi usus/intususepsi adalah keadaan di mana suatu segmen usus masuk ke dalam bagian usus lainnya sehingga menimbulkan berbagai masalah kesehatan serius dan bila tidak segera ditangani dapat menyebabkan kematian. Walau penyebab pasti penyakit ini belum diketahui, namun hipotesa yang paling kuat karena pemberian MPASI yang terlalu cepat.



Selanjutnya akan saya paparkan mengapa menunda pemberian MPASI/PASI melewati 6 bulan juga berisiko. Beberapa waktu lalu ada wacana yang disebarkan melalui media sosial agar masa ASI eksklusif diperpanjang sampai 2 tahun. Ketika bayi tumbuh dan berkembang serta semakin aktif, ASI saja tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan nutrisi bayi.


Berikut ini adalah bahaya/kerugian pemberian MPASI yang terlambat :
1. Bila kebutuhan energi bayi tidak terpenuhi maka bayi akan berhenti bertumbuh atau tumbuh dengan tidak optimal/slow growth.


Sumber : Complementary Feeding WHO


Bisa dilihat dari gambar di atas bahwa semakin bayi besar kebutuhan energinya makin besar yang tidak bisa dipenuhi hanya dari ASI saja (gap nya makin besar). Gap tersebut dipenuhi dengan pemberian MPASI.

2. Bayi berisiko kekurangan zat besi, menderita ADB (Anemia Defisiensi Besi).





Dapat dilihat pada gambar tersebut betapa besarnya gap kebutuhan akan zat besi yang perlu dipenuhi dari MPASI kaya zat besi, bila tidak, bayi berisiko menderita Anemia Defisiensi Besi (ADB).
3. Kebutuhan makronutrien dan mikronutrien lainnya seperti point 1 dan 2 tidak terpenuhi dan mengakibatkan risiko bayi/anak menderita Malnutrisi dan defisiensi berbagai mikronutrien.
4. Terhambatnya perkembangan fungsi motorik oral bayi.
5. Bayi berpotensi di kemudian hari menolak berbagai macam jenis makanan.



Semoga tulisan ini bermanfaat dan bayi serta anak-anak kita mendapatkan haknya.

Related Tags : ,,,

56 Comments

  1. avatar
    vindy antika May 16, 2017 10:10 am

    Dear mb monik

    Bun saya mau tanya, bln ini ank sya MPASI prtama dan rencana mau saya ksh bubur beras merah, rencana homemade MPASI.. trnyata rta" cra bkn tepung beras merh nya pas di sangrai hrus di ksh daun salam/pandan, apkah itu aman untuk baby usia 6 bln.. dan brp X dlm sehari untuk pemula MPASI? Dan ad jg yg bilang klo mw ksh buah sperti pear,apel,pepaya itu hrus dikukus dulu baru dilumatkan ap itu bner mb monik? Mhon bantuanya y mb monik ,terimakash

    1. avatar

      As .



  2. avatar
    Felicia Hotma November 8, 2016 7:30 pm

    cara share di FB bagaimana yaa?

    1. avatar

      As .



  3. avatar
    Fathiana Riezky June 1, 2016 2:55 pm

    Seandainya orang tua mengerti masalah ini, bayi ku dr 5 bulan kurang suka dikasih makan sama orang tua secara diam2, sedih rasanya. uda berkali-kali dikasih tau jangan tapi diabaikan, dikasih makanan instant pula. Resiko anak dititipin ke orang tua, tp semenjak 6 bulan saya selalu bikin makanan home made, paling gamau kasih instant.


    Terima kasih banyak mba infonyaaa

    1. avatar

      As .



  4. avatar
    Fatimah Berliana Monika December 30, 2015 7:48 pm

    Dear Mama Eten,

    Tindakan segera menghentikan MPASI dini nya sudah tepat. Bila kondisi bayi memburuk segera bawa ke RS tidak tunggu esok hari. Selanjutnya biarkan dsa yg memeriksa fisik bayi dengan detil. Banyak berdoa ya dan yg memberikan MPASI dini tsb Segera Di Edukasi dan tindakan ini Idealnya dilakukan jauh2 hari sebelum bayi lahir.

    -Monik

    1. avatar

      As .



  5. avatar
    Ester Anitasari December 30, 2015 7:41 pm

    Halo Mbak Monik,
    mau share n tanya nih.
    ketika bayi saya 4 bulan kurang 4 hari, bayi diberi kerokan pisang kira2 1 sdt selama 3 hari berturut2 tanpa persetujuan saya. 2 hari kemudian, saya lihat pup nya ada titik merahnya. selang 3 hari berikutnya which is sore hari ini, saya dapati ada banyak bercak merah di pup nya.
    saya takut kenapa2 dengan pencernaan bayi saya karena terlanjur diberi mpasi dini selama 3 hari itu. rencananya besok saya akan memeriksakan bayi saya ke dsa. hanya saja saya khawatir, apakah lambungnya tidak apa2 jika akhirnya saya genjot asi terus sedangkan lambungnya sudah pernah terlanjur menggerus solid food??
    terima kasih

    1. avatar

      As .



Post a Comment

You must be logged in to post a comment.