Tujuh Cara Agar Anak Aman Berinteraksi di Dunia Maya

Urban Mama, sejak 13 Juli lalu sebagian besar anak-anak sudah kembali bersekolah. Sebagian besar sekolah pun masih melaksanakan pembelajaran jarak jauh online di internet. 

Jika selama masa pandemi ini Urban Mama dan keluarga #dirumahaja, besar kemungkinan anak-anak menghabiskan banyak waktu dengan aktivitas online. Kegiatan belajar-mengajar dari sekolah, les, obrolan dengan teman, saudara, bahkan kakek dan neneknya besar kemungkinan beberapa bulan belakangan lebih banyak dilakukan secara online. 

Tidak semua yang berasal dari internet adalah buruk. Kenyataannya, beberapa bulan belakangan ini konektivitas di dunia maya turut membantu kegiatan belajar-mengajar tetap berjalan. Meskipun begitu, aktivitas online di dunia maya tetap menghadirkan banyak tantangan baru, terutama dalam hal bagaimana dapat memanfaatkan internet secara aman dan positif sekaligus mewaspadai potensi negatifnya. Kondisi baru ini membutuhkan adaptasi baru, tak hanya bagi orangtua, namun juga anak-anak.

Ada beberapa cara yang Urban Mama-Papa dapat lakukan untuk menjaga anak-anak tetap aman berinteraksi di dunia maya:

1. Komunikasi terbuka. Komunikasi yang orangtua bangun bersama anak akan menjadi dasar bagi anak saat berinteraksi di dunia maya. Sampaikan kepada anak-anak bahwa nternet di rumah diutamakan untuk zoom meeting kelas, video call, serta mengerjakan tugas sekolah. Ingatkan kembali aturan yang telah dibuat bersama-sama dan disepakati sebelumnya. Kadang anak-anak tidak serta-merta mudah menyampaikan rasa ingin tahunya tentang hal-hal yang ditemukan di internet; di sini orangtua bisa berinisiatif untuk bertanya duluan dan menyiapkan telinga untuk mendengar, sebelum memberi jawaban dan penjelasan.

2. Buat aturan dan kesepakatan. Semenyenangkan apapun interaksi di dunia maya, semua butuh aturan. Ajak anak untuk duduk bersama Urban Mama-Papa, list semua aktivitas yang dalam sehari harus dilakukan secara online lewat internet, lalu buat jadwal dan alokasi waktunya. Misalnya, pukul 8 pagi hingga 11 siang untuk zoom meeting kelas bersama guru dan kegiatan belajar, lalu 30 menit video call bersama kakek dan nenek usai makan siang, kemudian sorenya videocall bersama teman-teman atau bermain games selama 30 menit. Diskusikan pula bersama anak, apps dan games apa saja yang boleh dibuka. Beri penjelasan yang masuk akal bila Urban Mama-Papa memutuskan untuk melarang anak menggunakan apps tertentu.

3. Manfaatkan teknologi untuk melindungi anak. Apakah software dan antivirus di gadgets dan komputer rumah Mama sudah updated semua? Bagaimana dengan privacy settings? Sudahkan Urban Mama-Papa mengaktivasi fitur parental lock, parental control safe search? Bagaimana cara Mama-Papa mengontrol screen time anak, apakah pakai app seperti Google Family Link atau Apple Family? Terdengar repot ya? Namun jika Urban Mama-Papa memutuskan untuk membuka akses internet untuk anak-anak, itu semua adalah hal-hal minimal yang harus dilakukan untuk memastikan keamanan anak-anak saat berinteraksi di dunia maya. Kalau kegiatan belajar dilakukan di depan komputer, sementara dalam waktu yang bersamaan Urban Mama-Papa juga harus ngantor jarak jauh, bukankan lebih mudah kalau komputer dan gadget di rumah disiapkan terlebih dahulu agar aman diakses oleh anak-anak?

Satu lagi yang kerap dilupakan adalah membersihkan free apps yang jarang digunakan, termasuk free online educational recources. Pastikan saat akan mengunduh apps apapun rating keamanannya bagus, sebisa mungkin tidak meminta akses kamera dan gallery, serta tidak meminta kita untuk memasukkan data-data pribadi.    

4. Ikut berinteraksi bersama anak-anak di dunia maya. Tujuannya bukan untuk (sok) gaul, tetapi lebih untuk mengawasi anak. Pastikan apps yang anak-anak gunakan aman dan sesuai untuk umur mereka. Perhatikan cara anak mengobrol dengan teman dan gurunya saat video call; meskipun interaksi di dunia maya hanya interaksi virtual, namun ini tetaplah peluang bagi anak-anak untuk latihan berkomunikasi. Secara berkala, periksa kata-kata pencarian yang mereka ketikkan dalam kolom search, serta apps apa saja yang mereka buka. Ikut juga duduk di sekitar anak-anak saat mereka menonton atau bermain games. 

 

(Foto: www.pexels.com )

5. Terapkan kebiasaan internet sehat. Yang satu ini, wajib orangtua contohkan terlebih dahulu. Mama-Papa bisa memulai dengan membuat aturan dan jadwal pemakaian komputer dan gadgets di rumah, lalu meletakkan komputer di ruang keluarga agar lebih mudah mengawasi anak-anak saat menggunakan komputer. Pastikan anak-anak tidak menerima pangggilan video call apapun dari meja makan dan kamar tidur mereka; buat kesepakatan bahwa gadgets hanya diakses dari ruang keluarga, misalnya. Ingatkan anak-anak untuk bersikap baik dan santun setiap kali chatting dan video call dengan siapapun, termasuk berpakaian sopan saat akan video call. Selain itu, Mama-Papa contohkan juga untuk hanya mengakses internet pada jam-jam yang sudah disepakati, tidak membawa gadgets ke meja makan dan kamar tidur, serta tidak reaktif mengomentari berita apapun yang muncul. Diam-diam, anak mengamati juga lho, Ma. 

Jika sekolah memiliki aturan tertentu tentang kegiatan belajar-mengajar online, cyberbullying serta konten negatif, pastikan Urban Mama dan Papa familiar dengan peraturan tersebut dan ingatkan anak-anak pula mengenai peraturan tersebut.

Ketika anak-anak berinteraksi di dunia maya, selalu ada kemungkinan mereka terpapar konten yang tidak sesuai usia. Bantu mereka mengenali konten negatif tersebut dan gunakan kesempatan ini untuk mendiskusikan mengapa konten tersebut tidak sesuai untuk mereka. Be vigilant, be open

6. Biarkan anak bersenang-senang untuk mengekspresikan dirinya. Bersenang-senang di sini tidak hanya dalam bentuk bermain gaming apps, ya. Jika si kecil suka menggambar, Urban Mama dan Papa dapat mengenalkan beberapa apps untuk menggambar atau membuat scrapbook, misalnya. Kalau si kecil suka ngobrol dan bercerita, membuat podcast pendek dapat menjadi kegiatan yang seru, misalnya mengulas buku, film, atau bercerita tentang pengalamannya selama masa pandemi #dirumahaja. Kalau si kecil suka membaca dan sekarang susah ke toko buku atau meminjam buku ke perpustakaan, boleh coba diperkenalkan dengan membaca e-book. Ajak anak-anak browsing tutorial eksperimen sains sederhana untuk dipraktikkan di pekarangan rumah. Atau anak-anak justru senang bereksperimen di dapur? Bisa coba cari tutorial resep masakan mudah direka-ulang bersama anak-anak. Urban Mama-Papa juga dapat mengajak anak-anak berolahraga bersama mengikuti video tutorial olahraga untuk anak-anak dan orangtua, seperti channel YouTube The Body Coach TV - P.E with Joe. Dorong anak-anak untuk memanfaatkan apps yang membuat mereka bergerak dan membantu mereka menyalurkan hobinya. 

7. Seimbangkan kegiatan online dengan aktivitas offline, termasuk menghabiskan waktu di luar rumah, jika memungkinkan. Tidak usah jauh-jauh, bisa dimulai dari pekarangan rumah kita saja seperti olahraga peregangan di pagi hari sambil berjemur, yoga, atau main lompat tali skipping. Kalau bosan, bisa coba jalan-jalan sebentar di sekitar rumah. Udara segar dan hangat cahaya matahari tetap memberikan manfaat baik untuk tubuh. Namun pastikan ya Ma, pilih waktu yang tepat seperti hanya 15-30 menit di pagi hari, rute jalannya tidak ramai sesak oleh orang-orang, selalu mengenakan masker untuk melindungi diri sendiri dan orang lain di sekitar kita, serta semua harus mandi seusai jalan-jalan pagi. 

 

Semoga tips-tips tersebut bermanfaat ya, Ma. Bagaimana Mama-Papa dan si kecil selama melaksanakan pembelajaran jarak jauh dari rumah, apakah ada kejadian-kejadian unik yang lucu, kendala tertentu, atau tips-tips lainnya yang ingin Mama tambahkan? Share yuk di kolom komentar. 

0 Comments

Post a Comment

You must be logged in to post a comment.