Gadget dan Gen-Z yang Tidak Terpisahkan

Minggu lalu, saya mendapat kesempatan untuk menjadi narasumber Seminar Parenting ACEX 2020 di SMP Labschool Kebayoran. Selain saya, ada dr. Kresno Mulyadi, SpKJ yang juga menjadi narasumber dengan Alya Rohali sebagai moderator. Acara ini merupakan acara rutin yang diadakan oleh SMP Labschool Kebayoran setiap tahun yang merupakan bagian dari ACEX (Art, Culture, and Sport Exhibition). 

 

Seminar Parenting ACEX 2020 mengangkat tema "Mengenal Lebih Dekat: Keunikan Anak Zaman Now." Anak zaman now adalah anak-anak yang termasuk Gen Z yaitu yang berusia 5-25 tahun di tahun ini. Mereka adalah generasi yang tidak terpisahkan dengan gadget. Sejak kecil sudah sangat terbiasa dengan kehadiran gadget mulai dari tablet hingga smart phone yang rata-rata sudah dimiliki sejak remaja.

Berdasarkan riset, Gen Z sangat menyukai konten dalam format video. Setiap hari, rata-rata 68 video bisa ditonton oleh Gen Z melalui youtube, Instagram Stories, Tik Tok, dan lainnya. 

Internet dan gadget bukan merupakan sesuatu yang bergantung pada bagaimana kita memanfaatkannya. Bila digunakan untuk sesuatu yang baik, tentu dapat memberikan manfaat yang luar biasa. Demikian juga sebaliknya.

Sebagai orangtua dari anak-anak Gen-Z, saya sadar bahwa apa yang dihadapi anak-anak kita sekarang lebih berat daripada saat kita seusia mereka dulu. Saat kita remaja, pergaulan kita hanya di dunia nyata. Anak-anak Gen-Z sekarang bergaul tidak hanya di dunia nyata tetapi juga di dunia maya melalui media sosial. Dulu, bila kita bermasalah dengan teman, maka bisa diselesaikan secara langsung. Kini, tidak sedikit kita mendengar adanya cyber bullying dan dampaknya yang sangat berbahaya bagi kesehatan mental anak-anak. Oleh karena itu, sebagai orangtua, kita harus terus mendampingi mereka bergaul di dunia maya.

Sama halnya bila anak akan pergi ke suatu tempat. Sebagai orangtua, kita tentu berpesan untuk hati-hati di jalan dan biasanya menelepon untuk memastikan keselamatan mereka. Demikian juga di dunia maya. Anak bisa "berjalan-jalan" ke segala penjuru dan dengan mudah mengakses informasi. Mungkin tidak banyak yang menyadari bahwa ada usia minimal dimana anak-anak dapat register untuk memiliki akun media sosial. Rata-rata umur 13 tahun adalah umur minimal yang diperkenankan untuk membuat akun. Line, WhatsApp, Instagram. Hal ini mengikuti COPPA (Children Online Privacy Protection Act) yang ada di Amerika Serikat. 

Lalu apa yang bisa kita lakukan sebagai orangtua? Dampingi anak. Mulai dari hal sederhana seperti menerangkan pada anak bahwa setiap gadget itu memiliki D-Value. Ajari anak-anak untuk membuat password. 

Bagaimana membuat a strong password?

 

Contoh:

 

Selain itu, ganti password secara berkala dan gunakan password yang berbeda.

Bila anak-anak memiliki sosial media, urban Mama Papa sebaiknya follow akun mereka. Jadilah pengamat. Lihat bagaimana anak-anak berinteraksi di dunia maya. Sebaiknya kita tidak perlu meninggalkan komentar karena itu adalah ruang mereka, anak-anak Gen-Z bergaul. Bisa jadi mereka risih kalau kita "ikut-ikutan" nimbrung. Pahami juga "bahasa" yang mereka gunakan. Kalau saya amati, anak-anak Gen-Z senang berkomunikasi dalam bahasa Inggris dan menggunakan istilah yang disingkat dalam Bahasa Inggris seperti SMH, V, Awks, TIL. Terus belajar dan update. Kita bisa belajar melalui youtube. Jauhkan dari pola pikir, "Saya gaptek." 

Last but not least, terus motivasi anak untuk menjadi Agen Kebaikan. Semangati mereka untuk terus membuat konten yang positif dan bermanfaat.

 

1 Comments

  1. avatar
    Honey Josep February 7, 2020 6:08 am

    Tfs teh Ninit! Punya anak generasi Z memang menantang sangat terutama dari segi penggunaan gadget. Tips password-nya akan kucoba :)

    1. avatar

      As .



Post a Comment

You must be logged in to post a comment.