Konsultasi Tumbuh Kembang - Speech Delay

Sejak Baron usia 1,5 tahun, saya berencana berkonsultasi ke psikolog tentang tumbuh kembang Baron karena saya merasa Baron mengalami keterlambatan bicara dan kurang konsentrasi, tapi niat tersebut saya tunda sampai ia berusia 2 tahun. Keterlambatan bicara yang saya rasakan adalah, Baron sangat talkative dengan bahasa planetnya (bubbling), mengucap kurang dari 10 kata yang jelas (baru bisa bye, makasih, yah, bu), menirukan beberapa suara binatang dan kendaraan, sisanya hanya ugh ugh ugh sambil menunjuk-nunjuk benda yang ia maksud.

Pertimbangan saya ingin membawa ke klinik tumbuh kembang antara lain:


  1. Saat Baron usia 1,5 tahun, kami menyekolahkan Baron ke preschool dekat rumah agar Baron bisa belajar bersosialisasi, berkomunikasi, meningkatkan kemampuan motorik, belajar mengenal lingkungan di luar rumah. Kami berharap adanya sosialisasi dan tambahan stimulasi dari guru preschool dapat meningkatkan kemampuannya dalam berkomunikasi, beraktivitas, dan berinteraksi, dibandingkan bila hanya di rumah saja. Hanya saja preschool Baron menggunakan bahasa Inggris.

  2. Berdasarkan saran dan masukan dari banyak pihak, tunggu dulu sampai usia 2 tahun, diharapkan saat itu Baron sudah lancar bicara


Seiring berjalannya waktu, Oktober lalu Baron tepat usia 2 tahun dan dari pengamatan saya, ia masih belum menunjukkan perkembangan signifikan dari sisi kemampuan bicara dan konsentrasi, sehingga sesuai rencana semula, saya langsung membuat jadwal konsultasi tumbuh kembang ke Klinik Pela 9, RSPI sebagai 2nd opinion, dan tambahan konsultasi dengan gurunya di preschool. Konsultasi ini atas inisiatif sendiri dan rencananya akan saya konsultasikan juga ke DSAnya.

Saya selalu berpegang teguh pada prinsip “every child is special on his/her way”, dan kemampuan seorang anak tidak datang di saat yang bersamaan, semua butuh proses dan waktu.

Saya tidak tahu teori tumbuh kembang secara mendalam, tapi sepengetahuan saya setiap tahap usia anak ada standar yang menjadi acuan apakah si anak tumbuh dan berkembang dengan ‘sempurna’. Apabila si anak tidak dapat mencapai standar tersebut ada 2 kemungkinan yang perlu diperhatikan oleh orang tua:


  1. Memang belum saatnya si anak mencapai standar dimaksud, tetapi di kemampuan lainnya ia sudah mencapai atau bahkan melampaui standar yg ditetapkan

  2. Si anak mempunyai masalah baik secara fisik maupun psikologis sehingga tidak dapat mencapai standar tersebut


Kemungkinan no.2 ini yang perlu diantisipasi dan saya tidak ingin terjadi pada Baron. Insya Allah, every single thing is just normal & fine. Oleh karena itu, menurut saya sekaranglah waktu yang tepat untuk mengonsultasikan tumbuh kembang Baron ke ahlinya.

Pada dasarnya, metode observasi dan proses konsultasi di klinik/RS manapun hampir sama. Saat konsultasi di Pela 9, saya konsultasi dengan dr. Iramaswaty Kamarul, Sp. A(K), dokter spesialis Neurolog Anak dan seorang psikolog, sedangkan di RSPI dengan dr. Ariyanti Carolina tanpa psikolog.

Ruang konsultasi di Pela 9 didesain seperti di living room saja, jadi kita duduk di sofa berhadapan dengan dokter untuk konsultasi sementara psikolog mengobservasi kemampuan/ketrampilan anak melalui beberapa permainan edukatif (seperti puzzle, susun balok, flash cards, dll). Sedangkan di RSPI sama seperti ruang praktik dokter pada umumnya, hanya dilengkapi pojok untuk anak-anak, yang lengkap dengan permainan edukatif.

Beberapa observasi dan pertanyaan yang diajukan antara lain:


  • Penguasaan bahasa: berapa kata dan kata apa saja yg sudah bisa diucapkan, apakah sudah bisa merangkai kata menjadi kalimat, dll.

  • Kemampuan dan kekuatan otot mulut/rahang: kemampuan mengunyah, meniup, menyedot, menjilat, dll

  • Informasi sekolah: sejak usia berapa sekolah, di mana, menggunakan bahasa apa, pada saat mendaftar di sekolah anak ditanyakan sudah bisa bicara atau belum, dll.

  • Informasi komunikasi: berapa lama menonton TV di rumah, gadget apa saja yang sudah diperkenalkan ke anak, sehari-hari di rumah menggunakan bahasa apa, dll.

  • Informasi sosialisasi: di rumah ditemani oleh siapa saja, apakah ada teman-teman di lingkungan rumah, apakah Baron takut bertemu orang baru, dll.

  • Informasi sensitifitas dan respons: apakah Baron takut/sensitif terhadap sesuatu (misal suara, binatang, bentuk, benda tertentu dll), tingkat respon apabila namanya dipanggil, tingkat sensitif terhadap sentuhan, dll.

  • Kemampuan motorik: kemampuan jalan, lari, loncat, lempar dan& tendang bola, memasukkan benda ke dalam lubang, menyusun balok, dll.


Pertanyaan pertama yang saya ajukan:

“Sebenarnya penyebab Baron mengalami keterlambatan bicara itu apa ya, Dok? Apakah memang secara fisik atau psikologis Baron ada masalah atau karena saya sekolahkan di preschool berbahasa Inggris?”

Penjelasan dari dokter:

Pada dasarnya kemampuan anak itu beda-beda, ada yang cepat di satu sisi tapi lambat di sisi lain, ada yang lambat di berbagai sisi dan ada yang cepat di berbagai sisi. Untuk anak yang mengalami lambat bicara ada beberapa faktor yang mungkin mempengaruhi:


  • Di rumah kurang stimulasi permainan edukatif. Saya akui hal ini, karena permainan yang paling sering dimainkan adalah mobil-mobilan. Permainan lain ada tapi kurang dimanfaatkan dengan baik.

  • Kurang diajak mengobrol oleh pengasuh. Alhamdulillah, pengasuh Baron sangat talkative dan cukup kooperatif, hal ini diakui juga pada saat diobservasi oleh dr. Ariyanti.

  • Di rumah terlalu banyak menonton TV. Alhamdulillah, pengasuhnya Baron bukan tipe yang suka berlama-lama menonton TV dan Baron bukan tipe anak yang duduk berlama-lama di depan TV.

  • Kurang bersosialisasi dengan teman-teman sebaya. Alhamdulillah, temannya Baron di rumah banyak yang sebaya dan mereka sering main sama-sama di pagi hari waktu sarapan dan di sore hari selesai mandi.

  • Sehari-hari menggunakan 2–3 bahasa. Sehari-hari di rumah kami menggunakan bahasa Indonesia, sedangkan di preschool menggunakan bahasa Inggris. Hal ini yang dicurigai oleh dokter penyebab Baron bingung bahasa.


Untuk anak yang tumbuh kembangnya ‘normal’, hal-hal di atas tidak jadi masalah , tapi untuk anak yang ada masalah baik secara fisik maupun psikologis, faktor di atas relatif akan berpengaruh di proses tumbuh kembangnya.

Dari hasil observasi oleh psikolog melalui bermain singkatnya, secara motorik halus, Baron tidak mengalami kendala besar, Baron sudah bisa dan bahkan melakukannya dalam waktu singkat:


  • Menyusun balok menjadi tumpukan yang tinggi

  • Memasukkan koin ke dalam kaleng

  • Mencocokkan puzzle gambar sesuai tempat walaupun suka salah tapi masih wajar


Kesimpulannya, kemampuan Baron dalam mengenal/memainkan bentuk dengan 3 dimensi cukup tinggi, tetapi yang perlu menjadi perhatian adalah pemahaman terhadap arti kata benda dan kata kerja secara harfiah karena pada saat membuka flash card dan buku bergambar binatang, kendaraan, dan anggota tubuh, Baron belum bisa menunjuk ke arah yang benar.

Respons yang dia berikan pada saat ditanya mengenai binatang dan kendaraan adalah suara-nya, misalnya: ini apa? ini kucing, Baron akan bersuara maaemm... maaeem (maksudnya meong)... ini apa? ini mobil, jawabnya greeeng greeeng... kereta api yang mana? jawabnya koo koo jess jess jess, itupun jumlah kata benda masih sangat terbatas.

Hal yang baik dari respons ini adalah:


  1. Baron sudah mengerti apa yang dimaksud, tapi belum bisa memberikan respons yang sesuai.

  2. Modal (kemauan dan kemampuan) menirunya cukup tinggi dengan ia menirukan suara-suara binatang dan kendaraan.

  3. Modal keingintahuannya cukup tinggi dengan ia selalu menanyakan benda-benda yang ada di sekeliling kita dengan kata “ugh..ugh” sambil menunjuk-nunjuk. Kalau kita tidak menjawab pertanyaannya, dia tidak akan berhenti “ugh..ugh” dan kalau kita tidak menengok, ia otomatis ‘memaksa’ muka kita dengan pegang dagu/pipi kita untuk menengok.


Sehingga suatu saat bila kebutuhan bicaranya sudah muncul akan lebih mudah menirukan kata-kata yang kita sebutkan, selama kita sebagai orang tua rajin mengucapkan kata-kata secara tegas dan berulang sampai Baron fasih menyebutkan kata dimaksud walaupun awalnya baru akhirannya saja.

Dalam kasus ini, Baron perlu mendapat stimulus/rangsangan dari luar yang lebih banyak dan efektif untuk dapat mencapai milestone sesuai usianya. Sekali lagi milestone setiap anak tidak dapat dalam waktu singkat dan bersamaan.

Pertanyaan saya berikutnya:

“Usia berapa yang baik/ideal untuk mengonsultasikan tumbuh kembang anak?”

 Penjelasan dari dokter:

Konsultasi tumbuh kembang dapat dilakukan kapan saja, terutama kalau orang tua merasa ada sesuatu yang kurang tepat dalam proses tumbuh kembang anak. Konsultasi dibutuhkan agar orang tua mengetahui apakah si anak perlu terapi atau tidak, dan terapi jenis apa yang dibutuhkan untuk anak.

Konsultasi tumbuh kembang tidak harus selalu untuk anak yang punya masalah atau berkebutuhan khusus. Kadang kala orang tua merasa anaknya tidak ada masalah atau bahkan ada yang pura-pura merasa baik-baik saja karena malu oleh lingkungan/keluarga kalau anaknya ada masalah, tapi begitu dikonsultasikan ternyata dari hasil tes/assesment/observasi anaknya bermasalah di proses tumbuh kembang (misalnya perilaku) walaupun secara fisik dia sehat.

Dari hasil observasi tersebut, dr. Ira maupun dr. Ariyanti mengambil kesimpulan bahwa Baron memang mengalami keterlambatan bicara dan memberi masukan:


  • Melakukan terapi wicara

  • Assessment Sensory Integrasi (SI) terlebih dahulu untuk mengetahui apakah Baron juga butuh terapi SI

  • Sehari-hari menggunakan hanya 1 bahasa saja yaitu bahasa Indonesia sebagai bahasa ibu

  • Menghentikan sementara preschool-nya yang menggunakan bahasa Inggris sampai Baron sudah mahir bicara (atau mengucapkan kata-kata) atau pindah ke preschool berbahasa Indonesia

  • Membatasi menonton TV di rumah. Idealnya 1/2 jam pagi dan 1/2 jam sore. Diusahakan menonton TV yang sifatnya interaktif dialog atau cerita berbahasa Indonesia.


Semoga bermanfaat untuk Urban Mama semua, khususnya yang mempunyai anak dengan masalah speech delay.

29 Comments

  1. avatar
    Woro Indriyani November 1, 2016 11:44 am

    Bagus banget mba artikelnya, berguna banget nih usia usia Rey yang baru mulai belajar bicara :)

    1. avatar

      As .



  2. avatar
    Indri July 28, 2015 11:27 am

    Thank you for sharing mba shinta..jd makin ngerti skrg..aku jg br nuat appointment sama dr ira..

    1. avatar

      As .



  3. avatar
    Etta April 23, 2015 4:50 pm

    Mba Shinta, aku baru bener2 baca lagi artikel ini setelah sekarang mengalaminya. Akino (25mo) juga masih belum bicara jelas Mba, sering cerita tapi hanya babling, gak keluar kata2 sama sekali. Sudah pernah aku bawa observasi ke psikolog sebelum usianya 2 tahun dan memang disarankan untuk assessment SI dulu, baru lanjut dengan terapi SI dan wicara paralel (kalau memang perlu ukt terapi SI). Lallu sekarang masih maju mundur utk terapi. Pas baca artikel ini kok kaya pas banget situasinya sm Mba Shinta dulu. Thanks for sharing ya Mbaaa....

    1. avatar

      As .



  4. avatar
    ummi anas April 4, 2015 11:08 pm

    Saya baru tau kalau ada istilah speech delay. Anak saya november nanti 4 tahun. Sampai saat ini, ucapannya tidak jelas.huruf pertama awal kata sering hilang. Apakah itu termasuk speech delay?
    Terima kasih sharingnya

    1. avatar

      As .



  5. avatar
    Shinta Daniel February 18, 2014 10:01 am

    @Ona: Jl. Pela No.9 itu di daerah Petogogan, Kebayoran Baru. Kalau dari Mayestik ke arah Radio Dalam, pas di perempatan Radio Dalam belok ke kiri. Kliniknya ada di sebelah kiri jalan, sebelum perempatan Petogogan.

    1. avatar

      As .



Post a Comment

You must be logged in to post a comment.