Melatih Anak Menjadi Penulis

[caption id="attachment_115533" align="alignnone" width="397" caption="(Gambar dari pixabay.com)"][/caption]

Menulis, bagi saya bukan hanya sekedar hobi atau kegemaran. Menulis adalah bagian dari perjalanan hidup yang ingin saya bagikan juga kepada orang-orang di sekitar saya, termasuk anak tercinta dan murid-murid yang dulu saya ajar. Latar akademik saya memang bukan pendidikan Bahasa atau Sastra. Namun dari pengalaman mengajar bahasa Indonesia di sebuah sekolah dasar dan menjadi instruktur klub menulis kreatif di sekolah yang sama, saya mendapatkan pencerahan bagaimana melatih anak menjadi penulis, bahkan di usia yang sangat muda.


Pertama, sebenarnya kita sudah bisa melatih anak menjadi penulis, bahkan sebelum anak mempunyai atau menguasai kemampuan menulis huruf sekalipun. Lho, kok bisa?

Dasar penting menjadi seorang penulis adalah kekayaan ide dan kemampuan membuat cerita dengan alur yang menarik. A good writer is a good storyteller.

Kemampuan ini sudah bisa diasah sejak anak sudah cukup lancar berbicara, sekitar usia tiga tahun atau tingkat prasekolah. Cara stimulasinya pun tidak rumit. Sebuah kebiasaan sederhana berupa dongeng atau cerita sebelum tidur bisa menjadi metode pelatihan yang patut dicoba.

Pertama, urban mama dapat mencoba modifikasi bedtime stories session dengan menanyakan pendapat anak tentang cerita atau tokoh-tokohnya. Selain itu, minta anak membuat lanjutan cerita sendiri, atau sesekali bergantian dengan anak yang menjadi si pencerita. Kunci suksesnya, berpikirlah terbuka. Beri apresiasi terhadap setiap respons dan ide anak, meskipun ceritanya terdengar konyol atau tidak masuk akal. Tak ada yang punya fantasi menarik dan out of the box selain anak-anak itu sendiri.

Kedua, gunakan gambar sebagai pencetus ide cerita anak. Minta anak untuk bercerita, membentuk alur yang teratur. Sebagai awal, bisa gunakan rumus 5W + 1H: who (siapa saja karakter/tokoh cerita dan seperti apa sifatnya), when (latar waktu cerita), where (latar tempat cerita), what (masalah atau konflik dalam cerita), why (mengapa masalah tersebut terjadi), dan how (bagaimana masalah dapat diselesaikan). Kenalkan dahulu penceritaan dengan alur maju, supaya anak tidak bingung. Alur maju terdiri atas perkenalan atau pembukaan, adanya konflik atau masalah, klimaks saat konflik mencapai puncaknya (alias bagian paling seru dari cerita), dan penyelesaian di mana konflik terselesaikan.

Ketiga, saat anak sudah bisa fasih bercerita lisan, perkenalkan anak untuk membuat kerangka cerita secara tertulis. Caranya? Gunakan mind map. Mind map atau 'jejaring ide' adalah diagram kumpulan ide-ide yang dibentuk dari kata-kata kunci, disusun dari kata yang bersifat umum menjadi hal yang lebih detil atau spesifik. Formatnya bisa berupa kumpulan kata, atau gambar.

[caption id="attachment_115672" align="alignnone" width="372" caption="(Gambar dari pixabay.com)"][/caption]

Mind map dapat digunakan mulai dari menyusun dasar cerita (menggunakan acuan 5W + 1H tadi), pembuatan tokoh dan karakterisasinya, sampai alur cerita (perkenalan, konflik, klimaks, penyelesaian).


Satu hal penting, biasanya anak lebih mudah mengungkapkan pikiran melalui visualisasi, baik gambar maupun konkret. Jadi, selalu gunakan gambar, foto, video, atau barang nyata sebagai alat bantu ajar.

Keempat, perkenalkan anak dengan kata-kata bantu yang menjadi inti cerita. Tunjukkan juga persamaan kata (sinonim) atau kata-kata lain yang dapat menjadi padanannya serta kapan padanan tersebut dapat disematkan dalam kalimat. Di sini kita memperkaya perbendaharaan kata (vocabulary) mereka dan membuat pilihan kata menjadi bervariasi sehingga cerita lebih menarik saat dibaca. Kamus, baik buku ataupun elektronik, baiknya disiapkan untuk membantu anak mencari makna kata. Jika perlu, gunakan juga kamus idiom atau ungkapan, khususnya bagi anak usia sekolah dasar yang sudah mulai mempelajari materi bahasa yang lebih kompleks.

Kelima, berikan batas jumlah kata atau kalimat saat anak belajar menulis cerita. Tujuannya agar anak berlatih untuk mengatur cerita supaya cukup terjelaskan, namun juga tidak dipanjang-panjangkan. Padat dan menarik. Cerita seperti ini yang menggoda minat kita untuk membacanya, bukan?

Pendekatan yang keliru di banyak sekolah adalah anak dikritisi berdasarkan hal teknis dan tata bahasa. Akibatnya, mereka terfokus pada benar-tidaknya penggunaan huruf kapital, tanda baca, dan kawan-kawan, tanpa menggali ide dan memperkaya pilihan kata.

Oleh karenanya, setelah anak lancar membuat cerita barulah diajarkan hal-hal teknis seperti huruf kapital, tanda baca, struktur kalimat, dan aneka tata bahasa lainnya.

Selain itu, seorang penulis akan menjadi semakin baik kemampuannya saat ia rajin membaca berbagai sumber referensi. Semangati anak untuk menumbuhkan kebiasaan membaca buku. Satu buku satu hari. Panjang atau pendek, selesai atau tidak selesai, bukan persoalan. Akan lebih baik lagi jika anak melahap berbagai genre tulisan, baik fiksi maupun non fiksi, dari berbagai jenis penulis, termasuk penulis-penulis muda seusia mereka.

Menjadi seorang penulis andal, perlu proses dan kerja keras, meskipun bukan hal mustahil. Dengan lahirnya banyak penulis cilik dan muda, angin segar kebangkitan sastra Indonesia niscaya akan berhembus sedari kini.

Selamat mencoba, urban mama!

9 Comments

  1. avatar
    Ruth Nina March 18, 2016 1:14 pm

    Thanks for Sharing Mama.
    Aku senang banget ketemu artikel ini soalnya anakku paling susah dan membuat cerita dalam bentuk tulisan yang terstruktur. Jadi kalau disuruh bikin essay yang ada tokohnya, alur ceritnaya pasti berantakan padahal sudah ada gambar 1-4 di kertas ujiannya. Padahal kalo mau action figure ceritanya oke.

    1. avatar

      As .



  2. avatar
    Winda Reds March 14, 2016 9:49 am

    Mama Ari : sama2 Mama, semoga si kecil sukses bisa bikin cerita menarik ya :)

    Mama Aini : ini pengalaman pribadi juga, Mam. Dari zaman kecil dulu, tiap mengarang mau Bahasa Indonesia atau Inggris, yang jadi perhatian guru kok kalo nggak grammar, tanda baca, huruf kapital. Sampe boseeeen, kayanya isi cerita n idenya nggak dibaca :(

    Mama Cindy : Asyiiik, calon komikus Indonesia nih ntar si Mas :)

    1. avatar

      As .



  3. avatar
    Cindy Vania March 12, 2016 12:07 pm

    Thanks buat artikelnya ya mama Windaa!
    Anak pertama suka banget cerita dan menggambar,mungkin bisa diselipin cerita-cerita sekalian ya disitu.

    1. avatar

      As .



  4. avatar
    Retno Aini March 11, 2016 4:04 pm

    terima kasih mba Winda utk sharingnya... ternyata bercerita adalah slhsatu modal awal mengembangkan kemampuan menulis ya. benar bgt tu yg bagian sekolah lbh menekankan ke penggunaan tanda baca dsb daripada mengajaran anak utk exploring ideas. sayang bgt kan kalau anak2 jd mandek krn takut salah.

    1. avatar

      As .



  5. avatar
    Ari Prastawati March 11, 2016 11:18 am

    TFS mom winda...kebetulan bgt lg nyari2 cara mengembangkan bakat menulis anak niy....

    1. avatar

      As .



Post a Comment

You must be logged in to post a comment.