Membuat Perpustakaan Sendiri, Seberapa Siap?

Siapa pun yang merasa pecinta buku pasti ingin punya perpustakaan sendiri. Setidaknya, suatu ruangan di mana kita bisa memajang semua buku koleksi dengan reading corner yang nyaman. Beberapa teman yang pernah berkesempatan melihat langsung perpustakaan di negara maju, ingin sekali membuat perpustakaan anak sejenis di Indonesia. Entah itu untuk pribadi, untuk lingkungan sekitar, atau pun untuk umum. Saya pun demikian. Membayangkan ada perpustakaan anak yang nyaman, dengan koleksi buku yang lengkap dan menarik, serta desain ruangan yang memang membuat anak betah membaca berlama-lama di dalamnya membuat saya semangat “menabung” buku.

Yang menjadi masalah adalah impian ini sudah berada di wishlist saya dari dulu, sejak masih di bangku kuliah hingga saya punya anak. Lantas, mengapa tidak mewujudkannya? Sudah sih sebetulnya, tapi perpustakaan pribadi berupa dua buah rak buku dan sebuah karpet. Ya... lebih ke reading corner, but I’m really happy to just look at it. Semacam: yeay finally I have one!

Untuk perpustakaan yang sifatnya lebih untuk umum, sebenarnya saya sudah punya tempat yang tepat (sebelum akhirnya saya pindah ke sini), yaitu saat saya masih di Gunung Putri, Bogor. Dengan luas yang lumayan untuk sebuah perumahan (dari blok A sampai O, belum termasuk 6 cluster, dan kampung yang mengelilinginya) dan hanya ada satu kios koran serta tidak ada toko buku kecuali tergabung dalam toko alat tulis, plus populasi anak yang luar biasa banyak. Seolah, setiap keluarga di sana mempunyai minimal dua anak, salah satunya usia SD. I mean it, they’re everywhere. If I opened one library there, I’m sure it would be full of kids everyday.

Sayangnya, saya orang yang sangat menjaga privasi. Ada rasa kurang nyaman saat misalnya ada anak tetangga main ke rumah. Sering juga saya merasa kurang nyaman kalau pembantu saya datang ke rumah, padahal sudah beberapa tahun ia bekerja untuk saya. Karena itu, membuka pintu rumah lebar-lebar untuk mempersilakan orang lain masuk dan membaca buku di rumah saya is a real challenge for me. Lalu kalau mau bikin perpustakaan, haruskah menyewa tempat? Well, probably. Atau kalau ada bagian dari rumah saya yang terpartisi dengan baik dengan area pribadi, saya masih cukup nyaman menggunakannya untuk perpustakaan umum. 

Hal kedua yang menjadi pertimbangan adalah, perawatan buku. Beberapa waktu lalu saya melihat postingan foto di  Instagram dari Perpustakaan Rabbithole yang lumayan memprihatinkan, yaitu perpustakaan dalam kondisi berantakan dan ada buku yang rusak. Ternyata, ada pengunjung yang “lupa” mengajarkan cara merawat buku pada anaknya. Saya pun bisa merasakan kekecewaan sang pemilik perpustakaan. Hal seperti ini juga pernah saya diskusikan dengan rekan kerja yang memiliki mimpi serupa, tetapi belum siap jika mendapat “bonus” berupa kerusakan buku yang diakibatkan oleh pengunjung.

Susah juga ya kalau seperti ini. Saat saya berkunjung ke Perpustakaan Kota Yogyakarta, saya melihat kondisi sebagian besar pop up book yang rusak parah. Andai saya bisa berkunjung ke sana tiap hari, saya akan membawa lem, gunting, dan selotip untuk memperbaiki setiap buku. Namun kurang lebih intinya seperti itu. Karena kita berada di Indonesia, dan masyarakatnya masih memiliki minat baca rendah, which means they don’t like books, so don’t expect they treat books like they love it. Kalau dalam kasus perpustakaan anak-anak, orangtuanya lah yang berperan untuk membuat anaknya merawat buku yang mereka pinjam. Bukan salah anaknya kalau berantakan, apalagi balita dan usia TK yang masih belajar untuk membuka halaman buku dengan benar.

Dari dua masalah di atas, yang bisa menjadi solusi adalah, pertama, mempersiapkan tempat yang sesuai dengan kemampuan dan kriteria kita. Kalau kita cukup nyaman dengan menggunakan rumah sendiri, alhamdulillah. Selain irit di ongkos, pengawasannya juga lebih maksimal. Kalau sudah mampu menyewa tempat, kita bisa lebih leluasa mengkonsepnya tanpa harus menyelaraskan dengan konsep rumah kita. Jika ada fasilitas RT/RW yang tidak terpakai misalnya, bisa dicoba untuk menyulapnya menjadi taman bacaan masyarakat. Tentu saja untuk dua opsi terakhir, harus dipertimbangkan pula tenaga bantuan untuk menjaga perpustakaan selama jam operasional.

Kedua, kalau kita masih berat mengikhlaskan buku-buku kesayangan kita untuk dinikmati banyak orang, maka kita bisa memilah kira-kira buku mana yang harus kita jaga untuk diri sendiri dan buku mana yang it’s okay kalau terlipat atau robek sedikit. Risiko ini akan selalu ada meskipun hanya untuk baca di tempat. Sama halnya dengan umumnya perpustakaan yang biasanya menyimpan buku-buku ensiklopedi di lemari khusus sehingga terjaga keawetannya.

Untuk memperbanyak koleksi buku tanpa menguras kantong, saya sering berburu buku murah kalau ada pameran buku atau tokok buku favorit sedang mengadakan bazar atau cuci gudang. Meskipun bukunya bukan kesukaan anak saya, saya tetap beli untuk menambah stok buku ketika kelak saya berhasil membuat perpustakaan sendiri. Jadi, sudah siap? 

 

4 Comments

  1. avatar
    Retno Aini December 16, 2016 4:13 pm

    Ini pertimbangan yg kupikirkan juga saat ingin bikin perpustakaan terbuka. kalau di Norwegia sini, kerasa banget aura perpustakaan itu cozy, untuk duduk baca buku, dan buku2nya juga terawat, termasuk buku2 di perpus anak2. Apa faktor budaya juga mungkin ya? Tapi memang sih, ngurus perpustakaan umum itu nggak cukup hanya sedia tempat dan buku saja... tapi harus bersama orang2 yang mau ikut menjaga perpus, siap mengajarkan budaya membaca DAN budaya merawat buku biar bukunya bisa dinikmati semua anak yang ingin membacanya. Akhirnya sekarang aku baru kesampaian bikin perpustakaan pribadi dulu hehe...

    1. avatar

      As .



  2. avatar
    Eka Gobel December 16, 2016 7:16 am

    Cita2 dari kecil nih pgn bikin perpustakaan umum. Dulu wkt SD sempet bikin taman bacaan, trus lama2 kok bukunya pada berkurang, jadinya malah repot nagih2 buku ke orang2 yg blm ngembaliin. Hahaha..seru tapi sih. Dan memang rasanya ga ikhlas deh kalo buku bagus ga dikembaliin itu.

    1. avatar

      As .



  3. avatar
    Leila Niwanda December 13, 2016 8:45 am

    Samaaa, pengin punya dan sudah disarankan terus untuk bikin oleh orang-orang terdekat, tapi masih suka sayang kalau rusak dan ya itu, merasa kurang privasi. Jadi, jawabannua kayaknya belum siap, hehehe.

    1. avatar

      As .



  4. avatar
    Cindy Vania December 10, 2016 7:35 am

    Mama Adhisti, dulu waktu kecil aku pernah buka semacam perpus di garasi rumah, bisa dibawa pulang tapi bayar. nah kebanyakan pada nyelonong bawa dan ga bayar. ada juga yang ilang dsb2.

    Dari situ mulai mikir lagi, kayaknya masih belom siap deh kalo harus meminjamkan buku2 yang ada di rumah ke orang lain, lha wong kalo kelipet sama anak sendiri aja aku masih gemes banget.

    Berbeda kalo aku emang niat donasiin buku itu ke orang :)

    1. avatar

      As .



Post a Comment

You must be logged in to post a comment.