Menghabiskan Waktu di Lapangan Paralayang Puncak

Imelda Sutarno A working mom with two gorgeous krucils. Suddenly love the outdoor recreations as an impact of married with her scuba diver husband, Bambang. Take the kids from beach to the hill, from forest to the waterfall, will always give her (and her husband) joy and enthusiastic. Cooking isn’t her middle name but always trying to give her family the best food that she can. Now she lives in Jakarta.

Minggu lalu, keluarga besar pihak suami mengadakan halalbihalal di daerah Puncak. Kebetulan lokasi vilanya dekat dengan kebun teh dan Bukit Gantole, tempat olahraga paralayang/paragliding. Bahkan hanya duduk di teras vila, kita bisa menikmati pemandangan parasut orang-orang yang tengah melakukan paralayang melayang-layang di udara.
 
Mungkin sebagian Urban Mama juga tahu, jika kita berwisata ke daerah Puncak, maka salah satu konsekuensi yang harus kita hadapi adalah sistem buka tutup jalan alias jalan satu arah. Ada saatnya jalur dari arah Ciawi ke Puncak harus ditutup untuk memberikan kesempatan pada kendaraan yang arah turun (dari Puncak menuju Ciawi maupun Jakarta) dan begitu pula sebaliknya. Dan sistem buka tutup jalan ini bisa memakan waktu berjam-jam. Jadi, harus super sabar.

Nah, saat check out dari vila setelah acara selesai, kami pun mau tidak mau terkena imbasnya. Harus menunggu dulu sampai tiba waktunya giliran jalan turun ke arah Jakarta dibuka. Wah, bosan juga kalau harus menunggu dan tidak melakukan aktivitas apa-apa ya. Jalan-jalan ke kebun teh di depan vila sudah dilakukan selama menginap di sana. Apa lagi yang bisa dilakukan ya?

Lalu suami berinisiatif, bagaimana kalau kita habiskan waktu di lapangan pendaratan paralayang saja? Ya, kebetulan lapangan pendaratan ini letaknya mudah dijangkau dari vila dan arahnya berlawanan dengan arah Jakarta. Artinya mobil kami tetap bisa lewat jalan raya, tidak akan distop polisi. Kami memang tidak berniat mencoba olahraga paralayangnya sendiri, karena anak-anak masih terlalu kecil plus masih takut untuk mencoba kegiatan ekstrem tersebut.

Kurang dari lima menit, sampailah kami di sana. Lapangan pendaratan ini mirip lapangan bola biasa. Di sana, beberapa anak kecil dari kampung sekitar lapangan tampak bermain bola. Saya bilang ke Alun untuk berkenalan dan gabung main bersama mereka. Tidak menunggu lama, Alun sudah asyik berlari-larian main sepak bola bersama teman-teman barunya. Sementara kami bertiga (saya, suami, Lintang) asyik mengamati dan memotret orang-orang yang mendarat. Ada yang terjun tandem, ada pula yang solo.



Paralayang memang dibuka untuk umum. Untuk warga umum yang awam akan terbang tandem bersama instruktur. Ada paket-paket harga yang bisa dipilih untuk siapa pun yang ingin mencoba olahraga ini. Di pinggir lapangan juga ada tenda dari penyedia paket terbang. Saat kami ke sana, rata-rata yang datang mencoba adalah para wisatawan asal Timur Tengah. Dari lapangan ini pula, setelah wisatawan menyepakati harga dengan pihak penyedia paket paralayang, mereka akan diantar naik ojek motor ke atas Bukit Gantole dan mulai terbang dari bukit tersebut sebelum akhirnya mendarat di lapangan. Motor-motor yang berjajar dalam foto di bawah ini sebagian besar adalah ojek-ojek tersebut.



Menyaksikan orang-orang mendarat di lapangan ternyata seru juga. Setelah mendarat, ada anak-anak kecil yang juga berasal dari kampung sekitar yang bekerja membantu melipat dan membereskan parasut. Sementara yang asyik bermain sepak bola tampak tidak terganggu dengan kehadiran mereka yang akan mendarat. Seperti sudah tahu di sebelah mana area yang harus mereka hindari agar tidak tertabrak dengan yang akan mendarat.



Setelah setengah jam berada di lapangan, jalan ke arah Jakarta pun dibuka. Kami bergegas naik ke mobil dan menuju Jakarta. Untuk parkir, hanya dikenakan retribusi Rp5.000,- saja.

Menghabiskan waktu hanya dengan menonton aktivitas paralayang ternyata bisa membuat mood senang karena terhindar dari kebosanan menunggu. Kalau Urban Mama biasanya melakukan apa sambil menunggu giliran turun ke Jakarta?

2 Comments

  1. avatar
    dieta hadi July 9, 2018 9:18 am

    Wah seru banget ya walaupun ga naik paralayang nya. dari dulu pengen deh nyobain paralayang ini tapi harganya lumayan juga yaaa, dan agak males ke arah puncak jadinya ga jadi-jadi hehe

    1. avatar
      Imelda Sutarno July 9, 2018 10:29 am

      Iya mbak Dieta harga paket terbangnya lumayan, sekitar 300 atau 400 ribu gitu sekali terbang. Mendingan nonton yang pada main paralayang aja deh jadinya hehe :)

      1. avatar

        As .



    2. avatar

      As .



Post a Comment

You must be logged in to post a comment.