Menjaga Kesehatan Mental Ibu Rumah Tangga Selama Pandemi

Febi Purnamasari A new mother of two who loves sharing whatever she has learned from seminars and books especially related to parenting issues. She’s now developing her career path as journalist for a national television. Belly-dancing is her hidden obsession.

Kita yang berprofesi ibu rumah tangga mungkin secara fisik ada #dirumahaja. Tapi, ada kalanya kita menjadi tidak sepenuh diri menjalankan peran karena memikirkan terlalu banyak hal yang kurang bermanfaat, merasa kurang produktif, atau jenuh. Apalagi, kita yang hidup bersama anak-anak musti kian waspada di masa kenormalan baru ini karena tidak bisa sembarang ke mal atau liburan ke luar kota. Urban Mama pun mungkin menjadi merasa kurang piknik.

(Dok. www.pixabay.com)

Setelah melakukan proses pencarian dan coba-coba, akhirnya saya menemukan formula yang cocok bagi diri saya untuk menjaga kewarasan diri di rumah. Siapa tahu formula ini juga cocok untuk Urban Mama.

Hargai tiap pencapaian harian
Catat target atau pencapaian tugas-tugas domestik maupun kegiatan bermain bersama anak. Rangkuman tertulis pencapaian sehari-hari akan membuat Mama merasa positif dengan kontribusi diri. Kalau belum sempat menulis kita bisa mengingat-ingat lagi kontribusi yang sudah dilakukan untuk keluarga sebagai bentuk penghargaan terhadap diri sendiri.

Batasi penggunaan gawai
Saya paham betul, sebagai IRT kita merindukan kehidupan sosial di luar sana. Alhasil, kita melepas penat dengan memantau perkembangan informasi di media sosial dan forum-forum daring lainnya. Tapi, pastikan kita tidak menatap layar ketika mengerjakan tugas domestik apalagi saat berkegiatan bersama anak.

Bijak menggunakan media sosial dan menerima informasi
Ikuti akun-akun yang menambah ilmu bermanfaat juga menguatkan iman dan peran saat ini. Hindari akun gosip dan jangan tergoda membaca artikel click bait karena pada akhirnya kita akan menyesal membuang waktu percuma untuk hal tidak berfaedah. Mute akun-akun pertemanan yang bisa membuat diri menjadi kurang bersyukur atau malah menimbulkan rasa iri. Konsumsi berita terkini seputar pandemi secukupnya sekadar untuk meningkatkan kewaspadaan.

Bergabung dengan komunitas yang positif
Salah satu keuntungan perkembangan teknologi adalah kita bisa bergabung dengan komunitas-komunitas secara daring. Misal, komunitas pengajian, hobi, atau kehlian tertentu yang mendukung ketakwaan dan pengembangan diri. Hindari forum-forum yang rentan memicu perdebatan, mompetition, maupun ghibah antarmanusia karena akan membuat Mama menjadi tidak mindful menjalani peran.

Istirahat cukup
Kalau anak-anak sudah tidur malam, usahakan segera tidur apalagi jika anak-anak lagi enggan tidur siang. Bergadang tanpa urgensi tertentu hanya membuat kita kelelahan di pagi hari. Saya sangat paham, malam hari ketika semua anggota keluarga sudah terlelap adalah waktu yang tentram buat me time. Tapi, me time di pagi hari lebih menenangkan, menyegarkan, dan menyehatkan.

Tetap lakukan hobi
Coba pikirkan hobi yang bisa dilakukan dari rumah agar kita tetap merasa bahagia menjadi diri sendiri. Entah itu bisnis kecil-kecilan, menulis, memasak kue, dan sebagainya.

Menyadari dan menikmati kebahagiaan di sekitar kita
Sebagai upaya menyehatkan pikiran, coba, deh, nikmati pemandangan indah di sekitar kita. Wajah anak yang serius atau gembira saat bermain, suara azan yang berkumandang, pemandangan dari balkon rumah, tanaman yang bergoyang ketika tertiup angin, rintik-rintik hujan, udara pagi yang menyehatkan, angin sejuk yang menerpa wajah, dan masih banyak lagi kenikmatan kecil yang sering luput dari perhatian kita.

Antisipasi sindrom prahaid
Saya adalah salah satu ibu yang merasakan efek sindrom prahaid atau lebih dikenal PMS, yaitu mudah sekali tersinggung. Kalau sudah ada gejala ini, saya berusaha untuk lebih berbaik hati ke diri sendiri. Misal, menurunkan target dan ekspektasi anak melakukan kegiatan yang berfaedah, lebih banyak mengistirahatkan dan menenangkan diri, juga aktif mengomunikasikan kebutuhan diri kepada suami.

Jadikan ibadah sebagai pembenahan diri dan sarana bersyukur
Tak hanya sebagai bentuk ketakwaan, salat, dzikir, dan membaca Alquran ternyata juga bisa memberikan ketenangan hati serta pikiran. Kita bisa berkeluh kesah secara aman, memanjatkan doa, juga bersyukur secara nyata atas keberkahan-keberkahan yang kita dapatkan sehari-hari.
''(Yaitu) orang-orang yang beriman dan hati-hati mereka menjadi tenteram dengan berdzikir (mengingat) kepada Allah. Ingatlah, hanya dengan berdzikir (mengingat) kepada Allah-lah, hati akan menjadi tenteram'' (Ar Ra’d 13 : 28).

Terus belajar hal baru setiap hari
Entah itu lewat buku, Instagram Live, atau webinar yang makin menjamur selama pandemi ini. Kesempatan emas bagi Urban Mama yang kesulitan menitipkan anak untuk keperluan di luar rumah, namun sangat ingin terus menambah ilmu.

Cari bantuan ketika diri belum bisa berfungsi normal
Misal, Urban Mama sedang lagi terbebani karena merasakan dominasi emosi tertentu. Bantuan utama saya tentu suami tercinta. Tapi, ada kalanya suami belum bisa membantu. Saya pun mencari orang-orang terpercaya yang bisa menjadi tempat curhat secara personal. Misal, orang terdekat atau psikolog (konsultasi secara daring). Hindari curhat di forum daring karena akan membingungkan kita mengingat tiap kepala memiliki pemikiran dan nilai-nilai hidup yang beragam.

Tips di atas sebenarnya pengingat bagi saya pribadi agar bisa sehat mental menjalani peran sebagai ibu rumah tangga selama pandemi. Mental yang sehat sama pentingnya dengan fisik yang sehat. Pasalnya, anak sangat membutuhkan perhatian khusus dari sang ibu terutama di tahun-tahun pertama kehidupannya. Tentu kita ingin meninggalkan kesan positif dalam ingatan buah hati. Karena itulah, kita perlu berusaha menyehatkan mental agar bisa menjalankan peran sepenuh hati sepenuh diri.

 

0 Comments

Post a Comment

You must be logged in to post a comment.