Mainan Baru Bukanlah Obat Sedih

Veronica Sri Utami Always love the journey of being mother, she is a fulltime mother – for Lintang and Sekar - and parttimer of everything, from "tukang ojeg"-nya Lintang, writer to lecturer. Already have two books being published until now, “We are Good Mothers”, (Galang Press, 2010) and “Recharge Your Life”, (Grasindo 2016), and (hope) still more to come

“Lintang lagi pengin mainan apa sekarang?” tanya si Bapak di Sabtu pagi - sekitar 2 tahunan lalu, ketika Lintang belum terlalu besar.

Pertanyaan macam begini – menawarkan untuk membelikan mainan – sebenarnya amat sangat jarang kami lontarkan kepada Lintang si kecil kami ini. Bukannya tidak sayang anak loh ya, tetapi memang mungkin pilihan kami untuk tidak terlalu membiasakannya dengan “hadiah mainan”. Itu alasan pertamanya.

Alasan keduanya adalah karena Lintang juga kelihatannya nggak terlalu ‘mainan addict’ begitu. Tidak pernah ada cerita dia sampai guling-guling di lantai mall menangis teriak-teriak karena minta dibeliin sesuatu sampai dilihat orang-orang. Kalau menarik-narik tangan kami minta lihat mainan kapal terbang yang diterbangkan pakai remote sama abang penjualnya sih pernah. Atau kadang minta berhenti lebih lama buat melihat mainan kuda-kudaan yang bisa jalan sendiri – pakai tenaga batere, tentu saja – mengelilingi sebuah tiang kayu, atau minta lihat mobil-mobilan keren dengan lampu warna-warni. Tetapi tidak pernah minta.

topi_bajaklaut

Pun, kalau kami melihat dia sangat tertarik, lalu ditanya apakah Lintang perlu mainan itu? Setelah menimbang-nimbang, biasanya Lintang akan menjawab, “Nggak deh Bu. Kayanya nanti aku juga bakalan bosen cuma lihat mobilan jalan sendiri begitu”. Jadi oleh kami, cukuplah dia diberi waktu lebih untuk menikmati mainan itu, yang lagi dimain-mainin ama abang penjualnya, lalu ketika sudah puas ya sudah, perjalanan dilanjutkan. Tapi itu tidak berarti Lintang tidak punya mainan ‘pabrik’ sama sekali. Ada om, tante, pakdhe dan budhe-nya Lintang yang baik hati dan juga sering kasih hadiah mainan buat Lintang. Alasan lainnya, anak ini memang sukanya asyik utak-atik sendiri, menuntaskan imajinasi di otaknya yang menumpuk-numpuk tidak ada habisnya di otak. Jadi rasanya dia lebih sering bikin mainan sendiri sesuai dengan keinginannya. Mulai dari topeng-topengan kertas buatan sendiri, aneka kardus yang jadi bentuk robot, barongsay, boneka anjing, mesin cuci, bahkan mesin tiket parkir!

topeng_gajah

Jadi, mengapa di hari itu, si Bapak “melanggar kebiasaan” dengan menanyakan Lintang mau mainan apa?

Begini ceritanya…

***

Jadi, “pelajaran” apa yang saya dapat di hari itu?

Saya diingatkan bahwa anak, sepintar apapun kelihatannya – yang kadang membuat kita lupa kalau dia masih anak-anak – ada kalanya anak tak tahu bagaimana caranya melakukan sesuatu. Dan adalah tugas orang tua untuk mengajarkannya.

Dalam kasus ini, Lintang perlu diajari cara menghadapi kesedihan. Dan itu tidak sama dengan “menggantikan” kesedihannya dengan sesuatu yang (mungkin kita kira) akan membuatnya senang. Contohnya, seperti mainan baru.

Dimulai dengan memberi tahu Lintang bahwa yang dirasakannya itu bernama kesedihan.

Kami tidak menyalahkannya untuk merasa bersedih.  Anak kecil, ingin ikut bapaknya pergi tugas yang jauh dan lama, wajar 'kan? Tak perlu ada bentakan, atau kemarahan karena tangisannya minta ikut pergi.

Karenanya, yang perlu diajarkan juga padanya adalah bahwa dalam kehidupan ini, seringkali realita memang tak sejalan dengan keinginan. Itu akan terjadi selalu dan selalu sepanjang hidupnya. Kita, sebagai orangtua, tentu harus menyiapkan dia untuk menerima realita tersebut, dan bisa menghadapinya dengan lebih baik di masa depan.

Selanjutnya, adalah memberinya tuntunan, langkah demi langkah, cara menghadapi kesedihan. Di sinilah ide-ide kegiatan “asyik” tadi berperan. Di hari pertama, saya dan Lintang menghabiskannya di taman di atas mall di dekat rumah, menikmati pohon, air mancur, pemandangan dan sebagainya di sana. Hari kedua kami asyik membuat mainan “perjalanan” truk besar mengangkut sampah-sampah dari komplek-komplek perumahan yang diangkut ke Tempat Pembuangan Akhir, yang di depannya kami buatkan sebuah warung bakso kecil, sehingga si sopir truk bisa makan bakso sampai kenyang setelah selesai mengangkuti sampah orang-orang komplek perumahan.

Dan di hari-hari berikutnya, Lintang sudah tak perlu lagi dibuatkan kegiatan asyik. Dia sendiri sudah asyik bikin gunung dan lembah pakai bantal-bantal di kamar untuk perjalanan truk versinya, dan sebagainya, dan sebagainya. Tentu saja – di balik segala keasyikannya itu – Bapak tidak akan terlupakan. karena tiap hari selalu ada sesi video call via LINE sama si Bapak. Dan tak terasa, datanglah hari ke lima, si Bapak kembali ke rumah. Dan kami semua bahagia.

13 Comments

  1. avatar
    Leila Niwanda December 22, 2016 10:37 am

    Duh, pe-er banget ini, nih. Kadang masih suka ambil shortcut soalnya, mengingat anak-anak terutama yang pertama kadang kelihatan murung kalau ayahnya yang lagi kuliah di kota lain lagi nggak pulang sesering biasanya. Akhirnya keluar deh simpenan mainan atau buku yang sudah dibeli yang sebelumnya masih diumpetin dulu. Ikut belajar, yaaa...

    1. avatar

      As .



  2. avatar
    Honey Josep December 20, 2016 6:04 pm

    Lintang, Darren juga sama lho seneng aja liat mainan tapi gak pernah merengek... kesukaannya membaca dan menggambar sketsa!

    Tfs mama Veronica :)

    1. avatar
      Veronica Sri Utami December 20, 2016 8:01 pm

      Gambar sketsa? Wow, keren Darren! Lintang juga suka nggambar tuh!

      1. avatar

        As .



    2. avatar

      As .



  3. avatar
    Retno Aini December 20, 2016 3:23 pm

    Setujuu mba Veronica... mengajarkan anak buat identify, dealing & menerima kondisi yang mereka nggak suka mmg lbh bermanfaat ya... seperti yg mba Veronica bilang, biar anak belajar kalau realita kadang tak sejalan dengan keinginan & gmn caranya how to deal with it secara sehat. Terima kasih utk sharingnya ya mba Veronica, mengingatkan saya akan salah satu tugas besar jadi orangtua. Lintang, itu topi & topeng gajahnya keren! :D

    1. avatar
      Veronica Sri Utami December 20, 2016 7:59 pm

      Mau dibikinin topeng juga tante Aini?? *jadi inget dulu pernah ada masa Lintang suka banget bikin topeng, sampai "menerima pesanan" dari temen2nya, hehehe...

      1. avatar

        As .



    2. avatar

      As .



  4. avatar
    Pryta Aditama December 20, 2016 12:55 am

    Lintang seru banget mainnya!
    Setuju banget mbaaaa.. Anak-anak memang mesti dibiasakan menghadapi kesedihannya yaa.. Kalau tiap sedih mesti diobatin pakai mainan, bisa tekor dong emaknya, hahaaa..
    Thanks for sharing ya mba Veronica.. :)

    1. avatar
      Veronica Sri Utami December 20, 2016 7:56 pm

      Sama2 mbak Pryta... Iya betul, bisa tekor.. Untungnya lintang sukanya utak atik bikin mainan sendiri, ngirit, hihihi...

      1. avatar

        As .



    2. avatar

      As .



  5. avatar
    Eka Gobel December 19, 2016 12:07 pm

    Toss nih sama enzo & dante. Mereka juga kalo lagi sedih lebih suka "disayang2", diajak ngobrol sambil dipeluk2, belai2, pijet2. Kalau bikin2 mainan, itu lain lagi kasusnya. Pasti deh kalau lagi kreatif bikin2 mainan gitu, moodnya lagi bagus. Sedangkan kalo dibelikan mainan, biasanya ikut mood mama papanya aja, tergantung budget juga. Kalau lagi pgn beliin mainan ya beliin aja, dan mereka juga biasanya happy2 aja kalau dibelikan mainan. Hehehe who doesn't?

    1. avatar
      Veronica Sri Utami December 19, 2016 10:20 pm

      Hai Enzo n Dante! Toss!!

      1. avatar

        As .



    2. avatar

      As .



Post a Comment

You must be logged in to post a comment.