Sekolah Online, Apa Saja Pengalamanku sebagai Orangtua?

Imelda Sutarno A working mom with two gorgeous krucils. Suddenly love the outdoor recreations as an impact of married with her scuba diver husband, Bambang. Take the kids from beach to the hill, from forest to the waterfall, will always give her (and her husband) joy and enthusiastic. Cooking isn’t her middle name but always trying to give her family the best food that she can. Now she lives in Jakarta.

Di tengah pandemi yang belum kunjung usai ini, apakah Urban Mama masih tetap semangat mendampingi anak-anak sekolah online?

Pembelajaran Jarak Jauh/PJJ (sekolah online) memang membuat kita sebagai orangtua dan anak, mau tidak mau beradaptasi dengan segenap hal yang mendukung dan memperlancar terselenggaranya kegiatan tersebut. Jika selama ini anak secara fisik berada di sekolah, dan kita tidak pernah tahu bagaimana detail menit per menit yang mereka lalui dalam kelas, nah sekarang kebalikannya. Kita sebagai orangtua jadi terlibat full dan mengetahui apa saja yang terjadi selama kegiatan pembelajaran.

Berikut adalah beberapa hal yang saya rangkum dari pengalaman pribadi selama mendampingi anak PJJ mulai bulan Juli hingga saat ini:

1. Mengenal karakter para guru
Setiap hari kedua anak saya PJJ dengan metode Google Meet. Berlangsung mulai pukul 07.00 WIB hingga 10.00 WIB dengan beberapa kali istirahat. Saya ikut mendengarkan bagaimana tiap-tiap guru bergantian menjelaskan materi pelajaran. Ada guru yang kreatif, ada pula yang karakternya flat saja sekadar mengejar target materi pembelajaran, ada yang fun, ada yang galak, ada yang penuh toleransi, dan lain-lain. Ada guru yang terpaksa mengajar sembari “diganggu” dengan aktivitas mengasuh anaknya yang juga melakukan PJJ di rumah, ada pula guru yang bisa leluasa menyampaikan materi tanpa distraksi apapun.

2. Disiplin tetap berjalan
Walaupun para guru tahu bahwa papa dan mama setiap siswanya mendengarkan pemaparan materi, guru tetap memberlakukan peraturan do’s and don’t’s selama Google Meet. Bukan berarti anak didampingi orangtua lantas guru menjadi segan dan sungkan.
Ada saja siswa yang melanggar. Guru tak segan menegur keras mereka di tengah pembelajaran, bahkan terpaksa mengeluarkan mereka dari Google Meet jika yang bersangkutan benar-benar tidak bisa dinasihati. Bukan hanya di kelas level tinggi ya, di kelas anak bungsu saya, yaitu kelas 2, wali kelas pernah beberapa kali secara tegas menegur anak yang tidak mau diam, tidak mau mute mikrofonnya, diakhiri dengan peringatan akan mengeluarkannya dari kelas virtual. Padahal anak tersebut tengah didampingi papanya saat PJJ.

3. Ada yang old school dan ada pula yang updateable
Terutama guru-guru yang sudah senior dalam hal usia ya. Mungkin mereka menemui kesulitan beradaptasi dengan sistem Google Classroom. Sehingga ini cukup merepotkan kami sebagai orangtua. Jika guru lainnya menggunakan sistem setor tugas, ulangan, pe-er via Google Classroom, beberapa guru senior menggunakan metode old school, yaitu meminta siswa japri hasil tugas via WA saja. Kami sebagai orangtua berusaha memaklumi walau sedikit lebih repot.


4. Mengenal karakter teman-teman anak
Kalau sekolah normal (offline) kita hanya mendapat laporan dari anak bagaimana perilaku dan sikap teman-teman mereka selama di sekolah. Nah dengan PJJ ini, kita dengan mudah melihat satu per satu karakter mereka, terutama terman yang sekelas. Ada yang super talkactive, ada yang berkebutuhan khusus, ada yang sensitif dan mudah menangis, ada yang selalu cuek saat guru menerangkan, ada yang annoying, ada yang super pendiam dan jarang bersuara saat PJJ dan masih banyak lagi. Selain itu kita jadi tahu mana anak-anak yang rajin dan patuh mengumpulkan tugas, mana yang selalu abai/cuek dan selalu diingatkan berkali-kali oleh guru pada saat Google Meet.

5. Memahami kurikulum pelajaran anak
Saya dulu pernah menulis tentang mengapa saya masih rajin membuat sendiri soal latihan untuk anak-anak? Padahal dengan segenap fasilitas dan kecanggihan teknologi, banyak cara yang lebih mudah untuk menyajikan latihan soal.
Ikut memahami isi kurikulum yang diajarkan pada anak. Itulah alasan utamanya. Saat PJJ, guru menerangkan, saya pun ikut belajar. Jadi mengetahui apakah materi yang diajarkan mudah atau susah. Jadi paham bahwa untuk anak kelas 5 SD misalnya, sudah dituntut untuk paham tentang titik koordinat sumbu X dan Y, tentang sistem peredaran darah dan sistem pencernaan pada makhluk hidup, materi-materi yang zaman saya sekolah dulu, baru didapatkan saat kelas 1 SMP. Wah, tinggi juga ya target Pemerintah pada kurikulum 2013 ini.

6. Bonusnya, lihat yang lucu-lucu menghibur
Ada-ada saja kelakuan anak-anak yang bikin tersenyum. Mungkin karena belum terbiasa on off kamera, pernah ada anak yang selama guru menjelaskan, ia terlihat tertidur pulas di sofa rumahnya. Teman-temannya langsung tertawa dan melapor ke guru. Ada pula yang saat istirahat malah memamerkan kucing peliharaannya di kamera. Lalu ada pula yang dengan polos selalu melapor lewat mikrofon jika ia ketinggalan penjelasan guru karena baru saja buang air besar (BAB). Ada yang mematikan mikrofon tapi kameranya on dan ia asyik bernyanyi dan joget tiktok padahal guru sedang menjelaskan. Macam-macam deh.

Mungkin Urban Mama lain memiliki pengalaman yang berbeda dari saya. Karena metode dan tools pembelajaran di sekolah anak yang boleh jadi juga berbeda.

Pada intinya, sekolah online memang membutuhkan banyak toleransi dan adaptasi dari semua pihak. Dan kita pun sewajarnya menurunkan standar. Sudah tidak berharap banyak dengan kompetisi akademik antar anak sebagaimana sekolah offline saat normal. Banyak pengecualian dan pengurangan di beberapa aspek pembelajaran yang perlu kita maklumi bersama. Yang paling penting, sekolah online membuat anak kita safe and secure selama pandemi masih berlangsung. Sebagai penutup, mari tetap berdoa ya Urban Mama, semoga pandemi segera berakhir, agar kita semua bisa menjalani hidup normal kembali. Amiin…. 

Related Tags : ,,

0 Comments

Post a Comment

You must be logged in to post a comment.