Sekolah Tanpa Golongan

Awalnya, saya dan suami sepakat untuk tidak menyekolahkan Ayesha sejak usia dini. Kami berencana sekolahnya akan dimulai dari playgroup atau malah TK A.

Kami beralasan:


  1. Ayesha mempunyai banyak teman sebaya di kompleks kami. Jadwal bersosialisasinya dengan teman-teman adalah pagi dan sore setelah mandi.

  2. Biaya sekolah untuk anak usia lebih dini ternyata lebih mahal dibandingkan untuk usia di atasnya. Dana pendidikan yang kami siapkan cukup untuk digunakan ketika dia masuk playgroup, sedangkan sisa tabungan yang ada sedang kami prioritaskan untuk membeli rumah. Kebetulan saat itu kami masih tinggal bersama orangtua saya.


Namun pada pertengahan tahun 2009, saya mendapat informasi bahwa akan dibuka Pos PAUD di kompleks kami. Ini adalah program pemerintah kota untuk menyelenggarakan pendidikan anak usia dini yang disubsidi penuh oleh pemerintah kota sehingga gratis, dan terbuka untuk umum. Program ini mewajibkan setiap kelurahan untuk mempunyai minimal satu Pos PAUD.

Kebetulan Pos PAUD di kelurahan saya lokasinya tepat di depan rumah. Namanya Pos PAUD Permata Hati. Ada sekitar 90 anak yang mendaftar, berasal dari RT sekitar dengan berbagai macam latar belakang pekerjaan orangtuanya, baik dari sektor formal maupun informal. Kegiatan sekolah dilakukan sekali seminggu selama dua jam pada hari Minggu pagi. Tenaga pengajarnya terdiri dari empat guru yang juga berlatar belakang pendidikan di lembaga formal. Jadi walaupun gratis, tidak asal comot ya!

Ayesha, yang saat itu berusia 1,5 tahun, tidak menemui kendala ketika pertama masuk. Pelajaran diawali dengan berdoa bersama-sama, menyanyikan mars Pos PAUD Permata Hati, dilanjutkan dengan senam irama bersama-sama. Setelah diselingi rehat, pelajaran pun dilanjutkan. Setiap pertemuan biasanya berisi 1 materi pelajaran. Misalnya hari ini mewarnai, minggu depannya menempel gambar, kemudian minggu lusa mengenal warna/bentuk, menyusun puzzle, membentuk plastisin, bahkan juga bercerita.  Pada akhir bulan ada kegiatan makan bersama, yang didukung oleh ibu-ibu PKK setempat.

Beginilah awal kegiatan belajar pada bulan-bulan pertama Pos PAUD dibuka:


Mengenakan pakaian bebas rapi


Belajar dilakukan dengan duduk di lantai

Pada tahun berikutnya, jadwal pertemuan ditambah menjadi dua kali seminggu. Materi pelajaran jadi makin beragam seiring dengan bertambahnya sarana dan prasarana penunjang. Buku-buku cerita, alat permainan edukatif, perlengkapan alat tulis, pensil warna, bahkan tempat bermain anak.


Para murid sudah berseragam


Ada meja dan kursi untuk proses belajar


Tempat bermain

Rapor perkembangan anak dibagikan pada tiap akhir semester. Jangan salah lho, ijazah Pos PAUD ini sudah diakui oleh Dinas Pendidikan dan dapat digunakan untuk mendaftarkan anak ke TK A.

Tahun ajaran lalu adalah tahun terakhir Ayesha bersekolah disini karena kami sudah pindah ke rumah baru yang letaknya berbeda kecamatan. Sekarang Ayesha sudah bersekolah di playgroup dekat rumah.

Saya pribadi tidak pernah malu menyekolahkan anak saya di Pos PAUD. Justru saya malah senang karena sebenarnya uang yang sudah saya bayar kepada negara (baca: pajak) dimanfaatkan untuk pendidikan semua anak usia dini tanpa batas.

10 Comments

  1. avatar
    Lina November 13, 2012 3:06 pm

    hmmm...di lingkungan tempat saya tinggal banyak sekali anak2 yg berusia dibawah 4 tahun...dan tidak ada PAUD ataupun PG...Saya sendiri bingung, karena untuk masuk ke suatu PG itu mahalnya minta ampun, dan lokasinya jauh dari rumah,saya berharap setelah saya resign nanti saya ingin sekali mengadakan PAUD Gratis, mungkin pertama2 saya akan menggunakan Balai Pertemuan di lokasi dekat rumah...

    1. avatar

      As .



  2. avatar
    annisa lucky carolina July 6, 2012 5:54 pm

    dulu anakku juga ikut paud. suatu kali aku ambil cuti kerja utk anter dia skul.
    ternyata...di paud itu ramainya minta ampun. 1 ruangan dipakai utk 2 kelas dan tdk ada pembatas. dan guru yang mengajar suara nya kecil, kalah dengan suara riuh anak2. belum lagi suara ibu2 yang ikut nungguin. Plus, mainannya cuma ada 3, jd hrs antri.
    Kasihan anakku, setiap pulang skul lsg tepar tp ga dpt apa2 dr paud nya.
    Akhirnya kami putuskan utk memberhentikannya sementara. Dan insyaallah thn ini sdh bs msk TK.

    1. avatar

      As .



  3. avatar
    neena_aime April 7, 2012 4:33 pm

    @ eka: Aku juga enggak maksa Ayesha buat masuk paud. Tapi ternyata dia mau, ya udah, toh disana juga dia banyak mainnya :-))

    @ teta : Sayang banget ya :(

    @ bundanya Bitha : di pos paud ini Ayesha lebih banyak mainnya kok daripada belajar

    @ mama kira - kara : semoga ketemu yang sesuai ya

    @ bundanya Farah : kebetulan di pos paud ini emang enggak ada batasan usia bund, asal belum masuk TK A

    @ fanny : errr, kapan ya????

    @ raudah : wah, kreatif bangeetttt ngajarin naya di rumah

    1. avatar

      As .



  4. avatar
    Raudah April 5, 2012 1:30 pm

    dekat rumah saya jg ada PAUD, tapi syaratnya minimum umur 2 thn. Naya skrng baru 16 bulan. Udah gak sabar sebenarnya pengen masukkan naya ke PAUD. Akhirnya saya ajarkan dirumah dl, spt permainan puzzle, belajar warna & bernyanyi.

    1. avatar

      As .



  5. avatar
    Fanny Hartanti April 4, 2012 9:35 pm

    wahh kereeen..
    semoga suatu hari nanti, sekolah di Indo gratis terus sampai minimal SMA yah!!!

    1. avatar

      As .



Post a Comment

You must be logged in to post a comment.