Trihita Alam Eco School

Tidak ada kurikulum standar tertentu yang diikuti. Tidak ada buku pelajaran yang dipakai. Tidak ada AC di kelas. Bahkan tidak ada lantai keramik. Nyatanya, Jojo sudah hampir menyelesaikan tahun keduanya di preschool ini. Dan ia sangat menikmati setiap menitnya.

Trihita Alam Eco School adalah sekolah berbasis alam di jantung kota Denpasar, Bali. Sesuai namanya, sekolah ini mengikuti tiga prinsip dasar warga Bali yakni Trihita Kirana (hubungan dengan Tuhan, hubungan dengan sesama, dan hubungan dengan alam) dan mengangkatnya ke pemahaman yang baru di dunia pendidikan. Pendidikan difokuskan kepada karakter unik setiap anak, tanpa usaha menjadikan pendidikan sebagai produk masal yang standar. Pelajaran dilakukan dengan play-based learning, belajar sambil bermain dan menggunakan bahan-bahan daur ulang ataupun unsur-unsur alam.

Tempat nongkrong orang tua dan memberi makan ikan

Play-based learning

Kata “edukasi” (pendidikan) berasal dari bahasa Latin “educare” yang berarti “to bring out what is within” alias membawa keluar apa yang berada di dalam. Namun kenyataannya, banyak sekali sekolah yang mempraktikkan pendidikan dengan menjejalkan ilmu dari luar ke dalam kepala murid. Pada masa-masa emas balita, sungguh penting untuk membentuk pola belajar yang aktif dan menyenangkan, dengan tujuan memicu hasrat untuk terus ingin tahu dan menemukan hal-hal baru. Di Trihita Alam, tidak ada sesi duduk diam dan menghafal huruf atau angka. Tidak ada sesi belajar menulis atau tracing huruf. Anak-anak belajar alfabet dari lagu, sambil menari dan melompat. Mereka belajar angka dari permainan treasure hunt, berburu batu-batu yang ditulisi angka 1-100 dan disembunyikan di seluruh penjuru sekolah. Mereka belajar tracing menggunakan batu kerikil dan kapur di lantai kelas yang terbuat dari terakota. Daun, batu, kerang, kertas bekas, semua bisa menjadi alat bantu belajar atau permainan. Belum pernah saya melihat anak TK begitu semangat belajar tentang siklus hidup ulat sampai menjadi kupu-kupu – dengan membuat sendiri bagan siklus itu dari gambar-gambar yang ditempel ke karton bekas!

 

Dekat dengan alam

Setiap hari murid-murid disambut oleh burung merpati yang bertengger di halaman. Anak-anak usia 18 bulan - 6 tahun menyaksikan kelahiran dan pertumbuhan kelinci peliharaan sekolah, memberi nama, dan bergantian mengelus mereka. Bagi Jojo, hari sekolah belum lengkap kalau ia belum memberi makan ikan dan ayam di sekolah. Bila cuaca bagus, mereka bisa piknik di halaman sambil bergantian belajar menulis atau menggambar di ketiga papan tulis yang diletakkan di bawah pohon rindang. Ruang kelas terbuat dari bale bertanah terakota, boleh kotor dan boleh berantakan. Lantai kelas sering menjadi media belajar, kipas angin dan langit-langit menjadi tempat menggantungkan aneka kreasi yang sesuai dengan tema belajar bulan itu. Anak-anak sering piknik di rumput sambil makan camilan atau mengidentifikasi tanaman dan hewan. Saya dan para orangtua lain menemukan bahwa sejak bersekolah, anak-anak jadi jarang sakit. Udara segar dan sinar matahari memang sangat membantu mengurangi kemungkinan sakit dan masalah alergi.

Anak yang aktif adalah pelajar yang antusias

Coba amati, apakah anak kita tersenyum atau merengut saat pulang dari sekolah? Terkadang Jojo tertawa lebar dan berkata bahwa ia sangat senang di sekolah. Tapi terkadang ia merengut juga karena merasa masih ingin lebih lama di sana. Kok, dulu saya bermalas-malasan ke sekolah dan selalu ingin cepat-cepat pulang ya? Jelas saja, di sekolah Jojo ada begitu banyak aktivitas yang bisa dilakukan. Sesi yoga, kelas musik menggunakan blok kayu dan botol kaca untuk belajar ritme, hastakarya dari bahan-bahan daur ulang, meluncurkan perahu dari batang pisang ke sungai kecil di sekolah, panen tanaman kacang, bermain layang-layang, dan masih banyak lagi. Semua aktivitas ini mengandung unsur pembelajaran di dalamnya. Anak yang aktif bergerak, neuron-neuron di otaknya akan lebih “menyala”, mereka senang dan bersemangat. Dalam kondisi inilah terjadi proses belajar dan penyerapan ilmu yang terbaik. Apa sih artinya baju seragam kena noda, sepatu kotor, badan berkeringat?

Tanpa kurikulum?

Sekolah ini tidak mengikuti kurikulum tertentu. Pendiri sekolah ini, Ibu Wanty Siregar, yang telah berkecimpung selama puluhan tahun di dunia pendidikan, merancang program pendidikannya sendiri secara organik dan menyenangkan. Artinya, program pendidikan bisa disesuaikan dan berkembang kapan saja – mengikuti minat dan kecepatan belajar para murid. Tiap bulan ada tema seperti Ocean Life, The Earth, Insects dan lain-lain. Belajar calistung terlalu awal tidak dianjurkan di sini, tetapi lumayan rutin diadakan field trip untuk mempraktikkan pelajaran secara langsung. Baru-baru ini seluruh murid pergi ke pantai untuk melakukan beach clean-up, identifikasi unsur-unsur pantai dan mengumpulkan kulit kerang bagi hastakarya sekolah. Seru sekali melihat wajah-wajah kecil bertopi, dengan serius memunguti sampah dan berteriak senang melihat kepiting kecil. Walaupun tidak berkiblat pada sistem pendidikan ataupun kurikulum manapun, saat siswa-siswa cilik ini menyelesaikan pendidikannya di Trihita Alam, mereka akan sudah menguasai kemampuan dan ilmu yang diperlukan untuk masuk ke sekolah dasar - bahkan di beberapa subyek mereka sudah menguasai lebih dari yang diperlukan.

Yang saya suka, di sekolah ini juga diterapkan perilaku yang baik: anak-anak diajarkan untuk selalu menyapa Selamat Pagi, bilang Tolong dan Terima Kasih, belajar menunggu giliran, belajar membereskan mainan setelah bermain. Selain anak-anak, orangtua juga mendapat kesempatan belajar. Setiap bulan diadakan Parents’ Meeting di mana Ibu Wanty akan mengajarkan berbagai topik mengenai pendidikan dan pengasuhan anak, bahkan tentang daur ulang dan perlunya pola makan yang sehat dan alami. Banyak sekali manfaat yang bisa diambil oleh para orangtua dari seminar mini berkala ini. Pada saat pertemuan ini, para orangtua juga bisa mengamati perkembangan anaknya di sekolah melalui Progress Book, semacam kliping pribadi yang disiapkan oleh sekolah berisi hasil karya dan komentar guru-guru mengenai perkembangan setiap anak.

The True Green School

Being Green means being sustainable. Bukan hanya dalam lingkungan sekolah, tetapi juga ke komunitas sekitar kita. Alih-alih menjadi sekolah eksklusif dan tertutup, Trihita mempunyai visi untuk berbagi dan menularkan prinsip-prinsip pendidikan berdasarkan play-based learning ke lingkungan sekitar. Tahun ini Trihita Alam memulai inisiatif Trihita Peduli, untuk berbagi ilmu dan aktivitas bersama anak-anak usia prasekolah di daerah kurang mampu. Anak-anak yang bersekolah di Trihita Alam akan dikenalkan pada konsep empati, berdonasi dan berbagi. Juga telah diadakan Trihita Farmer’s Market di mana sekolah mengumpulkan petani buah dan sayur bebas pestisida, untuk mengenalkan pola hidup sehat kepada para orangtua sekaligus membina para petani. Manfaat bagi anak-anak adalah agar mereka bisa melihat dari mana makanan mereka datang, melihat bentuk mentah makanan dan sekaligus pengolahan makanan dasar. Semuanya terintegrasi dalam prinsip Holistic Learning, proses pembelajaran secara menyeluruh dan mendalam namun sesuai dengan minat dan kemampuan setiap anak.

Saya sendiri tumbuh dengan sistem sekolah konvensional dari tahun 80-an hingga akhir 90-an. Yang tersisa di otak saya adalah memori duduk dengan tangan dilipat, melihat guru memenuhi papan tulis dan kemudian menyalinnya di buku. Sampai di rumah, mengerjakan PR dan menghafal tulisan di buku. Sekarang saya menjadi orangtua, sungguh tidak ingin Jojo mengalami proses belajar seperti ini. Saya ingin Jojo mendapat kesempatan belajar yang menyenangkan dan selalu menggugah rasa ingin tahunya. Saya ingin ia berhasrat untuk belajar dan bereksplorasi, bukan karena terpaksa. Oleh karena itu, alangkah bersyukurnya saya saat Jojo bersekolah di Trihita Alam! Rasanya visi, misi dan konsep belajar-mengajarnya sungguh pas dengan apa yang saya inginkan. Saya undang para orang tua lain di Bali untuk merasakan indahnya bila anak kita belajar sambil bermain dengan riang gembira.

 

Trihita Alam Eco School
Jalan Tukad Badung gang XXV no. 80-88
Renon, Denpasar 80226 Bali
Tel. +62 857 3900 3298

16 Comments

  1. avatar
    Mia Aristanti August 18, 2016 1:09 pm

    Silakan kontak sekolahnya langsung ya untuk kisaran biaya :)

    1. avatar

      As .



  2. avatar
    Audya Shelvyana August 11, 2016 7:39 am

    hai mom..saya mau tanya hal sama dengan mba sitha karna sekarang saya lagi cari2 sekolah yang menyenangkan untuk anak saya. Kisaran biaya sekolah di Trihita ini berapa ya mom? terimakasih :)

    1. avatar

      As .



  3. avatar
    Sitha Mahendrata July 11, 2016 3:35 pm

    Mbak Mia, boleh tahu kira-kira berapa kisaran biaya sekolah disana ya? Trims...

    1. avatar

      As .



  4. avatar
    ezra regina March 27, 2016 7:06 pm

    di jakarta ada gak sekolah seperti ini ?

    1. avatar

      As .



  5. avatar
    Iva Nia September 27, 2015 11:55 pm

    Sayang sekolah ini hanya ada di bali,, semoga makin banyak cabangnya di indonesia bagian lain y.. tfs mom :-)

    1. avatar

      As .



Post a Comment

You must be logged in to post a comment.