Breastfeeding When Hospitalized

winda.reds

image credit: wisegeek.org

The greatest wealth is health.

Kita kadang melupakan pentingnya menjaga kesehatan. Karena ingin menjadi orang yang berhasil di berbagai aspek kehidupan: karier-rumah tangga-studi-sosial, tanpa sadar saya mengeluarkan 120% energi yang saya miliki setiap harinya.

Dimulailah malam-malam kurang tidur, pola makan yang mementingkan kuantitas ketimbang kualitas, jadwal-jadwal olahraga yang terlupakan, stres yang tidak terkelola dengan seharusnya, dan sederet kebiasaan tidak sehat lainnya. Tak jarang terbersit keinginan untuk memiliki 40 jam dalam 1 hari sehingga semua bisa tercapai dengan sukses.

Sampai akhirnya, saya pun terbaring lemah karena sakit, bahkan sampai harus rawat inap untuk menyembuhkan penyakit dan memulihkan total kondisi kesehatan dengan optimal. Saat itu saya mengalami dilema karena masih aktif menyusui, sementara stok ASIP terbatas atau bahkan kejar tayang.

Haruskah berhenti sementara menyusui? Bisakah anak saya mendapatkan ASI dengan kualitas baik selama saya dirawat dan tidak rewel selama saya tidak ada di sampingnya?

Beberapa bulan lalu harus dirawat inap di sebuah rumah sakit akibat terserang demam berdarah dengue (DBD). Berat hati saya menjalani ini, tetapi tekad saya untuk sembuh total menguatkan saya untuk terus maju. Saya juga berusaha untuk selalu menyediakan ASIP untuk dikonsumsi Aryo (saat itu menjelang 7 bulan) selama saya jauh darinya. Berikut tips-tips yang berhasil membuat Aryo tetap bisa minum ASIP meskipun saya sedang dirawat di rumah sakit.

1. Be prepared
Persiapkan semua perlengkapan menyusui yang kita perlukan untuk memompa ASI dan penyimpanan ASIP selama di rumah sakit. Mulai dari breastpump (pilih yang paling nyaman dan paling mudah dipakai), botol atau kantung penyimpan ASIP, kertas label bersama alat tulis, penutup menyusui, breast pad atau breast shells, container plastik (untuk menyimpan ASIP di dalam lemari pendingin), sabun cuci, sikat botol, penjepit botol, sterilizer atau termos air panas (jika tidak ada dispenser di dekat kamar perawatan), baskom (untuk mencuci), cooler bag atau cooler box, dan ice pack atau ice gel. Atur jadwal memompa ASI setiap 2-3 jam sekali untuk menjaga produksi ASI dan bila perlu minumlah suplemen menyusui dengan pengawasan dari dokter.

2. Keep them informed
Informasikan kepada para tenaga kesehatan mengenai kondisi menyusui kita agar tindakan yang diberikan tidak menghalangi proses menyusui. Dokter bisa memberikan obat yang memberikan efek seminimal mungkin kepada ASI kita. Perawat bisa membantu menyimpan ASIP di lemari pendingin rumah sakit, dengan catatan tidak tercampur dengan obat-obatan atau bahan kimia berbahaya. Aliran informasi dan komunikasi yang lancar mutlak diperlukan untuk memastikan semua langkah yang kita lakukan bisa bermanfaat.

3. Stay committed
Komitmen jadi kunci utama sukses menyusui, dalam kondisi apa pun. Saat kemampuan kita terbatas untuk melakukan ini, bantuan dari segala arah sangat diperlukan. Yakinkan keluarga dekat, mulai dari suami, keluarga kita, dan keluarga suami untuk membantu kita membuat proses menyusui berjalan mulus selama masa perawatan. Bagilah tugas secara rinci kepada mereka dan manfaatkan semua fasilitas serta peralatan yang kita miliki untuk memudahkan pekerjaan mereka. Papa bisa jadi kurir ASIP, Nenek dan Eyang menjaga si kecil untuk mengatur pemberian ASIP dan membuat moodnya selalu baik supaya tidak rewel. Tak lupa yang terpenting, komitmen kita untuk tidak menyerah di tengah jalan dan tetap tenang saat ada masalah kala proses menyusui mengalami kendala.

4. The back-up plan
Kendala dan masalah sangat mungkin untuk terjadi dalam proses menyusui ketika kita dirawat dan biasanya terjadi tanpa kita duga. Rencana cadangan sebaiknya kita siapkan untuk sekedar berjaga-jaga, ibarat sedia payung sebelum hujan. Beberapa hal yang bisa jadi pertimbangan, misalnya jasa kurir ASI untuk mendukung pengantaran saat suami berhalangan (ojek langganan juga bisa digunakan bila bisa dipercaya dan diandalkan), donor ASI sebagai cadangan jika ASIP yang kita hasilkan tidak mencukupi demand si buah hati (utamakan dari sumber yang jelas seperti teman, anggota forum atau asosiasi terpercaya), dan konselor laktasi yang bisa mudah dihubungi untuk konsultasi masalah-masalah darurat. Simpan nomor-nomor kontak mereka dan bagikan juga kepada pihak keluarga di rumah.

5. Power of being positive
Tetap berpikir, bersikap, dan bertindak positif sangat penting untuk selalu kita jalankan selama perawatan serta akan menjadi faktor keberhasilan penyembuhan-pemulihan kesehatan kita dengan cepat di samping melancarkan juga produksi dan pengeluaran ASI. Berilah tubuh asupan seoptimal mungkin dengan minum air 2-3 liter sehari, menghabiskan makanan dan minuman yang disediakan di rumah sakit serta menghindari mengkonsumsi makanan dan minuman dari luar yang higienitas atau kandungannya bisa saja tidak mendukung kesehatan kita. Banyaklah berdoa dan beribadah untuk menenangkan hati dan pikiran. Saat pikiran kita tenang, biasanya anak pun akan ikut tenang walaupun jauh dari mama tercinta.

Setelah pulih kembali, saya bertekad untuk mencoba hidup lebih bijaksana. Caranya, mengendalikan ambisi pribadi untuk jadi sempurna di semua aspek kehidupan. Ada kalanya kita harus memilih untuk membuat skala prioritas untuk setiap masalah yang sedang dihadapi dan menyelesaikan semua satu per satu. Saya yakin akan hidup lebih bahagia dan sehat lahir batin dengan cara seperti ini. Lebih baik mengorbankan waktu untuk tidak selalu jadi yang paling sempurna, daripada nanti menyesal telah mengorbankan kesehatan dan membayar harga mahal untuk berpisah dengan anak tersayang seperti apa yang saya alami sebelumnya.

7 Comments

  1. hestia
    Hestia Amriyani July 16, 2013 at 9:30 am

    Luar biasa perjuanganmu, Winda! Masih tetap berusaha memberikan ASI walaupun hospitalized. Salut! :)

  2. sapta
    sapta ningsih July 16, 2013 at 2:01 pm

    hebat mom Winda..setuju sama poin 2, memang penting untuk memberikan informasi kepada dokter dan tenaga kesehatan bahwa kita sedang menyusui di kala kita dalam pengobatan agar kita ttp bisa menyusui..

  3. suci ryzkya putri
    suci ryzkya putri July 16, 2013 at 3:12 pm

    TFS mom udah beri tips2 yang luar biasa. memang kesehatan anak itu no 1 ya mom….semuanya akan dikorbankan untuk anak

  4. winda.reds
    Winda PrasKrisna July 17, 2013 at 8:35 pm

    #Mama Hestia : Thx Mama. Alhamdulillah perjuangan yang nggak sia2 :)

    #Mama Sapta : Thx Mama. Bener banget Ma, adakalanya nakes perlu kita ingatkan juga tentang kondisi kita, apalagi di RS non Ibu Anak yang nakesnya belum tentu berpengetahuan banyak tentang ASI dan Busui.

    #Mama Suci : Thx Mama. Semoga bisa membantu para Mama yang senasib dengan saya waktu itu. Kita semua tentu ingin yang terbaik untuk anak, dalam kondisi apapun :)

  5. ipeh
    Musdalifa Anas July 22, 2013 at 4:18 pm

    Hari ini pun saya ngalamin hal yg sama mesti diopname di rs dan sayapun masih menyusui Yuna 4bulan. Setuju dgn pemamaparan mama winda di atas, kita harus tetap commit dan selalu berfikiran positif, kita pasti bisa menyusui kapanpun, dimanapun dan insya Allah dalam kondisi apapun :)

  6. umi farhat
    Yayu Romdhonah July 27, 2013 at 5:47 pm

    subhanallah, mom winda mmg luar biasa. Sehat selalu buat mamas semua.

  7. winda.reds
    Winda PrasKrisna July 28, 2013 at 1:09 am

    #Mama Ipeh : GWS ya Ma, semoga bisa cepet pulih n bravo buat tetep bisa kasih ASIX ke baby Yuna walaupun lagi hospitalized. Bisa menyusui anak itu anugerah luar biasa dan modal suksesnya ya positive mind itu :) Salam buat baby Yuna xoxo..

    #Mama Yayu : Terima kasih Ma, amiiin semoga kita semua selalu sehat supaya bisa maksimal kasih yang terbaik buat si kecil :D

Post a Comment

You must be logged in to post a comment.