Hamil Setelah Operasi Leher Rahim

evimariani

Apa yang terjadi jika hasil pap smear positif dan sebagian leher rahim harus dibuang? Bisakah kita hamil? Kalau bisa, apakah ada risikonya?

Ini pertanyaan-pertanyaan yang muncul setelah saya menerima hasil pap smear positif dari klinik kesehatan di universitas di Amerika Serikat, ketika saya menjalani fellowship pada tahun 2012. Waktu itu usia saya 36 tahun, saya dan suami sudah membicarakan lepas kontrasepsi. Sebelum hamil, saya ambil tes pap smear dulu karena saya pernah punya riwayat infeksi HPV di tahun 2005. Waktu itu sel abnormalnya masih sebatas ‘mild‘ atau istilah teknisnya CIN I dan ternyata bisa hilang sendiri. Lalu saya lalai, setelah 2007 tidak pernah periksa lagi, karena malas dan takabur. Keputusan yang salah meski masih untung belum jadi kanker. Hasil tes pap smear saya di tahun 2012 tersebut menunjukkan ‘moderate to severe dysplasia’ atau CIN II/III.

Dari rekomendasi dokter di Amerika, saya harus operasi leher rahim dengan metode loop electrosurgical excision procedure (LEEP), karena kalau dibiarkan akan ada kemungkinan sel abnormal ini berkembang menjadi sel kanker leher rahim (cervical cancer). Inti dari operasi ini adalah membuang sebagian leher rahim yang mengandung sel abnormal. Seberapa banyak yang dibuang sangat tergantung pada persebaran sel abnormal, usia serta apakah pasien berencana punya anak atau tidak.

Saya menginformasikan kepada dokter kandungan yang menangani saya bahwa saya belum punya anak dan berencana punya satu anak. Dokter Sundaram yang menangani saya mengatakan bahwa dia akan mengambil sesedikit mungkin bagian dari leher rahim karena kalau diambil terlalu banyak khawatir leher rahim saya akan terlalu tipis, sehingga tidak kuat menahan bayi saat hamil.

Operasinya sendiri termasuk operasi kecil, jadi meski anestesi total namun saya tidak perlu menginap. Prosedurnya memakan waktu kurang dari sejam. Setelah dibius total saya tidak ingat apa-apa sama sekali dan ketika terbangun, LEEP sudah selesai dan saya sudah di luar ruang operasi. Setelah mengurus administrasi dan sebagainya, saya diizinkan pulang dan disarankan bedrest seharian untuk menghindari perdarahan.

Beberapa hari kemudian saya ditelepon oleh dokter untuk diberi tahu hasil lab dari pemeriksaan bagian leher rahim yang diambil. Ternyata kabar agak buruk, karena dr. Sundaram tidak berani mengambil terlalu banyak (hanya ketebalan kurang dari 1 cm) maka ada kemungkinan masih ada sel abnormal yang tertinggal. Saya diminta kembali beberapa minggu kemudian, untuk diambil sampel lagi ketika luka operasi sudah sembuh. Untungnya hasil menunjukkan leher rahim bersih dari sel abnormal. Syukurlah, tidak perlu LEEP lagi. Tetapi dokter mengatakan bahwa saya harus menunggu sekurangnya tiga bulan sebelum hamil untuk memberi waktu pada leher rahim agar pulih sepenuhnya.

Saya kembali ke Indonesia dan setelah tiga bulan sesudah operasi saya datang ke dokter kandungan di RS Gandaria, dr. Achmad Mediana SpOG. Saya ceritakan duduk perkaranya dan bertanya: boleh hamil nggak, dok? Ya sudah 3 bulan kan? Ya boleh lah, kata dr. Achmad, tapi ibu perlu tahu risikonya. Dokter kemudian menjelaskan bahwa ada kasus di mana hormon kehamilan menyebabkan sel abnormal muncul lagi dan ada yang sampai menyebar ke rahim. Akibatnya begitu anak lahir, rahim harus diangkat. Ibu siap? Saya bilang, ya kalau sudah ada anak satu ya tidak apa-apa, wong memang saya dan suami maunya cuma satu.

Tidak lama setelah buka kontrasepsi, saya hamil.

(gambar: www.freedigitalphotos.net)

Selain konsultasi ke dokter Achmad, saya juga rajin googling di forum forum parenting luar negeri, tentang pregnancy after LEEP. Pengalaman ibu-ibu lain membesarkan hati saya, banyak yang hamil sesudah LEEP dan lancar-lancar saja. Tapi memang ada dua hal yang mungkin terjadi sebagai akibat dari LEEP, yaitu incompetent cervix, di mana risikonya adalah bayi lahir prematur. Kedua adalah masalah dengan bukaan leher rahim ketika melahirkan dengan cara normal. Bayi lahir prematur karena leher rahim yang tipis, sementara masalah bukaan terjadi karena bekas luka operasi di leher rahim membentuk semacam jaringan ikat (scar tissue) yang menyebabkan leher rahim sulit membuka. Jadi ada beberapa kasus di mana ibu-ibu bertahan di bukaan 4, misalnya, sehingga akhirnya harus menjalani operasi caesar. 

Saya konsultasikan temuan saya pada dokter Achmad dan beliau memeriksa leher rahim saya. Dokter Achmad mengatakan aman dan masih cukup (tetapi saya lupa waktu itu berapa cm). Nah soal bukaan susah ini dokter Achmad menyarankan sebaiknya dioperasi caesar, tetapi kalau mau coba normal dulu ya silakan.

Pada akhirnya anak saya lahir full-term melalui operasi caesar, tepat pada hari perkiraan lahirnya karena saya tidak kunjung kontraksi bahkan Braxton-Hicks saja tidak. Jadi saya tidak tahu juga sih, kalau normal apa benar saya sulit bukaan. Bisa jadi tidak ada kontraksi pun karena jaringan ikat bekas luka membuat leher rahim saya tidak mengalami bukaan. Mungkin saja.

Enam bulan setelah melahirkan, saya pap smear lagi. Syukurlah masih bersih. Tapi tidak menutup kemungkinan muncul lagi, sebab si virus mungkin saja masih bercokol di tubuh saya. Untuk kontrasepsi, dokter Achmad menyarankan pil karena riwayat LEEP saya tidak cocok untuk IUD. Baru-baru ini saya ke dokter lain dekat rumah untuk tes pap smear dan konsultasi. Dokter yang ini menyarankan metode kontrasepsi kondom dan jangan pil karena meningkatkan risiko dysplasia. 

Untuk tes pap smear terakhir, saya belum ambil hasilnya. Semoga aman. Meskipun begitu, saya bersyukur bahwa kehamilan saya lancar meski leher rahim sempat dioperasi. Urban mama yang mengalami kasus serupa ini, jangan takut dan semoga ini menjadi pengingat untuk para mama agar rajin tes pap smear ya.

10 Comments

  1. ZataLigouw
    Zata Ligouw November 4, 2014 at 6:33 am

    Evie, makasih banget atas sharing-nya, berguna banget dan membuat kita semua lebih waspada.
    Alhamdulillah ya sudah ada anak satu dan so far bersih, mudah2an akan terus begitu yaa, aminnn…

  2. ninit
    ninit yunita November 4, 2014 at 7:53 am

    vieee…
    deg2an banget deh baca artikel ini. duhh sehat2 selalu yaaa vie :) jadi tau deh ttg LEEP.

    alhamdulillah si kecil lahir dengan sehat. tks yah vie buat artikelnya, ngingetin buat rajin pap smear. semoga hasil pap smear yang terakhir aman2 yaa vie :) sehat selalu.

  3. Kira Kara
    Bunda Wiwit November 4, 2014 at 8:36 am

    aduuhhh… abis baca terasa ketampar… belum pap smear euuy. Semoga sehat-sehat terus semuanya yaa! :)

  4. dinadyabila
    dinadyabila November 4, 2014 at 9:50 am

    Para bunda, yuk pap smear, untuk pencegahan…-klo ada apa2 Tetepp kita sebagai wanita, ibu yg menanggungnya…saya pun Baru sekali kemarin ikuutan, itupun ada program PRODIA pap smear gratis menunjukkan jaamsosstek, atau bpjs..:)hasilnya nanti 2 minggu lagih..**semoga sehat..aamiin :)

  5. evimariani
    evimariani November 4, 2014 at 6:09 pm

    Moms, terimakasih ya. Kemarin sudah ambil hasil pap smear dan NEGATIF! Horeeee. Harus periksa lagi 6 bulan – 1 tahun lagi nih. Iya, bu ibu, rajin rajin periksa, supaya kalau ada apa apa bisa segera ditangani sebelum jadi parah.

  6. gabriella
    Gabriella Felicia November 5, 2014 at 10:40 am

    TFS ya mba… jadi pengingat juga untuk segera pap smear nih…

  7. hananafajar
    hanana fajar November 5, 2014 at 4:44 pm

    tfs ya mba..
    membaca ceritanya mba evie jadi ngingetin semua wanita untuk ga lupa menjaga kesehatan dan salah satunya dengan rajin tes pap smear..
    smoga mba evie sehat-sehat terus ya..

  8. rainiw
    Aini Hanafiah November 5, 2014 at 5:48 pm

    Wah kabar gembira ya hasil tesnya negatif. Smg sehat2 terus ya mba, thanks sdh berbagi sama para mama di TUM. jadi pengingat juga nih biar kita para mama rajin tes papsmear.

  9. cindy
    cindy vania November 8, 2014 at 12:14 am

    mba evie..semoga hasil tes pap smear terakhir negatif yaa..
    terimakasih juga sudah diingetin supaya tidak lupa untuk pap smear :)

  10. uswatunhasanah
    uswatunhasanah November 13, 2014 at 8:20 am

    duh… semoga semuanya lancar ya mbak…..

Post a Comment

You must be logged in to post a comment.