Kenapa Cadel Ya?

sLesTa

Kemarin ini, saya terlibat dengan pembahasan anak-anak yang belajar berbicara dan terdengar cadel. Lucu memang kedengarannya, tapi tak jarang orangtuanya juga tetap khawatir kalau cadelnya akan hilang atau tidak. Apalagi kalau sudah dicoba untuk dibenarkan, tapi pengucapannya masih tetap cadel.

Gara-gara bahasan ini, saya jadi penasaran, kenapa ya anak bisa cadel? Kedua anak saya, Alhamdulillah tumbuh dengan pelafalan bahasa yang sempurna. Bahkan anak saya yang kedua, di umurnya baru 2 tahun, sudah bisa menyebut huruf R dengan baik, walaupun anak pertama saya butuh sampai umur 4 tahun untuk “roll her R“. Saya ingat sekali ia berusaha keras untuk bisa menyebutkan huruf R dengan lancar dan sempurna, sampai akhirnya bisa. Waktu itu saya pikir, ya biarkan saja lah, toh dia memang lebih terbiasa berbicara dengan bahasa Inggris dan Mandarin di sekolah, walaupun di rumah ia berbahasa Indonesia. Tapi ternyata berhasil menyebut RRR dengan sempurna, dan setiap berbahasa Indonesia, dia dengan sengaja menyebutkan huruf R dengan jelas, kemudian kembali ke lafal Inggris yang baik ketika berbicara bahasa Inggris.

Lucu ya? Bisa switch dengan sendirinya.

Kembali ke bahasan tentang cadel, saya jadi ingin tahu, apa ya penyebab cadel? Soalnya banyak juga yang sudah tumbuh sampai dewasa dan tetap cadel. Menurut mitos, orang yang cadel itu karena lidahnya pendek. Tapi apa benar? Lalu bagaimana kita tahu anak akan cadel atau tidak? Beberapa teman saya khawatir karena anaknya terekspos dan terbiasa berbahasa Inggris, makanya jadi cadel. Apa benar begitu?

Cadel atau cedal atau pelo itu sebenarnya bukan disebabkan oleh lidah yang pendek. Padahal tidak ada istilah lidah tebal dan pendek, karena panjang lidah untuk setiap orang tidaklah ada perbedaan yang drastis. Tetapi yang membuat berbeda itu adalah bagian yang dinamai frenulum linguae, yang letaknya di bawah lidah atau ketika Anda menggerakkan lidah ke atas. Terdapat seperti jaringan yang menghubungkan antara dasar mulut dan lidah; itulah frenulum linguae. Perbedaan panjang dan pendeknya frenulum linguae inilah yang menyebabkan lidah sulit bergetar, sehingga pada akhirnya menyebabkan kesulitan melafalkan salah satu jenis huruf.


image from carlygoogles.blogspot.com

Solusi untuk ini bisa dilakukan dengan speech therapy (terapi bicara) oleh ahlinya. Apalagi untuk yang berlarut-larut sampai besar.

Selain itu, cara lain yang bisa kita lakukan sebagai orang tua, apalagi pada anak-anak batita yang baru mulai berbicara, sebagai berikut:

  1. Ketika anak berbicara dengan cadel, memang terdengar lucu. Tapi sebagai orang dewasa, sebaiknya kita tidak tergoda untuk mengikuti cara bicaranya yang cadel. Karena ketika kita juga ikut berbicara cadel, si anak merasa itu adalah yang benar. Contoh paling sering adalah mengganti huruf R menjadi L ketika berbicara pada anak. Atau bertanya, “Sudah minum cucu belum?” Sebaiknya, tetap bertanya dengan benar, “Sudah minum susu belum?
  2. Beberapa anak kecil seperti memiliki bahasa ‘planet’ yang kadang sulit dimengerti oleh orang lain. Sebagai orangtuanya kita tahu maksud dari kata tersebut, tapi sebaiknya kita tetap mengucapkan kata yang benar, jangan mengikuti kata yang diucapkan oleh anak. Contohnya, ketika anak pertama saya baru belajar bicara, dia selalu memanggil tokoh Barney the Dinosour dengan sebutan “Baeng”. Entah dari mana asalnya. Padahal kalau kita sebutkan satu-satu. Bar-niii… ia bisa. Tapi begitu jadi satu kesatuan kata, ia tetap menyebut Baeng. Lucu sekali kalau kita bahas sekarang. Tapi saat itu kami tetap menyebutnya Barney agar dia tahu kalau yang benar adalah Barney. Dan terbukti, ketika ia mulai lancar berbicara, ia sudah tidak menyebut Barney sebagai Baeng lagi.

Orangtua sebaiknya tidak membiasakan anak salah dalam mengucapkan suatu kata, beritahu anak bagaimana cara mengucapkan yang benar. Jika anak mengulanginya terus, jangan dimarahi, tapi beritahu secara baik di mana letak kesalahan anak. Kalau memang belum bisa mengucapkan dengan benar, biarkan, tapi tetap koreksi dengan kata yang benar.

Jika orangtua tidak ingin memiliki anak yang cadel, biasakan untuk mengucapkan semua kata dengan benar agar si anak memiliki contoh yang baik. Mengikuti anak berbicara cadel bukanlah suatu cara untuk mendekatkan diri yang benar dengan si anak. Lucu memang, tapi kalau akhirnya jadi cadel sampai besar kan, tidak lucu lagi.

Tapi memang godaan untuk mengikuti bahasa anak itu kuat sekali. Saya sendiri masih suka ikut-ikutan memanggil anak kedua saya dengan sebutan “Icha”, karena ia masih belum bisa memanggil namanya sendiri “Neishia” dengan benar. Lucu mendengarnya selalu memanggil dirinya Icha, tapi saya tahu, seharusnya saya tidak ikut-ikutan memanggil Icha karena saya dan suami tidak ingin dia jadi dipanggil Icha.

9 Comments

  1. Shinta_daniel
    Shinta Daniel December 17, 2013 at 8:53 am

    Thanks Shin artikelnya pas banget sama kondisi anakku Baron (3y1m) yang lagi masa transisi nyebut huruf L dan R dengan benar. Selama ini penyebutannya L jadi sengau “eng” dan R jadi “n”, “eng” atau “y” tergantung perletakannya, misalnya mobil = obin, sandal = andang, tol = tong, Baron = Ayon, kereta = eyeka, motor = otong dll.
    Alhamdulillah sekarang dia lagi usaha banget nyebut huruf L dan R malah jadinya tambah lucu karena kalau nyebut L lidahnya sampe dijulur keluar gitu Toll, Obill, hotell.. kalau huruf R bunyinya masih kayak owrang bule misalnya nyebut mewrah (merah), iwru (biru).. qkqkqk
    Salah satu tips yang pernah dikasih tau terapisnya Baron waktu speech terapi dulu adalah latihan menjilat eskrim atau permen lolipop supaya lidahnya jadi lentur.. enak ya terapinya, ibunya juga mau kalau suruh makan eskrim gitu hihihihihi

  2. thelilsoldier
    inga December 17, 2013 at 9:37 am

    Shinta,
    Dua anak di rumah nih pelafalan ‘R’-nya seperti di tenggorokan. Gimana yang nulisnya, bukan R jadi L tapi jadi tebal di dalam gitu. Padahal ortunya ngga kayak gitu. R-nya biasa aja, jelas.

    Kata kakeknya, ini ‘R’nya orang Sumatera. Mungkinkah memang karena genetis?

  3. loeloe17
    Lulu Anandiasari December 18, 2013 at 11:45 am

    Nuce article, Shinta…thanks for sharing ya.
    Baru aja bbrp hari lalu saya dan anak-anak latihan mengulang-ulang kata yang ada huruf R-nya karena si sulung kelihatannya agak cadel. kalau adiknya malah lucu…ngomong Sofa susah banget…kalau dieja bisa tapi kalau langsung jd Fofa hehehe

  4. loeloe17
    Lulu Anandiasari December 18, 2013 at 11:47 am

    sori #typo deh jadinya….Nice article, maksudnya :)

  5. gabriella
    Gabriella Felicia December 18, 2013 at 5:46 pm

    Gw dan suami gak bisa ngomong “R” Indonesia. Gw sendiri sempat dikirim speech therapy waktu itu, tapi gurunya malah ngotot gpp ini, “R” cocok u bhs belanda dan menurut dia unik.
    Sedihnya waktu sekolah jadi korban bullying melulu gara-gara “R” yg unik ini.
    Kalau sekarang malah jadi suka dengan “R” yang unik ini.
    Albert sampai sekarang belum bisa ngomong “R” Indonesia, kurang input kali ya, karena kami berdua cadel…

  6. teta
    teta December 19, 2013 at 11:45 pm

    Nice article. Adik saya usianya sekitar TK baru fasih huruf R. Itupun gak sengaja gara-gara dia bilang solar pas kami beli di pom bensin. Bukan hanya kami semua yang kaget, dia sendiri juga kaget campur senang. Sejak itu dia rajin latihan, akhirnya sampe sekarang dewasa gak cadel lagi deh hehe..

    Memang harus dibiasakan dan diberi contoh sejak kecil ya selain faktor anatomis lidahnya.. Mudah-mudahan anak saya cepet fasih bilang R hehe..

  7. ZataLigouw
    Zata Ligouw December 20, 2013 at 1:10 am

    Thanks artikelnya Shin..
    Sama dengan Ella, gw juga cadel dan dulu sering jadi ‘korban’ temen2 juga :( tapi anak2 gw, kcuali sabil yang masih batita, lancar2 aja tuh bilang R.

  8. IndriBracov
    Indri Bracov December 21, 2013 at 4:57 pm

    Wah, ada artikel ini. Dari kecil aku melafalkan ‘r’ bahasa indonesia udah baik. dan semenjak belajar bahasa inggris juga bisa nggaya dengan AmE ‘r’. Ketemu suami yg berbasa ceko, bisa melafalkan juga Cz ‘ř’ yang bunyinya ga bisa dijelaskan dengan tulisan dgn baik, dan selalu mengejutkan tiap kali ketemu teman2nya heran koq aku bisa bilang Cz ‘ř’. Padahal sesama kulit putih non Ceko aja ga bisa. Hakakakak. Mungkin pada dasarnya dari sono aku memang talented to fake accent yah. Malah suamiku sebenernya ga bisa bilang either Indonesian or Czech /r/ yang menurutku sama2 digetar di ujung lidah kaya orang2 Rusia gitu. Tapi suamiku pronounce /r/ nya kaya French /R/ yg ditenggorokan kaya orang bersihin riak. Lha piye to kui?
    Trudy belum kelihatan /r/ indonesianya, tapi dia sudah bisa mengomentari kalo ada orang kentut, dia bilang ‘přdh’ – belakangnya aspirated (bahasa cekonya kentut itu ‘prd’) lucu banget deh! hahaha
    jadi si Trudy belum bisa bilang /r/ tapi /ř/
    mungkin karena masih umur ya, baru 15m. Tapi akan terus kita lihat perkembangannya dan kita selalu coba melafalkan kata2 dengan benar tanpa dicedal2in
    Thanks for sharing ya!

  9. December 24, 2013 at 8:00 am

    Memang kalo anak Indonesia kayanya harus “dipaksa” belajar bilang /r/ ya mom… Waktu kecil aku sama sepupu-sepupu pasti kena ejekan tuh kalo umur 4 belum bisa “ularr melingkarr-lingkarr di pagarr bundarrr”.
    Josh sih dari umur 18 bulan udah bisa bilang /r/ tapi hanya kalo depannya ada /t/ atau /d/. Misalnya bilang ‘truk’ atau ‘drum’. Kalo kata lain kayak ‘robot’ gitu jadi /r/ nya bahasa Inggris, jadi ‘:obot’ nyebutnya. Mungkin pengaruh ibu-bapaknya yang guru sekolah bilingual suka kebawa campur-campur Inggris bahasanya kali yaa… Sekarang sih lagi usaha supaya dia kalo /r/ Indonesianya jelas.

Post a Comment

You must be logged in to post a comment.