Melakukan Perawatan Gigi, Batalkah Puasa?

ekakusmaya

Saat menjelang datangnya bulan Ramadhan, seperti biasa beberapa pasien meminta saya untuk menyelesaikan perawatan gigi mereka sebelum mulai berpuasa sementara beberapa lainnya memilih untuk menangguhkan perawatan gigi tersebut hingga setelah lebaran saat selesai masa berpuasa. Hal ini  menjadi fenomena yang umum terjadi dan ketika saya tanyakan alasannya ternyata sangat pribadi pada masing-masing pasien. Ada yang mengaku tidak nyaman melakukan pemeriksaan gigi saat berpuasa karena napas menjadi kurang sedap, ada yang khawatir akan membatalkan puasa, ada pula yang mengkhususkan waktu malam hari untuk berbuka puasa dan beribadah bersama keluarga saja.

gambar: Praisaeng/www.freedigitalphotos.net

Tergelitik dengan banyaknya pasien dan rekan-rekan yang ragu-ragu melakukan perawatan gigi khawatir dapat membatalkan puasa, saya akhirnya termotivasi untuk menulis artikel ini. Sederhana saja, agar kelak pasien dan rekan-rekan dapat memperoleh informasi yang benar,  memiliki solusi yang tepat serta tidak lagi terperangkap pada mitos-mitos yang kerap menjerumuskan ketika suatu saat harus menghadapi permasalahan dilematis ini. Berdasarkan ilmu profesi kedokteran gigi dan informasi yang saya miliki, berikut saya coba uraikan beberapa hal yang paling sering ditanyakan berkaitan dengan melakukan perawatan gigi ketika berpuasa:

1. BERKUMUR
Saat melakukan perawatan gigi, pasien memang sering kali diminta untuk berkumur oleh dokter gigi. Namun, berkumur berulang kali tidaklah membatalkan puasa asalkan tidak dilakukan secara berlebihan dan pasien dapat menjaga bahwa air berkumur tersebut tidak tertelan. Kalaupun saat pasien berkumur air tersebut tertelan secara tidak sengaja, ia tetap dapat melanjutkan puasanya hingga waktu berbuka. Oleh sebab itu, hal penting yang harus diingat adalah bahwa batalnya puasa seseorang saat dia memasukkan air ke dalam kerongkongannya secara sengaja.

2. TERTELANNYA AIR YANG KELUAR DARI PERALATAN
Peralatan elektrik dokter gigi seperti gagang bur (handpiece) dan alat pembersih karang gigi (scaller) memang didesain mengeluarkan air pada ujungnya. Air tersebut berfungsi sebagai pendingin yang mencegah mata bur atau mata scaller cepat panas akibat berputar atau bergetar pada kecepatan tinggi. Panas ini harus dihindari untuk mencegah efek iritatif yang akan terasa pada jaringan gigi dan gusi pasien dan agar alat tersebut tidak mudah rusak. Berkaitan dengan keterangan sebelumnya, adanya air di dalam rongga mulut tidaklah membatalkan puasa pasien selagi tidak tertelan melewati kerongkongan. Dengan tersedianya alat sedot khusus (suction) dan tindakan dokter gigi yang hati-hati dalam melakukan perawatan gigi, tentu pasien tidak perlu khawatir lagi air tersebut akan tertelan.

3. SUNTIK ANESTESI
Dalam melakukan beberapa tindakan perawatan seperti pencabutan gigi atau perawatan saraf yang rentan terhadap timbulnya nyeri hebat, sering kali dokter gigi memulainya dengan memberikan suntikan anestesi lokal yang kemudian memberikan efek nyaman terbius; ini cukup membantu tidak hanya untuk pasien tetapi juga bagi dokter gigi sebagai operator. Namun banyak sekali pasien yang khawatir mengira bahwa menerima suntikan akan membatalkan puasanya karena menyamakan suntikan sebagai “makanan” yang masuk ke dalam tubuh. Pada kenyataannya, menerima suntikan tidaklah membatalkan puasa karena zat yang disuntikkan tersebut bukanlah makanan yang mengeyangkan dan tidak dimasukkan ke dalam tubuh melalui jalan masuknya makanan pada umumnya yaitu kerongkongan.

4. KELUARNYA DARAH SAAT PENCABUTAN GIGI
Darah yang keluar saat pencabutan gigi tidaklah membatalkan puasa pasien. Namun akan lebih baik jika pasien dapat menjaga agar darahnya tidak tertelan. Penggunaan kapas berbalut kasa yang digumpalkan di atas rongga bekas pencabutan gigi berperan sebagai tampon penyerap, akan sangat membantu menghentikan perdarahan sehingga membantu meminimalisasi tertelannya darah ke dalam kerongkongan. Kalaupun darah tersebut tertelan secara tidak sengaja, hal tersebut tetap tidak membatalkan puasa.

Menurut saya pada kasus pencabutan gigi, hal penting yang justru terlewat untuk diperhatikan adalah pertimbangan bagaimana saat setelah pencabutan gigi tersebut, ketika efek anestesi telah berakhir. Beberapa jam setelah pencabutan, efek obat anestesi tentu akan menurun sehingga secara perlahan mulai menimbulkan rasa nyeri dan semakin lama menjadi sangat mengganggu pasien saat melakukan aktivitas. Hal itulah yang kemudian mendorong pasien perlu meminum obat analgesik untuk meredakan nyeri yang dideritanya. Nyeri yang tidak tertahankan atau batas ambang yang bervariasi dari setiap pasien berkaitan dengan kemampuannya menahan dan mengompensasikan rasa nyeri inilah yang rentan sekali menyebabkan pasien akhirnya memilih untuk membatalkan puasa. Khusus dalam kondisi seperti ini, jika pasien memang memerlukan tindakan pencabutan gigi maka perlu dipertimbangkan lebih lanjut kapankah waktu yang tepat, apakah memilih melakukan perawatan di waktu yang berdekatan dengan saat berbuka puasa, setelah berbuka puasa ataukah saat pasien tidak berpuasa. Tentu setiap pasien akan memiliki kebutuhan dan pertimbangan masing-masing yang dapat saja berbeda satu sama lain.

5. PENGGUNAAN OBAT OLES UNTUK SARIAWAN DAN ANESTESI
Penggunaan obat oles untuk pengobatan sariawan dan obat anaestesi oles di gusi dalam rongga mulut juga tidak membatalkan puasa selama tidak tertelan melewati kerongkongan. Obat tersebut tidak mengenyangkan dan akan diserap di permukaan gusi tersebut tanpa perlu masuk ke perut melalui jalan masuknya makanan pada umumnya.

Merangkum dari beberapa sumber yang saya peroleh, saya simpulkan bahwa:

  1. Melakukan perawatan gigi saat berpuasa tidaklah membatalkan puasa selama pasien dapat menjaga dari hal-hal yang dapat membatalkan puasa. Berkumur, kondisi penuh air, menerima suntikan anestesi, keluarnya darah dan penggunaan obat oles di dalam rongga mulut tidaklah membatalkan selama tidak dilakukan secara berlebihan dan tidak dengan sengaja menelannya hingga melewati kerongkongan, selain memang sifat zat-zat tersebut itu bukanlah seperti makanan dan minuman pada umumnya yang dapat mengenyangkan.
  2. Jika melakukan tindakan perawatan gigi yang beresiko menyebabkan batalnya puasa seperti pencabutan gigi di mana perawatan tersebut tidak dapat ditunda karena suatu kondisi kegawatan atau sesuatu yang tidak bisa tertahankan lagi, maka setelah memperhatikan dan mempertimbangkan bahwa kebaikannya lebih besar dibandingkan keburukannya, diperbolehkan dilakukannya tindakan perawatan tersebut untuk alasan kesehatan. Jika puasa pasien menjadi batal karena tindakan perwatan tersebut, kelak dapat diganti dikemudian hari. Namun jika tindakan perawatan tersebut dapat ditunda hingga dilakukan saat setelah berbuka puasa, hal itu tentu akan lebih baik dan nyaman bagi pasien.

Selain hal-hal yang disebutkan di atas, kebanyakan pasien dan rekan-rekan mengeluhkan timbulnya bau mulut yang kurang sedap saat berpuasa. Hal ini memang berkaitan erat dengan menurunnya aktivitas dan fungsi rongga mulut dalam gerakan pengunyahan (hipofungsi) sehingga mempengaruhi kapasitasnya dalam pembersihan alami oleh aliran ludah (self cleansing). ‘Diamnya’ rongga mulut tersebut memberikan efek akumulasi komunitas kuman di dalam rongga mulut yang memang tidak pernah steril. Ketidakseimbangan antara komunitas ‘penghuni’ rongga mulut di mana bakteri menjadi lebih banyak dari biasanya inilah yang menyebabkan timbulnya bau mulut. Oleh sebab itu, penting bagi pasien dan rekan semua untuk menjaga kebersihan dan kesehatan gigi serta rongga mulut pada saat berpuasa atau lebih baik lagi jika hal itu sudah dipersiapkan sejak sebelum memasuki bulan Ramadhan.

Pada kasus bau mulut yang begitu mengganggu, perawatan gigi pada saat puasa inilah menjadi begitu penting dan urgent. Pasien disarankan segera melakukan pemeriksaan ke dokter gigi untuk menemukan penyebabnya sehingga kemudian dapat dilakukan tindakan perawatan yang tepat. Dua hal penyebab yang paling umum bau mulut adalah adanya akumulasi karang gigi (atau dapat juga disebut kalkulus) dan adanya gigi berlubang (karies gigi). Pada kasus sederhana, untuk mengatasi dan mengeliminasi dua penyebab tersebut cukup dengan melakukan tindakan perawatan ringan pembersihan karang gigi atau penambalan singkat yang tentunya tidak membatalkan puasa. Pada kondisi ini, tindakan perawatan gigi justru menjadi solusi penting agar pasien dapat melanjutkan berpuasa dan berkomunikasi dengan orang-orang di sekelilingnya dengan nyaman.

Senang dapat berbagi dan semoga apa yang saya tuliskan dapat bermanfaat. Ke dokter gigi saat puasa, siapa takut?

2 Comments

  1. teta
    teta July 25, 2014 at 7:30 am

    Wow, lengkap dan bermanfaat banget artikelnya. Makasih ya mama Eka ^^

  2. ZataLigouw
    Zata Ligouw July 29, 2014 at 12:30 pm

    Ekaa, makasih banyak artikelnya,beneran loh banyak hal yang sebelumnya gw gak tau/ragu, terjawab di sini..,berguna banget!

Post a Comment

You must be logged in to post a comment.