Mengurus Paspor Indonesia & Affidavit Dwi Kewarganegaraan Anak Perkawinan Campuran

peachmargarita

NOTE: Bagian pertama mungkin hanya berguna bagi pasangan Perancis-Indonesia lainnya, tapi bagian kedua mudah-mudahan berguna bagi semua pasangan perkawinan campuran yang tinggal di Indonesia. :)

NOTE 2: This post is also available in English.

Louis lahir dari saya yang berkewarganegaraan Indonesia dan ayahnya yang berkewarganegaraan Perancis. Oleh karena itu, ia mendapatkan status dwikewarganegaraan / kewarganegaraan ganda. Louis memiliki dua kewarganegaraan: Perancis dan Indonesia karena kedua negara tersebut menganut azas “ius sanguinis”, dari bahasa Latin, artinya “hak darah”. Perancis, seperti halnya Amerika Serikat, juga menganut azas “ius soli”, dari bahasa Latin yang artinya “hak tanah”.

Louis memiliki dua akte kelahiran: satu dari Indonesia dan satu lagi dari Perancis, dan ia akan memiliki kedua kewarganegaraannya sampai ia berusia 18 tahun (ataukah 21 tahun? Ada dua informasi yang simpang siur).

Saya sering ditanya bagaimana caranya mendapatkan Paspor Indonesia dan Affidavit Dwikewarganegaraan Louis. Maka lewat artikel ini saya akan share mengenai proses tersebut, dengan harapan bahwa tulisan ini dapat membantu pasangan perkawinan campuran lainnya yang tinggal di Indonesia.

Louis lahir tahun 2011. Berkat adanya perubahan pada Undang-Undang Kewarganegaraan RI tahun 2006, ia berhak mendapatkan dwikewarganegaraan otomatis setelah ia lahir.

Untuk mendapatkan surat dokumen Affidavit Dwikewarganegaraan dan Paspor Indonesia-nya, pertama Louis harus mendapatkan Paspor Perancis terlebih dahulu (berdasarkan hukum patriarkal Indonesia, kewarganegaraan ayah adalah kewarganegaraan pertama sebelum kewarganegaraan yang diwarisi dari ibu).

AKTE KELAHIRAN & PASPOR PERANCIS (Acte de naissance & passeport français)

Untuk mendapatkan Paspor Perancis, pertama-tama kami harus mendaftarkan kelahiran Louis dan mendapatkan akte kelahirannya, sekaligus memasukkan nama Louis ke dalam Kartu Keluarga Perancis kami (Livret de Famille).

Prosesnya mudah sekali. Kami hanya harus membuat janji bertemu dengan Bagian Kependudukan di Kedutaan Besar Perancis (Ambassade de France) di Jakarta. Nomor telepon yang dapat dihubungi adalah (021) 2355-7600. Mintalah bicara dengan Ms. Cempaka untuk membuat janji. Ms. Cempaka sangat baik, bersahabat, dan siap membantu.

Dokumen yang dibutuhkan untuk mengurus Akte Kelahiran di Kedutaan Besar Perancis di Jakarta:

  • Surat Keterangan Lahir dari rumah sakit dimana si anak dilahirkan.
  • Buku Nikah / Certificat de Mariage.
  • Kartu Keluarga Perancis / Livret de Famille (atau dapat juga meminta yang baru, bila yang lama hilang atau rusak).
  • Fotokopi KTP dan / atau Paspor Indonesia Anda.
  • Fotokopi Kartu Identitas dan / atau Paspor dan / atau Kartu Konsuler (bila sudah terdaftar di Kedutaan Perancis) pasangan Anda yang berkewarganegaraan Perancis.
  • Tidak ada biaya yang diperlukan. Satu hal yang harus dicatat adalah bahwa anak harus didaftarkan dalam jangka waktu 30 hari setelah kelahirannya.
  • Kedua orangtua harus hadir pada saat mengajukan permintaan pembuatan Akte Kelahiran di Kedutaan Besar Perancis di Jakarta.

Mengapa harus membuat janji terlebih dulu? Karena Akte Kelahiran biasanya ditandatangani oleh Konsul sendiri, sehingga dibutuhkan appointment sebelumnya. Kami memang sempat membuat janji, tapi sayangnya informasi tersebut tidak disampaikan oleh petugas kedutaan yang mengangkat telepon. Untungnya Ms. Cempaka berbaik hati mengecek apakah Konsul sedang ada di tempat dan dapat bertemu kami langsung – yang syukurnya beliau memang sedang ada di tempat – dan kami pun langsung mendapatkan Akte Kelahiran Louis dalam beberapa eksemplar langsung pada saat itu juga.

Kami juga mendapat Livret de Famille yang baru dan nama Louis pun sudah tertera di dalamnya.

Setelah mendapatkan Akte Kelahiran dan Livret de Famille, kami pun langsung memulai proses mendapatkan Paspor Perancis untuk Louis.

Dokumen yang dibutuhkan untuk mendapatkan Paspor Perancis anak:

  • Satu kopi asli dari Akte Kelahiran yang didapatkan dari Kedutaan Besar Perancis.
  • Kopi asli Kartu Keluarga Perancis / Livret de Famille.
  • Paspor Orangtua yang Berkewarganegaraan Perancis (dalam kasus Louis, ayahnya).
  • Paspor Orangtua yang Berkewarganegaraan Indonesia (dalam kasus Louis, paspor saya, ibunya).
  • KITAS atau KITAP atau Kartu Identitas (Carte d’identité) atau Kartu Konsuler (Carte Consulaire) dari Orangtua yang Berkewarganegaraan Perancis.
  • Pasfoto berwarna anak, ukuran 3,5 cm x 4,5 cm, dengan latar belakang terang (abu-abu muda atau putih. Dalam kasus kami, saya memfoto Louis di atas tempat tidur lalu mengganti background-nya dengan Photoshop), dan bila memungkinkan, mata anak harus terbuka / melihat ke kamera. Telinga juga harus terlihat di foto. Standar foto paspor dapat dilihat di website ini.
  • Formulir Permohonan Paspor yang didapatkan langsung di Kedutaan Besar Perancis.
  • Biaya: € 18 (Sekitar Rp 225.000).
  • Proses dapat memakan waktu 2-3 minggu sejak permohonan diajukan ke Kedutaan.
  • Kehadiran salah satu orangtua diharuskan, tapi tidak perlu kedua-duanya, pada saat pengajuan permohonan maupun  pada saat pengambilan paspor.
  • Anak juga tidak perlu hadir langsung.
  • PASPOR INDONESIA & AFFIDAVIT DWIKEWARGANEGARAAN

    Indonesian Passport

    Langkah berikutnya adalah mendapatkan Paspor Indonesia untuk Louis.

    Untuk mendapatkan Paspor Indonesia, anak perkawinan campuran harus terlebih dahulu mendapatkan surat dokumen Affidavit Dwikewarganegaraan dari Kementerian Hukum dan HAM Indonesia.

    Semua proses Affidavit Dwikewarganegaraan dan Paspor Indonesia dilakukan di Kantor Imigrasi yang terdekat dari tempat tinggal Anda. Kami mengurusnya di Kantor Imigrasi Jakarta Selatan.

    Dokumen yang dibutuhkan untuk mengajukan permohonan mendapatkan Affidavit Dwikewarganegaraan bagi anak perkawinan campuran:

    • Akte Kelahiran Indonesia, dokumen asli & 1 fotokopi.
    • Buku Nikah Indonesia Kedua Orangtua, dokumen asli & masing-masing 1 fotokopi.
    • KTP Orangtua yang Berkewarganegaraan Indonesia, KTP asli & 1 fotokopi.
    • Paspor Orangtua yang Berkewarganegaraan Indonesia, asli & 1 fotokopi.
    • KITAS atau KITAP Orangtua yang Berkewarganegaraan Asing, asli & 1 fotokopi.
    • Paspor Orangtua yang Berkewarganegaraan Asing, asli & 1 fotokopi.
    • Kartu Keluarga, asli & 1 fotokopi.
    • Paspor Asing Anak, asli & 1 fotokopi (selama proses Affidavit Dwikewarganegaraan berjalan, paspor asing asli anak harus ditinggal di Kantor Imigrasi).
    • Surat Persetujuan dalam bahasa Indonesia yang ditandatangani Orangtua yang Berkewarganegaraan Asing, memberikan persetujuan bagi anak untuk mendapatkan Kewarganegaraan Indonesia, ditandatangani di atas materai Rp 6.000.
    • Surat Sponsor dalam bahasa Indonesia, dari perusahaan dimana orangtua yang berkewarganegaraan asing bekerja, memberikan persetujuan bahwa perusahaan, sebagai penjamin orangtua yang berkewarganegaraan asing tersebut, juga akan menjamin dan menjadi sponsor anak secara finansial (lewat pekerjaan orangtua yang berkewarganegaraan asing di perusahaan tersebut), dengan tandatangan di atas materai Rp 6.000.
    • Biaya: Rp 75.000 untuk Pasfoto (harus dilakukan di Kantor Imigrasi, tidak dapat disiapkan sebelumnya) dan Rp 500.000 untuk Surat Dokumen Affidavit Dwikewarganegaraan.
    • Orangtua tidak perlu hadir secara langsung. Namun, anak harus hadir secara langsung.

    Setelah Surat Dokumen Affidavit Dwikewarganegaraan didapat, maka proses pengajuan permohonan Paspor Indonesia bagi anak perkawinan campuran dapat dimulai. Dokumen yang dibutuhkan untuk pengajuan Paspor Indonesia untuk anak yang lahir dari perkawinan campuran:

    • Semua dokumen yang disebutkan di atas, dokumen yang sama dengan yang dibutuhkan untuk mendapatkan Surat Dokumen Affidavit Dwikewarganegaraan.
    • Satu-satunya dokumen tambahan yang dibutuhkan untuk pengajuan Paspor adalah Surat Dokumen Affidavit Dwikewarganegaraan tersebut, kopi asli & 1 fotokopi.
    • Dan tentunya Formulir Aplikasi Paspor yang langsung didapat di Kantor Imigrasi.
    • Kehadiran orangtua tidak diperlukan, tapi anak harus hadir langsung.
    • Biaya: Rp 300.000, sama seperti paspor biasa.
    • Proses dapat memakan waktu antara 3 sampai 7 hari untuk mendapatkan Paspor Indonesia.

      Catatan:

    • Sayangnya, Kantor Imigrasi sangat tidak membantu. Pertama, tidak ada informasi online yang tersedia. Saya mencoba mencari informasi di website imigrasi.go.id tapi tidak ada info yang menyangkut anak perkawinan campuran, hanya info bagi anak berkebangsaan Indonesia saja. Saya pun tidak berhasil menemukan informasi di internet mengenai pengurusan Paspor Indonesia bagi anak perkawinan campuran. Karena itulah tulisan ini saya buat dengan harapan akan dapat memberikan bantuan bagi yang membutuhkan.
    • Kedua, tidak ada nomor telepon yang dapat dihubungi di Kantor Imigrasi. Kami mencoba menanyakan nomor Kantor Imigrasi Jakarta Selatan ke Penerangan di 108, tapi ketika kami mencoba menghubungi di nomor yang diberikan, tidak ada yang mengangkat telepon sama sekali. Jadi kami tetap harus datang langsung untuk menanyakan dokumen apa saja yang diperlukan – dan macetnya itu lho, minta ampun!
    • Kami juga harus bolak balik hingga 5 kali hanya untuk mendapatkan Surat Dokumen Affidavit Dwikewarganegaraan (kali keempat kami datang, untuk mengambil dokumen yang seharusnya sudah jadi, komputer mereka tiba-tiba kacau dan tidak ada seorangpun yang berhasil mendapatkan paspor maupun dokumen lainnya pada hari itu). Lalu, tiga kali lagi untuk proses pengurusan Paspor: menyerahkan formulir dan kelengkapan dokumen, membuat pasfoto dan kemudian untuk pengambilan paspor yang sudah jadi.

      Semoga proses ini dapat menjadi lebih mudah di kemudian hari.

      Jika Anda bepergian keluar negeri dengan anak perkawinan campuran dengan status dwikewarganegaraan, bawalah semua dokumen. Tidak hanya Paspor Asing anak, tapi juga Paspor Indonesia DAN Surat Dokumen Affidavit Dwikewarganegaraan, serta Akte Kelahiran.

    7 Comments

    1. puspita_jewel
      Sitha December 5, 2011 at 4:59 am

      Komplit banget… Semoga berguna bagi yg membutuhkan. Btw, dwi kewarganegaraannya sampai usia anak 18 tahun. Pingin lihat deh bentuk affidavit spt apa. Soalnya kami ngga pakai urus itu, langsung apply paspor Indonesia dan hanya via pos (bagi yg tidak tinggal di Paris). Setelah kelar semua, lega ya, Bu… *fiuhh…* :)

      1. renchat2012
        renny kusuma July 13, 2012 at 9:05 am

        Jelas sekali informasinya. Terimakasih ya. Saya menikah dengan orang asing jg Anak saya satu2nya otomatis menjadi wna. Waktu itu belum ada UU baru untuk wanita indonesia yang menikah dengan laki2 asing anaknya bisa memiliki 2 kewarganegaraan. Kebetulan anak saya lahir pada tahun 1997. Sedangkan UU baru itu baru keluar th 2006 ( kl tdk salah). Pada saat itu saya buta soal hukum mengenai kelahiran ank atas pekawinan 2 bangsa ( indonesian & western). Pernikahan saya jg melalui kedutaan saja, dan tidak ada catatan sipil. Saya waktu itu buta dan polos tdk tahu menahu masalah ini. Anak saya etelah lahir beberapa hari sudah menjadi WNA dan setelah keluar dr rumah sakit beberapa hari sdh memiliki passport asing, bukan passport indonesia jg.
        Perkawinan kami hanya berjalan 5 tahun, dan bekas suami saya meninggalkan saya dan anak saya ( intern matter).Dan saya harus Setelah sekian tahun lamanya ( 15 tahun ), saya menikah lagi dan menikah dng laki2 dari bangsa yg sama dengan bekas suami saya ( Newzeland).
        Saya tinggal di Newzeland dan menikah syah diNewzeland tanpa anak dari suami yg sekarang. Setelah beberapa bulan tinggal di Newzeland, saya membawa anak saya ke negara itu untuk beberapa bulan. Knp beberapa bulan karena waktu ke newzeland saya mengajukan visa di kedutaan newzeland sehingga anak saya pergi kenewzeland dengan menggunakan passport indonesia. Selama di newzeland 3 bulan anak saya hrs segera meinggalkan Newzeland, ttp suami ke dua saya mengatakan kalau anak saya tdk perlu pulang ke indonesia krn visanya hampir habis, mengingat sebenarnya anak saya WNA untuk Newzeland. Pertama -tama saya ragu dan suai saya mengurus semua ini melalui emigrasi newzeland di newzeland, ternyata memang anak saya sdh tercatat dari lahir di sistem computer mereka kalau anak saya Warga Negara Newzeland. Akhirnya passport newzelandnya di perbaharui. Dan pada saat yang bersamaan saya jg baru tahu bahwa perkawinan saya yg pertama tdk didaftarkan oleh bekas suami saya hanya anak saya saja yg didaftarkan. Sehingga tdk ada catatan kalau saya dan bekas suami saya pernah menikah walaupun faktanya kami pernah menikah di kedutaan Newzeland ( saat itu kedutaan newzeland menerima peernikahan dua bangsa di kedutaan itu sendiri, ttp tdk lagi sekarang).Saya membuat akte kelahiran indonesia untuk anak saya agar bisa mendapatkan pasport indonesia. Yg mana akte kelahiran indonesia tdk mencantumkan nama ayahnya mengingat saat itu kasus perebutan anak saat anak saya masih dibawah 5 tahun. Saya melakukan pembuatan akte kelahiran indonesia jg atas saran pengacara saya waktu itu. Yg menjadi pertanyaan saya apakah anak saya sudah legal memiliki 2 kewarganegaraan, mengingat di newzelandnya sendiri anak saya sudah legal, tetapi saya tdk jelas di pihak indonesia. Apa yg harus saya lakukan membuat kedua2nya (dualcitizenshipnya) menjadi syah. Saya tdk th harus bagaimana memulainya, dan saya sudah terlalu lama jauh dari anak mengingat anak saya di indonesia dan saya di newzeland. NB. Anak saya tdk bisa keluar masuk seenaknya ke luar negri, krn pihak kedutaan tdk memberikan visa mengingat mereka th sebenarnya anak saya wna tdk perlu visa, malahan mereka meminta dari bekas suami saya melalui saya surat ijin, No passport, no tlp bekas suami saya yg mana tdk bisa saya penuhi mengingat kami ( saya dan anak saya) tdk ada komunikasi sekian lama dan kami tdk th dimana keberadannya sekarang, dan permintaan mereka membuat saya marah dan merasa mereka tdk adil terhadap saya, mengingat selama ini saya yg mengasuh, memberi makan, dan yg membesarkan anak saya dengan keringat saya sendiri bukan keringat bekas suami saya. Kenapa mesti ijin bekas suami saya untuk perjalanan anak saya ke Newzeland. Apakah jalur hukum adalah jalan terbaik untuk pengesahan status anak saya. Saya sangat berduka dan merana jauh dari anak saya, anak saya satu2nya. Duka seorang ibu yg melahirkan, membesarkan seorang diri tanpa bantuan siapun. Semoga saya mendapatkan informasi dan keadilan buat masa depan anak saya.

    2. nanad
      swastikha nadia December 5, 2011 at 5:36 am

      baruuu aja tadi malem baca di blogmu mba…
      Lengkap lengkip banget isinya.. :D
      memang si aku gak pakai prosedur ini,tapi untuk yg membutuhkan artikel ini pasti sangat bermanfaat..

      Tfs yaa.. :)

    3. mommy _neaka
      siti sheppard December 5, 2011 at 7:42 am

      Affidavit Nya mahal bener. Lebih mahal Dari passport Nya. Anak pertama ku lahir di kampung tahun 2008 Dan bikin affidavit waktu itu masih gratis. Sekarang klo nggak salah biaya Cuma 75 ribu.

      Sekedar berbagi info, anakku gak perlu bikin akte lahir canadanya. Cukup bikin citizenship card buat bikin passport Canada.

      Salam kenal.

    4. mamanami
      fransiska ully artha situmorang December 5, 2011 at 8:47 am

      Anak pertama saya lahir tahun 2007 dan yang kedua tahun 2010. Untuk paspor Indonesianya, kami hanya perlu menyertakan akte lahir anak dan akte pernikahan orang tua aja. Saya sebagai ibunya yang mensponsori anak-anak untuk membuat paspor Indonesianya. Saya dulu buat di kantor imigrasi Jakarta Selatan terdekat dengan domisili saya. Malah untuk paspor Taiwannya jauh lebih rumit karena harus terlebih dulu memasukkan nama anak yang baru lahir ke Kartu Keluarga Taiwan yang harus dilakukan di kota asal ayahnya di Kaohsiung (Taiwan), juga harus menyertakan paspor Indonesia (tempat lahir anak), terjemahan akte lahir dan akte nikah kami yang sudah diterjemahkan dalam bahasa Mandarin dan dilegalisir di Depkumham. Untuk affidavit kami belum pernah mengurusnya. Untuk usia terakhir bisa memegang 2 WN memang masih antara 18/21 di Indonesia. Sedangkan Taiwan menganut multiple citizenship jadi kalaupun nanti anak kami sudah memilih WN Indonesia, paspor Taiwannya bisa dibuat lagi di kota asal ayahnya asalkan anak sudah pergi ke kota asal ayah dan didaftarkan untuk mendapatkan Permanent Residence Taiwan yang menandakan anak ini berminat untuk suatu saat menetap di Taiwan. Permanent Residence Taiwan ini perlu utk mengklaim biaya kelahiran, sekolah, kesehatan dan hak pemilu anak.

    5. yoreney
      Reny Lenzo December 5, 2011 at 9:17 am

      Anakku lahir thn 2010, sampai sekarang belum berhasil lapor kelahiran di KBRI (kami tinggal di USA). ini karena proses yg njlimet! untuk lapor lahir kami perlu lapor pernikahan. yg rumit krn pernikahan dilakukan di Florida, sementara kami tinggal di Arizona.. lapornya ternyata harus ke KBRI yg berbeda, bukan di KBRI LA. Formnya tidak tersedia online dan setiap kali telpon ke KBRI Houston tidak pernah dijawab. Frustasi deh. Jadi sampai sekarang belom lapor lahir anak nih, padahal udah mau 2 nih.

      Sebetulnya manfaat dual citizenship untuk anak apa ya? Yang ada pas mau travel malah repot karena jadi banyak dokumen yang mesti di bawa (so far cuma perlu US passport aja).

    6. meggy
      meggy December 5, 2011 at 11:51 pm

      Sedikit memperjelas, dulu saya pernah berkesempatan berbincang dengan salah satu Kabag di Ditjen Imigrasi Pusat dalam rangka pekerjaan, apabila sesuai dengan peraturan maka affidavit tersebut berlaku hingga anak berusia 18 tahun, dengan waktu perpanjangan 3 tahun, sehingga batas umur menjadi 21 tahun. Tapi semasa perbincagan tersebut (kalau saya tidak salah ingat sekitar akhir 2006), walaupun UU untuk anak-anak dwi-kewarganegaraan sudah disahkan, tapi sayangnya Juklak (Petunjuk Laksana) untuk di lapangan belum terbentuk dengan jelas. Sehingga masih banyak terjadi kebingungan bagi para petugas.

      Tapi berhubung sekarang sudah berlalu sekitar 5 tahun, saya rasa harusnya sudah ada kejelasan mengenai hal itu.

    Post a Comment

    You must be logged in to post a comment.