Meninggalkan Anak untuk Dinas

gabriella

Seperti pernah saya tulis di sini, tawaran dinas menjadi salah satu hal yang berat bagi seorang ibu. Dulu saat Albert masih bayi, saya mengira akan lebih mudah pergi saat anak sudah lebih besar. Ternyata hal itu tidak benar. Justru saya merasa lebih sulit dan lebih repot ketika harus meninggalkan Albert saat ia sudah berusia lima tahun dibandingkan saat ia masih batita. Dulu saya lebih disibukkan untuk mempersiapkan keperluan yang berkaitan dengan fisik, seperti kecukupan ASIP, menu makanan, ketersediaan bahan makanan, mengatur pengasuh, dan lain-lain. Saat Albert batita saya cukup memberikan pengertian beberapa kali dan hal itu biasanya sudah cukup. Sekarang tidak hanya hal-hal berkaitan dengan fisik saja, tapi yang terpenting adalah mempersiapkan mental Albert bahwa ia tidak akan bersama mamanya selama tiga minggu. Rentetan protes dan pertanyaan tak kunjung henti dilontarkannya sejak bulan Januari, padahal saya baru pergi bulan September!

Serangkaian persiapan saya lakukan sebelum meninggalkan Albert (5 tahun) kali ini, terutama karena perjalanan saya cukup jauh dan memakan waktu sampai tiga minggu. Berikut beberapa hal yang saya persiapkan sebelum berangkat, saat dinas, dan menjelang pulang:

  • Segera setelah mendapatkan kabar tentang tawaran dinas, saya langsung mendiskusikannya dengan suami. Ketika telah dicapai kesepakatan bahwa saya akan berangkat, saya mulai mengajak Albert bicara tentang keberangkatan saya.
  • Menceritakan secara detail tentang kota-kota yang akan saya kunjungi dengan bantuan peta, foto-foto, globe, buku-buku, dan internet. Saya juga memberikan gambaran berapa lama waktu perjalanan yang akan saya tempuh, naik pesawat, berapa kali makan di pesawat, dsb. Saya menjelaskan alasan keberangkatan saya dan memberitahukan bahasa apa yang akan saya gunakan di sana.
  • Saat menemukan hal apa saja yang berkaitan dengan kota-kota yang akan saya kunjungi, saya pasti akan mengajak Albert melihatnya. Misalnya saat berjalan-jalan di mal ada gambar kincir, saya menceritakan bahwa saya akan melihat kincir itu secara langsung.
  • Memberi pengertian pada Albert bahwa saya pergi bukan untuk berjalan-jalan, melainkan untuk bekerja. Saya pergi secara gratis dan mungkin nanti kalau Albert sudah besar akan bisa mendapatkan kesempatan yang sama.
  • Ajak anak membantu saat packing, sambil mungkin menceritakan tentang cuaca di tempat tujuan, atau mengapa harus membawa banyak baju.
  • Tinggalkan rencana perjalanan detail kepada orang rumah. Nomor telepon hotel-hotel yang saya inapi, nomor penerbangan, dsb saya print dan saya tempel di kulkas. Tinggalkan juga berbagai hal detail menyangkut kebiasaan dan keseharian Albert, misalnya tentang sekolah, seragam, les musik, nomor telepon dokter, dsb.
  • Beberapa hari sebelum berangkat saya sibuk mempersiapkan makanan kesukaan Albert dan kemudian saya taruh di freezer, sehingga ia bisa tetap menikmati “masakan mamanya” selama saya tinggal.
  • Seperti yang saya ceritakan di sini, saya menulis 23 pucuk surat untuk Albert, lengkap dengan hadiah-hadiah kecil. Untuk anak yang lebih kecil mungkin bisa membuat satu video setiap hari. Teman saya ada yang merekam suaranya saat membacakan buku-buku favorit si kecil untuk diputarkan setiap hari menjelang ia tidur. Masing-masing pasti punya cara tersendiri untuk mengungkapkan “kehadiran” saat meninggalkan si kecil.
  • Luangkan waktu khusus bersama si kecil pada hari-hari menjelang keberangkatan.
  • Saya lebih suka berangkat ke bandara dengan taksi, sehingga tidak perlu melakukan perpisahan di bandara. Saya pikir Albert akan merasa sedih jika pergi bersama saya, lalu saat pulang dari bandara hanya bersama papanya. Kalau kondisi memungkinkan, saya biasanya minta dijemput di bandara karena Albert suka pesawat, dan suasana hatinya pasti ceria karena saat pulang sudah bisa bersama mamanya.
  • Tentukan metode berkomunikasi dan kenalkan pada si kecil. Selama perjalanan saya bisa selalu dihubungi melalui sms dan jika ada koneksi internet saya bisa dihubungi melalui whatsapp. Tadinya saya dan suami akan mengajak Albert berkomunikasi melalui skype, tapi ternyata karena perbedaan waktu dan kesibukan, hal itu menjadi agak sulit. Akhirnya kami saling meninggalkan rekaman suara melalui whatsapp dan itu cukup menyenangkan!
  • Kirim foto-foto disertai dengan cerita. Si kecil pasti ingin tahu apa yang dilakukan ibunya, bagaimana cuacanya, makan apa, dan hal-hal menarik lainnya yang bisa kita ceritakan.
  • Kesibukan saat dinas biasanya membuat saya tidak jadi sedih atau kangen berlebihan pada anak. Saya juga selalu berusaha ceria dan senang saat berbicara pada anak melalui rekaman suara atau telepon.
  • Kirimkan kartu pos dari kota tempat dinas. Hal ini saya lakukan hampir dari setiap kota yang saya kunjungi, tapi sayang kartu pos itu baru sampai seminggu setelah saya tiba.
  • Saat ada sedikit waktu luang di tengah kesibukan seminar, hal pertama yang saya cari dan beli adalah oleh-oleh untuk Albert. Saat pulang, saya sengaja memasukkan oleh-oleh itu ke dalam cabin bag sehingga bisa langsung diberikan tanpa harus membongkar koper terlebih dahulu. Kalau tidak sempat berburu oleh-oleh, sebenarnya apa pun yang ada bisa menjadi oleh-oleh menarik untuk si kecil, seperti notes dan bolpoin dari hotel, camilan yang didapat dari pesawat, atau mengajak anak melihat foto-foto yang kita buat di sana.

Luangkan waktu bersama anak ketika baru pulang. Yang saya alami adalah Albert sangat excited melihat mamanya pulang dan menyambut oleh-oleh. Tapi ia juga tampak bingung karena terlalu banyak yang ingin diceritakan. Saya tidak memaksa dengan bertanya macam-macam, hanya meluangkan waktu untuk bisa bermain bersama dan berbagai cerita akan keluar dari mulutnya. Seminggu pertama setelah saya pulang Albert menjadi manja dan apa-apa maunya sama Mama. Saya biarkan saja ia menikmati kehadiran mamanya kembali dan perlahan-lahan semua kembali normal. Menurut Albert saya boleh pergi lagi, asal jangan sampai tiga minggu, tapi tiga hari saja…

Semoga tips ini membantu, urban mama!

10 Comments

  1. ipeh
    Musdalifa Anas October 22, 2013 at 6:59 am

    Ella, details banget dan oke tipsnya. Tfs ya La.
    Salam buat albert, sayang gak jadi ke bogor ya?

  2. Kira Kara
    Bunda Wiwit October 22, 2013 at 3:33 pm

    kok aku jadi penasaran pengen nyobain bisnis trip yaa… nyobain ninggal ki-ka di rumah bareng ayahnya. Selama ini sih yang mewek dan bingung kalo ada tawaran keluar kota sih bundanya. Bundanya drama abis deh. Tapi sesekali musti dicobain kali ya?! :D

  3. siska.knoch
    Siska Knoch October 23, 2013 at 6:05 am

    Waa Ella tipsnya lengkap banget.. tfs la :)

  4. sLesTa
    shinta lestari October 23, 2013 at 2:53 pm

    ella… keren banget ini tipsnya, lengkap!!! dan bener2 well-prepared deh. salut!

  5. yulia handayani
    yulia handayani October 24, 2013 at 1:31 pm

    Thanks ya tips buat tripnya lengkap sekali.
    Harus di coba :)

  6. eka
    Eka Wulandari Gobel October 25, 2013 at 8:13 am

    bener banget ella, oleh-oleh apapun pasti anak2 suka. dan yg terpenting anak2 lebih suka bersama mamanya dibanding oleh2nya ya!
    albert pinter, kiss2 albert :*

  7. ZataLigouw
    Zata Ligouw October 25, 2013 at 11:44 am

    beneran ngebantu banget deh tips2nya La.. makasih ya.. kecup utk Albert..

  8. ririenindriawaty
    ririenindriawaty October 26, 2013 at 5:40 am

    makasih tipsnya bunda..pasti sangat membantu saya yg kerjanya mobile

  9. melissa april
    melissa april October 29, 2013 at 3:04 pm

    very well prepared mama Gabriella..aku masih ragu untuk dinas sejak kelahiran Kiya, pernah sekali coba dinas, itu pun 2 hari 1 malam saja. Sama kaya Bunda Wiwit, yg mewek malah mamanya klo ada tawaran dinas, jd sebagian besar dinas masih ditolak-tolak, hehe. Makasih tipsnya :)

  10. neezfiltania
    neezfiltania November 11, 2015 at 2:57 pm

    huaaa…. minggu depan akan menggunakan tips ini. bedanya Kay blm bs bicara.. yg oenting denger suaranya yaa…… :’)

Post a Comment

You must be logged in to post a comment.