Merencanakan Dana Darurat (Emergency Fund)

sLesTa

*image credit: www.moneyning.com

Memiliki dana darurat yang mudah di akses di saat ada kejadian yang tak terduga seperti kehilangan pekerjaan, kecelakaan atau perawatan medis yang membutuhkan dana besar adalah hal yang sangat penting untuk direncanakan.  Dengan adanya dana darurat yang sudah disiapkan, ini akan memudahkan keuangan keluarga dan menghindari situasi yang “kepepet” ketika hal yang tidak diinginkan itu terjadi.  Keuntungan adanya dana darurat yang sudah siap ini pun juga untuk mempermudah keuangan keluarga kembali normal lebih cepat ketika krisis sudah lewat.  

Idealnya, setiap keluarga mempunyai dana darurat.  Tapi tentu saja ini tidak mudah, karena kadang boro-boro memiliki dana darurat, untuk pengeluaran sehari-hari saja masih kembang kempis atau pas-pasan.  Apalagi semua barang-barang sekarang harganya sudah semakin mahal saja, sementara pemasukan tidak berubah banyak.  Jadi bagaimana dong caranya kita mulai mengumpulkan dana darurat ini dengan sukses?  

Dana darurat atau emergency fund sebaiknya terkumpul sebesar 3-6 bulan biaya pengeluaran keluarga.  Tapi apabila kepala keluarga atau yang membawa penghasilan keluarga (baik suami atau istri) mempunyai penghasilan yang tetap, dana darurat ini boleh saja di simpan sebesar paling tidak 3-4 bulan dari pengeluaran.  Tentunya, lebih banyak dana darurat yang terkumpulkan lebih baik.  Tapi ingat, dana darurat ini harus lah dalam bentuk easy access atau liquid, jadi menurut saya, kalau sudah sedikitnya 4 bulan dana darurat di tabungan, sebaiknya dana yang masih bisa disimpan digunakan untuk investasi lain.  Sayang sekali soalnya kalau hanya duduk manis di tabungan.  Yang terpenting, dana darurat sudah ada untuk dipakai kapan saja.  

Lalu, bagaimana caranya mengumpulkan ini?  Ini ada beberapa tips simple dari saya yang mungkin berguna untuk para Urban parents:

1.  Buat rekening khusus untuk dana darurat

Ya, sebaiknya dibuat rekening khusus dimana dana darurat bisa disimpan tanpa tercampur dengan uang yang akan terpakai untuk keperluan lain.  Dengan begini, kita bisa benar-benar fokus untuk menaruh uang di rekening ini, khusus untuk dana darurat.  

2.  Kenali pola keuangan dan pengeluaran keluarga

Untuk mengetahui seberapa banyak yang harus dibutuhkan untuk dana darurat ini, berarti kita mesti mulai untuk tahu berapa banyak yang keluarga kita keluarkan tiap bulannya.  Mulailah mencatat setiap pengeluaran yang ada, khususnya yang utama seperti pengeluaran untuk bayar listrik, bayar cicilan rumah, bayar cicilan mobil, bayar asuransi, uang sekolah anak, dan lain-lain.  Pengeluaran seperti untuk belanja sepatu atau baju yang mungkin penting tapi “belum terlalu butuh” sebaiknya tidak perlu diikutkan dulu.  Dengan begini, kita bisa benar-benar tahu dengan detail semua pengeluaran keluarga dan bisa liat di atas kertas, mana yang kita keluarkan paling besar.  Siapa tahu setelah di track seperti ini jadinya malah mikir beribu kali sebelum memutuskan membeli tas yang sebenarnya “tidak terlalu perlu” itu?

Setelah tahu seberapa besar pengeluaran kita, lalu kita bisa tetapkan seberapa banyak yang perlu kita simpan di rekening untuk dana darurat itu.  Lalu mulailah pelan-pelan mengumpulkan dana darurat.  

3.  Sisihkan sedikit demi sedikit dari pengeluaran keluarga

Kalau saat ini pemasukan dan pengeluaran sudah pas-pasan, sebaiknya pikirkan untuk menyisihkan sedikit duit tiap bulannya dengan memotong pengeluaran yang “tidak perlu”.  Harus benar-benar disiplin untuk menyisihkan ini, tidak peduli seberapa besar yang akan disisihkan.

4.  Hindari berhutang pada Kartu Kredit

Hal yang paling penting ketika merencanakan dana darurat ini adalah menghilangkan hutang kartu kredit.  Banyak cara untuk melakukan hal ini.  Salah satunya adalah membayar kartu kredit yang mempunyai bunga paling tinggi dan mulai membayarnya sampai lunas lalu pindah ke kartu kredit berikutnya.  Kalau saat ini tidak ada hutang kartu kredit, maka itu lebih baik.  Jangan sampai berhutang ke kartu kredit karena bunganya yang tinggi hanya akan membuat anda jadi lebih terjebak dalam lingkaran hutang daripada financial freedom.  

Mempunyai dana darurat mungkin tidak menjadi hal yang prioritas saat ini untuk Urban parents yang masih muda, apalagi yang masih punya pekerjaan tetap dan masih kuat untuk mencari nafkah.  Tapi sebagai keluarga, kita tentunya tidak ingin menjebak keluarga kita ke dalam suasana yang tidak enak.  Lebih baik kita bersusah-susah menabung dan membangun “dana darurat” disaat kita masih punya penghasilan tetap.  Oleh karena itulah, dana darurat ini penting sekali untuk dipikirkan sebagai salah satu rencana keuangan keluarga. 

37 Comments

  1. ipeh
    Musdalifa Anas June 8, 2010 at 2:04 am

    Tfs shin!! Nice artikel, mengingatkan saya lagi!!
    pernah baca mengenai dana darurat ini dr Ligwina tapi kok susaaah bgt ya sisihin uangnya, ada aja “keperluan mendadak” tiap bulannya & ini yg susah mengurangi “keperluan mendadak yg gak penting itu”. Skrang saya fokus pada point 4, melunaskan satu cc punya suami yg ampun deh bunga-nya, biar bisa beralih ke cc saya (pengen punya satu cc u/ keb. Operasional RT). Btw saya suka article financial di blog slesta.com & sekarang pengen nerapin itu Shin, mudah2an bisa :)

  2. June 8, 2010 at 3:35 am

    Financial! Interesting.. :)
    Nice tips, shin.. :)
    Iya dana darurat ini emang dana yg harus kita siapin ya apalg kalo udah berkeluarga dan punya anak..
    Untungnya suami gw tipe org yg strict soal ini tp gw bersyukur jg sih at least kalo ada something worst happen in our family *ketok2 meja amit2 jabang beibih* kita ngga akan kelimpungan ato ngutang sana sini..
    Mau share aja, kalo kita emang buka rek baru untuk dana darurat ini di salah satu bank asing (boleh disebutin ga ya?) Yg waktu itu bunganya lebih tinggi dr bunga deposito, mayan bgt kan? :)
    Soal point #4, iya setujuh bgt.. CC mustinya dianggap sbg kartu debit dan hrs dilunasin semuanya pas due datenya..

  3. Liz
    Liz June 8, 2010 at 3:49 am

    TSF Sles, wise d├ęcision. Kalo kita tipe manajemen amburadul. Ngga punya pembukuan, bukannya ngga mau tapi ga sempet2 ngerjainnya jadinya malah sering bolong2..

  4. ninit
    ninit yunita June 8, 2010 at 6:33 am

    TFS shin…
    bener banget nih ttg dana darurat… tips yg elo bilang diatas beneeer bgt. artikel ttg keuangan ini penting bgt. bener2 jd reminder buat diri sendiri. sering2 yah ada tips kayak gini :).

    ps, kok ilustrasinya tas sih shin? hahaha… kok tau sihhh suka mikirin tas yg sebenernya emang ga tll perlu itu? :))

  5. thelilsoldier
    inga June 8, 2010 at 6:54 am

    artikel yang gue tunggu-tunggu. thank you, Shinta Slesta

  6. YSee
    Yesi Yulia R./Wisesa June 8, 2010 at 7:20 am

    Nice artikel shin..tfs yaa:)
    Berarti dana darurat pun bs dicicil ya sampai kekumpul 3-6 bulan pengeluaran.
    Nah itu dia walaupun udah di list mana yg ga perlu, tp bgitu window shopping kl ada yg ditaksir susah utk ga belinya :p. Suka kepikiran sampai di rumah, takut kebawa mimpi hehe.

  7. sukie
    Sukma Pertiwi June 8, 2010 at 7:26 am

    bener banget Shin, kalo semua pengeluaran sebulan ditulis di kertas, bisa2 ngirit banget . hi9…yang kuperlukan sekarang adalah keberanian untuk menuliskannya di kertas…*hadoooh takut ketauan banyak beli barang yang bukan prioritas ;)*

  8. gabriella
    Gabriella Felicia June 8, 2010 at 7:40 am

    TFS, Shin…
    Sejak ikutan forum TUM jadi lebih melek soal masalah keuangan keluarga. Sejak awal tahun ini mulai mencatat setiap rupiah yang dikeluarkan setiap harinya. Dan ternyata efeknya memang positif banget, selalu berpikir lebih sebelum mengeluarkan uang. Dari catatan itu bisa ketahuan berapa banyak sih biaya yang dikeluarkan per bulan. Trus juga mulai menghindari main2 ke mal, dan mempraktikkan DIY project yang ada di sini…
    Walau sesekali masih suka gak bisa nahan diri, tapi belanja suka2 aku lakukan kalau memang lagi dapet rejeki dadakan…

  9. Mirza Resita
    June 8, 2010 at 8:06 am

    nice info…
    gabriela, ternyata kita sama. Mencatat pengeluaran membuat kita lebih terkontrol dalam menggunakan uang.
    Sebisa mungkin saya menggunakan CC hanya sebagai penunda pembayaran sampai dengan due date, bukan untuk kebebasan menggunakan uang. Managemen uang memang penting sekali, dan saya terus belajar untuk itu…

  10. rhisuka
    riska nurmarlia June 8, 2010 at 8:18 am

    Tfs Shinta.. Berguna banget artikelnya, terutama buat keluarga muda spt gue. Yang sering jadi masalah sih (hayooo urban mama yang lain juga kaya ini kan??) gue uda catet semua pengeluaran dan pemasukan, cuma susaaaah banget kalo uda ke mall trus ga bawa “oleh” pulang. Mungkin ada yg bisa sharing bagaimana “menahan diri”? ;)

  11. lei
    Lady Fitriana June 8, 2010 at 8:23 am

    TFS, great articel! hadew, buat gw nyisihin dana darurat ini bener2 menantang uy! apalagi kl inget bahwa jumlahnya sebaiknya sama dengan 3-4 bulan pengeluaran. huaaa..! yah sedikit demi sedikit, lama2 kekumpul juga kali yah? *tahan iman*

  12. CNAP
    Intan CnaP June 8, 2010 at 9:07 am

    *semedi*
    hmm…harus introspeksi diri..selama hamil smp skarang alhamdulillah belum bli tas baru lagi..(ya iya tiap pengen suami bilang ” tas2 mahal segitu buanyak masih kurang???kan msh pada bagus tu.ck ck ck” hihi..jadi ga enak deh klo ga pny penghasilan sendiri :p…) well pgeluaran buat tas aman lah ya..
    Selama ini uang yg mengelola suami,kalo aku butuh berapapun tinggal minta or tiap belanja pake CC (asalkan ga dpake beli TAS mahal,alergi ni suami kayanya hiks) sm kaya Rika79 hanya untuk dpake menunda pmbyaran smp due date.
    setelah baca artikel shinta..pengen yg jadi pengelola uang keluarga :D menarik sih pgen praktek
    Tfs shin..

  13. sLesTa
    shinta lestari June 8, 2010 at 9:44 am

    @musdalifa: sebenernya balik ke diri kita sendiri, apa yang mau kita prioritaskan, gak bisa semuanya dijalani bareng2. kalo gak mau susah, cobain satu2. misalnya kali ini mau bikin dana darurat. ya fokus tuh selama beberapa bulan, mesti disiplin. tentunya dgn insentif, after dana darurat sudah terkumpul, dana sisa selanjutnya boleh dipake untuk jalan2 misalnya, ato beli tas, ato beli sepatu? heheh..

    @chrisye: wah bank asing dimana tuh? hebat banget bisa kasih bunga tabungan melebihi deposito. dan iya, sebenernya kartu kredit itu gak mesti jadi hal yang bikin takut loh, dengan financial management yang bagus, kartu kredit bisa jadi ‘kawan’ untuk family financial planning :)

    @liz: one thing i know for sure with financial management… mesti disiplin dan punya determination untuk ngerjainnya. emang nyebelinnya minta ampun, but once it’s in place, it’s easier to do going forward.

    @ninit: hahaha ninit, old habit die hard.. itu sekalian curcol tak sadar, dulu kalo mau beli tas mah tinggal bungkus aja, sekarang, mikiirrr dulu panjang lebar. bisa beli tas sekali setahun aja udah hebat pisan.

    @yesi: ahh, the urge.. itu emang susah banget ya ditahannya. kalo gue biasanya gini, kadang pengen belanja itu just for the sake of it. ngakalinnya, gue udah nyiapin dana untuk jalan2 itu, trus pas sampe ke mall, muter2 dan liat2 di bagian sale aja. trus kalo ada yang suka dan harga within budget, ya beli aja. tapi cuma boleh beli 1 barang :) dan inget2 itu drpd beli barang yang “gak perlu” mendingan buat masuk tabungan dana darurat hehe..

    @sukma: hayoo dong berani. gapapa kalo ternya terlihat ada barang2 yang gak perlu masuk di list. jadi kan ketauan, next time mau beli barang itu lagi .. ada alertnya.. “gak perlu gak perlu .. perlu gak?”

    @gabriella: imo, kalo kita udah kenali pola pengeluaran dan keuangan keluarga, itu udah bagus banget. kalo emang ada duit extra berarti kita bener2 tau itu emang extra dan kalo emang ada yang mau dibeli, silahkan aja. having a good financial management kan bukan berarti harus ngirit, apalagi kalo untuk hal2 yang perlu. tapi mesti jadi smart spender :)

    @rika79: benar! managemen keuangan itu penting sekali, apalagi di jaman sekarang yang consumerized banget ya. kita dijejali oleh iklan dan sale dan promo dari segala arah. dengan tau pola keuangan dan financial planning keluarga, kita bisa bener2 lebih “smart” untuk save & spend.

    @riska: haha iya sama seperti jawaban gue ke @yesi, urge untuk belanja itu emang susah ditahan. tapi kita mesti determined, apa yang jadi prioritas. sebelom dibeli, tanya dulu “perlu gak beli ini?”, “ada gak barang yang mirip di kloset gue?”, dll. duluuu waktu gue baru2 mulai kerja, gue juga bener2 jadi impulsive shopper. mana kerjanya di new york, di 5th avenue pulak! tiap hari ngelewatin toko2 keren. asli tiap hari pulang pasti bawa belanjaan. after awhile, gue liat belanjaan gue kadang masih utuh trus jadi printilan dimana2. bikin sumpek dan gue perlu space nya. akhirnya gue jadi sebel sendiri dan sejak itu lebih jadi smart shopper. sebelom beli selalu mikir.. “udah punya belom ya?”, “kalo beli dipake gak ini? pake sama apa? bakal lama gak kepakenya”, dll. by the time gue selse mikir, udah ga pengen beli lagi deh jadinya.. ahahha..

    @lady fitriana: iya, kalo masih muda dan masih ada kerjaan, coba dicicil dulu aja pelan2. kalau sudah terkumpul, paling gak gak bikin kita merasa aman.

    @intan: mudah2an artikel gue terinspirasi untuk jadi pengelola keuangan keluarga yaa.. hehe..

  14. dindai
    Dini Setyowati June 8, 2010 at 10:16 am

    TFS ya Shin, emang suka lupa diri kalo udah jalan-jalan, seringnya sih baju ma mainan anak-anak.
    padahal udah dibuat family planning juga, tapi susaah disiplinnyaa..huhu

  15. metariza
    Meta June 8, 2010 at 10:24 am

    Shin, tfs yaa…mnurut gw jaman sekarang awareness pasangan muda untuk ngelola keuangan keluarga udah lebih baik dari jaman bapak ibu kita dulu (walaupun alhamdulillah bapak ibu kita bisa2 aja ya nyekolahin kita) dan artikel2 kaya gini bagus banget untuk spread the words :) thanks Shin :)

  16. Medy
    medy June 8, 2010 at 11:17 am

    good one shin…tfs ya..

  17. Medy
    medy June 8, 2010 at 11:17 am

    good one shin…tfs ya..

  18. shinod
    Shinto Husnul Khotimah June 8, 2010 at 11:23 am

    Good article, Shin! Tp poin no.4 masih susah utk gw tinggalkan. Pgn bgt suatu saat benar2 bebas dr cc. Thn kemarin gw udah menutup 3 cc dan thn ini berencana menutup 1 cc (gw dan suami kl ditotal punya 5 cc). Jd cukup punya 1 cc aja utk kepentingan yg benar2 darurat. Eh sale mothercare termasuk darurat ga ya? :p

  19. mamamika
    Ferina Permatasari June 8, 2010 at 11:37 am

    tfs, mbak… tips yang sangaattttt berguna :)
    point no. 4 yang masih susah buat dijalanin :(

  20. otty
    Pangastuti Sri Handayani June 8, 2010 at 11:48 am

    Artikelnya bagus! Eh, request dong publish juga blog post lo tentang financial management itu :)

  21. June 8, 2010 at 11:57 am

    Shin, nama banknya banknya siti alias c*t*bank..
    serius! waktu itu sih ada promo gitu namanya maxi save kalo ga salah.. lgs deh buka di situ :)

  22. sLesTa
    shinta lestari June 8, 2010 at 11:58 am

    @dini: problem semua emak2 kayaknya ya? ini juga nih alesannya gue lebih suka untuk beraktivitas akhir pekan jauh dari mall, biar ga kegoda :)

    @meta: iya bener! jaman sekarang jadi lebih banyak awareness karena pas kita mulai dewasa ini lah yang kena target parah oleh financial institution (baca: perusahaan kartu kredit) dan terjebak dalam hutang. belom lagi faktor consumerism yang semakin tinggi. jaman dulu, punya duit banyak, barang yang mau dibeli juga belom banyak, pilihan masih dikit.. ya gak?

    @medy: semoga helpful ya!

    @shinod: sebenernya menurut gue punya kartu kredit itu gak selalu jelek kok. between me and my hubby kita punya lebih dari 10 kartu kredit!!! yang penting bisa tau apa guna nya.. nanti deh kalo ada waktu, gue tulis tips dari gue untuk memanfaatkan kartu kredit dalam financial planning keluarga.

    @ferina: pasti bisa!! kartu kredit itu gak mesti jadi musuh.. tapi mesti pinter gunainnya.

    @otty: thanks yah, ty! haduh mesti di re-write tuh. tar gue coba zoom in ke tiap point nya aja dan bikin artikel pendek utk di publish di TUM ya (*crossing my fingers* mudah2an nemu waktunya dan gak males heheh)

  23. sLesTa
    shinta lestari June 8, 2010 at 11:59 am

    @chrisye: wahakahaka.. gue udah duga pasti bank itu. kantor gue itu, dear.. tapi gue di corporate nya.

  24. June 8, 2010 at 12:02 pm

    @slesta: huahahaha… dasarrr pake nanyain lagi hihihi… ouww di corporate..
    tp serius sih menguntungkan disitu dan ga tergoda pake debit/atm secara gerainya juga masih jarang hehehe…

  25. tiaaja
    tia June 8, 2010 at 12:21 pm

    TFS ya mbak. seneng banget bisa nyuri ilmu. karena belum berkeluarga, itu jadi excuse kadang pengeluaran jadi semena-mena. padahal seharusnya belajar dari sekarang ya?
    pernah pas ditawari kartu kredit, aku jawab: berarti mas minta saya ngutang dong. hehehe… abis itu yg nawarin pergi sambil manyun. untung nggak tergoda.

  26. siska.knoch
    Siska Knoch June 8, 2010 at 1:49 pm

    Slesta – Great tips! thanks for sharing
    Sles, crey – bicara soal bank asing ituh, gue ex-c*t*bankers lohh.. hehe *apa coba?!* :p

  27. sasa_mommytwinnie
    Elisa Darmadi June 8, 2010 at 2:54 pm

    TFS ya shin….kek na mulai harus diterapkan deh…
    sebenernya CC itu memang membantu tapi jg sekaligus bisa menjebak org jg..karena kan kita ga berasa main gesek” aja apalagi klo plafon CCnya gede..tinggal akhir bulan pas tagian dateng mau pingsan deh hehehe

    klo gw sejak married sptnya lbh terkontrol pmakaian CCnya secara ibu RT yg pengeluarannya harus minta acc suami..kalo dl mah wkt msh single ga usa ditanya deh..belanja jg ga mikir perlu apa kaga sebenernya..

    tapi sejak married n punya twinnie..sptnya jd mikir perlu ato engga…kec keperluan twinnie hihihi yg ga perlu jg dibeli..jadi skrg CC hanya untuk belanja bulanan aja yg tiap bulan pasti dibayar..jd ga pusing mikir bunga CC yg ampun” gedenya..

  28. rainiw
    Aini Hanafiah June 8, 2010 at 5:00 pm

    TFS, Shin… artikelnya “kena’” banget nih :D
    gw jadi inget salahsatu ilustrasi yg temen gw pernah kasih : dia mengibaratkan ‘nabung dana-darurat’ ini kayak dapet gaji di prancis (yang katanya)langsung bersih dipotong pajak ini-itu yg kmudian dipake buat dana kesehatan dkk. Sama halnya dgn nabung buat dana darurat; akhirnya gue belajar mengenakan “pajak” ke gaji gue. Segera setelah tu gaji masuk, hal pertama yg dilakukan adalah tu gaji langsung dipotong “pajak” & ditransfer ke rekening khusus tabungan. Setelah itu barulah diutak-atik buat kebutuhan hidup sebulan :P
    Dan memang, utk soal menabung ini, ‘ujian’nya ada di kontrol-diri & disiplin (yang mana masi susyeee gw jalani, hihii)

  29. Mirza Resita
    June 8, 2010 at 5:10 pm

    TFS y sLesta…poin no 2 tu yg mpe skrg susah bgt,belum nemu formulanya..pdhl dh almost 2year nikah tp belum pernah bikin list yg bnr2 kebutuhan bulanan,selama ini klo belanja berdasarkan feeling and lebih sering kebobolan,he2…kayanya smua butuh walopun dmrh msh ada stock dikit2..tp yg paling parah klo dh urusan beliin baju anak,kalap dah,bulan ni beli,planingnya bulan dpn ga beli,weekend jln2 ke mall liat diskon,beli d jdnya…susah y…

  30. FriTha
    Fritha June 8, 2010 at 9:09 pm

    tfs mbak slesta, uda jd reminder agar segera mulai siap2 buka rekening baru, karena selama ini gagal maning, gagal maning…hiks

  31. eka
    Eka Wulandari Gobel June 8, 2010 at 9:59 pm

    tfs, shinta
    artikelnya baguuuuus.. banget..
    tapi disiplin itu ya yg susah pisan.
    untuk masalah ‘tas’ ada temen pernah bilang, kalo kepikiran terus sampe gak bisa tidur, artinya tas itu perlu dibeli. tapi suamiku bilang, semakin gak bisa tidur gara2 mikirin tas, artinya tas itu bener2 gak perlu! hihihi..

  32. aindah
    ayutri indah June 8, 2010 at 10:40 pm

    thanks ya,mbak Shin..artikelnya baguus banget..

  33. meralda
    meralda June 9, 2010 at 1:04 am

    berguna sekali, shin.. akhirnya jadi mikir kalo someday kita bisa juga dalam posisi nggak enak..

  34. sLesTa
    shinta lestari June 9, 2010 at 4:17 pm

    @tia: punya kartu kredit kan belom berarti ngutang… cuma nunda bayar .. hehe..

    @elisa: iya, the point is, jangan ngutang CC. begitu tagihan datang ya langsung bayar penuh. nah trick nya adalah gimana caranya supaya bill nya gak bikin kaget? nah itu ada di self-control waktu belanja sih. dan keep track juga tiap belanja, udah gesek berapa. so bottom line, balik lagi mesti tau pola keuangan dan spending kita dulu.

    @aini: bener bangeeettt!! emang mesti gitu. gue juga dari kecil diajarin ama ortu gue gitu, kebawa sampe sekarang. jadi waktu gue bilang “aduh bokek nih!” biasanya ortu gue ga ada yang percaya karena dia yakin yang dibilang bokek itu adalah karena duit untuk jajan abis. tabungan mah utuh… hehe..

    @diyan: kalo gitu daripada belanja yang sebenernya ga perlu, skali2 weekend nya jalan ke tempat yang bukan mall aja gimana? :)

    @fritha: buka rekening baru jangan lupa diisi yaa.. jangan diambil terus. gagal maning lagi ntar.. hehe..

    @eka: kalo gue mah biasanya tuh kalo sampe kepikiran banget gue bakal balik lagi seminggu kemudian setelah memikirkan itu bayarnya pake apa. nah kalo ke tempat itu tasnya masih ada, berarti emang jodoh, ya beli deh. kalo gak ada berarti bukan rejeki gue.. hehe.. tapi entah kenapa setelah gue dateng dengan niat beli, justru malah akhirnya mundur teratur krn ternyata “eh tasnya ga sebagus yang gue pikir.. gak jadi deh!” sering loh. dan itu jadi bikin belajar untuk gak impulsive.

    @ayutri: thanks yaa semoga membantu!

    @meralda: tiap orang kan pasti bakal ada point dimana dia ada di atas dan ada di bawah. kayak roda tuh. jadi kita mesti bisa mikir buat hari besok, jangan hanya untuk hari ini aja. just what my fave quote say, “save for a rainy day. when you don’t work, savings will work for you”

  35. meralda
    meralda June 9, 2010 at 5:03 pm

    mama shinta emang jagonya deh! TFS yaa!

  36. Mirza Resita
    June 10, 2010 at 12:38 pm

    TFS ya shin,
    bagus banget artikelnya. Selama ini masih suka susah di point no.2 sama 4 nih. Udah ditulis rapih2 kebutuhan bulanan nya eh adaaa aja yang miss :D yang CC juga gitu, pas gesek2 nya ga berasa, begitu datang tagihan langsung pingsan deh. Dan aku dah ngalamin banget yang namanya ‘situasi yg ga enak dan tak terduga’ itu. Untung suami selalu strict buat saving dari penghasilan kita. Berasa tertolong banget. Cuma karena sekarang aku dah resign jadi harus bikin ‘formula’ lagi nih, secara penghasilan nya dari 2 jadi cuma 1 :D

  37. agnessantoso
    agnessantoso April 12, 2016 at 6:23 pm

    TFS ya….sebenernya berapa persen idealnya alokasi untuk dana darurat bagi single mom, yg bekerja di rumah?

Post a Comment

You must be logged in to post a comment.