Ooievaar

rainiw

Urban Mama dan Papa pernah mendengar dongeng tentang burung bangau putih yang terbang membawa bungkusan kain berisi bayi?

Dalam dongeng folklore Belanda dan Jerman, bangau-putih-pembawa-bayi ini disebut sebagai Ooievaar. Dikisahkan kalau aslinya, burung-burung Ooievaar muncul sebagai penanda datangnya musim semi di tanah Eropa, dimana kehidupan kembali muncul berseri-seri setelah musim dingin yang panjang. Mereka akan datang kembali ke daratan yang hangat setelah lama bermigrasi selama musim dingin. Oleh karenanya, Ooievaar menjadi simbol kesuburan dan keberuntungan yang berasosiasi dengan musim semi dan lahirnya kehidupan baru. Selain itu, simbol Ooievaar sebagai bringer of new life juga bermula dari rasa risih para orangtua jaman dulu saat harus menjelaskan dari mana datangnya bayi. Jadi kalau anaknya tanya: “Aku/adek bayi datangnya dari mana ?”, orang tuanya akan memakai taktik jawaban: “Kamu dibawa sama burung bangau, burung bangaunya terbang, trus kasih kamu ke mama-papa”. Katanya sih begitu. Menurut dongeng tersebut, Ooievaar akan terbang membawa keberuntungan, termasuk keberuntungan berupa a-bundle-of-new-life di paruhnya, lalu bersarang diatas cerobong asap rumah yang hangat (ini memang perilaku alami burung-burung bangau di negara-negara 4-musim). Kemudian bayi tersebut diantar ke rumah dan diterima oleh pasangan suami-istri empunya rumah melalui cerobong asap.

Saya sendiri punya cerita unik melibatkan… seekor bangau Ooievaar. But not the real one, though.

Akhir Juli 2009, saya mendadak harus pulang ke Jakarta. Setelah ikut pindah bersama suami, saya termasuk jarang pulang ke tanah air (meskipun sebenarnya dekat). Jadi saat sekalinya pulang, sudah bisa dipastikan pertanyaan “Udah hamil, belum?” atau “Kapan ‘isi’”  memberondong dari mulut para kerabat dan teman kenalan. Aneh, padahal orangtua kami pun nggak pernah menanyakan hal tersebut. Di awal-awal pernikahan kami, pertanyaan tersebut masih bisa kami jawab sambil-lalu. Tapi lama-kelamaan… capek juga mendengarnya. Sampai di satu titik, jadi kepikiran: akankah saya punya anak?

Tanpa direncanakan, saat di Jakarta itu juga saya memutuskan (dan memberanikan) diri untuk periksa ke dokter. Itu, adalah kali pertamanya saya ke dokter spesialis kandungan. Saya pikir, mungkin memang sudah saatnya untuk memeriksakan diri, untuk jaga-jaga saja. Setelah periksa, dokter langsung menyiapkan 3x temu-janji berikutnya di bulan September 2009 untuk menjalani serangkaian screening tes kesehatan (rencananya selama sebulan akan dilakukan berurutan). Saat didiskusikan bersama suami… Wah, agak ragu juga untuk mengikuti rangkaian tes tersebut; selain mahal, prosesnya cukup menyita waktu. Akhirnya kami sepakat dengan kesimpulan “Lihat nanti aja deh… Kalo perlu, kita ikut tesnya. Kalo nggak, ya nggak usah ikut”.

Sehari setelah itu, saya datang ke acara keluarga besar di Puncak. Seru, karena semuanya datang dan tumplek disana… termasuk para sepupu yang masih kecil. Sambil bermain, iseng saya buatkan mereka mainan origami burung bangau kertas (paper crane). Cuma yah namanya anak kecil, origaminya cuma dimain-mainkan sebentar; begitu bosan, langsung ditinggal.
Saya cuma tersenyum sambil memunguti bangau-bangau kertas yang berserakan. Tiba-tiba, ayah saya yang duduk tidak jauh dari situ memungut salah satu bangau kertas, lalu bilang kalau dulu ada dongeng Ooievaar yang suka diceritakan oleh almarhum Nek-Ayah. Kemudian beliau menambahkan: “when a baby is born, they say: the ooievaar-stork brought it.”
Di akhir cerita, ayah meletakkan Ooievaar tersebut di atas perut saya.

Ibu saya yang juga ada disitu berkata : “Dibawa santai aja, Kak. Kalau sudah waktunya, insya Allah anak bakal datang juga kok”. Saya hanya tersenyum mengiyakan.

Setelah seminggu di Jakarta, saya kembali ke Penang dan kebetulan, sudah dekat dengan ulangtahun pernikahan kami. Kemudian kami memutuskan untuk tidak mengikuti rangkaian tes kesehatan yang direkomendasikan dan pembicaraan tentang tes tersebut terlupakan dengan sendirinya. Kami malah berencana membobol tabungan untuk jalan-jalan backpacking setelah Lebaran.
Sekitar dua minggu kemudian, dokter menyatakan kalau saya positif hamil.

Tapi terasa benar, kehadiran anak adalah rejeki, dan Tuhanlah yang mengatur datangnya semua rejeki  dalam hidup. Tugas manusia hanyalah banyak-banyak berusaha, ikhlas, dan belajar bersyukur terlebih dahulu,  untuk membuka dirinya agar mampu menerima berkah tersebut. Yang saya percaya adalah: kalau bahagia, diri akan lebih mampu untuk menangkap banyaaak sekali berkah Tuhan dimana-mana.

26 Comments

  1. eka
    Eka Wulandari Gobel July 30, 2010 at 2:07 am

    aini, ceritanya bikin merinding.
    selalu terharu denger n baca cerita tentang kehamilan, melahirkan dan menyusui ;)
    dan iya, keberuntungan selalu menghampiri orang2 yang panda bersyukur ya..
    tfs, aini!

  2. IntanDian
    Dian Sarwono July 30, 2010 at 5:10 am

    Aini… Ceritanya bagus sekali… Memang benar anak adalah rejeki yang telah diatur oleh Tuhan, tugas kita hanya berusaha dan ikhlas… Saya juga merasakan sendiri… Congratulations on your pregnancy, I’m happy for you. Take care…

  3. superpippo
    Astrid Lim July 30, 2010 at 7:57 am

    beautiful story =) dan pernah diceritain juga ttg burung bangau ini sama omaku…semoga ceritanya bisa jadi penyemangat para mamas yang sedang menunggu kehadiran si kecil =)

  4. otty
    Pangastuti Sri Handayani July 30, 2010 at 8:19 am

    Nice story, mudah2an jadi penyemangat pasangan yang lagi menanti anak ya…

  5. July 30, 2010 at 8:20 am

    Iya beautiful story, aini :) gw kayanya pernah tau cerita bangau ini dari kartun heheh..

  6. Mirza Resita
    July 30, 2010 at 8:20 am

    TFS..nice story, bener banget kadang pertanyaan “udah hamil belum?” bikin capek banget, giliran abis melahirkan masih ditanyain “kapan ngasih ade-nya?” gedubrak…

  7. niens
    Nina Setyawati July 30, 2010 at 8:22 am

    Nice story Aini… Bener banget, di saat kita ikhlas dan mensyukuri apa yg kita punyai, Tuhan akan memberi rejeki dan kebahagiaan yang lebih melimpah. TFS

  8. restya
    Neneng Restiana July 30, 2010 at 9:18 am

    Aini,Nice story..sama kaya eka,paling terharu baca cerita ttg kehamilan,melahirkan,menyusui& menyapih..saya jg termasuk yg percaya & yakin seberapa lamanya pun waktu yg diperlukan u/ hamil,kalo kita yakin & memang sudah saatnya,Allah pasti akan memberi rezeki itu.
    Tfs..

  9. Lilik
    Lilik July 30, 2010 at 9:22 am

    Aini, setuju bgt ama alenia terakhir, bener ya kudu byk2 berusaha, bersyukur dan ikhlas, baru insyaAllah bs menikmati hidup indah ini ;-)

    btw, pertanyaan “Udah hamil, belum?” atau “Kapan ‘isi’” menurutku sensi ya ? aku punya 2 sodara yg udh lebih 10th nikah blm diberi amanah momongan, makanya berusaha bgt menghindari kata2 ini ke siapapun jg. bahkan pas ngasih tau klo aku hamil aja rasanya beratttt bgt ke sodaraku itu :(

    tfs ya, seneng deh baca tulisan2 kamu ;-)
    sun sayang buat si cantik Alma …

  10. Medy
    medy July 30, 2010 at 9:30 am

    setuju Aini..kita mmg hrs byk2 berusaha.Selanjutnya terserah Tuhan..tapi yakin aja segala sesuatu akan indah pada waktunya..semoga storynya bisa jd penyemangat couple yg lg ttc..

  11. mommyaira
    jarvi kurnia lestari July 30, 2010 at 10:16 am

    And now you have your adorable baby…beautiful story Aini…been there…malah ada salah satu temen kantor yang dengan “sopannya” nunjuk perutku sambil bilang, “yang ini udah jadi mama (nunjuk ke temenku yang baru aja masuk kantor setelah cuti lahiran)…yang ini kapan?????” curhat ke temen terus dibilang gini, “hmmm bilang gini ki sama temen lo itu..’emang bikin anak gampang? kalo gampang gw pesen satu sama lo’” :P…dan emang bener banget…di saat kita berserah diri dan terus bersyukur…Tuhan kasih rezeki yang tak ternilai itu buat kita….semangat terus ya Aini…and so for all moms…

  12. morningtea
    morningtea July 30, 2010 at 10:19 am

    bagus….bagus…,bagus banget ceritanya:)

  13. sLesTa
    shinta lestari July 30, 2010 at 11:05 am

    aini.. bagus sekali ceritanya deh! jadi terharu dengan paragraf terakhir. dan gue juga percaya, anak itu datang membawa rejeki. rejeki yang gak selalu diartikan dalam bentuk finansial & nominal, tapi rejeki karena dateng membawa kedamaian & kebahagiaan. itu rejeki yang bener2 gak ternilai harganyaa..

  14. Mirza Resita
    July 30, 2010 at 11:27 am

    Aini what a nice story, smua indah pada waktunya yiaaa :)

  15. Mirza Resita
    July 30, 2010 at 1:36 pm

    cerita ttg Ooievaar ini, jadi inget dulu dari jaman gw kecil sama SMP masih percaya klo bayi itu dibawa sama burung Bangau Putih, sampe akhirnya ada pelajaran tentang pembuahan yang menyadarkan gw :p

    nice story…bener2 bagusss…thx for sharing yaaa:)

  16. mamidzana
    Ecaterina Silaen July 30, 2010 at 1:48 pm

    nice story that nicely written. terharu banget bacanya. jd inget orangtua jg (yg sama2 santai gk ngeburu2/nanya2). kiss kiss buat baby-nya aini yaa..

  17. Mirza Resita
    July 30, 2010 at 1:59 pm

    Selalu menangis setiap kali membaca cerita datangnya malaikat kecil yang lama ditunggu.
    Aku pribadi ngalamin itu, dengan kondisi indung telur yang menurut hemat manusia hampir tak mungkin dapat keturunan, sekarang Allah sudah menghadiahkan dua orang putri mungil dalam hidup kami.
    Anak memang nikmat luar biasa yang ga akan bisa diganti dengan apapun.
    sun sayang buat si kecil :)

  18. Mirza Resita
    July 30, 2010 at 3:17 pm

    So related to this story..aku dan suami menunggu 6 tahun sampai akhirnya diberi kesempatan hamil..cerita Mba Aini kembali mengingatkan betapa beruntungnya kami dan harus terus bersyukur..

  19. July 30, 2010 at 7:18 pm

    waa, ceritanya bagus! seneng bacanya :) *kisskiss* buat alma, yang udah dibawa oleh paper crane bikinan mamanya :D

  20. siska.knoch
    Siska Knoch July 30, 2010 at 11:45 pm

    Suka banget baca ceritanya.. haru dan lucu, jd inget masa2 menunggu kehadiran Miguel. Dan betul, anak membawa rezeki apapun bentuknya.. Kerasa bgt skr hidup gue lebih berarti. Salam sayang buat Alma
    tfs Aini.. :)

  21. Liz
    Liz July 30, 2010 at 11:46 pm

    Bagus sekali ceritanya kayak cerita film hepiending :-)

  22. myson
    myson July 31, 2010 at 1:11 am

    tfs… what a beautiful story!

  23. Mirza Resita
    August 2, 2010 at 3:48 pm

    Baca di blog,,baca di sini, tetep ‘tersentuh’. Nicely written, Ai. Love the happy ending too (ehm, still a hollywood movie fan :p).

  24. Mirza Resita
    November 1, 2010 at 1:46 pm

    Mbak Aini saya jadi kepikiran berbagi cerita sm mbak…

    6 bulan menjelang pernikahan saya dan calon suami menabung paper crane (Tsuru) untuk dekorasi resepsi pernikahan kami

    Alhasil kami berhasil mengumpulkan berdus-dus Tsuru yang sayangnya tidak terpakan semua pada dekorasi resepsi pernikahan kami…

    Saya jadi kepikiran, mungkin saja saya dinyatakan hamil sebulan setelah menikah karena ketika resepsi banyak ooievaar yg menghadiri pernikahan kami ? :p

  25. Nurchasanah
    Nurchasanah Riyanto December 17, 2010 at 10:13 am

    tfs mom. terharu banget pas bacanya. jadi inget diriku sendiri yang hingga saat ini juga belum hamil. baru 9 bulan nikah siy. ortu pun ga pernah nanya kapan hamil? kapan hamil? nyantai aja. mereka selalu bilang berusaha, berdoa, pasrah, dan santai aja. insya Allah. tapi boleh juga tuw nyobain bikin papercrane trus ditaro di perut. hehehehe…

  26. hary
    hary augustina July 31, 2012 at 2:35 pm

    terharu aku bacanya jadi inget kisah ku, yang sampe betitipan doa ke soudara soudara ( includ didlmx tetangga baik yg jauh maupun yg dekat) yg umroh and haji, biar dapet momongan, di suruh minum ini makan itu, diikutin pokoknya, alhamdulillah kalo memang dikasih Allah, yah , kan Allah tinggal say “kunfayakun”

Post a Comment

You must be logged in to post a comment.