Saat Medina Mulai Bersekolah

Bunda MedinaMecca

Sejak Juli 2012, Medina tidak bisa lagi bangun siang. Its a new chapter in her life. Our life, exactly. Karena Medina mulai masuk sekolah. Persiapan sudah dimulai sejak hari sebelumnya. Fisik dan mental.

Persiapan fisik: tidur siang cepat, supaya tidur malam cepat, supaya bangun pagi cepat. Persiapan mental bahkan sudah dimulai jauh-jauh hari sebelumnya. Saya rasa ia sudah siap.  Dan sekolah pun dimulai…

Hari pertama, ia sangat bersemangat. Sekedar dibisiki “Bangun Kak, hari ini sekolah,” ia langsung membuka mata, turun dari tempat tidur, minum susu, mandi, sarapan, siap berangkat. Dan, Ayah sudah siap dengan kamera untuk mengabadikan momen hari-pertama-sekolah. Terharu… pasti.

Sampai di sekolah Medina terlihat agak cemas. Saya mencoba menguatkannya dengan selalu tersenyum, menyapa guru-guru dan memintanya bersalaman dengan mereka. Padahal di dalam hati, saya lebih cemas. Meninggalkan Medina selama 3 jam dengan orang asing?

Untunglah pada hari-hari pertama, pihak sekolah mengizinkan orangtua untuk menunggu di dalam kelas atau sekadar melongok-longok di depan pintu. Hari pertama berjalan sukses. Ia antusias berbaris, masuk kelas dan mendengarkan instruksi gurunya.

Hari-hari berikutnya juga berjalan lancar. Perkenalan “Halo teman-teman, nama saya Medina” sudah dilatih jauh-jauh hari. Medina juga sudah hafal beberapa lagu anak-anak. Semua akan mudah, pikir saya.

Ternyata saya salah…

Memasuki minggu ke-2, Medina mulai terlihat lelah dengan ritual bangun pagi, karena program tidur-malam-cepatnya kadang tidak berjalan sukses. Akibatnya Medina mengantuk di sekolah.

Dan sepertinya Medina juga mulai bosan dengan kegiatan di sekolah yang hanya mewarnai dan bernyanyi. Mungkin Medina membayangkan akan belajar huruf atau angka seperti yang saya lakukan kalau bermain sekolah-sekolahan.

Medina juga belum mau bermain dgn teman-temannya. Di kelas, saat jam bebas ia lebih suka bermain balok atau puzzle sendirian, tidak berbaur dengan yang lain. Medina memang tidak punya teman sebaya di rumah. Dengan sepupu-sepupunya pun bertemu hanya 1 atau 2 minggu sekali. Jadi menurut saya wajar kalau ia kurang bersosialisasi.

Selain itu, saya pernah melihatnya didorong temannya saat berbaris, atau diselak saat antre mencuci tangan. Ia mengalah, tidak marah, tapi sepertinya ia kesal dan menganggap temannya tidak baik. Ini yang lupa saya ajarkan, self-defense.

Jadi Medina mulai merengek setiap pagi sebelum berangkat sekolah. Dan, puncaknya Medina menolak sekolah! Ia selalu minta ditemani di kelas. Makan bekal pun minta disuapi. Sementara teman-temannya mulai menikmati sekolah, Medina kebalikannya.

Lima hari kegiatan Ramadhan di sekolah, saya jalani dengan ekstra kesabaran setiap pagi. Bujukan berlimpah-limpah, tapi tetap, tanpa pemaksaan. Pra-sekolah mestinya menyenangkan. Medina mendapatkan piala pertamanya sebagai juara 3 santriwati terbaik di kelasnya. Saya berharap ini bisa memompa semangatnya untuk sekolah.

Libur Idul Fitri dua minggu. Kami jalani dengan merawat Medina dan Mecca yang bergantian batuk-pilek-demam. Saya menyempatkan diri membaca artikel-artikel tentang penolakan sekolah, berdiskusi dengan suami, dan minta masukan Ibu Mertua yang dulu juga mengalami hal yang sama dengan gadis kecilnya.

Medina harus dikuatkan mentalnya. Bersama-sama suami, saya mulai menjalankan strategi. Bermain boneka tentang serunya sekolah, membelikan buku cerita ‘Aku Senang Sekolah’, ‘Aku Sayang Teman’, mengingatkan Medina akan piala yang ia dapatkan, menceritakan pada Mbah Kung-Uti dan Omanya (di depan Medina) betapa pintarnya Medina di sekolah, juga memberitahunya bahwa kalau kadang memang ada teman yang mendorongnya saat berbaris, mungkin mereka tidak sengaja, dan sebaiknya ia bilang baik-baik “jangan dorong-dorong ya…”

Semoga berhasil.

Kembali sekolah setelah libur panjang. Mulai dari nol lagi. Dua hari pertama orangtua masih diizinkan menunggu di luar kelas. Medina tidak minta keluar dan mencari saya, asalkan waktu makan bekal ia bisa lihat ibunya, aman sampai pulang sekolah. Gurunya juga selalu memberi Medina motivasi. Ia mulai terlihat bermain bersama temannya.

Dan seminggu ini berjalan lancar. Medina selalu ceria tiap berangkat dan pulang sekolah. Orangtua tak boleh lagi menunggu di sekitar kelas, pintu masuk dikunci. Saya sampaikan bahwa saya menunggu di ruang tunggu orangtua. Saya ajak ia melihat tempatnya.

Akhirnya hari ini tiba.

Kebiasaan kami setiap pagi adalah mengantarnya bersalaman dengan guru-guru yang menyambut di pintu masuk, membantu menyimpan tasnya di loker, sampai menunggunya berbaris, baru meninggalkannya.

Tapi hari ini, saat sampai di sekolah, masih di lapangan parkir, untuk pertama kalinya, Medina berkata, “Ibu tunggu di sini aja ya, di bangku-bangku panjang itu.” (menunjuk ruang tunggu) “Tidak usah ikut masuk, Kakak sendiri saja.”  Ia lalu berjalan menghampiri guru-guru yang telah menunggunya dengan senyum. Saya memperhatikannya dari belakang. Ia menyimpan tasnya, dan menghampiri teman sekelasnya. Tepat saat itu bel berbunyi, ia bergegas mencari barisan. Dan ia tak menoleh lagi ke belakang…

Saya tersenyum. Waktu berlalu cepat. Ia sudah besar. Kami bertumbuh bersama. Dan saya tersadar saat melepaskan genggamannya pagi ini. Pra-sekolah bukan hanya tentang balok mainan, puzzle, buku-buku, atau waktu bermain.

Tapi ini adalah latihan perpisahan… bagi saya….*

*Terinspirasi dari salah satu artikel di buku Chicken Soup for Mother of Preschooler’s Soul.

13 Comments

  1. eka
    Eka Wulandari Gobel May 6, 2013 at 12:20 am

    medina cantiik sekali! semoga tambah pede dan tambah pinter ya sayang:) semangaaat :*

  2. Bunda MedinaMecca
    Bunda MedinaMecca May 6, 2013 at 9:06 am

    Terimakasih Bunda Eka…Aamiin Aamiin…Semangaaatt!! :)

  3. LuchiaChendana
    Luchia Chendana May 6, 2013 at 9:55 am

    ah….pagi-pagi sudah buat terharu dengan artikelnya mama…

    selamat menikmati masa sekolah kak Medina :*

  4. bethesdita
    bethesdita tarigan May 6, 2013 at 12:05 pm

    tfs mom.. ibu juga musti siap mental ni kalo anaknya udah mulai sekolah :)

  5. yulia handayani
    yulia handayani May 6, 2013 at 1:10 pm

    Wua..terharu sekali membaca artikel ini sambil makan siang.
    Saya akan mengalami ini ditahun ajaran besok. Kudu diinget yang harus apa, mengapa, bagaimana nantinya.
    TFS ya bunda.

  6. Bunda MedinaMecca
    Bunda MedinaMecca May 6, 2013 at 2:12 pm

    Terimakasih mom Luchia…sekarang Medina sdh jauh lebih menikmati sekolah :)
    Bethesdita n Yulia, sama-sama, semoga lebih mudah saat nanti mengalaminya ya. Sepertinya memang selalu ada tantangan bagi seorang ibu di setiap tahapan perkembangan dan usia si kecil :)

  7. Kira Kara
    Bunda Wiwit May 6, 2013 at 3:14 pm

    waaa.. aku terharu… membayangkan kalo ki-ka masuk usia sekolah, semoga bundanya ini gak mewek. hehe :D Medina hebaaattt!! *bighug*

  8. miminiko
    Nine Luthansa May 6, 2013 at 4:55 pm

    Waaah, cantiknya Medinaaa… Umur brp nih? Buku Chicken soup-nya beli dimana mbak? Googling kok belum nemu ya?

  9. erina
    Erina Ramdhani May 7, 2013 at 7:52 am

    really nice sharing mba, tercekat pas di kalimat terakhir..and then my eyes are wet..

  10. Bunda MedinaMecca
    Bunda MedinaMecca May 7, 2013 at 9:06 am

    Bunda wiwit, kalau ki-ka nanti masuk sekolah pasti double serunya yaa :) Makasih Bunda, ‘bighugback’
    Nine, terimakasih..skrg medina 4th7bln. Coba cek di inibuku.com, kalo ga salah waktu aku beli harganya 45rb-an.
    Erina, kalimat itu copas dari artikel di buku yg aku maksud di atas. Buku2 “Chicken Soup” emang seringnya bikin nangis ya, n jd lebih menghargai setiap momen yang kayaknya biasa2 aja..:)

  11. Lydia Amrina
    Lydia Amrina June 14, 2013 at 2:59 pm

    Bunda, TFS ya..kalimat terakhir membuat saya meneteskan air mata.
    Membayangkan, gadis kecil saya yang akan mulai sekolah bulan July ini..
    Medina..cantik sekali..*bighug* jika diijinkan :)

  12. Bunda MedinaMecca
    Bunda MedinaMecca June 14, 2013 at 3:34 pm

    Sama2 mama Lydia, selamat menikmati “the new chapter”…
    bighugback dari medina :)

  13. baiq_intan
    baiq_intan June 28, 2013 at 8:32 am

    Terharu baca kalimat terakhirnya bunda:)

Post a Comment

You must be logged in to post a comment.