Sensory Integration Assessment

Shinta_daniel

Setelah berkonsultasi dengan dokter dan psikolog, serta berbicara dengan pihak preschool Baron, selanjutnya kami melakukan sensory integration assessment di Pela 9. Awalnya saya pikir, Baron mau diuji kemampuan motoriknya tapi ternyata saya salah. Yang diuji itu saya, ibunya! Sementara Baron bermain sama bapaknya di gym (tempat untuk terapi SI).

Sensory integration assessment dilakukan oleh seorang occupational therapist dengan mengajukan berbagai macam pertanyaan seputar tumbuh kembang anak mulai dari lahir, bayi sampai dengan sekarang. Di sini terlihat peran penting seorang ibu yang wajib mengenal dan memahami secara detail proses tumbuh kembang anak dari waktu ke waktu baik secara fisik maupun perilaku.

Beberapa pertanyaan mirip dengan yang sudah ditanyakan dokter, tapi lebih detail, spesifik, dan mayoritas dimulai dengan kata “Apa, Apakah, Bagaimana?”. Sebenarnya pertanyaannya cukup teknis hanya saja diterjemahkan menjadi bahasa sederhana dan disertai contoh kegiatan sehari-hari. Kalaupun ada jawaban saya yang sifatnya cerita, terapis tetap akan mengonfirmasikan jawaban tersebut sehingga menjadi hanya ya atau tidak.

Contoh pertanyaan:

  • Apa Baron sering merasa cemas atau takut/geli terhadap sesuatu/seseorang? Bila ya, terhadap apa?
  • Kalau Baron bertemu orang baru atau berada di keramaian, bagaimana sikapnya? Malu, diam, menangis, biasa saja, takut, dll?
  • Apakah Baron kalau dipanggil langsung menengok? Atau asyik dengan kegiatannya sendiri?
  • Apakah Baron sudah bisa mengikuti perintah dengan cepat, benar, dan sesuai?

Selesai mengajukan pertanyaan, terapis menjelaskan proses tumbuh kembang anak melalui diagram piramida sbb:
(baca piramidanya dari bawah ke atas sesuai perkembangan usia anak)

Pada intinya, sensori integrasi itu berkaitan dengan 7 indra yang meliputi pendengaran (telinga), penglihatan (mata), penciuman (hidung), pengecapan (lidah), sentuhan (kulit), kesigapan tubuh (vestibular), dan posisi dalam ruang (proprioceptive). Apabila anak di usia dini mengalami masalah di salah satu dari 7 indra ini dan tidak segera ditangani/terapi, maka di kemudian hari anak tersebut akan mengalami keterlambatan dalam proses tumbuh kembangnya.

Kadang kala masalah perilaku anak yang menurut orang tua masih dianggap wajar dan dapat ditangani, ternyata penyebab dan efeknya yang tidak kelihatan secara langsung baru diketahui melalui terapi dan konsultasi dengan dokter/psikolog. Contohnya:

  • Penyebab anak terlambat bicara bisa dari dari faktor anak belum mengerti, bingung bahasa, lidah belum fasih mengunyah, atau rahang bermasalah, faktor pencernaan di dalam perut, dll
  • Takut masuk kelas sendiri bisa karena malu, trauma, takut bertemu orang baru/keramaian tapi juga bisa karena ada ketidakseimbangan motorik sehingga menyebabkan otak tidak dapat memberikan respons positif atas perilaku anak

Oleh karena itu, ada baiknya mengonsultasikan tumbuh kembang anak sedini mungkin untuk mengetahui penyebab dan langkah terbaik apa yang harus dilakukan.

Berdasarkan informasi dari website Klinik Pela 9, ciri-ciri anak yang mengalami masalah SI antara lain:

Area Taktil/Sentuhan:

  • Tidak suka disentuh/dipeluk
  • Sering marah bila dalam kerumunan dan cenderung mengisolir diri dari orang lain
  • Tidak merasakan rasa sakit
  • Tidak suka bila dipotong kukunya
  • Berjalan berjinjit
  • Tidak mau menggosok gigi
  • Menyukai makanan dengan tekstur tertentu

Area Vestibular:

  • Bersikap terlalu waspada atau cenderung ketakutan
  • Tidak menyukai aktifitas-aktifitas di tempat bermain seperti berayun dan berputar
  • Tidak bisa naik sepeda
  • Takut naik tangga
  • Selalu berputar-putar
  • Meloncat-loncat
  • Berayun sangat cepat dan waktu yang lama
  • Mudah jatuh

Area Proprioceptive:

  • Sering menabrak atau menendang sesuatu
  • Menggigit atau mengisap jari
  • Memukul
  • Menggosokkan tangan pada meja
  • Tidak bisa diam
  • Kesulitan dalam naik turun tangga
  • Kurang keras atau terlalu keras memegang pensil
  • Cenderung ceroboh
  • Menggunakan tenaga berlebihan dalam mengangkat
  • Postur yang kurang baik
  • Menyandarkan kepala pada lengan ketika sedang belajar
  • Sering menggertakkan gigi

Alhamdulillah, Baron tidak mengalami masalah seperti yang disebutkan di atas itu. Memang pernah beberapa kali saya lihat ia berjalan jinjit tapi itu karena lantai kamar dingin kena AC, lalu pernah beberapa kali dengar Baron menggertakkan gigi, tapi tidak sering. Begitu diberi tahu jangan menggertakkan gigi, ia langsung berhenti

Hasil dari sensory integration assessment dan masukan dari terapis:

  • Setiap 2 jam sekali, kulit tangan dan kaki Baron digosok-gosok pakai SI brush (mirip sama nail brush sebesar kepalan tangan) sebanyak 5 kali naik turun, telapak tangan dan kaki 3 kali, punggung vertikal dan horisontal 3 kali
  • Setiap habis mandi atau lagi santai lakukan pijatan tangan dan kaki dengan cara memutar (seperti dipilin) dan ujung-ujung jari dipijat mengarah keluar jari untuk melancarkan peredaran darah dan sensor di bawah kulit
  • Tetap melakukan aktivitas motorik yang sudah dilakukan selama ini seperti jalan kaki setiap pagi dan sore, bermain bersama teman-teman, naik sepeda, tendang dan tangkap bola, berenang, dll.
  • Latih konsentrasi dengan melakukan 1 kegiatan tertentu sampai selesai tanpa ada gangguan aktivitas lain, suara, dan gambar bergerak (tv/radio/suara bising lainnya)

Terapis menceritakan kecenderungan orang tua di kota besar zaman sekarang yang terlalu protektif ke anak dan memberikan fasilitas gadget canggih kadang kala membawa dampak kurang baik untuk proses tumbuh kembang anak. Beliau menyarankan supaya membebaskan anak bermain sebanyak-banyaknya. Jangan batasi perilaku anak sesuai keinginan orang tua. Biarkan anak mengeksplorasi segala sesuatu, sepanjang terjaga keamanan dan kewajarannya, misalnya main pasir, main tanah, main hujan/air, memanjat pohon, main bola,  dll. Semoga bermanfaat!

18 Comments

  1. crey
    Chrisye Wenas February 5, 2013 at 1:27 pm

    TFS, Mba Shinta…
    Detil banget dan thank God dari ciri2 di atas, El (2 thn 11 bln) ngga ngalamin satupun *fiuuh, sempet deg2an soalnya* Walo dia masih bicara cadel anak bayi, tapi syukur belakangan banyak kemajuan :)

    Btw, boleh tau kegunaan SI brush? bisa dicari dimana?
    TIA :)

  2. Shinta_daniel
    Shinta Daniel February 5, 2013 at 2:01 pm

    @Chrisye,
    SI brush bisa dibeli di klinik tumbuh kembang, saya pikir awalnya sama seperti nail brush biasa tapi kata terapisnya beda.. SI brush ini lembut dan kalau digosok ke kulit gak sakit..
    Kegunaannya mirip dengan pijat bayi/anak untuk melancarkan peredaran darah dan melemaskan otot2/jaringan syaraf di bawah kulit sehingga otak dapat memberikan perintah/sensor dengan baik ke seluruh tubuh.. kira2 begitu..

  3. otty
    Pangastuti Sri Handayani February 5, 2013 at 3:49 pm

    Alhamdulillah Baron tumbuh kembangnya normal ya :) Kalo Nara, yang masih jadi PR itu soalnya ngisep jempolnya :(

  4. mommymimi
    desmiritha avicenna February 5, 2013 at 3:52 pm

    Mb Shinta,

    Kenzie (2,5y) baru 2 minggu jalan ikut terapi SI di klinik anakku kelapa gading. assesmentnya kurleb sama dengan cerita mb di atas…tapi baru dengar juga nih ttng SI brush ini..di klinik anakku nggak ada, beli di Pela walaupun bukan pasien disana boleh nggak ya mb..

  5. Shinta_daniel
    Shinta Daniel February 5, 2013 at 4:06 pm

    @Otty: alhamdulillah cuma speech delay biasa dan kurang konsentrasi aja.. Baru sebulan ini Baron suka ngemut tangan jg, padahal dulu gak pernah looh.. apa ada masanya gitu ya?
    @Desmiritha: boleh kok beli di Pela atau klinik lainnya tapi karena stok terbatas dan gak setiap saat ada sebaiknya telpon dulu..

  6. ninit
    ninit yunita February 5, 2013 at 5:50 pm

    wahhh bermanfaat bgt artikelnya shin. seneng bacanya. jadi nambah pengetahuan.

  7. indriani budi utami
    indriani budi utami February 5, 2013 at 8:28 pm

    maaf mbak…mungkin pendapat saya berbeda.
    dari beberapa referensi yg saya baca, terapi sensori integrasi tidak diperlukan bg anak2 yg murni speech delay (bukan krn autism, cp, adhd, dll).
    salah satunya bisa dibaca disini http://gifted-disinkroni.blogspot.com/2008/11/sensory-integration-therapy-sit-tidak.html,
    http://gifted-disinkroni.blogspot.com/2008/09/terlambat-bicara-dianjurkan-sensory.html

    di tempat anak saya terapi wicara, cdc santosa hospital bandung, bagi anak2 yg murni speech delay (gangguan berbahasa ekspresif), mereka tdk mendapatkan terapi sensori integrasi, hanya terapi perilaku dan terapi wicara.

    coba ikut milist [email protected], mba…disitu byk dibahas ttg terapi yg memang benar2 dibutuhkan anak2 yg murni speech delay, autism, dll.
    hth ya.

  8. eka
    Eka Wulandari Gobel February 6, 2013 at 12:24 am

    makasih ya shinta, artikelnya. berguna banget nih, baru tau juga ttg brush itu..
    yg jadi PR, justru saya yg suka larang anak2 main tanah, main becek2an, huhuhu..soalnya males bersihinnya! ternyata harusnya dibiarin ya…

  9. Shinta_daniel
    Shinta Daniel February 7, 2013 at 4:14 pm

    @Indriani: thanks infonya. Hhmm, ilmu baru buat saya nii, berarti ada perbedaan teori & metode psikologi juga yang belum disepakati di dunia kesehatan anak.. mudah2an kita sbg orgtua bisa memilah & memilih yg terbaik untuk anak kita..

    Mungkin yg agak rancu bagi saya disini adalah bedanya terapi perilaku dan terapi SI dan metode yg digunakan, karena kalau baca2 referensi, kedua istilah tsb (perilaku dan SI) selalu berdampingan walaupun mungkin artinya beda.. (maklum nih anak teknik suruh belajar psikologi jadi agak lemot)

    SI assessment ini memang bagian dari observasi awal dan alhamdulillah Baron memang tergolong murni speech delay dan kurang konsentrasi seperti anak2 pada umumnya

    Memang SI terapi ini sifatnya tidak wajib, tapi mengingat ada sisi positif yang bisa diambil terutama untuk meningkatkan konsentrasi dan keseimbangan tubuh serta melakukan kegiatan bertujuan maka kami memutuskan ikut SI terapi.
    Apabila dalam perkembangannya ternyata Baron tidak mengalami kendala dalam motoriknya, mungkin terapinya tidak perlu lagi, pun metodenya sama seperti permainan sehari-hari, hanya beda fasilitasnya saja. Mengenai biaya yang sudah keluar, anggap aja sbg investasi ke anak :)

    Sekali terima kasih pencerahannya yaa..

  10. mom elang
    Barqi Elang Moms February 8, 2013 at 3:31 pm

    Artikenya bagus bgt….bermanfaat skali…makasih mbk shinta sharingnya

  11. fahrennyvanilla
    fahrennyvanilla February 21, 2013 at 10:55 am

    Mohon maaf ibu, Saya fahrenny seorang terapis sensory integrasi, tp penjelasan tentang SI salah jika di assessment oleh seorang psikolog. SI sendiri baik teori dan treatment nya seharusnya dilakukan oleh seorang Occupational Therapist dan bersama team dokter (anak,saraf anak, rehab medik, dll). Ini meluruskan saja agar klien/anak tidak asal mendapatkan pelayanan SI. Tks

  12. fahrennyvanilla
    fahrennyvanilla February 21, 2013 at 11:01 am

    Dan untuk pemberitahuan saja, jika anak dengan masalah speech delay dan masalah konsentrasi nampaknya tidak perlu sampai di brushing jika tidak ada masalah sensory taktil(respon negatif thdp sentuhan). SI nya hanya membantu awareness dan fokus anak. Tks.

  13. Shinta_daniel
    Shinta Daniel April 12, 2013 at 2:52 pm

    @Fachrenny: ooh gitu, apa mungkin yg wawancara saya itu memang occupational therapist ya? saya kurang paham istilah2 psikologisnya, tapi memang di Pela 9 tidak diikutkan tim dokter lainnya, hanya dr. Ira saja.
    Btw, terima kasih infonya.. saya hanya ikut apa kata dokter di Pela saja mbak, selama ada manfaat positif tidak apa menurut saya, SI brush sendiri juga gak disiplin saya jalanin dan so far tidak ada efek apa2 di Baron. Memang Baron ada sedikit masalah di body awareness juga, maka saya tetap lanjutkan terapi SInya. Demikian mbak.

  14. tanjung beth
    tanjung beth December 3, 2013 at 12:24 pm

    bagus banget artikelnya, tq ya, salam dari kendari.
    saya buka terapi anak berkebutuhan khusus di kota kendari. tapi bedanya, kami menangani banyak anak tidak mampu yang memerlukan terapi. nambah lagi dong artikelnya.

  15. nurhelmi
    nurhelmi April 17, 2014 at 11:18 am

    Saya termasuk orang tua yang sudah melakukan SI assesment. tahapan yang saya lalui tidak hanya wawancara ibu. Pertama anak psikotes, kemudian hasil psikotes diserahkan ke dokter tumbuh kembang anak. Dokter tersebut selain mewawancarai sang ibu (mulai dari hamil, proses melahirkan, proses tumbuh kembang anak,pola asuh) juga mengobservasi si anak dan melakukan beberapa tes kecil pd anak, seperti lompat kodok,tangan direntangkan ke atas dan pinggir dalam hitungan 10,dll (nampaknya disesuaikan dgn usia anak).Hasil wawancara dan observasi akan menghasilkan sebuah diagnosa dan rekomendasi

    Setelah dari dokter tumbuh kembang anak, lalu anak2 saya diobservasi lagi oleh occupational therapist. Therapist melakukan beberapa test dgn cara yang sangat mengasyikan, sehingga anak enjoy banget. Mulai dari main bola, loncat di trampolin dll. Dan akhirnya therapist pun mengeluarkan kesimpulan dan rekomendasi

    Hasil kesimpulan dan rekomendasi dari dokter tumbuh kembang anak dan dari therapist, baru masuk ke psikolog. Di sini psikolog mewawancarai kembali sang ibu dan juga mengobservasi anak dengan berbagai mainan edukatif yang diberikan. Sang psikolog mengobservasi apakah ada efek terhadap perkembangan emosionalnya atau tidak, atau harus dilakukan apa selanjutnya.

    Dari serangkaian pemeriksaan yang dilakukan tadi, barulah disimpulkan apakah anak harus therapy atau tidak. Kalaupun anak harus therapy, therapy apa, agar tepat sasaran. Lalu harus melakukan latihan apa di rumah. Dan memberikan banyak info dan masukan juga mengenai pola asuh.

    Begitulah tahapan yang saya lalui berdasarkan pengalaman anak saya. Cukup panjang yaa prosesnya. Tapi alhamdulillah anakku happy banget, enjoy banget, karena dokter, therapis dan psikolog melakukan semua rangkaian prosesnya dengan menyenangkan dan lewat permainan-permainan. Bahkan sekarang anak say selalu ngajak ke tempat therapy hehehhe

    just share aja ^_^

  16. Rini
    Rini October 24, 2014 at 8:45 am

    Artikelnya bagus kebetulan anakku diduga ada masalah SI . Nurhelmi boleh tolong share tempat konsultasi dan terapinya? Thanks

  17. indri.s
    Indri Wangsadinata April 22, 2016 at 12:22 am

    Tfs mom..pas banget lagi kebingungan cari ilmu tentang SI krn anak saya hampir 2 thn belum bisa ngomong. Smoga ibu2 lain yg punya masalah seperti ini bisa terbantu

    :*

  18. indri.s
    Indri Wangsadinata April 22, 2016 at 12:23 am

    Tfs mom..pas banget lagi kebingungan cari ilmu tentang SI krn anak saya hampir 2 thn belum bisa ngomong. Smoga ibu2 lain yg punya masalah seperti ini bisa terbantu

Post a Comment

You must be logged in to post a comment.