Warisan Alergi dan Potensi Bingung Puting

sarahanief

Satu bulan pertama merupakan masa terberat saya saat menjadi ibu baru. Ghazi sering rewel tengah malam, selalu menangis setiap mengejan saat akan BAB. Wajahnya sampai merah padam, mengulet berlebihan. Bunyi napas “grok-grok” sampai “ngik-ngik” yang selalu membuat saya paranoid. Saya dan suami pengidap atopic family (keturunan alergi: rhinitis alergika, dermatitis atopi, asma, food allergic). Saya penderita rhinitis alergi dan dermatitis atopik, suami penderita dermatitis atopi. Konon anak yang lahir dari ayah atau ibu pengidap penyakit ini akan mendapatkan “warisan” dari keluarganya bisa dalam bentuk yang sama atau berbeda. Contohnya, dari ibu dermatitis atopi saja bisa muncul sebagai asma pada anak di kemudian hari. Sejak awal saya perhatikan Ghazi, saya mulai curiga warisan itu sampai padanya.

Saya membawa Ghazi ke DSA dan ternyata dugaan saya benar. Saya harus melakukan pantang atau diet eliminasi beberapa makanan kesukaan saya yaitu semua produk susu (susu uht, keju, mentega), tomat dan turunannya, cokelat, seafood dan turunannya, telur dan turunannya (semua roti), dan kacang-kacangan. Dikhawatirkan protein asing dari beberapa makanan alergen itu akan masuk ke ASI dan bereaksi ke bayi. Saat saya mencoba makan sepotong piza, Ghazi tidak bisa tidur sampai reflux, gassy stomach, rewel, dan wajahnya beruntusan. Pernah juga saat saya minum susu soya impor yang ternyata ada bahan alergennya, reaksinya cukup hebat di Ghazi. Yang dialami Ghazi adalah alergic proctocolitis, yaitu bayi asi eksklusif bereaksi terhadap protein asing yang ditransfer melalui ASI dari makanan dan minuman Ibunya. Gejalanya berupa BAB dengan bercak darah. Saat itu saya langsung down melihat ada bercak darah dalam feses anak saya. Teori yang selama  ini saya selalu bagikan ternyata kejadian di anak saya. Demi anak, saya pantang semua makanan-makanan itu. Dokter meminta saya diet selama masih menyusui Ghazi, tapi boleh mencoba-coba ketika Ghazi mulai MPASI atau amannya menunggu sampai ia berumur di atas satu tahun.

Potensi bingung puting

Semua masalah yang muncul pada kegiatan menyusui Ghazi membuat saya memutuskan untuk mengajari Ghazi minum ASIP dengan metode cup-feeding atau spoon-feeding. Memang banyak ibu yang memberikan ASIP dengan menggunakan dot dan tidak mengalami bingung puting. Namun dengan Ghazi yang memiliki upper lip-tie kelas 4, dan saya yang mengalami oversupply, aliran ASI yang terlalu deras, dan langganan milk blister, saya memutuskan tidak memperkenalkan Ghazi pada dot. Pertimbangan saya adalah Ghazi akan lebih senang dengan aliran konstan dari dot karena tidak perlu tersedak saat aliran ASI terlalu deras dan tidak perlu menjaga posisi mulutnya agar tetap terbuka lebar sehingga bisa melekat dengan baik. Saya sendiri juga sangat menikmati proses menyusui Ghazi selama ini.

Saya lalu mengajari ART untuk memberikan ASIP kepada Ghazi. Percobaan pertama berhasil dan Ghazi bisa minum 30 cc ASIP tanpa tumpah dengan softcup feeder. Abahnya juga berlatih memberikan ASIP kepada Ghazi.

Setelah tiga bulan menyusui dan sadar bahwa perjalanan kami masih panjang, saya berusaha “berdamai” dengan keadaan. Satu hal yang perlu ditanamkan, sugesti positif kepada diri sendiri itu sangatlah penting, ditambah dengan dukungan suami dan ayah saya yang luar biasa.

  • Saya sudah kebal dengan rasa sore nipple, malah kadang saya seperti mati rasa.
  • Saya selalu berdoa Ghazi mau minum ASIP lewat sendok dan alhamdulillah Ghazi tidak pernah menunjukkan penolakan ketika minum ASIP. Ia bisa minum dengan lahap walaupun minumnya belum banyak dan 1 botol ASIP (isi 100 cc) bisa habis dalam 1 jam dan 2 kali minum disela tidur. Namun saya percaya bayi itu pintar, lama-lama ia akan beradaptasi.
  • Trik pompa dulu untuk mengeluarkan sebagian foremilk sangat membantu pada kasus saya. Hasilnya saya sudah tidak mengalami lagi kasus milk blister yang menyakitkan.
  • ASI akan makin banyak sesuai dengan seberapa banyak bayi menyusu dengan posisi dan perlekatan yang baik.Ghazi mengalami masalah perlekatan karena kondisi anatomis dan saya memilih opsi tidak frenotomi. Tugas saya adalah mengusahakan agar ASI saya terjaga dan tetap cukup untuk Ghazi. Pastinya saya mengutamakan menyusui langsung, bahkan jika memungkinkan saya akan membawa Ghazi ke mana pun saya pergi (kecuali ke tempat kerja). Ghazi mengantar jemput saya ke tempat kerja dan selalu menyusu sampai menit-menit terakhir saya akan praktik. Saya mencoba banyak ASI booster yang aman dan tidak berpotensi memicu reaksi alergi yaitu daun katuk, daging kambing, daging sapi, tapai ketan, daun katuk, bubur kacang hijau, teh yang mengandung fenugreek, madu, dan habatussauda.
  • Saya menjaga pasokan ASI dengan rutin pumping, walaupun hasilnya kadang banyak kadang sedikit tapi saya selalu berusaha yakin bahwa ASI saya cukup untuk Ghazi.
  • Saya tidak pernah ambil pusing dengan istilah “bau tangan”, saya bukan tipe ibu yang menghindari gendongan untuk bayi. Ghazi mengalami masalah reflux berulang kali karena kasus oversupply saya dan reaksi alergi. Ia perlu sendawa berkali-kali dan butuh ketenangan. Dengan gendongan ia bisa merasa tenang, dan apabila digendong vertikal ia bisa sendawa berkali-kali dan itu membantu menenangkan perutnya yang gassy.
  • Saya selalu mencari sekelompok ibu-ibu menyusui yang sangat membantu saya dalam menghadapi perjalanan menyusui. Kelompok pendukung ASI merupakah salah satu kunci keberhasilan ASI eksklusif. Alhamdulillah saya temukan itu semua di lingkungan kerja saya dan mama-mama luar biasa di TUM Birth Club September 2014, yang selalu aktif saling mendukung di whatsapp.

Tantangan terbaru saya saat ini menjadi working mama dan tetap konsisten memberikan yang terbaik untuk buah hati saya yaitu ASI. Semoga bermanfaat bagi urban mama. Mari berjuang memberikan ASI untuk bayi kita dan menyusuilah dengan tekad sekeras baja.

12 Comments

  1. Kira Kara
    Bunda Wiwit January 26, 2015 at 9:00 am

    ah iya, kita pasangan dengan Rhinitis Alergic, dan sekarang salah satu kembar saya pun mengalami hal serupa. heuheu.. Waah, benar-benar perjuangan ASI itu luar biasa ya?! Semoga lulus sampai S2 ya! TFS! :)

  2. ipeh
    Musdalifa Anas January 26, 2015 at 3:23 pm

    ah sarah terharu baca cerita perjuangannya, tetap semangat ya bu dokter. Sehat selalu untuk Ghazi.

  3. sarahanief
    sarah audia January 26, 2015 at 7:07 pm

    @bunda wiwit: iyaaaa mbak perjuangan apalagi yg atopic family hihihi. makasiiii mbak

    @mbak ipeh: makasiii mbak ipeh amiin. sehat selalu jg utk mbak ipeh dan krucils yaaa :D

  4. dwiyl
    dwiyl January 28, 2015 at 10:04 am

    perjuangan ASI memang sesuatu bangeet ya bund…aku lg hamil 12weeks n skrg lg persiapan untuk mulai menyusui kembali. hehehe… bunda dimana beli soft cup feeder medela? saya di makassar sulit cari produknya medela. kalo ada yang second tp msih bagus mau jg dong bund… pengen coba. anakku dlu minum ASIP pake pipet.

  5. sarahanief
    sarah audia January 28, 2015 at 10:12 pm

    @dwiyl: kalo soft cup preloved coba main ke flea tum deh mom atau cari di http://www.asibayi.com disitu juga ada.hth yaa

  6. mamasunny
    Sunny Mariana January 28, 2015 at 10:20 pm

    Halo mbak.. same case here.. ibunya konselor bukan berarti perjalanan menyusui akan mulus2 saja. Bayi saya jg tt dan liptie.. sudah freno utk tt-nya, tp utk liptienya msh pikir2. Baby alergi, milk oversupply, milk stasis sampe mastitis. Gassy stomach dan reflux jg jd makanan sehari-hari.. baca ini jd diingetin lg bener deh, mamanya hrs lebih taat sm pantangannya hehehe… semangat yaah..

  7. gabriella
    Gabriella Felicia January 29, 2015 at 11:18 am

    Semangat terus ya dr. Sarah. Ternyata pengetahuan ttg asi dan menyusui yang lengkap tidak menjamin proses menyusui jadi tanpa hambatan ya. Selamat berjuang terus sampai dua tahun ya…

  8. eka
    Eka Wulandari Gobel January 30, 2015 at 12:43 am

    semangat ya, sarah & ghazi! sama niih.. enzo & dante juga dapat “warisan” alergi dari orangtuanya :) tapi, berhasil ASI kok, bahkan sampai lebih dari 2 tahun!

  9. hananafajar
    hanana fajar January 30, 2015 at 3:32 pm

    perjuangannya dr Sarah luar biasa..dan salut sama semua ibu-ibu yang kuat dan extra sabar dalam memberikan ASI dimana banyak pantangan ini itu dsb..
    Sehat selalu ya Ghazy:)

  10. cindy
    cindy vania January 31, 2015 at 5:31 pm

    Salut sama perjuangan menyusui dr Sarah dan Ghazy..
    Tetap semangat untuk semua mama yang memiliki tantangan dalam menyusui.

  11. sarahanief
    sarah audia February 4, 2015 at 6:44 pm

    @mama sunny: toss sama persis yaah mam hihi. aku belum sampe mastitis tapi milk blister sempet langganan aduhaay pas mecahin sendiri huhuhu. saling nyemangatin yaa mam :D

    @mama gabriella: amiiiin terimakasih ya mbak :)

    @mbak eka: yeiiiiiyyy ebaaat tunggu kami nyusul ya mbak hehe

    @mama hanana: makasiiiii mam hugs

    @mama cindy: amiiiin thx yaaaa ma :)

  12. amyra dewi
    amyra dewi March 24, 2015 at 9:14 am

    wah ini dokter aku dulu nih pas di klinik laktasi nya Eka Hospital :) Masih di Eka Dok? Selamat ya Dok atas kelahiran putranya *telat* hehe..
    Semoga bisa menyusui dng lancar seterusnya ^^

Post a Comment

You must be logged in to post a comment.