1

Topic: Divorce

meizadhania wrote:

should be nice if we have complete family,

A lot of happy family in this world

but some people rather be alone than become couple

Buat mamas papas yang akan atau sudah bercerai bagaimana sih cara mengurus secara legal, mendapatkan hak asuh anak?

Hey meizadhania,
Sorry sebenernya aku ga jawab pertanyaan km, aku cm mau share pengalaman aku aja, mudah-mudahan bs jd pertimbangan buat urban mama/papa yg lain sblm memutuskan utk divorce.
Sejak awal pernikahan aku (skr udh jalan 5,5 thn) udh bermasalah (KDRT, krg harmonis sm ibu mertua) tp selalu setiap moment (lebaran, umroh, ultah pernikahan) aku selalu berharap kl pernikahan km akan membaik, km bicara serius dan sepakat utk berubah tp ttp stlhnya keadaannya tdk berubah. Selalunya cerai jd pilihan yg utama. Sampai pd thn ke 3 aku
hamil dan melahirkan. Aku pikir stlh punya anak, keadaannya akan berubah, tp tidak. Skr anakku 3thn. Selama itu pula dia selalu menyaksikan km bertengkar hebat dgn sumpah serapah Dan kekerasan fisik. Sampai 2bln lalu aku menyadari Ada yg berbeda dr anakku, dia tumbuh jd anak yg sulit, pemurung, sering tantrum, nangis berkepanjangan tengah mlm (mgkn mimpi buruk), pemarah, penakut (takut suara2 keras) Dan semakin hr dia ga bs pisah barang sebentar dr aku. Ditinggal sbntar Aja pasti nangisnya sampai jerit2
Tdk jarang krn tingkahnya ini, memicu kekesalan km terutama ayahnya
Dan kondisi pernikahan ku pun makin memburuk, aku makin bertekad aku mesti minta cerai. Dgn alasan aku mau melindungi anakku dr kondisi yg semakin ga enak.
Ibuku menyarankan kl aku mesti konsultasi sm psikolog. Akhirnya aku pergi jg walaupun suamiku 1/2hati.
Hasil dr psikolog inilah yg akhirnya membuka mataku, terutama suamiku, hasil tsb, ckp buat suamiku shock berat Dan aku nangis berhari2
Anakku trauma berat, dia mesti menjalani krg lbh 6bln terapi utk melepas smua trauma2nya. Krn ternyata selain trauma krn 3 thn ini jg krn pengaruh aku selama hamil yg notabene stress akibat perlakuan suami Dan keluarganya Thdp ku.
Sejak hr itu aku Dan suamiku betul2 menyesal Dan betul2 bertekad utk merubah keadaan. Alhamdulillah walaupun terapi br Berjalan krg dr 1 bln, sdh bnyk Perubahan pd diri anakku, dia skrg terlihat ceria Dan "lepas".
Malah dia sendiri suatu hari spontan blg sm ibuku "nek, aku kok skrg pengennya ketawa terus yah?"
Aku ga bs bayangin apa jdnya kl aku betul2 bercerai dr suamiku, aku ga bs bayangin betapa berat beban mental yg pasti Akan dia tanggung. Krn semua yg dia alamin kmrn2 pasti akan berpengaruh sm kehidupan dia di ms depan.

2

Re: Divorce

dear meizadhania,

sy udah seperated & next year mo urus divorce. sy sih ga mao sampe kyk gini tp mo gmn lg, x-hubby udah ga bs diajak kerja sama lg. sy merindukan mempunyai pasangan yg 'memiliki hati' dlm bertingkah laku. bukan sekedar menempelkan status pemimpin/imam keluarga yg harus dipatuhi kata2a lantas bersikap otoriter.... sy masih menyayangi my x-hubby tp udah ga berharap dia akan berubah. kepercayaan sy udah ga ada bwt dia. seandai'a dia mau merubah pola pikir'a n mau hidup sama2 sbg 'pasangan' bukan sbg atasan dan bawahan. seandai'a dia bisa sedikit menetapkan prioritas dlm mengambil keputusan, sy tdk akan sampai terpikir utk divorce. dlm kasus mba rizky_ikhwan, suami beliau mau introspeksi n merubah sikap. tp sayang'a ga semua suami mau melakukan itu.

wlwpun skrg seluruh klwrg dia menyudutkan n menyalahkan sy, it's not a big problem. banyak org yg menyalahkan sy n mengasihani anak sy. menuduh sy sengaja memisahkan anak dr bapak'a (tega sama anak krn nanti perkembangan psikologis'a bakal terganggu). lalu sy teringat tulisan'a mba dee "catatan tentang perpisahan" yg sy copas ke blog sy n selalu sy baca. sy kutip sedikit di sini:

"Lantas, orang-orang pun berargumen: semua suami-istri juga pada ujungnya jadi sahabat! Mungkin iya. Mungkin juga tidak. Bahkan ada suami-istri yang menjadi musuh bagi satu sama lain meski mereka tetap menikah. Ketika sepasang suami-istri menjadi sahabat, mereka tentu bisa merasakan wadah apa yang paling tepat untuk menopang dinamika mereka. Jika pernikahan masih dirasakan sebagai wadah yang pas, maka mereka akan meneruskan persahabatan dalam cangkang pernikahan. Evolusi saya dan Marcell ada di kompartemen yang lain lagi. Cangkang pernikahan tidak lagi kami rasakan sebagai wadah yang “pas”. Jika dijalankan pun, cuma jadi kompensasi sosial yang alasannya bukan lagi kebahagiaan kami, melainkan kebahagiaan masyarakat, keluarga, sahabat, dan seterusnya. Satu opsi yang menurut saya sangat tidak sehat, membunuh pelan-pelan, dan kepalsuan berkepanjangan.

Lantas, bagaimana dengan Keenan? Apakah kebahagiaannya juga tidak kami perhitungkan? Analogi yang barangkali bisa membantu menggambarkan ini adalah petunjuk emergensi di pesawat. Dulu, saya sering bingung, kenapa orang tua disuruh memakai masker oksigen duluan sebelum anaknya. Sekarang saya mengerti, dan setidaknya ini adalah kebenaran bagi saya: kita tidak bisa membahagiakan orang lain sebelum kita sendiri bahagia. Satu buku yang sangat terkenal, “Celestine’s Prophecy”, juga bicara soal ini. Kita harus “penuh” dulu sebelum bisa “memenuhi” orang lain. Cinta bukanlah dependensi, melainkan keutuhan yang dibagi.

Saya menikah bukan karena Keenan, dan kalaupun saya bertahan menikah, seharusnya juga bukan karena Keenan. Karena kalau cuma karena Keenan, dengan demikian saya menaruh beban yang luar biasa besar dan bukan porsinya Keenan, bahkan saya menjadi seseorang yang tidak bertanggungjawab, dengan meletakkan fondasi pernikahan saya pada seorang anak. Ini barangkali bukan pandangan yang umum. Kita tahu betapa banyak orang di luar sana yang bicara bahwa anak harusnya menjadi pengikat, bahkan dasar. Bagi saya, Keenan bukan tali atau fondasi. Dia adalah anak panah yang akan melesat sendiri satu saat nanti. Kewajiban utama saya adalah menjadi manusia yang utuh agar saya bisa membagi keutuhan saya dengan dia. Dan keutuhan jiwa saya tidak saya letakkan dalam pernikahan, tidak juga pada siapa-siapa, melainkan pada diri saya sendiri. Saya hanya bisa bahagia untuk diri saya sendiri. Kalau ada yang lain merasa kecipratan, ya, syukur. Kalau tidak pun bukan urusan saya.

Di dunia di mana seorang martir selalu memperoleh citra istimewa, apa yang saya ungkap barangkali terdengar egois. Sama seperti narasi yang kerap digaungkan infotainment, yang berbicara soal kebahagiaan anak bernama Keenan dan “hatinya yang terkoyak karena keegoisan ayah-bundanya”, seorang anak yang tidak mereka kenal sama sekali tapi mereka berbicara seolah bisa menembus ke dalam hatinya. Padahal, kalau direnungi dalam-dalam, sesungguhnya kita tidak pernah berbuat sesuatu untuk orang lain, meski kita berpikir demikian. Kita berbuat sesuatu karena itulah yang kita anggap benar bagi diri kita sendiri. Dan kebenaran ini sangatlah relatif. Jika ada 6,5 miliar manusia di dunia, maka ada 6,5 miliar kebenaran dan ukuran kebahagiaan. Norma berubah, agama berubah, sains berubah, segalanya berubah dan tidak pernah sama. Kebahagiaan pun sesuatu yang hidup, berubah, dan tidak statis.

Membahagiakan Keenan, keluarga, para penggemar, masyarakat, juga menjadi keinginan saya. Tapi saya pun tidak bisa selamanya mencegah mereka semua dari ketidakbahagiaan. Karena apa? Seseorang berbahagia karena dirinya sendiri. Kebahagiaan bukan mekanisme eksternal, tapi internal. Ilustrasinya begini, dua orang sama-sama dikasih apel, yang satu bahagia karena memang suka apel, yang lain kecewa karena sukanya durian. Berarti bukan apelnya yang bisa bikin bahagia, tapi reaksi hati seseoranglah yang menentukan. Yang tidak suka apel baru bisa bahagia kalau akhirnya dia bisa menerima bahwa yang diberikan kepadanya adalah apel dan bukan durian—sebagaimana yang dia inginkan. Alias menerima kenyataan. Saya tidak bisa membuat siapa pun berbahagia, sekalipun saya ingin berpikir demikian. Kenyatannya, hanya dirinya sendirilah yang bisa. Saya hanya bisa menolong dan memberikan apa yang orang tersebut butuhkan, SEJAUH yang saya bisa. Namun saya tidak memegang kendali apa pun atas kebahagiaannya."

semoga bermanfaat

Single mom who loves her daughter so much. She drives me crazy!!!!!!!

3

Re: Divorce

Mommy Mysha,,aku bukan single parents,tapi suka jadi tempat sampah temen2 waktu SMA.
salah satu temenku orangtuanya fight terus,,tapi mereka ga cerai demi anak.
and walhasil anaknya jadi broken home plus malah benci sama ortunya.

4

Re: Divorce

Hugs to Rizky Ikhwan & Mommy Mysha...sabar yaa...

Rizky: semoga kelanjutannya semua baik2 aja ya smile

Mommy Mysha: semoga kuat ya dan diberi kemudahan dalam proses perceraiannya, juga diberi kelancaran mengurus Mysha hingga dia besar nanti.

Om gue juga bercerai waktu anak2nya kecil, umur 4 dan 9. Dua-duanya anaknya perempuan.

Anak yang kedua umur 4 waktu orangtuanya cerai, ngga terlalu inget karena masih terlalu kecil, dan dia tumbuh OK2 aja ga bermasalah dan dia tidak pernah punya masalah untuk menjalin hubungan dengan cowok, lalu umur 21 mulai hubungan serius, sekarang akan menikah umur 31 setelah 10 tahun pacaran.

Anak yang pertama umur 9 waktu orangtuanya cerai dan dialah yang paling menderita - well, dari luar ngga keliatan ya karena sepupu ini yg gue kenal adalah orang yang ceria. Tapi dia agak bermasalah dengan hubungan pria-wanita, dan dia jomblo sampe umur 34 tahun.

Orangnya supercantik. Pinter pula dan mandiri, tapi dia jadi trauma dengan hubungan percintaan dan dia takut memulai hubungan - baru 2 tahun yang lalu akhirnya punya pacar dan pacarnya itu 19 tahun lebih tua, profesor dan figur kebapakan banget.

Dulu dia pernah cerita, bahwa dia takut memulai hubungan itu karena takut kalo sampe punya anak terus cerai kayak orangtuanya.

Anyway, dia juga akhirnya memilih jalan psikolog, konsultasi dan syukurlah setelah itu dia jadi bisa membuka hati dan akhirnya ketemu cowok pertamanya yang profesor itu, dan masih jalan serius sampe skarang smile

Kadang2, memang kayanya melibatkan psikolog / konselor pernikahan ke dalam hubungan itu susah2 gampang, karena sodara sepupu gue inipun butuh waktu lama untuk bisa pergi konsul ke psikolog - karena dia tadinya berpendapat, "Psikolog itu kan orang asing, mana dia bisa ngasih saran ke gue??"

Tapi akhirnya setelah dia konsultasi, akar dan pemecahan masalahnya pun didapat dan dia bisa sembuh dari traumanya smile

Gue setuju sih dengan Dee Lestari, kalo gak selamanya perceraian itu buruk - justru kalo itu jalan terbaik yang bisa memberikan kebahagiaan ke masing2 pihak, apa boleh buat...

5

Re: Divorce

wah, topik yang serius yah...

moms, ini juga pernikahan aku yang kedua kok. Dulu, memutuskan untuk bercerai memang butuh kesiapan mental. Apalagi dengan embel2 status janda, dengernya aja freaky banget...:(

Anyway, pernikahan pertamaku hanya 41 hari. Yup, 41 hari alias 1.5 bulan aja. padahal pernikahanku waktu itu bukan karena perjodohan, NBA atau paksaan. Tapi normal seperti pernikahan2 lainnya, bahkan perayaannya cukup wah. Tapi sebetulnya pernikahan itu adalah bom waktu yang aku set waktunya, krn sejak aku kenal mantan suami dari sebelum menikah, dia sdh menunjukkan tanda2 kurang baik dan memang kurang "siap" menikah.  Maksdnya di akurang paham esensi sebuah pernikahan dan eksitensi dari suami maupun istri dalam pernikahan.Tapi aku waktu itu idealis banget, keukeuh akan menikah walopun ortu sdh melarang.

Yes, ada KDRT juga, baik fisik maupun batin. Untungnya aku belum punya anak waktu itu (karena baru 41 hari kali yah). Aku sih bukannya mendukung perceraian. Seandainya segala sesuatuya msh bisa diperbaiki, marriage is worth to fight kok, asal kedua belah pihak (suami dan istri) mau memperjuangkannya. Bukan hanya sepihak saja. Tapi, pada prinsipnya, kalo segala sesuatu sudah lebih banyak mudharat ketimbang manfaatnya, maka adalah lebih baik ditinggalkan. Termasuk juga pernikahan

meizadhania,
waktu itu (2006), aku yg gugat cerai ke pengadilan. Setelah dia memulangkan aku ke ortu, mantan suami cenderung "cuek", seolah2 mau membuat status ku "ngambang". Jadinya aku sbagai istrilah yg gugat ke court. Pengadilan kemudian melayangkan surat panggilan ke suami untuk datang ke persidangan. Dulu aku menjalani 8x sidang baru hakim ketok palu. Ini termasuk lama, karena mantan suami kurang ko-operatif dan bertele2. Lelah sih..., akhirnya yah, berpisah memang yang terbaik buat kami.

Januari 2007, aku resmi menjanda. Ternyata gak se"menakutkan" seperti yg aku pikirkan, asalkan kita bisa jaga diri. Tahun lalu 2010 awal, aku menikah dengan suami yang 7 tahun lebih muda dari aku. Namun usia tidak menjamin kedewasaan seseorang. Suamiku yang sekarang adalah sosok yang baik, dan ideal buat aku, alhamdulillah. Sekarang kami sdh dikaruniai anak laki2 berusia 2 bulan.

menghadapi kondisi spt yang dihadapi meizadhania, memang harus kuat hati, dan sabar. Moga apapun hasilnya yang terbaik yah...

uminya Rafisqy Raefal

6

Re: Divorce

oh my god
i love tum
tum emang auto blog

aku sampai lupa dulu pernah bikin thread ini.

kalau dihitung dari bln agt-sept 2011 aku sdh pny masalah yg pelik. desember 2011 kena kdrt.

tapi aku masih tahan demi anak

sekarang aku lagi tahap mengurus gugatan

moms, ada yg pernah pakai pengacara ngga buat kasus divorce?

7

Re: Divorce

Meiza,
Just wanna give you my big hug and pray "hope you'll get your best for your life with Arza, dear.."
*Bear Hug*

-Wiwid-
An ordinary Mother of twin amazing angels, Kira and Kara Setyadi