10 Parenting Tips That I Learned from My Mom

Banyak hal bisa kita pelajari dari ibu yang dapat dikatakan telah lulus membesarkan kita, seperti berbagai tips berkaitan dengan pengasuhan. Saya sangat beruntung memiliki ibu yang cukup modern meski terkadang ilmunya perlu sedikit saya sesuaikan dengan situasi dan kondisi saat ini.

Setiap ibu pasti memiliki cara masing-masing dalam membesarkan anak. Bahkan saya pun sedikit berbeda dari ibu saya. Namun ada beberapa tips yang saya terapkan untuk membesarkan anak.

1. Responsif terhadap masalah kesehatan

Kita harus jeli memperhatikan dan merespons kondisi kesehatan anak sedini mungkin. Saat anak sakit, mulailah mencatat gejala dan waktunya. Jadi jika perlu berkunjung ke dokter, saya dapat menceritakan kronologisnya secara jelas dan lengkap sehingga membantu dokter mendiagnosis penyakitnya.

Sebagai ibu, kita juga perlu memberikan batasan aktivitas sesuai anaknya masing-masing, jangan sampai terlalu lelah sehingga nanti ia rewel atau bahkan jatuh sakit.

Pemberian pertolongan pertama saat anak terluka juga sangat penting. Banyak sekali yang saya pelajari dari ibu saya, mulai dari mengompres dengan es batu saat terbentur untuk mengurangi lebam, jangan menidurkan anak saat mimisan, atau meminta anak tetap duduk dan menekan luka pada bagian kepala. Jika memungkinkan, sebaiknya kita memiliki buku panduan seperti Home Emergency Guide agar bisa merespons situasi darurat dengan baik.

2. Keeping their love tank full

Ibu saya termasuk orang yang rajin membaca buku terutama yang berhubungan dengan psikologi. Cobalah membaca buku The 5 Love Languages oleh Gary Chapman. Bukunya bagus sekali dan memang rekomendasi dari ibu saya.

Inti dari buku itu, setiap anak memiliki tangki emosional yang perlu kita penuhi. Bila anak merasa dicintai, ia akan jauh lebih mudah untuk didisiplinkan dan dilatih, dibandingkan bila tangki emosionalnya mendekati kosong. Caranya? Tentu saja dengan cinta. Namun agar ia merasakan cinta, kita harus belajar menggunakan bahasa cintanya yang berbeda-beda.

3. Second opinion

Saat kita pergi ke dokter karena masalah pada anak, tetapi merasa tidak puas atau ada yang masih terasa mengganjal, jangan segan-segan untuk cek ulang ke dokter lain. Dokter yang paling terpercaya dan tersohor sekali pun dapat membuat kesalahan.

4. Edukasi yang baik adalah salah satu prioritas utama

Sejak dulu, orangtua saya selalu menekankan betapa pentingnya pendidikan. Untuk edukasi, mereka berani membayar lebih. Orangtua saya telah memastikan bahwa biaya sekolah anak-anaknya sudah tersedia hingga lulus kuliah, apa pun yang terjadi nantinya.

5. Mengajarkan hidup sederhana dan peduli sesama

Saya beruntung hidup serba berkecukupan sejak kecil. Meski begitu, ibu selalu mengajarkan hidup sederhana dan tidak pernah menyombongkan apa yang kami miliki. Itu adalah hal yang sangat saya hargai dan syukuri. Menurut saya, hal itu sangatlah penting dalam hidup bersosialisasi.

Saya juga diajari hidup hemat dan menghargai barang. Waktu kecil, pembelian mainan sangat dijatah sehingga saya dituntut untuk mempertimbangkan mana yang saya betul-betul inginkan. Dengan sendirinya, saya menjadi sangat menghargai mainan tersebut. Lalu dua kali setahun saya diminta untuk melepaskan mainan dan barang-barang yang masih dalam kondisi baik untuk dibagikan kepada mereka yang kurang beruntung. Dari situ saya belajar untuk berbagi dan menghargai apa yang saya miliki.

6. Berkata dan bersikap jujur

Berbohong kepada anak kadang dapat memudahkan orangtua. Contohnya, si kecil menginginkan sesuatu yang tidak diperbolehkan. Kita dapat dengan mudahnya bilang “tidak ada” (padahal ada) dan semuanya selesai.

Di dalam keluarga kami, hal itu tidak dianggap baik. Bila memang tidak diperbolehkan, maka ada baiknya si anak diberi penjelasan. Pastinya terkadang perjalanan tidak semulus itu. Tapi lama-lama anak saya menjadi mengerti dan itu justru memudahkan saya ke depannya.

Sama juga dengan kata-kata. Saat saya harus pergi dan belum bisa memastikan akan pulang kapan, maka saya tidak akan menjanjikan hal yang tidak bisa saya tepati dengan pasti. Terlebih lagi anak saya memiliki memori yang sangat kuat. Saya harus lebih hati-hati lagi dalam memilih kata dan membuat janji.

7. Tidak Menakuti dan mengancam anak

Menakuti dan mengancam anak terkadang dapat menjadi jalan pintas yang mudah terutama saat kita sudah kehabisan akal. “Awas nanti digigit semut kalau pegang itu!” Anak bisa saja menurut, tetapi jadi takut dengan semut, takut digigit.

Ancaman lebih menggoda lagi. “Kalau tidak dibereskan mainannya nanti ibu buang!” Menurut Adele Faber, penulis buku How To Talk So Kids Will Listen, bila anak terbiasa diancam, mereka akan tumbuh menjadi anak yang tidak memiliki kepercayaan diri, mudah takut, atau justru cenderung memberontak.

Biasanya saya memilih untuk memberi batasan pada anak seperti “satu putaran lagi lalu kita bereskan mainan bersama ya” (karena anak saya baru berusia 2 tahun, ia belum mengerti arti “menit”).

8. Membiarkan anak menyelesaikan masalahnya sendiri

Ibu selalu membiarkan kami menyelesaikan sendiri jika ada pertikaian antara saya dan kakak, bila dilihat tidak membahayakan. Saya jadi terbiasa belajar menyelesaikan masalah sendiri.

Saya juga akan berbicara empat mata dengan si kecil saat masalah telah selesai. Memastikan ia mengerti apa yang benar dan salah, baik dan tidak. Memastikan ia mendapatkan pembelajaran dari hal yang dialaminya tersebut.

9. Menghargai dan menghormati sesama 

Bekal yang sangat berharga untuk kita semua terutama di zaman yang serba ada-ada saja ini. Dari kecil saya diajarkan bahwa tidak baik bila kita membeda-bedakan latar belakang seseorang (baik dari tingkat ekonomi, suku, maupun agama). Saya dituntut untuk menghargai dan menghormati sesama saya apa pun latar belakangnya.

Hal ini dimulai dari membiasakan diri mengucapkan kata “tolong” dan “terima kasih” setiap kali minta bantuan kepada ART. Hal sederhana seperti itu membuat saya tidak merasa ada yang superior atau inferior. Bahwa kita semua diciptakan sejajar, dengan hak yang sama.

Saya pun tidak pernah memilih-milih teman. Dari situ saya merasa bahwa pikiran menjadi lebih terbuka dan mudah menerima banyak hal yang beragam di dunia ini. Memiliki ayah yang sangat menghargai budaya dan seni juga membantu saya dalam hal ini. Bahwa semua ada cerita dan nilainya masing-masing yang dipercaya. Dan keberagaman tersebut yang membuat dunia ini menjadi lebih indah dan kaya.

10. Setiap anak unik

Ibu juga selalu memiliki prinsip bahwa semua orang itu unik. Mereka memiliki sifat dan talenta masing-masing yang membuat kita semua dapat saling bekerja sama membangun dunia yang lebih indah lagi. Selain itu, karena setiap manusia unik, maka penanganannya juga selalu berbeda-beda. Meskipun memiliki satu kasus yang sama, respon dan cara menyelesaikannya mungkin akan berbeda-beda.

Satu hal yang sedikit saya sesuaikan di sini adalah bahwa karena setiap anak unik, waktu tumbuh kembangnya juga berbeda-beda. Mungkin ada yang usia 10 bulan sudah berjalan, tetapi yang lain baru 15 bulan. Selama masih dalam batasan normalnya, saya rasa tidak perlu terlalu dibesar-besarkan.

Semoga sepuluh tips dari ibu tadi bisa membantu dan menjadi pengingat bagi kita semua. Urban Mama mau menambahkan?

Related Tags :

3 Comments

  1. avatar
    Retno Aini November 20, 2017 6:15 pm

    ah baca ini jadi kangen mamaku :') terima kasih utk sharingnya yaa mama Laura.

    1. avatar

      As .



  2. avatar
    musdalifa anas November 19, 2017 4:59 pm

    terima kasih tipsnya mama Laura, bener banget ini semua. Terima kasih tulisannya ya Laura, jadi pengingat lagi untuk kita semua mama :)

    1. avatar

      As .



  3. avatar
    ninit yunita November 17, 2017 9:54 am

    semua tips-nya baguuus banget!
    setuju semua :)
    sneng baca artikel ini, kebayang laura & mama pasti hubungannya menyenangkan. terima kasih sudah berbagi yaa... salam buat si kecil dunant dari bi ninit.

    1. avatar

      As .



Post a Comment

You must be logged in to post a comment.