6 Hal Pengerem Postingan Di Media Sosial

Imelda Sutarno A working mom with two gorgeous krucils. Suddenly love the outdoor recreations as an impact of married with her scuba diver husband, Bambang. Take the kids from beach to the hill, from forest to the waterfall, will always give her (and her husband) joy and enthusiastic. Cooking isn’t her middle name but always trying to give her family the best food that she can. Now she lives in Jakarta.

Aktif di media sosial sudah menjadi salah satu kebutuhan di zaman sekarang. Tak terkecuali bagi para mama seperti kita. Melalui medsos kita dapat saling berbagi, menambah teman, dan tentunya mengenal karakter teman-teman melalui postingan mereka.

Ada yang aktif, ada pula yang jarang di-update alias sekadar punya saja. Alasan pemilihan platform pun berbeda-beda. Ada yang menyukai Instagram karena bebas berbagi foto, ada pula yang lebih menyukai Facebook karena fitur share-nya bisa lebih banyak, mulai dari berbagi video, link berita, gambar, dan masih banyak lagi.

Jika mengikuti feeds di medsos, akan terlihat aneka karakter dari teman-teman kita. Sering kali apa yang diposting pun menimbulkan pro kontra.  Ada yang bilang sebaiknya memposting yang proporsional, ada pula yang bilang posting itu terserah masing-masing, kan media sosialnya milik pribadi?

Sementara untuk diri sendiri, semakin ke sini saya pribadi berusaha untuk semakin “pikir-pikir dulu” sebelum memposting sesuatu. Kalau dulu rasanya semua ingin diposting. Anak baru lahir posting. Anak ulang bulan (bukan ulang tahun loh), bikin status. Lagi galau dan sebal sama sesuatu, bikin status. Benar-benar tidak ada remnya.

Dan sekarang ketika flash back, semua jejak digital itu dibaca lagi. Timbullah rasa malu. Ah kenapa dulu pasang status seperti itu ya? Ah kenapa dulu berlebihan sekali menumpahkan kemarahan lewat timeline ya?

Sekarang ini sejujurnya, saya mulai memfilter apa yang layak dan tidak untuk diposting di timeline. Termasuk setting postingan tersebut, apakah untuk konsumsi publik, teman-teman di list saja, atau bahkan privat? Lalu apa yang membuat saya akhirnya mengerem untuk tidak asal posting di media sosial? Ini beberapa di antaranya:

  1. Keluarga besar
    Terutama sekali sesudah menikah, perubahan ini sangat terasa. Ada pihak keluarga besar suami di samping keluarga besar sendiri. Sering kali ada acara kumpul keluarga entah itu arisan, pernikahan, dan lain-lain. Membayangkan bertemu muka dengan mereka sementara postingan masih asal dan kurang bermutu, membuat saya akhirnya bersyukur masih ada yang mengingatkan secara tidak langsung.
  2. Guru sekolah anak-anak
    Sejak anak pertama masuk sekolah, saya mulai menyaring dan berpikir ulang berkali-kali sebelum posting sesuatu di medsos. Beberapa kali sering lupa dan memposting hal kontroversial. Karena jumlah teman yang banyak lalu lupa kalau dua atau tiga di antaranya adalah wali kelas dan kepala sekolah anak saya. Ketika memposting dan mendapatlikedari mereka, barulah tersadar dan malu. Saya pun belajar dari medsos para guru tersebut. Melihat postingan mereka yang biasa saja, tidak ada sesuatu yang kontroversial terutama dalam foto-fotonya, membuat saya  pun ikut berbuat seperti mereka. Kalau mereka, sudah tentu wajib jaga wibawa ya terutama di mata orang tua murid, makanya berupaya sebaik mungkin tampil di dunia maya. Kalaupun ada masalah, entah di rumah tangga atau personal sudah tentu dijaga agar tidak asal umbar via medsos. Syukurlah bisa berteman dengan beliau-beliau ini di dunia maya.

  3. Anak sendiri
    Saya banyak membaca di media dan mulai berpikir, bahwa ada benarnya juga: apakah anak setuju kalau fotonya diunggah ke medsos orang tuanya? Mungkin lucu untuk kita melihat pose si kecil memonyongkan mulut, pakai helm kebesaran, dan lain-lain. Mungkin penting bagi kita untuk mengunggah foto anak yang sedang dirawat di RS lengkap dengan infus dan muka sayunya. Kita berharap akan ada banyak doa terucap untuk kesembuhan anak kita. Namun, belum tentu buat si anak. Mungkin ada yang setuju, tetapi ada pula yang malah merasa dipermalukan dengan “pemberitahuan ke seluruh dunia” melalui foto itu. Sekarang ini mulai lebih memikirkan perasaan anak-anak. Apalagi semakin mereka besar, semakin paham, semakin besar rasa malu dan gengsinya. Dan akhirnya berpikir: kalau kita ada di posisi mereka, kira-kira bagaimana?
  4. Teman-teman suami
    Ya, saya pun berteman dengan beberapa di antara teman-teman suami. Karena suami saya orangnya berkarakter lempeng baik di mata saya maupun semua temannya, saya tidak ingin ke”lempeng”annya dia kemudian berubah total gara-gara istrinya posting asal-asalan di medsos. Bagaimana kalau tiba-tiba saya mengungkapkan kemarahan atau nyinyir di Facebook misalnya, lalu dibaca oleh teman suami? Duh gak kebayang sedihnya suami melihat kenyataan ini ya, Urban Mama.
  5. Orang jahat di luar sana
    Bisa penipu, pedofil dan masih banyak lagi. Mereka inilah yang membuat saya dan mungkin jutaan orang yang aktif bermedsos, mesti super waspada dan memilah benar apa yang akan diposting. Berkat mereka, saya mengerem untuk menampilkan wajah anak-anak saya di medsos. Sesekali masih, tapi kadang saya pilah dulu anglenya yang tidak secara langsung memperlihatkan wajah.
  6. Umur
    Akhirnya kembali ke diri sendiri. Ya, umur juga menjadi pemicu saya makin memilah mana yang pantas, mana yang tidak. Rasanya malu, jika makin tua tetapi perilaku bermedsos masih seperti ABG. Contohnya, saya punya teman yang usianya sudah hampir 50 tahun tetapi nama Facebooknya itu semacam begini: NdyndyCayankMizziCelalu. Belum lagi jika menulis status, selalu mengganti kata “iya” menjadi “eaa..” atau “gue” hanya ditulis “w” dan bukan dalam konteks bercanda.


Setelah enam hal tersebut, mungkin banyak yang merasa, bahwa dengan mengerem di sana sini, menjadi jaim atau apa pun namanya, pada akhirnya kita tampil menjadi pribadi yang bukan “kita yang sebenarnya” di medsos. Jika pribadi aslinya sensitif dan mudah tersinggung, tapi di medsos demi tampil berwibawa di depan guru anak-anak di sekolah, maka menjadi pribadi yang santun dan share link yang positif-positif aja.

Tak apalah jika ada yang berpendapat demikian. Saya pribadi hanya berharap, syukur-syukur wibawa dan perilaku bijak yang kita tampilkan di sosmed pelan-pelan bisa diterapkan secara nyata di keseharian alias di dunia nyata.

Nah kalau Urban Mama, apa yang biasanya mengerem hal yang akan diposting di medsos pribadi? Yuk share di komen...

Related Tags : ,

8 Comments

  1. avatar
    Atika dian Pitaloka August 9, 2018 9:28 am

    Thanks udh jadi reminder supaya bisa lebih hati2 share sesuatu ke sosmed.

    1. avatar

      As .



  2. avatar
    Eka Gobel August 7, 2018 6:44 am

    Salah satu pengeremnya yaitu inget mati. Serem yaa.. aku kadang suka bayangin, kalau aku udah ngga ada, dan orang lain pada ngecek page ku. Kalau ada postingan yang aneh2 kan rasanya gimana gitu ya. Jadi kalo di sosmed posting yang seneng2 aja, yang seru2, kalau yg jelek2 atau yang sedih2 sebisa mungkin ga perlu dishare di sosmed. Share ke orang2 yang berkepentingan aja, ga perlu di sosmed.

    1. avatar

      As .



  3. avatar
    Leila Niwanda August 3, 2018 1:49 pm

    Nomor 5 itu memang seram...ada teman yang foto keluarganya pernah dipakai untuk nipu orang. Jadi orang yang tertipu lalu menyebarluaskan foto temanku ini di forum dan media sosial dengan embel-embel "hati-hati, orang ini penipu."

    1. avatar
      Imelda Sutarno August 6, 2018 3:06 pm

      Halo mbak Leila, mohon maaf baru membalas. Nah makanya, sebaiknya lebih waspada dan menimbang-nimbang dulu sebelum posting foto diri, anak maupun keluarga ya mbak :)

      1. avatar

        As .



    2. avatar

      As .



  4. avatar
    Ane Nurjanah Saari August 1, 2018 11:17 am

    Thaks ya pencerahannya... Sdkt byk udah puasa sm postingan di fb malah udah uninstall saking pgn menjauh dr medsos satu itu klo lg iseng bgt aja ngintip dikit

    1. avatar
      Imelda Sutarno August 2, 2018 12:05 pm

      iya sama-sama Mama Ane Nurjanah. Terkadang exhausted juga ya rasanya bermedia sosial :)

      1. avatar

        As .



    2. avatar

      As .



  5. avatar
    Cindy Vania August 1, 2018 8:19 am

    Aku ngerem kalau lagi malas main sosmed mba Imel. Biasanya lebih efektif, hahaha..

    1. avatar
      Imelda Sutarno August 1, 2018 10:45 am

      berarti faktor pengeremnya adalah rasa malas ya mbak cin? Iya aku juga kadang gitu sih hihihi.....

      1. avatar

        As .



    2. avatar

      As .



Post a Comment

You must be logged in to post a comment.