Tinggal di Apartemen Bersama Balita

Salah satu impian saya setelah berkeluarga adalah bisa tinggal di rumah berhalaman indah. Halaman belakang rumah yang ditumbuhi rumput hijau segar, anak-anak bisa bermain dan berlari di sana, kami sekeluarga bisa main piknik-piknikan di halaman rumah, lalu ada pohon besar yang bisa dipanjat... persis seperti rumah masa kecil saya kala tahun 80an di Ambon.

Kenyataannya setelah menikah, saya dan suami harus tinggal di rumah sewa apartemen. Saat itu, tipe hunian tersebutlah yang masih terjangkau oleh kondisi keuangan pasangan muda seperti kami. Saat dua tahun kemudian anak pertama kami lahir, kami masih tinggal di apartemen tersebut sampai anak kami berusia tiga tahun. Yakin deh, pasti banyak juga keluarga muda yang mengalami hal serupa, terutama bagi mereka yang tinggal di tengah perkotaan. 

Tinggal di apartemen memang ada kelebihan dan kekurangannya. Saat ini kebanyakan apartemen di kota-kota besar di Indonesia terletak dekat dengan pusat kota sehingga aksesnya mudah untuk ke kantor, sekolah, dan pusat perbelanjaan. Tetapi salah satu kekurangannya adalah ukuran unit apartemen memang tidak seluas hunian rumah biasa. Selain itu harus berbagi ruang publik dengan tetangga kiri-kanan-atas-bawah. Belum lagi saat si kecil hadir, mereka juga butuh tempat untuk tumbuh dan bermain.

(kredit gambar: www.pexels.com)

Banyak hal yang harus dipertimbangkan oleh keluarga muda saat memilih tinggal di apartemen, terutama kalau sudah ada anak. Namun bukannya tidak mungkin aman-nyaman tinggal di apartemen. Berikut beberapa tips yang Urban mama-papa dapat lakukan untuk mempermudah kondisi tinggal di apartemen:

  • Siapkan apartemen yang aman untuk si kecil, dengan cara babyproofing seisi rumah sedari awal. Pasang slot pengaman di pintu lemari, rak, dan laci serta beri pengganjal di pintu-pintu ruangan agar jari anak tidak terjepit saat anak sedang belajar merambat. Minimalisir pula pajangan pecah belah dan dekorasi dengan kain/temali menjuntai (bahaya tercekik). Kalau anak lebih banyak bermain di kamarnya, beri pintu pagar tambahan untuk membatasi daerah bermain anak. Kalau ada pintu balkon, pastikan selalu dikunci jangan sampai bisa dibuka sendiri oleh si kecil.
  • Sebisa mungkin gunakan furnitur rak/laci yang benar-benar dipasang kokoh, serta tidak menumpuk terlalu banyak barang/boks penyimpanan yang nanti mudah dipanjat si kecil & dapat jatuh menimpanya.
  • Siapkan perabot yang aman bagi bayi seperti high chair dengan sabuk pengait, bak mandi anak yang dangkal agar aman dari bahaya tenggelam, serta pilih furnitur rumah yang ringkas.
  • Di Indonesia banyak laundry kiloan, bukan? Manfaatkan laundry kiloan, terutama untuk cucian yang berat-berat seperti seprai, selimut, handuk, dan beberapa baju kerja yang khusus. Kalau untuk baju rumahan, pakaian dalam dan baju-baju anak masih saya cuci sendiri. Kalau ruangan di rumah tidak cukup untuk menjemur cucian, bisa disiasati dengan pasang dehumidifier di ruangan tempat cucian dijemur. Plus, dehumidifier ini lebih murah daripada mesin pengering cucian. Seringnya di apartemen itu area balkon tempat menjemur baju terbilang kecil/sempit. Ini dapat disiasati dengan menjemur cucian di ruang tengah saat malam hari & pasang dehumidifier agar udara tidak terlalu lembap dan cucian cepat kering. Kalau apartemennya ada laundry room komunal dan ada pengering baju, ini lebih enak lagi.
  • Bicara tentang cucian, dulu saya berdamai dengan kenyataan kalau ternyata pakai disposable diaper jauh lebih efisien daripada pakai popok kain. Minimal sangat membantu mengurangi cucian. Lelah yaaa kalau sehari-hari tinggal di apartemen bersama balita, tanpa asisten rumah tangga, lalu masih juga dapat PR cucian popok menggunung selain cucian baju sehari-hari.
  • Fokus kepada tugas rumah tangga yang penting. Ini beda-beda ya bagi setiap orang; kalau saya, rumah bersih bebas debu adalah prioritas utama karena saya & anak alergi debu, tetapi menyetrika baju dan memasak bisa turun prioritasnya ke nomor sekian. Hanya baju-baju kerja suami dan baju-baju bepergian saja yang masih saya setrika. Soal memasak pun, dulu waktu masih tinggal di apartemen saya nyaris tidak pernah memasak. Maksudnya, untuk makanan sehari-hari saya dan suami biasa beli di warung atau food court dekat apartemen, serta makan yang mudah-mudah saja seperti buah, roti isi keju, ikan panggang, serta minum susu dan jus. Makanan yang masih dimasak sehari-hari hanya MPASI untuk anak, atau kalau kangen masakan Indonesia. Baru setelah anak kami masuk daycare dan mulai makan table food, saya mulai bisa santai masak-masak kembali dan hidangan 4 sehat 5 sempurna kembali terhidang di meja makan.  
  • Tinggal di hunian apartemen berarti dinding-dinding pun bisa mendengar. Meski sayup-sayup, tetapi kita bisa mendengar obrolan tetangga sebelah rumah, dan tetangga mendengar kencangnya tangisan bayi kita. Pada akhirnya supaya malam tidurnya nyenyak jarang menangis, setiap sore suka kami bawa jalan-jalan keluar. Barang sejam saja, jalan-jalan pakai stroller, atau pakai baby carrier. Ternyata dia bosan kalau bermain di rumah saja. Kalau anaknya sudah lebih besar bisa diajak main di playground apartemen, jalan kaki di sekitar taman apartemen, atau main air di kolam apartemen tetapi harus selalu diawasi ya Urban mama. Sambil ajak anak bersosialisasi dengan orang di sekitarnya, sekalian kalau kami bertemu tetangga dan ngobrol, suka kami bilang "Maaf ya anak kami semalam menangis keras, dia sedang sakit/nggak enak badan."
  • Soal stroller, siapkan stroller yang ringkas digunakan, mudah dilipat/dibuka & tidak memakan tempat saat disimpan dalam rumah apartemen.

Kuncinya memang harus pintar-pintar mengatur prioritas. Dan yang terpenting dengan fasilitas yang tersedia, urban mama-papa dapat menyediakan lingkungan yang aman dan nyaman untuk si kecil. Adakah tips lainnya dari Urban mama yang tinggal di apartemen bersama balita? Yuk bagi tipsnya di sini!

Related Tags : ,,,

6 Comments

  1. avatar
    Ragazi November 6, 2018 8:45 pm

    Mbak kalau di apartemen apakah boleh memasang teralis di jendela?

    1. avatar

      As .



  2. avatar
    dewiayulestari July 17, 2017 8:46 am

    tipsnya menolong bgt, saya dari dulu ikut suami mulu tinggal di apartemen. sekarang udh punya balita, emang beda ya rasanya hehehe malah ada rencana mau pindah kesini http://meikarta.com/ soalnya suami mau ditugasin di cikarang nanti, ya biar deket aja lokasinya sama kantornya. semoga anakku betah2 aja nanti heuheu

    1. avatar
      Sartika Sari January 8, 2018 4:37 pm

      awalnya pasti agak rewel mbak, tapi lama2 pasti terbiasa dia sama kondisi lingkungan yang baru. btw, selamat ya mau pindah ke meikarta, cerita2 donk nanti. disana kan katanya bakal jadi kota yang modern banget

      1. avatar

        As .



    2. avatar

      As .



  3. avatar
    Dewi Febrianti June 6, 2017 11:14 pm

    Toss mbak Ai. Same here! :D

    1. avatar

      As .



  4. avatar
    ninit yunita May 30, 2017 10:46 am

    Kayaknya ngga ada tips tambahan deh Ai :D udah lengkap dan bagus banget nih. toss dari sesama yang tinggal di apartemen.

    Semua pasti ada plus minus-nya, atas beberapa pertimbangan, kami juga memilih tinggal di apartemen. Jadi begitu nginep di rumah yang bisa menjejak tanah, rasanya hepiii banget :D

    1. avatar

      As .



  5. avatar
    Cindy Vania May 30, 2017 8:39 am

    Wah, terima kasih tipsnya ya mba Ai!
    Aku malah pengen banget tinggal di apartemen nih.. biar bisa deket sama kota :))

    1. avatar

      As .



Post a Comment

You must be logged in to post a comment.