Ketika Papa Pergi Bertugas

Pada suatu siang, ponsel saya berbunyi tanda notifikasi email masuk. Ternyata dari guru sekolah Alma. Awalnya saya pikir, oh newsletter apa lagi dari sekolah, karena biasanya setiap hari Senin sekolah selalu mengirimkan newsletter mingguan untuk semua orangtua siswa. Namun hari itu hari Rabu, bukan Senin.

Betapa kagetnya saya saat membaca email bu guru yang mengabarkan bahwa tadi di sekolah Alma bertengkar dengan salah satu teman sekelasnya. Awalnya memang si teman yang mulai duluan menjahili Alma, namun di luar dugaan, Alma marah besar dan menangis sampai butuh dipeluk agak lama dan ditenangkan oleh bu guru. Kata bu guru, baik dirinya maupun teman-teman sekelas Alma kaget melihat reaksi Alma dan selama bersekolah, tak pernah sebelumnya Alma bereaksi seperti itu karena -menurut bu guru- Alma termasuk anak yang cool dan cenderung cuek. Bu guru pun bertanya, apakah ada sesuatu yang terjadi di rumah, atau ada hal lain yang akhir-akhir ini membuat Alma sedih.

Akhirnya saya memutuskan untuk menjemput Alma lebih awal dan membuat temu-janji esok pagi dengan bu guru untuk membicarakan 'insiden' tersebut. Setibanya di rumah, setelah Alma kenyang makan dan sudah santai, pelan-pelan saya bertanya ada apa tadi di sekolah. Alma agak kaget mengetahui bahwa saya tahu kejadian tersebut. Saya bilang, tentu saja mama tahu karena bu guru memberitahukannya kepada mama. Kalau Alma cerita ke mama apa yang bikin Alma sedih, nanti mama dan bu guru bisa sama-sama bantu Alma supaya tidak sedih lagi.

Alma pun terdiam agak lama, dan kemudian berkata, "I was mad today because I miss Papa..."

Ya Tuhan. Ternyata karena anaknya kangen sama papanya, toh! Saking kangennya sampai uring-uringan.

"Tapi Alma," lanjut saya lagi, "Kan Papa baru berangkat tugas kemarin? Sekarang sudah kangen?"

"Yes, of course! I miss Papa! Why Papa have to go to København that long, Mama? Two weeks is quite long, right? When will Papa come home?"

"Kalau kangen Papa, nanti malam kan Alma bisa Facetime sama papa. Sebentar lagi juga bisa, kalau Papa sudah di hotel," tutur saya berusaha menghiburnya, "Coba Mama tanya ke Papa deh, sudah di hotel apa belum. Kalau sudah, kita Facetime sama Papa. OK?"

Alma pun tersenyum lebar, "OK, Mama!"

 ***

Kalau diingat-ingat, sebenarnya itu bukan kali pertamanya suami saya pergi tugas sampai berbulan-bulan. Beberapa tahun lalu, bahkan pernah papanya Alma pernah ditugaskan ke 3 negara berturut-turut yang kebetulan berlangsung selama bulan puasa. Jadi selama bulan puasa hingga lebaran pun beliau tak ada di rumah. Namun saat itu Alma masih berusia 4 tahun, belum ingat apa-apa, tak ada insiden Alma menangis marah karena kangen papanya. Yang dia tahu hanya setiap sore dan sebelum ia tidur wajah papanya selalu muncul lewat Facetime, dan keesokan harinya ia pun biasa-biasa saja, tak ada air mata haru biru setetes pun. Namun kali ini anaknya sudah mulai besar, rentang jenis emosinya pun sudah lebih luas dan lebih banyak. 

Singkat cerita, saat bertemu dengan bu guru di sekolah, saya ceritakan bahwa papanya Alma baru saja berangkat bertugas selama dua minggu. Memang ini bukan pertama kalinya ditugaskan jauh, tetapi dengan situasi belum sampai setahun kami pindah ke kota yang ditinggali sekarang dan hanya kami bertiga jauh dari sanak saudara, ditambah Alma dekat sekali dengan papanya, jadi Alma sangat sedih sekali papanya pergi bertugas. Apalagi saat itu papanya harus mengejar flight paling pagi sehingga tak sempat pamit ke Alma dan mungkin ini yang membuat Alma merasa 'dicurangi'. Saya ceritakan pula bahwa Alma sudah 'curhat' dan saya juga menasihatinya bahwa wajar ia merasa sedih saat papa pergi bertugas, tetapi kalau sedih sampai membuatnya mudah marah, maka itulah saat yang tepat untuk bercerita ke mama dan bu guru agar Alma bisa merasa lebih enak. Karena kalau di sekolah pun sedih, nanti Alma tak akan menikmati sekolah. Bu guru pun setuju dengan langkah yang kami ambil, dan memberikan beberapa saran agar Alma merasa enakan. Selain itu bu guru pun akan bantu  mengamati kondisi Alma selama tiga hari berikutnya sampai Alma betul-betul merasa enakan.

Sebelumnya yang saya tahu hanya separation anxiety lebih banyak dialami anak-anak usia balita atau prasekolah. Anak yang menangis saat ditinggal ibunya pergi sebentar atau bahkan menangis parah tak mau ditinggal di daycare sampai-sampai harus memegangi tangan ibunya selama seminggu pertama bersekolah di TK (adik saya, contohnya). Memang, separation anxiety umum ditemui pada anak-anak usia balita, namun ternyata sangat mungkin juga ditemui pada anak usia sekolah bahkan remaja. Kejadian ini membuat saya berpikir ulang bahwa ternyata semakin anak tumbuh besar dan semakin luas rentang jenis emosinya, maka separation anxiety-nya berubah bentuk dan rupa. Sayangnya pada anak-anak yang sudah lebih besar, emosi yang mereka rasakan saat menghadapi separation anxiety ini tak jarang diartikan sebagai sikap cengeng atau pemarah. Untungnya saat itu, guru sekolah Alma sigap membaca kondisi Alma, yang bahkan saat itu saya agak lalai mengamatinya karena sibuk membantu menyiapkan ini-itu sejak sebelum keberangkatan suami untuk bertugas.

 

Bulan lalu, suami kembali ditugaskan bepergian. Kali ini tak tanggung-tanggung: ikut ekspedisi di kapal research vessel ke laut Kutub Utara. Wah ini harus disiapkan sejak jauh-jauh hari sebaik mungkin, pikir saya. Saya bukan psikolog atau ahli perkembangan anak, tetapi berikut beberapa hal yang saya dan suami sepakat lakukan untuk mempersiapkan mental Alma sebelum dan selama papanya pergi bertugas:

  • Melakukan kegiatan bersama-sama keluarga inti. Sehari atau dua hari sebelum suami pergi bertugas, saya mengusulkan agar kami jalan-jalan bertiga bersama Alma. Tak ada teman yang ikut, benar-benar hanya kami bertiga pergi bersenang-senang saja. Di akhir pekan, kami pergi ke akuarium dan makan-makan di restoran, lalu sisanya bertigaan saja menonton film dan makan yang enak-enak di rumah. Bahkan suami saya mengizinkan Alma mencoba beberapa gear dan baju aneh yang nantinya akan dipakai selama berada di atas research vessel sambil menjelaskan alat-alat tersebut dipakai untuk apa.
  • Jelaskan kepada anak, mengapa orangtuanya harus pergi bertugas. Seminggu sebelum suami pergi tugas, kami 'menyiapkan' Alma dengan membacakan ulang buku cerita anak seperti The Kissing Hand, The Invisible Strings, dan When I Miss You. Ada juga cerita tentang anak yang ibunya bekerja di luar negeri dalam kumpulan buku cerita anak berbahasa Indonesia. Ini untuk memberikan gambaran kepada anak bahwa ada kalanya orang dewasa harus pergi bertugas jauh karena tuntutan pekerjaan, namun mereka akan kembali pulang ke rumah. Ada kalanya Alma merasa agak sedih setelah dibacakan cerita tersebut, maka kami akan membacakan lagi buku cerita lucu -seperti buku Tuesday- agar ia merasa enakan. Sejak jauh-jauh hari, kami pun menyelipkan topik pembicaraan bahwa papa akan pergi bertugas di sini atau di sana, lalu kami akan mencari bersama-sama pada peta dan globe, di mana tempat papa akan ditugaskan. Agar Alma punya bayangan seperti apa pekerjaan papanya selama nanti bertugas, kami menonton video research vessel yang akan ditumpangi papanya selama ekspedisi. Karena menonton video tersebut, saya sendiri pun jadi tahu kalau ekspedisi yang diikuti suami nanti bisa sampai ke perairan kepulauan Svalbard habitatnya beruang kutub. Alih-alih sedih, Alma justru jadi antusias.  
  • Give kids a proper goodbye. At any age, saying goodbye is hard to do, apalagi saat anak melihat orangtuanya harus pergi tugas dan lama baru pulang. Beberapa orangtua ada yang memilih berangkat ketika anak sedang tidur atau di sekolah, yang mana -mungkin- cukup ampuh membuat anak tidak berlarut-larut sedih tetapi lain halnya dengan anak kami. Sepagi apapun ketika harus berangkat, papa akan membangunkan Alma, berpamitan dan memeluknya. Kami pikir, yang anak butuhkan adalah belajar menerima perubahan, bukan menghindarinya. Dengan berpamitan kepada anak, anak belajar untuk mempercayai orangtua selaku orang dewasa terdekat, dealing dengan rasa 'kosong' di masa-masa transisi, dan cukup membantu si anak melepas orangtuanya pergi bertugas.
  • Always keep in contact. Saat sedang berjauhan, usahakan untuk tetap bertukar kabar dengan pasangan, bisa dengan saling berkirim foto dan videocall jika memungkinkan. Saat suami ditugaskan ke luar kota atau luar negeri, ini mudah. Hampir tiap sore atau malam sebelum tidur, kami bisa kirim-kiriman foto dan videocall. Ini jadi obat kangen yang lumayan ampuh buat anak (dan ibunya juga). Namun begitu suami ditugaskan jauh di tengah laut di ujung dunia, di mana koneksi internetnya saja kadang ada kadang tidak, berarti kami tak bisa sering-sering mengirim foto, apalagi videocall. Kalau kondisinya seperti itu, maka Urban Mama/Papa dapat mencoba cara berikut...
  • Menulis surat. Mungkin ini terdengar cheesy, tetapi percayalah, cara lama yang satu ini sama ampuhnya kok. Ada kalanya anak tak banyak berbicara saat mendengar suara ayahnya di telepon atau saat terkesima mengobrol lewat videocall. Untuk anak yang sudah bisa menulis dan membaca, mengajarkan anak untuk menulis surat kepada orangtua dapat menjadi jalan keluar agar anak 'terbuka' bercerita, mampu mengutarakan rasa rindu dan unek-uneknya. Tak hanya anak, orangtua pun bagus untuk coba menulis surat buat anak di rumah. Jika Urban Papa atau Mama bertugas ke luar kota atau luar negeri, coba juga kirimkan kartu pos. Anak pasti senang sekali menerima surat dari orangtuanya dalam bentuk kartu pos bergambar hal-hal unik yang tak pernah mereka lihat sebelumnya. Saya mengutarakan ide ini kepada suami sebelum ia berangkat. Suami saya -yang memang tak romantis- malah berujar "Nggak banget ah, aku nggak pintar nulis-nulis surat. Gimana caranya pula kirim surat dari tengah laut?". Namun saya bersikeras memintanya sekaliiii saja mengirim surat untuk Alma. Tak perlu menunggu sampai kapalnya merapat agar bisa mengirim suratnya lewat pos, cukup tulis di selembar kertas, nanti suratnya difoto lalu fotonya dikirim ke kami lewat chat room. Seminggu kemudian Alma mulai uring-uringan, tanda kangen akut sama papanya. Saat chatting dengan suami, saya ceritakan perihal Alma tersebut dan bilang, mungkin sudah saatnya papa mengirimkan surat untuk Alma. Apalagi Alma sedang semangat-semangatnya membaca semua jenis tulisan dari buku hingga tulisan spanduk. Suami saya pun menulis surat untuk Alma. Sepulang sekolah, Alma senang bukan main membaca foto surat dari papa. Uring-uringannya pun lenyap tak berbekas. Kalau dipikir-pikir, persis seperti orang habis baca surat cinta, ya?
  • Sibukkan anak dengan kegiatan seru. Ini sebenarnya untuk pengalih perhatian saja. Ada kalanya rasa kangen itu paling terasa saat akhir pekan tiba, di rumah hanya ada kita dan anak-anak saja. Mengajak anak untuk melakukan kegiatan seru seperti jalan-jalan, bermain bersama teman, berolahraga, crafting, atau mengunjungi sanak saudara seperti ke rumah eyang, paman dan tante dapat menjadi pengalih perhatiannya. Saat akhir pekan tiba, saya memutuskan untuk mengajak Alma jalan-jalan ke akuarium, playdate dengan teman-temannya di perpustakaan, mengunjungi kids book event, dan seharian bermain di museum seni dan berkreasi di art lab. Akhir pekan pun tak terasa berlalu, dan Alma punya banyak hal seru untuk diceritakan kepada papanya dalam surat.  
  • Informasikan kepada guru wali kelas. Ada kalanya reaksi anak tak muncul saat di rumah, pagi-pagi berangkat ke sekolah pun semuanya tampak baik-baik saja, tetapi justru baru kelihatan sedihnya saat di sekolah. Dengan mengabarkan kondisi anak kepada guru wali kelas akan membantu guru untuk mengerti kondisi anak dan membuat anak merasa lebih enak saat di sekolah. 
  • Santai sedikit. Saat papanya pergi bertugas, berarti hampir semuanya harus saya lakukan sendiri, tak ada partner untuk berbagi tugas di rumah. Apalagi kami tinggal di rantau, semua benar-benar harus dikerjakan sendiri tanpa bantuan asisten rumah tangga. Di saat inilah saya berusaha untuk agak santai dan mengatur ulang prioritas pekerjaan, agar baik saya maupun si kecil tidak kecapekan, apalagi sampai bersitegang. Rumah berantakan sedikit tak mengapa, sesekali tidak masak tetapi beli kebab pun tak masalah, belanja pun cukup di minimart dekat rumah saja yang meski sedikit lebih mahal tetapi perjalanannya tak melelahkan seperti belanja ke supermarket. Alma pun sekarang sudah bisa dimintai bantuan untuk sedikit-sedikit mengerjakan pekerjaan rumah seperti memasukkan piring-gelas ke lemari dapur, membersihkan meja makan, memasukkan cucian ke mesin cuci, atau menata baju-bajunya yang sudah kering ke lemari baju. Sebagai imbalannya, saya perbolehkan ia santai menonton TV selama 30 menit (biasanya hanya saya izinkan menonton TV di akhir pekan) sambil kami makan eskrim.

Apakah setelah kami menjalani tips tersebut Alma bebas dari segala emosi haru biru saat papanya pergi tugas? Awalnya tidak, karena saat papanya pamit, Alma melepas papanya dengan tangisan. Namun beberapa menit kemudian Alma sudah bisa tertawa lagi saat saya menceritakan beberapa kejadian lucu yang dia alami saat jalan-jalan bersama papanya beberapa hari yang lalu. Untungnya kali ini kami sudah agak siap dan belajar dari pengalaman sebelumnya. Sejauh ini pun alhamdulillah emosi Alma masih stabil terjaga.

Semoga tips tersebut bermanfaat bagi Urban Mama dan Papa yang hendak menyiapkan si kecil ketika salah satu orangtua akan pergi tugas. Adakah  Urban Mama dan Papa yang menjalani kondisi serupa? Apakah ada tips khusus lainnya yang biasa Urban Mama atau Papa lakukan agak si kecil merasa enakan saat orangtuanya sedang pergi tugas? Silakan berbagi di kolom komentar ya.

4 Comments

  1. avatar
    Saski Nugrahani May 24, 2018 3:36 pm

    Makasih bu Aini dan Ibu2 pejuang LDM lainnya sudah berbagi cerita ttg pengalaman LDM nya :)
    Saya juga mengalami pengalaman serupa (LDM sejak sebelum menikah hingga setahun 4 bulan menikah, namun kami blm memiliki anak). Pengalaman LDM ini memberi insight bagi saya untuk menyusun tugas akhir kuliah (tesis) dgn topik serupa. Saya tertarik untuk mengetahui lebih lanjut mengenai gambaran keluarga yg menjalani LDM khususnya yg memiliki anak usia dini (kisaran usia 0-6 tahun). Apabila Ibu2 di TUM ada yg memiliki kriteria serupa dan bersedia untuk menjadi partisipan penelitian saya, saya mhn kesediaannya untuk me-reply di kolom berikut ya :) Makasih bnyk sblmnya

    1. avatar

      As .



  2. avatar
    dieta hadi March 2, 2018 9:42 am

    Alma aku terharu ih bacanya. Sedih ya ditinggal sebentar sama papa baim. Memang ya anak-anak yang tebriasa deket sama bapaknya dan seketika harus berjauhan sebentar pasti ada rasa kangen dan sedih. Mika yang deket banget sama bapaknya dibanding Jibril, jadi kalo bapaknya keluar kota agak lama dia suka bengong dan menghayal kalo bapaknya pulang mau ajak bapaknya main ini itu.

    Makasih ya ai artikelnya, bermanfaat sekali

    1. avatar

      As .



  3. avatar
    Cindy Vania February 26, 2018 9:26 pm

    Mbaa Ai, Alma keren ih bisa curhat dengan santai sama mamanya.
    Kid1 masih susah curhat karena setiap mau ngomong yang agak sedih gitu dia pasti langsung mewek :D

    Suka banget baca artikel ini. soalnya semenjak UAS kemarin kid1 mulai nggak bisa pisah sama mamanya sampai sekarang. Masalahnya di sini yang harus pergi kerja keluar adalah aku, dan keluarga pun udah nyerah deh kalo dia mewek2 gitu.

    Jadinya mama ngalah dan anaknya masih belom jelas kenapa nggak mau "say goodbye" sama emaknya :P

    1. avatar

      As .



  4. avatar
    ninit yunita February 25, 2018 11:34 am

    ya ampuuun alma :') deket banget yaaa sama papa. nah kebetulan kita sama, lebih memilih untuk pamitan langsung sama anak... sebelumnya juga diterangkan akan pergi untuk tujuan apa dan berapa lama. bagi kami ini ampuh untuk manage ekspektasi anak.

    thanks ai untuk artikelnya. suka! :)

    1. avatar

      As .



Post a Comment

You must be logged in to post a comment.