Ketika Si Kecil Jatuh Sakit Saat Bepergian Liburan

Beberapa waktu yang lalu, saya, suami, dan kedua anak kami (si sulung 4.5 tahun dan si bungsu si bungsu 19 bulan) melakukan perjalanan liburan selama 5 hari 4 malam. Persiapan matang telah dilakukan sejak jauh-jauh hari, termasuk persiapan fisik untuk kedua balita kami. Namun siapa sangka ternyata setibanya di kota tujuan, malam harinya si bungsu demam, batuk, dan flu. Sedih rasanya melihat ia lunglai di kamar hotel sambil dikompres air hangat. Rencana kami berjalan-jalan di malam itu terpaksa dibatalkan. Untuk tetap menjaga mood liburan si sulung, Pak Suami mengajaknya jalan-jalan sekitar hotel dan foto-foto. Kembali ke kamar hotel, saya dan si adik dapat oleh-oleh foto lucu dengan latar yang menarik. Lumayan, meskipun saya tak ikut keliling, tetapi jadi tahu spot-spot keren di sekitar hotel. 
 
Hari kedua dan ketiga, si bungsu masih tetap demam. Panasnya turun hanya jika diberikan obat penurun panas. Belum lagi batuk dan pilek mengganggu tidurnya. Walaupun ada fase panasnya turun, si bungsu tetap enggan beranjak dari tempat tidur. Pupus senyum dan celotehannya. Berbeda dengan si sulung yang kondisinya prima, semangatnya menggebu-gebu menangih janji mengunjungi tempat wisata yang kami janjikan. Saya berusaha menjaga mood saya pribadi dan mood seluruh anggota keluarga. Bagaimanapun juga, liburan harus tetap berjalan. Ribuan kilometer dari rumah, tidak ada pilihan untuk pulang sewaktu-waktu. 
 
Tanpa mengabaikan kondisi  si bungsu dan tak ingin mengecewakan si sulung, kami mengatur ulang itinerary untuk tetap mengunjungi objek wisata utama saja, mengesampingkan objek wisata tambahan, dan menambah porsi istirahat di hotel. Untungnya posisi hotel dan beberapa objek wisata berada dalam kawasan yang sama sehingga memungkinkan kami untuk pulang dulu ke hotel ketika ada jeda antara mengunjungi objek wisata pertama dan objek wisata berikutnya.
 
 
Hari keempat, si bungsu belum menunjukkan kondisi membaik. Saya selalu berkonsultasi lewat Whatsapp pada ibu saya yang kebetulan bekerja sebagai tenaga medis. "Demam disertai batuk dan pilek sebagian besar disebabkan virus," tutur ibu saya, "Tidak perlu khawatir berlebihan. Obat penurun panas boleh diberikan setiap 4-5 jam untuk membuat anak nyaman. Beri selalu asupan cairan untuk mencegah dehidrasi". Lanjutnya lagi, ibu berpesan, "Tetap pantau demamnya, biasanya fase demam 2-3 hari. Begitu landing, langsung periksakan ke dokter." Itu petuah beliau yang saya ingat. Jadwal mengunjungi objek wisata hari itu dibatalkan, dan seharian kami menemani si bungsu istirahat di hotel. Si sulung? Memanfaatkan semaksimal mungkin fasilitas hotel untuk menyalurkan energinya yang berlebih. Berenang, bermain tenda-tendaan di kamar, berendam air hangat di bathtub, dan jalan-jalan sore di sekitar hotel bersama ayahnya. 
 
Mungkin saya lelah berpura-pura tidak panik. Di malam hari keempat itu, setelah anak-anak tidur, tangis saya pecah sejadi-jadinya. Khawatir kondisi si bungsu yang tidak kunjung sembuh, lelah terbangun setiap tengah malam dan mendapati ia sedang mengerang lemah dengan demam tinggi. Sedih rasanya memandang foto si bungsu yang cantik ceria di bandara ketika berangkat, kemudian semua koleksi foto liburan si bungsu hanya duduk di stroller. Mungkin ini terdengar lebay, tetapi saya butuh menangis sebagai terapi jiwa. Setidaknya agar emosi tersalurkan dan memberi ruang untuk kekuatan baru menghadapi penghujung liburan ini. 
 
Hari kelima, saatnya kami bersiap pulang. Si bungsu sudah tidak demam walaupun batuk pileknya masih ada dan belum seceria biasanya. Selama flight pulang, si bungsu tidur sepanjang perjalanan. Begitu mendarat, kami segera memeriksakan kondisinya ke rumah sakit. Tidak ada sakit yang parah, memang karena virus, dan selama 3 hari berikutnya harus rutin di-nebulizer untuk mencairkan dahak di saluran bronkus.  
 
 
Apakah kami kapok mengajak si kecil liburan? Tentu tidak. Banyak pelajaran berharga yang bisa dipetik, antara lain: 
 
1. Mempersiapan fisik anak-anak seminggu sebelum keberangkatan: Pastikan anak-anak mengonsumsi makanan sehat. Ingat juga, kadang makanan dingin cepat sekali memicu radang tengorokan, walaupun itu bukan penyebab utama. Sebisa mungkin tunda dulu aktivitas bermain air dan berenang di kolam renang umum, setidaknya sampai kembali pulang dari liburan. Dan tidak lupa rutin memberikan vitamin penambah daya tahan tubuh untuk anak-anak.
 
2.  Menyiapan akomodasi dan itinerary sendiri tanpa menggunakan jasa travel agent, agar lebih fleksibel untuk anak-anak. Kenyamanan anak-anak dalam trip ini adalah prioritas utama, baik itu dalam pemilihan transportasi maupun penginapan. Terkait penginapan, usahakan mencari penginapan yang memiliki fasilitas ramah anak, dekat dari tempat wisata yang dituju dan/atau dekat fasilitas umum. Setiap family trip, saya dan suami ikhlas membobol celengan lebih banyak untuk akomodasi ramah anak dan mengencangkan ikat pinggang di pos pengeluaran makan atau obyek wisata. Seringnya kami membawa bekal makanan beku, beras dan rice cooker kecil. Dua balita kami juga belum bisa diajak berwisata kuliner dan makan yang aneh-aneh. 
 
3. Sebelum berangkat, siapkan obat-obatan pribadi untuk sekeluarga (termasuk obat penurun panas untuk anak-anak) dan termometer. 
 
4. Jika sesampainya di kota tujuan dan si anak sakit, maka yang dilakukan adalah: 
 
  • Usahakan tenang dan jaga mood agar tetap baik. Biar hati khawatir, tetapi pasang wajah senang karena ada anggota keluarga lain yang harus tetap dijaga mood dan semangat liburannya.
  • Untuk pertolongan pertama demam pada anak, beri obat penurun panas yang sudah dibekal dari rumah. Kalau lupa bawa, segera beli di apotek atau minimarket. Beri kompres air hangat di dahi anak.
  • Jika si kecil mampet hidungnya dan sulit bernafas, coba isi wastafel kamar mandi dengan air panas dan beri beberapa tetes minyak telon. Gendong dan temani si kecil di kamar mandi tertutup, biarkan si kecil menghirup uap minyak telon.
  • Atur ulang itinerary untuk mengunjungi objek wisata yang Urban Mama-Papa rasa paling penting dikunjungi. Sebagai gantinya, tambah waktu istirahat di hotel. Manfaatkan semaksimal mungkin semua fasilitas di hotel ketika tidak memungkinkan mengunjungi objek wisata.
  • Jika Urban Mama-Papa memiliki dokter keluarga, tetap berkonsultasi jarak jauh dengan tenaga medis untuk membantu memonitor kondisi fisik si kecil dan memperoleh second opinion.
  • Berusaha tetap menikmati liburan dan waktu bonding bersama anak-anak. Urban Mama dan Papa dapat berbagi tugas dan bergantian menjaga si kecil yang sakit dan memberikan kesempatan bagi anggota keluarga lainnya untuk tetap merasakan aura liburan, meski hanya sebentar saja.

Liburan keluarga adalah waktu spesial yang pastinya sudah Urban Mama dan Papa siapkan dari jauh-jauh hari. Jarang-jarang kan, bisa berlama-lama bersama anak-anak tanpa ingat waktu harus berangkat kerja atau disela oleh panggilan tugas dari kantor. Namun ada kalanya Urban Mama dan Papa hanya dapat berencana. Ketika si kecil sakit dalam perjalanan, utamakan agar si kecil merasa nyaman. Tetap semangat berlibur ya, Urban Mama.

Related Tags : ,,

1 Comments

  1. avatar
    Cindy Vania February 15, 2018 11:34 am

    Terima kasih tipnya ya ma.
    yang paling penting orang tua (mama) tetap tenang yaa saat si kecil sakit, walaupun jauh di dalam hati rasanya nyess juga.

    Saya juga beberapa kali mengalami si kecil sakit saat sedang liburan. Yaah paling nanti liburan buat anak yang sakit diganti/ditambahkan dengan staycation saja. heheh :)

    1. avatar

      As .



Post a Comment

You must be logged in to post a comment.