Membantu Anak di Dunia Barunya Dengan Cerita

Tahun ajaran baru sudah dimulai. Dan tiap tahunnya, banyak terlihat wajah-wajah cemas dan gelisah di banyak keluarga. Baik anak maupun orang tua, sama-sama resah. Betapa tidak. Sekolah baru, teman sekelas baru, guru baru, pelajaran baru, semua membuat anak tak nyaman. Sayangnya, seringkali anak tidak dapat ditenangkan hanya dengan kalimat, “semua akan baik-baik saja.” Lalu, apa yang orang tua dapat lakukan?

Pertama-tama, orang tua dapat menjelaskan ke anak dengan bahasa yang mereka mengerti (sesuai umur dan perkembangan mental anak) kalau perubahan terjadi bagi semua orang. Tua atau muda, anak atau dewasa, diharapkan atau tidak, semua orang pasti pernah masuk ke dunia yang baru. Apakah itu sekolah yang baru, teman yang banyak berganti, tempat kerja yang berbeda atau harus pindah ke kota/ negara lain. Suka atau tidak, seiring berjalannya waktu, kehidupan kita berbeda. Dunia kita pun turut berbeda.

Lalu, orang tua diharapkan mengerti dampak perubahan bagi anak. Jika orang dewasa saja dapat merasakan perbedaan nyata dari hidup di dunia baru mereka, anak-anak pasti akan mengalami dampak yang lebih besar. Bisa jadi, hal-hal yang dulunya "normal", tidak ada lagi di dunia baru mereka. Oleh karena itu, amat wajar jika anak  menjadi cemas.

Jika orang tua sudah dapat menyelami seberapa besar kecemasan anak, orang tua dapat memakai kekuatan cerita untuk membantu anak mengarungi dunia barunya. Kenapa cerita?

Cerita adalah hal yang disenangi semua anak. Baik dengan cara mendengarkan orang tua membacakan cerita baginya atau dengan membacanya sendiri. Apalagi jika isi ceritanya sejalan dengan apa yang anak alami saat itu.

Semakin anak dapat mengidentifikasikan dirinya sebagai salah satu tokoh cerita tersebut, pun merasa terwakili. Anak merasa masuk ke dalam cerita itu, di dalam cerita, anak merasa ia berada di dunia yang aman. Ia merasa berada dalam lingkungan yang melindungi dirinya dari perubahan yang terjadi di luar sana.

Mengapa demikian? Cerita adalah tuturan yang mengulas suatu kejadian, pengalaman, baik yang menyenangkan maupun penderitaan seseorang.  Cerita juga memperkenalkan ide-ide baru, hal-hal baru, tokoh cerita baru, gaya hidup baru, yang dapat dengan mudah dibayangkan oleh anak. Jika tokoh cerita yang masuk ke dunia baru akhirnya mampu mengatasi masalahnya, anak mendapat harapan kalau ia pun mampu mengatasi masalahnya.

Untuk itu, tugas orang tua adalah memberikan anak, cerita-cerita yang sesuai dengan kondisi perubahan yang dialami anak. Misalnya, saya pernah menerbitkan kisah "Thomas di Dunia Baru". Isinya tentang seorang anak yang berasal dari kota besar yang sibuk, namun harus pindah ke desa kecil yang tenang karena pekerjaan orang tuanya. Cerita ini cocok bagi anak-anak yang harus pindah tempat tinggal. Karena cerita ini mewakili masalah anak. Bagaimana sang anak kehilangan teman, sekolah, dunia “lama”nya dan semua berganti dengan teman baru, sekolah baru, lingkungan rumah baru dan seterusnya.

Saat membacakan cerita bagi anak, orang tua dapat menekankan perbedaan antara dunia sebelumnya dan dunia baru para tokoh di dalam cerita. Hal ini membantu anak-anak mengerti, tidak hanya isi ceritanya, tapi juga keparalelan masalah dengan masalah dirinya sendiri. Tentu saja masalah anak mungkin tidak sama seratus persen dengan isi cerita, tapi inti masalahnya sama. Dan hal ini pasti akan diperhatikan oleh anak-anak.

Kalau saya mengambil contoh kisah Thomas, orang tua dapat menekankan perbedaan yang ada antara hidup di kota besar dan hidup di desa. Misalnya: kurangnya kebisingan dari mobil, tidak banyak orang di jalanan, dan lingkungan yang lebih tenang. Ajak anak-anak untuk mengalami kehidupan di pedesaan dengan merawat hewan dan bunga juga. Perluas pembacaan dengan memberikan lebih banyak contoh daripada di dalam cerita. Memperluas cakrawala mereka, sambil mempersiapkan mereka untuk kehidupan baru mereka.

Ketika perubahan terjadi, banyak anak mungkin merasa kewalahan dengan perasaan mereka sendiri. Oleh karena itu, orang tua dapat menggunakan cerita yang menunjukkan perasaan tokoh cerita. Bandingkan perasaan anak-anak dengan perasaan tokoh cerita dan perjuangan mereka untuk menyesuaikan diri di dunia baru mereka. Ini dapat membantu anak-anak memahami perasaan mereka sendiri. Apa yang aneh, apa yang menakutkan, hal-hal apa yang membuat mereka kesal, hal-hal seperti apa yang akan membuat mereka takjub, antara lain. Jadi, mereka tahu bahwa ada anak-anak lain yang merasakan apa yang mereka lakukan. Bahwa mereka tidak sendirian, dan mereka seharusnya tidak menekan perasaan mereka.

Biasanya setiap anak memiliki kurva belajar sendiri. Pertama, mereka mencoba menghadapi ketakutan mereka terhadap semua hal yang berbeda. Dan kemudian mereka mungkin dengan enggan mencoba hal-hal baru. Jika hasilnya positif, mereka akan lebih percaya diri dan mulai menikmati dunia baru mereka. Tetapi ketika hasilnya tidak seperti yang diharapkan, anak-anak mungkin mulai kehilangan kepercayaan dan menjadi kewalahan.

Orangtua bisa memilih cerita dengan situasi serupa. Jadi, anak-anak dapat belajar dari keputusan yang diambil oleh tokoh cerita dalam cerita dan orang tua dapat menanyakan apa yang akan mereka lakukan jika mereka berada dalam situasi yang sama. Apakah mereka pikir mereka bisa melakukannya lebih baik daripada tokoh cerita? Ataukah mereka melakukan hal yang sama sekali berbeda? Dorong mereka untuk mengeksplorasi semua kemungkinan. Tekankan bagian lucu dari kegagalan tokoh cerita. Buat mereka mengerti bahwa hasil negatif tidak harus selalu berakhir dengan frustrasi.

Tetapi bukan hanya anak-anak yang dapat belajar dari cerita, orang tua juga mendapatkan manfaatnya sendiri. Dengan cerita, orang tua dapat melihat berbagai hal dari sudut pandang anak-anak. Ini memberi orang tua memahami bagaimana anak-anak melihat dunia mereka. Jenis bahaya apa yang mungkin mereka (atau mungkin tidak) sadari, apa dampak dari dinamika berbeda dalam komunitas bagi mereka, untuk menyebutkan beberapa hal yang mungkin tidak dilihat oleh orang tua dari mata anak-anak.

Ini akan sangat membantu orang tua dan anak-anak. Di dunia hal-hal baru yang tidak dapat diprediksi, mereka harus aman secara emosional. Ini hanya dapat dicapai jika anak-anak dapat memprediksi bagaimana orang tua mereka akan bereaksi dengan masalah mereka. Jika orang tua mereka tidak dapat memahami perjuangan mereka, siapa lagi yang dapat membantu mereka?

Mengalami dunia yang sama sekali berbeda bukanlah tugas yang mudah. Tetapi cerita-cerita dengan tokoh cerita-tokoh cerita serupa yang mengalami hal-hal serupa, akan membimbing anak-anak dan orang tua melewatinya dunia baru. Gunakan kekuatan cerita untuk membantu proses perubahan menjadi lebih mudah dan lebih menyenangkan.

4 Comments

  1. avatar
    Atika dian Pitaloka August 9, 2018 9:31 am

    Keren banget artikelnya mbak Kusumastuti. Jadi ilmu baru buat aku. Aku juga kadang membayangkan perasaan ortu saat si anak mulai sekolah. Ortu cemas juga anaknya bisa sosialisasi dengan baik dan gimana caranya make new friends. Harus hunting buku bacaan yang sesuai dengan pengalaman yang akan dihadapi anak ya.

    1. avatar
      Kusumastuti F. August 9, 2018 2:15 pm

      terima kasih mbak Atika,
      iya, seringkali anak juga susah mau cerita karena mereka sendiri tidak tahu kenapa kok tidak nyaman, dan tidak nyamannya di mana. Dengan cerita, anak bisa pelan-pelan membuka diri, oh ada toh yang punya nasib serupa.

      1. avatar

        As .



    2. avatar

      As .



  2. avatar
    Leila Niwanda August 3, 2018 8:51 am

    Wah, iya juga ya, Ma. Kadang 'mengorek' cerita dari anak itu tidak mudah. Dari sisi kita, takutnya seperti menginterogasi, atau siapa tahu juga anak belum cukup mampu mengekspresikan diri dan mengenali perasaannya sendiri dengan utuh. Jadi ingin coba metode ini. Terima kasih ya, Ma.

    1. avatar
      Kusumastuti F. August 3, 2018 2:15 pm

      Terima kasih mbak Leila. Iya, kadang anak hanya bilang, "ngga enak", "ngga suka", atau diam saja. Cerita bisa membantu menggali mengenali masalah anak jika waktu setelah membaca digunakan untuk mengobrol dengan anak tentang apa yang ia alami di dunia barunya. Terima kasih sekali lagi.

      1. avatar

        As .



    2. avatar

      As .



Post a Comment

You must be logged in to post a comment.