4 Tips Mengajarkan Toilet Training Ketika Anak Masuk Daycare

Ketika Rey memasuki usia 2 tahun, saya mulai memikirkan bagaimana cara mengajarkan toilet training. Pendekatan apa yang akan dilakukan, peralatan apa yang harus disiapkan, dan sebagainya. Tentunya proses toilet training ini akan berbeda-beda pada setiap anak. Pengenalan toilet training untuk anak yang 24 jam bersama ibunya, anak yang sehari-hari bersama pengasuh di rumah, maupun anak yang sehari-hari dititipkan ke daycare memiliki proses yang berbeda-beda.

Kita semua tahu bahwa kunci keberhasilan toilet training salah satunya terletak pada konsistensi ibu atau pengasuh  yang terus mengajari anak untuk BAB dan BAK di toilet. Karena Rey sehari-hari saya titipkan di daycare, saya mencoba mencari tahu strategi apa yang harus saya lakukan agar proses toilet training Rey di daycare dan rumah bisa berjalan sinkron. Berikut hal-hal yang saya lakukan untuk mengajarkan toilet training pada si anak daycare:

1. Mengomunikasikan Pada Pengasuh di Daycare

Bagi anak yang menghabiskan waktu lima hari dalam seminggu di daycare, tentunya proses toilet training ini akan lebih banyak dilakukan di daycare. Sebelum memulai proses toilet training, ada baiknya untuk membicarakannya bersama pengasuh yang sehari-hari menemani anak kita. Tanyakan terlebih dulu kepada pengasuh di daycare, apakah anak kita sudah menunjukkan tanda-tanda kesiapan memulai toilet training atau belum. Saya sendiri sempat menunda mengenalkan toilet training pada Rey setelah mendengar penjelasan dari pengasuh Rey. Waktu itu, Rey sama sekali belum menunjukkan tanda kesiapan, seperti masih bingung ketika dibawa ke toilet dan lebih nyaman buang air dengan popok yang masih terpasang. Namun setelah distimulasi beberapa kali, pengasuh Rey mengabari saya jika Rey sudah siap dan kita bisa memulai proses toilet training.

2. Ikuti Aturan di Daycare

Konsep toilet training sendiri adalah membuat anak merasa tidak nyaman ketika buang air besar atau kecil saat tidak menggunakan popok. Sensasi celana basah menjadi sensor untuk anak mengenali ketidaknyamanan tersebut. Namun demikian, menerapkan toilet training di rumah sendiri dan di daycare tentunya sangat berbeda. Di rumah, kita bebas saja membuat lantai rumah kotor saat anak sedang berlatih toilet training. Hal tersebut berbeda ketika anak kita berlatih toilet training di daycare. Di daycare tempat Rey sehari-hari dititipkan, ada peraturan untuk menggunakan training pants ketika sedang toilet training. Hal ini dimaksudkan agar ketika anak ngompol, maka kotorannya tidak langsung tercecer di lantai yang bisa menyebabkan anak lain terpleset. Namun training pants tetap memberikan sensasi basah yang tidak nyaman pada anak saat buang air.

3. Meminta Pengasuh Mencatat Frekuensi BAB dan BAK Anak

Saat awal belajar toilet training, setiap satu jam saya akan menawarkan Rey untuk buang air besar dan kecil di toilet. Hal ini saya lakukan karena belum tahu jadwal-jadwal Rey ingin buang air. Setelah mencoba beberapa kali membawa Rey ke toilet setiap satu jam, akhirnya terbentuk juga pola jam-jam dimana dia ingin buang air. Tentunya informasi ini saya catat dan bagi kepada pengasuh Rey di daycare. Selain berbagi informasi mengenai frekuensi buang air besar dan kecil, saya juga selalu meminta pengasuh di daycare mencatat kapan saja Rey mengompol di celana. Dari laporan tersebut, saya bisa mengevaluasi apakah Rey perlu lebih sering diajak ke toilet ataukah harus lebih giat mengingatkan Rey untuk bilang jika ingin buang air besar atau kecil. Sebagai anak yang diasuh di dua tempat berbeda, catatan jam-jam toilet training ini sangat bermanfaat.

4. Konsisten

Saat saya menyampaikan wacana untuk memulai toilet training pada Rey, pengasuh di daycare menjelaskan bahwa keberhasilan proses toilet training ini bergantung pada konsistensi usaha yang dilakukan orangtau dan pengasuh. Hal yang dikhawatirkan oleh pengasuh Rey adalah ketika si anak sudah konsisten selama 5 hari menjalankan toilet training, namun ternyata saat di rumah bersama orangtua justru kembali lagi menggunakan popok. Hal ini dapat membuat pola toilet training anak menjadi berantakan. Maka dari itu, sebisa mungkin saya berusaha konsisten dengan toilet training yang sudah sehari-hari Rey lakukan di daycare bersama pengasuh. Ini tujuannya agar Rey tidak merasakan perbedaan perlakukan ketika bersama pengasuh dan bersama saya dalam hal toilet training. Selain itu, agar Rey semakin paham dan terbiasa dengan buang air di toilet karena tidak ada cheating day untuk buang air di popok.

 

Setelah menjalankan toilet training beberapa bulan belakangan ini, Rey hanya perlu menggunakan popok ketika tidur malam atau ketika bepergian jauh. Selain itu, Rey juga menjadi terbiasa untuk buang air besar dan kecil di toilet. Hal yang masih menjadi PR besar adalah mengajarkan Rey untuk tidak pipis selama tidur malam, karena setiap malam saat terbangun, saya cek popoknya masih selalu basah. Apakah Urban Mama lain ada tips untuk mengajari anak agar tidak mengompol saat tidur malam?

6 Comments

  1. avatar
    dieta hadi November 1, 2017 10:38 am

    bener banet woro, TT itu memang butuh proses dan kesabaran. Kadang banyak orangtua yang ga sabar dan akhirnya membandingkan anaknya dengan anak lain yang bisa lebih cepat TT, padahal setiap anak memiliki proses yang berbeda. Di daycare ku banyak yg begitu, aku selalu minta untuk kerjasama orangtua juga, kita di daycare mencoba semampu yg kita bisa. TFS ya woro

    1. avatar
      Woro Indriyani November 2, 2017 11:47 am

      Iyes setuju banget mba Dit, dulu nanny nya Rey juga bilang begitu. Kalau TT kita lihat ke anaknya sendiri, ga perlu cepet-cepetan sama anak lain kalo ternyata anak kita memang belum siap :) . Pasti mba Dieta banyak ya cerita unik TT di daycare.

      1. avatar

        As .



    2. avatar

      As .



  2. avatar
    ninit yunita October 30, 2017 7:49 am

    tantangan selanjutnya dalam fase menjadi mama adalah toilet training si kecil :D bener banget apa kata woro, kuncinya adalah sabar dan konsisten.

    thanks for sharing the story yaaa woro :)

    1. avatar
      Woro Indriyani October 30, 2017 2:34 pm

      iya Teh bener, babak baru dunia per-ibu-ibu-an setelah menyapih, semoga bisa melaluinya tetap dengan penuh cinta :) .

      1. avatar

        As .



    2. avatar

      As .



  3. avatar
    Cindy Vania October 30, 2017 7:38 am

    Wah enak banget ya kalau pengasuh di daycare juga mendukung dan membantu dalam proses toilet training.

    Bener juga yaa, pasti setiap keluarga punya cerita toilet training yang berbeda :)

    Thanks for sharing mba Woro dan Rey!

    1. avatar
      Woro Indriyani October 30, 2017 2:34 pm

      betul mba, aku terbantu banget sama nannies yang di daycare :).

      1. avatar

        As .



    2. avatar

      As .



Post a Comment

You must be logged in to post a comment.