My E-Ping Story

Sekarang sudah lima bulan saya memerah ASI untuk Zafran.

Awal perkenalan saya dengan pompa ASI adalah waktu sahabat saya melahirkan. Kebetulan Zafran kuning sehingga harus disinar UV. Untuk mengoptimalkan penyinaran, Zafran mendapatkan ASIP yang disuapi oleh suster di rumah sakit. Saat itu, merek pompa ASI yang baru saya kenal adalah Medela, karena teman saya memakai pompa Medela Harmony.

Ketika hamil, karena menginginkan ASI ekslusif untuk anaknya selama 6 bulan (dan kalau bisa sampai 2 tahun), saya googling kiat-kiat untuk ibu bekerja agar bisa memberikan ASI. Ternyata banyak ibu bekerja yang sukses memberikan ASI eksklusif untuk anaknya dengan cara memerah ASI di kantor dan manajemen ASIP yang baik. Saya sampai tercengang melihat ibu-ibu dengan stok ASIP yang melimpah, bahkan waktu itu sempat melongo membaca cerita salah satu ibu yang hendak berangkat umroh dan bertekad menyiapkan 600 botol ASIP untuk anak kembarnya. Saya jadi makin optimis untuk memompa ASI saat nanti kembali bekerja di kantor.

Namun saya juga membaca cerita tentang ibu-ibu yang ASI-nya tidak keluar setelah melahirkan, atau keluarnya sedikit sekali sehingga harus ditambah susu formula. Akhirnya saya dan suami memutuskan untuk tidak membeli perlengkapan memerah ASI terlebih dahulu, menunggu kondisi produksi ASI saya setelah melahirkan. Kebetulan salah satu sahabat saya meminjamkan pompa ASI-nya karena sudah tidak dipakai lagi.

[caption id="attachment_97223" align="aligncenter" width="512" caption="Peralatan Pumping"][/caption]

Zafran lahir kurang lebih tiga minggu lebih cepat dari perkiraan. Untungnya, sehari sebelumnya saya sempat mensterilkan pompa ASI yang dipinjamkan oleh sahabat saya. Saat melahirkan Zafran, saya terkena pre-eklampsia. Pasca melahirkan saya harus masuk ICU sehingga tidak bisa langsung menyusui Zafran. Hari itu, saya dibantu oleh suami dan seorang bidan susah payah memompa ASI saya dengan breastpump milik rumah sakit rumah dan breastpump hasil pinjaman tersebut. Hasil pompaan pertama? Setengah sendok teh saja, diberikan kepada Zafran yang menurut suami langsung minum dengan lahap.

Ketika Zafran harus difototerapi karena bilirubinnya tinggi, saya terus-menerus memompa ASI walau awalnya tidak kunjung keluar. Ketika hasil perahan mencapai 40 ml untuk payudara kiri dan kanan, rasanya ingin menangis bahagia. Kegiatan perah-memerah ini terus berlanjut hingga saya pulang dari rumah sakit dan sudah menyusui Zafran, karena katanya untuk ibu bekerja sebaiknya menyiapkan stock ASIP sebanyak dan sedini mungkin sebelum kembali masuk bekerja.

Saat Zafran berusia satu bulan, Zafran mengalami bingung puting karena ASIP-nya saya berikan menggunakan dot. Mulailah episode sebagai ibu e-ping (exclusive pumping) dimulai. Banyak alasan mengapa akhirnya saya memilih e-ping ini, yang utama karena asumsi saya akan menghabiskan kurang lebih 12 jam di kantor, kalau Zafran tidak mau menyusui dari botol maka akan semakin repot saja neneknya yang dititipi. Saat awal-awal e-ping, rasanya saya emosional sekali. Sering saya berpikir saat ibu lain bisa membangun bonding dengan bayinya, saya malah membangun bonding dengan breastpump. Ketika Zafran tertawa dan bermain, saya malah sibuk memerah ASI. Pada malam hari ibu lain bisa tidur sambil menyusui, saya harus bangun dan berjaga untuk mengambilkan botol Zafran, menghangatkan, memberikannya dan juga memerah lagi untuk mempertahankan produksi ASIP. Beratnya jangan ditanya, rasanya setiap saat ingin menangis.

Lama-kelamaan, kondisi semakin membaik. Saya mulai bisa mengelola manajemen waktu memerah ASI sehingga masih bisa mengasuh dan bermain dengan Zafran. Malam hari pun semakin mudah karena Zafran tidak terbangun sesering saat ia baru lahir. Kondisi fisik dan emosi saya juga makin membaik.

Di kantor, saya mencoba memerah ASI tiga jam sekali: pukul 09.00, lalu siang pukul 12.00, serta sore pukul 15.00. Kalau harus lembur, saya tambah lagi satu sesi sore pada pukul 18.00. Leganya adalah ketika hari pertama masuk kantor, bapak bos tampaknya sudah cukup mengerti tentang ASI ekslusif dan pumping ASI sehingga izin setengah jam untuk sekali memerah ASI pun diberikan. Memang, memerah ASI di kantor membutuhkan kedisiplinan tinggi. Ada saja halangannya: klien datang, deadline laporan, rapat, OTS keluar kantor. Apa pun itu, saya tetap berusaha memerah.

Dukungan terbesar datang dari suami dan keluarga. Senang rasanya kalau mama menyemangati saya untuk terus memerah dan berkata, "Santai saja, biar Mama yang megang Zaf...". Suami pun setiap weekend selalu penuh mengasuh Zafran sementara saya memerah tiap dua jam sekali. Dukungan dari suami dan mama ini rasanya sudah cukup untuk menyemangati saya terus memerah. Bahkan papa saya yang dulu hendak membelikan sufor untuk Zafran, sekarang bangga cucunya bisa sehat hanya dengan minum ASI. Target saya tidak muluk-muluk, bisa ASI ekslusif untuk 6 bulan dulu. Amin.

[caption id="attachment_97224" align="aligncenter" width="480" caption="Zafran 3 bulan"][/caption]

Tantangan lainnya? Mati lampu! Stres sekali saat PLN mengumumkan akan mati lampu dari pukul 8 pagi hingga pukul 5 sore. Apa kabar ASIP saya dalam freezer? Untuk freezer kulkas, saya sudah menggunakan kulkas dengan cool pack yang katanya tahan 10 jam tidak cair. Namun bagaimana dengan deep freezer? Akhirnya minta tolong OB kantor untuk membelikan lima bongkah es batu. Selain itu, saya juga membuat es batu dalam kantung plastik setengah kilo. Saat mati lampu 9 jam, untungnya ASIP saya aman, tidak ada yang mencair.

Pertanyaan dari orang-orang sekitar? Tentu saja banyak. Dari mulai bertanya mengapa saya tidak menyusui langsung, mengapa Zafran diberi dot, apakah ASI yang diberikan tidak basi, apa tidak capek terus-menerus memerah ASI. Ya dijawab sebisanya saja. Biasanya mama dan suami ikut menjawab. Aduh pokoknya mama dan suami adalah the two best persons in my life deh. Cinta!

Perjalanan masih panjang hingga Zafran selesai ASI ekslusif. Mudah-mudahan saya bisa terus istiqomah memerah ASI. Semoga urban mama yang menjalani hal serupa juga tetap semangat ya!

14 Comments

  1. avatar
    Wahyu Prasetiawati December 28, 2015 4:54 pm

    saya eping sampai 19 bulan
    stop karena hamil lagi

    awal agak depresi karena merasa tak punya teman. akhirnya saya create grup efbe : Exclusive Pumping Mama Indonesia

    Ternyata banyak teman :)

    1. avatar

      As .



  2. avatar
    linayunik November 26, 2015 2:00 pm

    Big hugs mom,semangat ngASI ya,dengan sharing disini,kita jadi merasa lebih kuat mom,ure not alone :)

    1. avatar

      As .



  3. avatar
    hikmah19 September 10, 2015 4:23 pm

    sama mom, ak jg bgtu jatuh bangun pumping krn baby ku TT, alhamdulilah bsa ngash Asi trs meskipun 10% kena sufor krn ASI ku ga deres..alhamdulilah baby ku skrg 7 bln msh ASI, kmrn coba beli BP Spectra electric double pump ak pikir bsa namabah hasil perasan tyt buat ak sama aja dgn yg manual..wadeww..emg c bp cocok cocokan.

    1. avatar

      As .



  4. avatar
    Ummu Alfathoni August 7, 2015 12:01 pm

    Ya Alloh mom, bacanya sampe merembes...Inshaa Alloh semoga nanti saya bisa ngasih ASI ekslusif... aamiin.
    Two thumbs mom.. terima kasih ya mom untuk sharingnya...

    1. avatar

      As .



  5. avatar
    MamaAzza August 5, 2015 11:34 am

    Samaaaaaaaaaaaaaa...cm anak sy hasya mau nete 3hr, itupun dengan susah payah menyedot, alhasil pas nyoba pumping, lalu menggunakan dot. Hasya minum bny..
    sejak saat itu jd e-ping, dan skrg hasya baru 4bln 7hr, perjuangan msi panjang..SEMANGAT!!

    1. avatar

      As .



Previous Comments