Sulung dan Bungsu: Panutan dan Perbandingan

Kita semua sangat familiar dengan kalimat:

“Dik, liat itu kakak, contoh kakakmu.”
“Kamu itu sulung. Kamu harus jadi contoh bagi adik-adikmu.”

Saya mau sedikit berbagi observasi yang penting tentang sulung dan bungsu karena bagi saya, ada kebiasaan dalam dunia parenting yang menuntut kita untuk lebih bijak dan hati-hati dalam menerapkannya. Kedua kalimat ini mengganggu logika dan batin atas dasar beberapa alasan.

Panutan? Siapa?

Pertama, dan yang ini yang paling penting, mengapa sebagai orangtua, kita malah membebankan peran CONTOH/PANUTAN kepada anak sulung? Bukankah tugas menjadi panutan ada di orangtua? Orangtualah yang harus menjadi bintang yang paling bersinar agar dapat dicontoh oleh anak-anak.

“Kamu harus rajin belajar. Ranking satu. Agar adikmu bisa mencontoh.”
Mengapa contohnya bukan orangtua sendiri? Waktu kecil, orangtuanya ranking berapa?

Semua pasti setuju kalau anak sulung tidak pernah minta dilahirkan jadi anak sulung. Jika semua anak sulung tahu bahwa orangtua sering membebankan tugas panutan kepada mereka, niscaya tidak ada anak yang mau lahir lebih dulu. Kita ingin anak bungsu menjadi pintar, karena itu kita bebankan tugas menjadi contoh pintar kepada anak sulung. Mungkin lebih baik jika kita sebagai orangtua, mengambil rapor SD kita dulu, memerlihatkan kepada si sulung dan si bungsu dan dengan bangga bilang, “Nih, Bapak dulu juara kelas, lho.”

Ada satu contoh kasus dari teman saya yang bernama Effendi (bukan nama sebenarnya) dan kakaknya. Saya cukup kagum pada Effendi, karena ia selalu mampu mengukir prestasi akademis. Dan prestasi Effendi tidak main-main. Dari mulai SD, dia juara umum III. Effendi lulus SMP dengan peringkat #4 dari sepuluh siswa terbaik. Hanya saat SMA di  mana dia tidak masuk sepuluh besar. Dia lulus kuliah dengan IPK yang lumayan baik, 3.1. Yang menarik di kasus Effendi adalah betapa hampir konsistennya prestasi Effendi, sejak kecil sampai dewasa. Apa yang membuatnya selalu konsisten? Padahal saat beranjak dewasa, sering sekali godaan main dan kehidupan sosial terlalu kuat untuk kita tepis.

Ternyata, jawaban dari prestasi Effendi terletak pada orangtuanya. Di umur yang cukup muda (SD kelas 3-4) ia dan kakaknya mengetahui ayah mereka juara umum SD, juara umum SMP, juara umum SMA, masuk ke perguruan tinggi negeri ternama dan lulus dengan IPK terancam 4.

Menjadi panutan adalah kewajiban orangtua

Effendi dan sang kakak selalu berambisi untuk mengimbangi atau melebihi prestasi sang ayah. Ada beberapa milestone yang mereka tidak berhasil. Tapi mereka tahu bahwa mereka sudah berusaha maksimal dan cinta orangtua mereka tidak berkurang ketika prestasi yang anak ukir, tidak sama.

Orangtua mereka juga cukup bijak untuk tidak membiarkan prestasi mereka menjadi beban untuk anak-anak mereka. Nilai/value yang orangtua Effendi coba tanamkan adalah, di keluarga ini, jika seseorang cukup rajin untuk belajar, maka pasti bisa berprestasi. Bahwa mendapat nilai 10 itu merupakan kepuasan dan kebanggaan tersendiri.

Ada dua hal penting dalam kasus keluarga Effendi yang penting. Pertama, panutan tidak dibebankan kepada anak sulung. Kedua, panutan tidak dijadikan sebagai beban yang menghantui Effendi dan kakaknya, tapi menjadi nilai yang Effendi dan kakaknya jalani.

Mereka tidak hidup dan setiap hari bertanya “Apakah saya akan dapat menyamai ayah saya?” Mereka hidup dan setiap hari berkata “Jika saya rajin, saya pasti bisa kok. Buktinya sudah ada. Ayah saya sendiri.”

Effendi juga tidak hidup di bawah bayang-bayang kakaknya. Sang kakak tidak dibebankan amanah panutan karena yang mereka teladani adalah sang ayah. Keduanya lulus kuliah dengan baik dan memiliki hidup yang normal.

Panutan adalah tonggak contoh/rerefensi mereka yang memanuti. Bukan bayangan yang menghantui.

Panutan yang Bukan Beban

Berdasarkan pengamatan saya, dengan dorongan yang salah, panutan menjadi beban yang nyata untuk sulung maupun bungsu. Jika orangtua menekan terlalu berat, si sulung menjadi tertekan. Sementara pantuan yang berlebihan adalah beban bagi sulung, panutan juga menjadi bahan perbandingan kepada bungsu, yang juga menjadi beban.

Selain itu, semua orangtua pasti akan melihat bahwa setiap anak, semuda apa pun dia, memiliki harga diri. Jadi, bagaimana membuat sistem panutan ini sesuatu yang berbuah positif untuk sulung dan bungsu? Dari hasil sharing dengan beberapa orangtua, ada beberapa poin penting:


  • Perihal yang dijadikan panutan harus pantas dengan umur dan kedewasaan. Hal-hal seperti, tidur sendiri, tertib tidur siang, tertib makan, hal-hal ringan seperti ini.

  • Penyampaian orang tua kepada sulung sebaiknya bernada positif, bukan imperatif. Dan bersifat memotivasi.


Contoh 1: Kakak, kamu harus udah bisa makan sendiri. Harus jadi contoh untuk adik.

Contoh 2: Kakak, adik itu suka banget sama kakak. Semua yang kakak lakukan, pasti adik ikuti. He thinks you’re the coolest! Nah, jika kakak makan sendiri, pasti adik juga mengikuti. (Informasikan ini kepada sulung tanpa didengar bungsu.)

Dalam contoh pertama, orang tua menempatkan beban kepada sulung. Belum lagi jika diperparah dengan orangtua sendiri pun makan dengan tidak tertib (orangtua pun makan di depan TV, misalnya). Dalam contoh kedua, orangtua menyadarkan bahwa kakak adalah idola yang semua perilakunya dicontoh. Dari sini, sulung akan memiliki kesadaran sendiri bahwa apa yang dia lakukan, berarti besar bagi si adik. Kedewasaan sebagai seorang kakak tumbuh di sini.


  • Penyampaian orang tua kepada bungsu harus juga harus bermotivasi


Contoh 1: “Tuh, kakak sudah bisa berenang sendiri, masa adik tidak bisa?”

Contoh 2: “Tuh lihat si kakak sudah jauh berenangnya dan kakak tidak tenggelam, kan? Yuk sini belajar berenang. Agar bisa berenang bersama kakak.”

Dalam contoh pertama, orangtua, sehalus apa pun itu, menghina si bungsu karena dia tidak dapat berenang. Dalam contoh ini, orangtua juga membuat perbandingan, yang mana tidak selalu efektif. Kedua hal ini (menghina dan membandingkan) berpotensi mengempiskan harga diri si bungsu. Dalam contoh kedua, orangtua menggambarkan keuntungan berenang (agar dapat bermain bersama kakak). Orangtua memberikan pembuktian bahwa berenang tidak menakutkan (kakak terbukti tidak tenggelam).


  •  Perbandingan yang Positif


Semua orangtua pasti pernah lengah dan berkata seperti ini pada anak kita:

Contoh 1:

“Itu si Azzura, teman sekolah kamu sudah hafal 4 surat. Kamu baru 2 surat. Ayo dong, kamu pasti bisa.”

Sebenarnya ini cukup bahaya karena beberapa hal. Pertama, bahkan kita tidak tahu apa yang menyebabkan Azzura dapat hafal 4 surat Al Quran. Bisa jadi orangtua Azzura memanggilkan guru mengaji privat ke rumahnya sedangkan kita tidak. Jika seperti itu, kita tidak layak membandingkan anak kita dengan Azzura. Bisa jadi salah satu orangtua Azzura tidak bekerja sehingga memiliki lebih banyak waktu mendidik Azzura. Sedangkan kita berdua bekerja. Intinya ketika kita membandingkan dengan anak orang, ada ribuan faktor luar yang kita tidak tahu yang dapat menjadi kunci keberhasilannya. Dan kita membandingkan dengan simpel pada anak kita.

Contoh 2:

“Ayo, kemarin kamu bisa hafal 3 surat dalam 3 minggu. Ini sudah minggu kelima. Artinya kita harus bisa hafal 2 surat lagi.”

Yang baik dari perbandingan ini adalah kita sebagai orang tua membandingkan anak terhadap prestasinya yang dulu. Sang anak tidak memiliki cermin lain selain cermin yang memerlihatkan dirinya sendiri.

Atau mungkin perbandingan yang netral.

Kebanyakan anak akan tersinggung harga dirinya jika dibandingkan dengan 1 anak tertentu. Tapi kebanyakan anak juga tidak mau jika dia ketinggalan dari grupnya.

Anak kita mungkin sangat susah diajari berenang sendiri. Tapi ketka dia sudah melihat bahwa semua teman sekelasnya sudah bisa berenang, tiba-tiba dia minta diajari berenang.

Contoh 3:

Orangtua: “Nak, nilai ujian kamu 80. Menurut kamu nilai 80 bagus atau nggak?”
Anak: “Bagus.”
Orangtua: “Iya sih. Ini sudah lumayan dibanding semester lalu, 70. But you know what? Rata-rata kelas 84 lho: 25 teman sekelasmu yang lain itu rata-rata nilainya 84. Artinya kamu sedikit di bawah rata-rata. Kita harus belajar lebih rajin lagi ya agar di atas rata-rata.”

Semua ini kembali lagi kepada kita sebagai orang tua, bagaimana kita memainkan peranan kita dan memberikan porsi peran kepada sulung dan bungsu. Segala seuatu yang berlebihan tidak pernah baik. Apalagi kepada anak di usia dini yang mereka masih mendefinisikan mana yang baik dan mana yang benar. Semua perilaku kita sebagai orang tua akan membentuk kepribadian mereka di masa depan.

Sepulang dari pertemuan yang produktif dengan Effendi, saya masuk ke kamar dan membuka arsip pendidikan saya.

There’s something that I want my kids to see.

13 Comments

  1. avatar
    citra aulianagara April 8, 2013 10:58 am

    stujuuuu!! minta ijin copas ya buat arsip pribadi, bahan sharing sama suami, makasiiih kang adhit!

    1. avatar

      As .



  2. avatar
    Chrisye Wenas March 27, 2013 5:49 pm

    Well writen, mas adhit... Tfs yaaa! :)

    1. avatar

      As .



  3. avatar
    Vibe March 27, 2013 4:48 pm

    Love thiiiis!
    Aku punya temen yg ortunya selalu saling ngebandingin anak2nya, temenku ini lebih 'berhasil' sekolahnya dibanding kakaknya, kasian deh kakaknya dibandingin melulu.. sampe pernah berantem mreka..

    aku sbagai anak tertua ngerti bgt perasaan si kakak yg udah 'kalah' pake 'dibanding2in' juga, pasti sediiih..

    1. avatar

      As .



  4. avatar
    Adhitya March 27, 2013 2:38 pm

    Thanks for reading ya guys!

    1. avatar

      As .



  5. avatar
    nani March 27, 2013 1:10 pm

    *buka arsip pendidikan...

    1. avatar

      As .