Aduh.. Baca pengalamannya Sidta jadi inget.. Dan again jadi pengen mewek lagi.. 
Seperti Sidta, yang berhutang adalah mertua. Dan di kasusku adalah MIL. Beberapa tahun sebelum aku dan suami nikah, setelah FIL meninggal, gak lama datenglah orang yang nuntut minta uangnya ke keluarga suami. Ternyata MIL berhutang banyak bgt sampe tus jut tus jut.. Dan akhirnya MIL dituntut ke polisi untuk urusan ini. Singkat kata, akhirnya suamiku dan MIL kehilangan rumahnya. Akhirnya suamiku tinggal di rumah temennya dan MIL dirumah adiknya (yang akhirnya jadi berantem juga).
Semua ini berawal dari gaya hidup.. Ya MIL masih "terbius" dgn gaya hidup jetset jadi dia berhutang kesana kemari termasuk ke temennya yg "rentenir" untuk membiayai gaya hidupnya. Dia juga royal kesemua orang. Gampang banget beli macem-macem. Awalnya aku gak tau. Tapi sekarang setelah tau, bawaannya jadi curiga terus setiap dia ngasih barang ke kita. Sedih banget.
Dan singkatnya.. Akhirnya MIL waktu itu bilang tobat. Makanya akhirnya mereka keadaan agak membaik. Apalagi waktu itu MIL terkena TBC. Dan dia harus tinggal di rumah adiknya untuk berobat intensif. Setelah MIL sembuh, saya dan suamipun menikah. Dan suami saya akhirnya membayari sedikit demi sedikit hutang MIL ke rentenir itu. Karena MIL juga tidak bekerja.
Seperti biasa, MIL yang masih agak terbius dengan gaya jetset pun maunya pernikahan yang heboh dan besar2an. Tetapi aku dan suami kekeuh maunya yang simple aja. Akhirnya pernikahanpun terselenggara.
Setelah menikah, orang tua saya seperti kebanyakan orang tua lain memberikan "bekal" ke saya untuk simpenan. Tetapi... sebulan setelah kami menikah, kami baru tahu kalau MIL tidak pernah membayar tagihan-tagihan dari sanggar yang dipakai oleh pihak keluarga MIL untuk pernikahan kami. Dan karena kami berdua belum punya simpanan banyak, akhirnya semua "bekal" dari orang tua saya pun digunakan untuk membayar tagihan2 itu. Lagi-lagi suami saya marah besar. Dan MIL pun berjanji untuk tidak berkelakuan seperti itu lagi dan dia akan "mengurus" hal itu. Tetapi hingga kini akhirnya uang tersebut hangus saja. Sayapun tidak memiliki simpanan lagi.
Tak lama sayapun hamil, dan melahirkan. Setelah beberapa lama, di hari wedding anniversary kami, saya mendapat telp. Lagi-lagi dari seseorang yang kebetulan saya kenal sebagai teman MIL, meminta saya untuk melunasi hutang-hutang MIL yang lagi-lagi bernilai tusjut tusjut mendekati M. Betapa shocknya saya mendengar itu. Apalagi dihari anniversary yang hanya terpaut beberapa hari dari hari ulang tahun saya. Saya rasanya pengen mati aja. Kok masalah gak selesai-selesai. Apalagi dengan oknum pelaku yang sama.
Well takdir berkata lain. Dan sayapun akhirnya bisa menerima hal ini. Suami saya ternyata seumur hidupnya selalu berurusan dengan debt trap dari kelakuan MIL ini. Tetapi dia akhirnya selalu bisa bangkit. Sedikit demi sedikit dia membantu ibunya untuk melunasinya. Tetapi ketika akhirnya dia berkeluarga, diapun tak bisa lagi membantu untuk melunasi hutang ibunya. Terlebih lagi keluarga kami akhirnya juga terlilit hutang karena kartu kredit (yang juga sempat dipakai oleh MIL) dan juga hutang pribadi ke orang tua saya. Beban pun bertambah karena tanpa sepengetahuan kami, MIL juga meminjam uang ke orang tua saya, dan tidak pernah mengembalikannya, bahkan ketika mama saya menagihnya.
Sampai sekarang kami masih mencoba untuk bangkit dari hutang ini. Sungguh cara yang luar biasa keras yang harus kami jalani. Tapi itulah kehidupan.. Semoga pada akhirnya kami bisa juga mendapatkan apa yang disebut dengan Financial Freedom..
.. i'm just a girl, a woman, a daughter, a friend, a wife, and a mother..
Our llittle space :
http://udjomio.blogspot.com/ /@mira_kanaka