Berlibur ke Hulu Waduk Saguling

Imelda Sutarno A working mom with two gorgeous krucils. Suddenly love the outdoor recreations as an impact of married with her scuba diver husband, Bambang. Take the kids from beach to the hill, from forest to the waterfall, will always give her (and her husband) joy and enthusiastic. Cooking isn’t her middle name but always trying to give her family the best food that she can. Now she lives in Jakarta.

Liburan tahun baru lalu, kami mencoba tujuan wisata yang anti-mainstream: mengajak anak-anak dan para keponakan, berlibur ke rumah paman saya di Hulu Waduk Saguling. Apa saja yang bisa dilakukan di sana?

Sebelum cerita banyak soal aktivitas selama di sana, saya jelaskan sedikit ya soal waduk ini. Waduk Saguling adalah waduk buatan yang terletak di Kabupaten Bandung Barat dan merupakan salah satu dari tiga waduk yang membendung aliran Sungai Citarum (sungai terbesar di Jawa Barat). Dua waduk lainnya adalah Waduk Jatiluhur dan Waduk Cirata. Daerah di sekitar Waduk Saguling berupa perbukitan, dengan banyak sumber air yang berkontribusi pada waduk. Hal tersebut membuat bentuk Waduk Saguling sangat tidak beraturan dengan banyak teluk-teluk. Luasnya tidak kira-kira, yaitu 5.600 hektar. Dari hulu ke arah waduk utama bisa makan waktu dua jam sendiri baik melalui perjalanan darat maupun dengan perahu mesin. Luas sekali ya! Adapun Hulu Waduk yang kami kunjungi ini terletak di Desa Batulayang, Kecamatan Cililin, Kabupaten Bandung Barat.


Paman saya tinggal di sini. Masyarakat di desa ini, termasuk paman saya, adalah petani ikan keramba jaring apung. Jamak  di seluruh Indonesia, salah satu manfaat waduk adalah untuk memelihara ikan yang jika sudah dipanen bisa dijual ke pasar.


 



Jika orang-orang lain sibuk mempersiapkan pesta pergantian tahun baru, maka paman saya dan petani ikan lainnya juga ikutan sibuk. Banyak pesanan ikan di siang hari tanggal 31 Desember 2015 itu, mengingat ikan-ikan ini akan dibakar saat malam harinya nanti. Bahkan ada pembeli eceran yang langsung datang ke tepi sungai untuk membeli ikan dari keramba. Rata-rata bermobil pribadi dan tentunya plat D. Harga satu kilo ikan nila atau mujair hanya Rp. 12.000,- saja. Bandingkan harganya jika sudah sampai di Jakarta dan masuk supermarket.

Beginilah aktivitas jual-beli ikan di tengah keramba: masing-masing petani punya keramba yang tersebar di seluruh hulu waduk ini. Jika sudah siap panen, ikan dari keramba diangkut ke dalam sampan yang didayung manual, kemudian diantar ke semacam tempat pengepul. Di sana, ikan dituang ke keramba lagi. Jika ada kebutuhan atau ada pembeli, ikan tinggal dijaring atau diciduk menggunakan ember plastik, ditimbang, kemudian dimasukkan ke dalam plastik-plastik besar yang telah diberi oksigen, siap diantar ke pasar maupun pengecer lainnya.

 


Malamnya selepas maghrib, paman saya ternyata masih harus mengantarkan ikan lagi ke langganannya, karena kebutuhan bakar-bakar malam tahun baru memang meningkat. Ketika kami semua berkumpul di rumahnya, paman malah pergi kerja. Ketika pergantian waktu tahun baru tiba, hanya samar-samar saja kembang api dan petasan terdengar di desa ini. Tidak ada yang spesial sama sekali seperti di daerah lain terutama ibukota. Warga malah tidak banyak yang keluar rumah. Ketika pagi menjelang, warga malah kembali bekerja seperti biasa. Saya bertanya pada paman, apakah tidak ada libur karena ini tanggal merah? Paman menjawab bahwa pesanan malah masih banyak. Saya perhatikan di keramba pun petani lain teman-teman paman nampak sibuk bekerja. Tidak ada tanggal merah spesial bagi mereka, demi sesuap nasi.

Selain tempat keramba ikan, di hulu waduk ini tentunya juga banyak orang memancing dan menjala ikan.


Selain itu kami pun berkesempatan untuk naik perahu mesin yang paman pinjam dari bos pengepul ikan yang biasa dipanggil pak Haji oleh warga sekitar. Kami naik perahu ini putar-putar hanya sekitaran keramba saja. Anak-anak tampak senang sekali dengan aktivitas ini.




Ketika kami akan pulang ke Jakarta, tak lupa membawa oleh-oleh khas dari daerah ini. Tiga oleh-oleh tersebut adalah:

1. Gurilem. Keripik berbahan dasar singkong dan biasa dikasih tambahan bumbu pedas. Saya belum sempat foto, jadi saya ambil gambarnya dari sini ya.
2. Keripik kecimpring. Adonannya mirip dengan opak, dan diberi daun bawang. Rasanya gurih dan enak.
3. Wajit. Penganan berbahan dasar beras ketan, gula merah dan kelapa, kemudian dibungkus dengan daun jagung. Semacam dodol. Kalau makan penganan ini, minumnya teh tawar hangat ya, karena rasa wajit ini manis sekali.

[caption id="attachment_113580" align="aligncenter" width="496" caption="Gurilem, keripik kecimpring, dan wajit"][/caption]

Kami senang karena libur tahun baru kali ini mendapatkan pengalaman yang berbeda. Tak ada gegap gempita suasana tahun baru, tetapi dapat pelajaran berharga bahwa mencari nafkah terkadang tak pandang hari. Bahwa kehidupan di hulu waduk dan sungai begitu bersahaja. Walau sekarang anak-anak hanya mengingat saat naik perahu dan lihat-lihat ikan di keramba, semoga suatu saat mereka tetap teringat moral story dari perjalanan liburan  ini.

7 Comments

  1. avatar
    Imelda Sutarno February 17, 2016 5:31 pm

    @eka: maaf baru bales komen Eka. Ah jadi bikin orang sedih ya artikelku? Hiks...maafkeuun *salim*

    @mbak Aini: iya mbak, alhamdulilah, mudah-mudahan berguna perjalanan ke waduk buat anak-anak. Maaf juga kalo jadi terharu, hehe. Insya Allah posting lagi artikel-artikel lainnya ya mbak. Terima kasih sudah membaca :)

    1. avatar

      As .



  2. avatar
    Retno Aini February 17, 2016 4:47 pm

    Iya...bacanya ikut terharu. Mba Imelda jalan2 liburannya seru & bagus deh muatannya. Anak2 jadi belajar mengenal & menghargai berbagai jenis pekerjaan. Keep the post coming ya mba Imelda, thanks for sharing!

    1. avatar

      As .



  3. avatar
    Eka Gobel February 12, 2016 3:15 am

    Ah kok ya terharu baca ceritanya. Makasih ya mel, sharingnya!

    1. avatar

      As .



  4. avatar
    Imelda Sutarno February 11, 2016 1:36 pm

    mama mods semua, terima kasih sudah dimuat ya.

    @mba Ninit: saya lupa mention di dalam artikel ini mbak, kalau tempat ini samasekali bukan tempat wisata komersil. Jadi ini mah ibaratnya saya atau mbak ninit lagi berkunjung ke rumah om/paman di Jalan X nomor sekian, cuma rumah aja. Tapi kebetulan emang rumahnya di hulu waduk :) Wisata komersil samasekali gak ada, jadi yang pada datang ke sini ya cuma orang-orang yang hobi mancing dan yang bener-bener mau belanja ikan sungai aja :) Jumlahnya pun gak membludak. Perahu yang saya sekeluarga pake buat muter-muter juga bukan komersil. Cuma bole minjem ama bos pengepul ikan itu hehe :)

    @mba Zata: iya mbak. Waduk, danau dan sejenisnya selalu menjanjikan pemandangan yang keren ya. Kalo di Saguling namanya Wajit mbak oleh-olehnya. Beda tipis ama wajik :)

    @mba Gabriella: wisata komersil sih bukan mbak. Jadi sembari mendayung minum air ini mah. Sambil ke rumah paman, eh kebetulan ada tempat bagus di dekat rumahnya buat dikunjungi. Sekalian deh :)

    1. avatar

      As .



  5. avatar
    Gabriella F February 11, 2016 9:22 am

    Tempatnya keren ya... berkat artikel ini jadi tahu ada tempat-tempat unik yang bisa dijadikan tujuan wisata.

    1. avatar

      As .



Post a Comment

You must be logged in to post a comment.