Mari Perangi Obesitas pada Anak!

Obesitas. Mendengar kata tersebut rasanya sudah cukup membuat resah orang dewasa bahkan juga anak-anak. Kekhawatiran akan kelebihan berat badan serta obesitas ini memang sangat beralasan. Setelah dianggap sebagai masalah negara berpenghasilan tinggi, prevalensi kelebihan berat badan dan obesitas kini justru meningkat juga di negara-negara berpenghasilan rendah dan menengah khususnya di daerah perkotaan.

Angka obesitas memang meningkat lebih dari dua kali lipat sejak tahun 1980 dan dua tahun lalu sudah ada sekitar 41 juta anak mengalami berat badan berlebih dan obesitas. Data riset kesehatan dasar tahun 2013 menunjukan ada 18,8 % anak usia 5 sampai 12 tahun yang mengalami kelebihan berat badan dan 10,8 % menderita obesitas. Nah, ternyata hasil penelitian ini juga menunjukan bahwa obesitas yang terjadi pada anak berhubungan erat dengan obesitas pada orangtua. Alarm banget, nih, buat kita para orangtua.

Itulah kenapa dalam rangka Hari Obesitas Sedunia yang jatuh pada tanggal 11 Oktober lalu, Direktorat Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P), Kementrian Kesehatan RI,  mengangkat tema “Calling for Urgent Government Action to End Childhood Obesity.” Targetnya adalah untuk menghentikan kenaikan prevalensi obesitas pada tahun 2025.

Obesitas atau kegemukan didefinisikan sebagai lemak abnormal atau berlebihan akibat ketidakseimbangan asupan energi dengan energi yang digunakan yang terjadi dalam jangka waktu lama.

Tidak hanya itu, kemajuan teknologi serta tersedianya berbagai fasilitas yang memberikan berbagai kemudahan menyebabkan turunnya aktivitas fisik kebanyakan orang. Misalnya ke mana-mana yang harusnya bisa ditempuh dengan jalan kaki, namun karena fasilitas ojek online dan angkutan umum lainnya yang relatif murah dan mudah didapat, orang lebih memilih naik kendaraan. Daripada naik tangga memilih naik lift, dan seterusnya.

Faktor lain yang menyebabkan obesitas pada anak adalah faktor genetik, yaitu adanya riwayat obesitas pada anggota keluarga yang kemungkinan diwariskan pada keturunannya. Faktor lainnya adalah konsumsi obat-obatan tertentu dan faktor usia. Ketika usia bertambah, maka sistem metabolisme akan menurun sehingga menyebabkan lemak lebih cepat tersimpan di dalam tubuh. Ini reminder juga buat saya yang sudah akan segera masuk ke umur tertentu untuk lebih menjaga makanan dan tetap aktif berkegiatan fisik demi berat badan yang lebih ideal.

Tidak makan sambil menonton televisi. Saat makan sambil nonton, sering kali kita tidak sadar bahwa kita sudah kenyang, sehingga kita akan makan melebihi porsi biasanya.

Perbanyak aktivitas di luar ruangan. Ini kaitannya sama dengan tip nomor dua di atas. Saya akui hal ini cukup mujarab. Sebagai contoh, anak saya yang masih berusia lima tahun, kalau sudah main gadget sulit sekali untuk disuruh berhenti, namun saat akhirnya berhenti dan diajak main ke luar rumah, misalnya naik sepeda di lapangan, ya ampun, bahkan sulit pula untuk diajak pulang saking asiknya. Jadi jangan menyerah ya kalau anak awalnya menolak untuk diajak bermain di luar rumah.

Biasakan sarapan sehat. Awali hari dengan baik, salah satunya dengan sarapan yang sehat dan cukup mengenyangkan agar anak-anak bisa berkegiatan dengan baik di sekolah dan tidak mudah merasa lapar hingga akhirnya jajan ini itu yang berpengaruh buruk terhadap berat badan mereka. Biasanya saya menyediakan sereal, oatmeal, dan telur rebus sebagai sarapan anak-anak, kadang ditambah roti juga.

Batasi konsumsi makanan siap saji dan pangan olahan, jajanan, dan makanan selingan manis, asin, dan berlemak. Buat saya ini masih pe er karena kebetulan anak-anak saya suka jajan. Sejauh ini saya berusaha untuk membatasinya dengan memilihkan camilan yang tidak terlalu berlemak dan tidak terlalu manis.

Hindari minuman ringan dan bersoda. Seperti kita ketahui, minuman ringan bisa mengandung sekitar 10 sendok gula per botolnya, bayangkan jika dalam sehari anak-anak kita mengonsumsi beberapa gelas/botol minuman ringan dan minuman bersoda? Saat ini, jika anak saya meminta teh manis kemasan, saya biasanya akan menyarankan ia memesan teh manis biasa yang gulanya bisa ditakar yaitu maksimal dua sendok per gelasnya. Saya sendiri sudah berhenti minum minuman ringan dan bersoda mungkin sejak di bangku kuliah. Sesekali sih, saya masih mengonsumsinya, tapi dalam sebulan mungkin hanya satu kali itu pun jika tidak ada pilihan lain.

Sebagai informasi, artikel ini saya tulis berdasarkan informasi lengkap yang saya dapatkan saat menghadiri acara yang diselenggarakan oleh Direktorat Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tidak Menular, Kemenkes RI bertajuk “Atur Pola Makan dan Aktif Bergerak, Kendalikan Obesitas.” 

Related Tags : ,,,

5 Comments

  1. avatar
    Eka Gobel November 25, 2016 10:19 am

    Makasih artikel remindernya taaa...kalo aku bagian makan makanan olahan yg manis2, micin2, itu yang hrs dihentikan. Kalo yg bagian makan depan tv itu sih beres, soalnya di rumah ada peraturan utk ga makan depan tv. Trus tv nya cuma 1 pula, tv day cuma sabtu & minggu. Jadi ngga ada masalah. Nah masalahnya itu krn ngga nonton jadinya ngemil mulu hahaha

    1. avatar

      As .



  2. avatar
    Gabriella F November 24, 2016 9:14 pm

    Wah pr banget nih menyiapkan makanan rumahan buat Al, soalnya kecepatan menyiapkan makanan kadang gak sebanding dengan kecepatan dia menghabiskannya.

    Dan kena banget di bagian turunnya aktivitas fisik, biasa jalan dulu keluar kompleks trus jalan lagi sampai stasiun dll, sekarang keenakan nunggu dijemput ojek online.

    1. avatar

      As .



  3. avatar
    Retno Aini November 22, 2016 3:41 pm

    Zata, bagus bgt ini infonya, terima kasih ya :D memang sih, dengan makin modernnya kehidupan sehari2, imbasnya buat makanan kayaknya pengen yg cepat2 bisa dimakan aja. akhirnya processed food semua yg dimakan, padahal tidak sesehat makanan rumahan ya. Jd ingat, di sini oleh sekolah pun orangtua sering dikirimin newsletter buat mengingatkan kalau anak harus makan sarapan & dibawakan bekal yg terdiri dari buah, sayur, roti/kentang, ikan dan susu.

    1. avatar

      As .



  4. avatar
    zata ligouw November 22, 2016 9:19 am

    sama-sama tehh.. iya sama, bagian nonton tv sambil makan kayaknya yg paling sering terjadi deh ya..

    1. avatar

      As .



  5. avatar
    ninit yunita November 22, 2016 9:07 am

    waduhhh langsung tertohok di bagian, tidak makan sambil menonton televisi. kalo makan malam sih memang ada rule di rumah untuk ngga menyalakan tv dsb. jadi memang makan dan ngobrol aja...

    thanks buat artikelnya yah zata. obesitas adalah sesuatu yang harus kita tanggapi secara serius yah.

    1. avatar

      As .



Post a Comment

You must be logged in to post a comment.